IMAN adalah kedua-dua : cahaya dan kekuatan ; dengannya manusia meningkat setinggi-tingginya sehingga mencapai nilai yang melayakkannya ke Syurga. Dengan kegelapan KUFUR, ia jatuh serendah-rendah darjat yang membawanya ke Neraka..
Friday, April 12, 2013
Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada Badan
Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada Badan
Kategori: Aqidah
Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama -seseorang- seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu)
Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallaah, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana asas bagi sebuah bangunan. Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata,
“Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Manakah yang lebih baik; orang yang menegakkan bangunannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam.” (QS. at-Taubah: 109)
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini -yaitu membangun masjid- dengan keikhlasan yang tertanam di dalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang-cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara di akhirat. Demikian pula syirik, dusta dan riya’ seperti sebatang pohon, yang buah-buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 14)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat -di dalam tanah- sedangkan cabangnya menjulang ke langit.” (QS. Ibrahim: 24). Yang dimaksud ‘kalimat yang baik’ di dalam ayat ini adalah syahadat laa ilaaha illallaah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 425)
Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak? Sementara inilah hak Allah Rabb penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul ‘alaihimush sholatu was salam!
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah.” (QS. az-Zumar: 2-3)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Katakanlah; Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah.” (QS. al-An’aam: 162-163)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya; Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiyaa’: 25)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. al-Ma’idah: 23)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. al-Hasyr: 19)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah laa ilaha illallaah niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu)
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid, tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya mereka dari pokok yang agung ini. Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq -yaitu aqidah mereka- sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 17)
Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, “Di mana pun bumi dipijak, maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!”. Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?!
—
11 Februari 2012
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Dari artikel 'Memperbaiki Tauhid Ibarat Memperbaiki Jantung pada Badan — Muslim.Or.Id'
Tiga Wasiat Penting Rasulullah
Tiga Wasiat Penting Rasulullah
Kategori: Hadits
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda :
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “
Takhrij hadits
Hadits ini hasan. Diriwayatkan oleh : Ahmad (V/153, 158, 177), at-Tirmidzi (no. 1987), ad-Darimi (II/323), dan al-Hâkim (I/54) dari seorang shahabat Rasulullah yang bernama Abu Dzar al-Ghifâri Radhiallahu’anhu. Diriwayatkan juga oleh Ahmad (V/236); ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (XX/296, 297, 298) dan dalam al-Mu’jamush Shaghîr (I/192), dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ (IV/418, no. 6058) dari Shahabat Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’anhu. Hadits ini dihukumi hasan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nawawi dalam al-Arba’în dan Riyâdush Shâlihîn, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shâghîr no. 97.
Penjelasan hadits
Hadits yang mulia ini berisi wasiat berharga dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kita semua dalam mengarungi kehidupan dunia ini.
Wasiat ini berhubungan dengan hubungan kita kepada Allah, diri sendiri dan orang lain.
Setiap kita mesti akan berhubungan dengan PENCIPTA kita dan ini dapat diwujudkan dengan benar hanya dengan takwa kepadaNya disetiap saat.
Juga setiap kita akan berhubungan dengan diri sendiri sebagai insan yang tidak luput dari kesalahan dan dosa, maka caranya adalah dengan mengiringi kesalahan dan dosa dengan taubat yang merupakan amalan sholih dan kebajikan yang dapat menghapus dosa kesalahan tersebut.
Sehingga bila seorang berbuat dosa maka segera mengiringinya dengan taubat dan menambah amal kebaikan yang dapat menghapusnya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan” (Qs Hûd/11: 114).
Demikian juga kita tidak mungkin lepas dari masyarakat dan orang lain disekitar kita, karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Sebab itu beliau Sallallahu alaihi wa sallama mewasiatkan dengan menjadikan akhlak mulia sebagai dasar dalam pergaulan ini. Bergaul dengan orang lain dengan akhlak mulia dapat dijabarkan oleh sabda beliau yang lainnya, yaitu sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam :
فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه
“Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan masuk syurga maka hendaknya kematian menjemputkanya dalam keadaan ia beriman kepada Allah dan hari akhir dan hendaknya ia bergaul dengan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain bergaul dengannya” (HR Muslim).
Demikian indahnya wasiat ini, sehingga siapa yang ingin selamat dunia akherat maka hendaknya mengamalkan tiga wasiat Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam ini. Semoga kita dapat mewujudkannya!
Fawaid
- Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.
- Semangatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam mengarahkan umatnya kepada setiap kebaikan.
- Wajib bagi seseorang untuk memenuhi hak Allah dengan bertakwa kepada-Nya.
- Wajibnya bertakwa kepada Allah Ta’ala dimana pun seseorang berada. Yaitu dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, baik saat bersama orang lain maupun ketika sendirian.
- Wasiat takwa adalah wasiat yang paling agung.
- Wajib seseorang memenuhi hak dirinya dengan bertobat dan berbuat kebajikan.
- Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
- Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia dan Anjuran bergaul bersama manusia dengan akhlak yang baik.
- Akhlak yang baik termasuk dari kesempurnaan iman dan sifat orang-orang yang bertakwa, serta termasuk puncak dari agama Islam yang lurus.
- Akhlak yang baik termasuk asas dari peradaban hidup manusia, sebagai sebab bersatunya umat, tersebarnya rasa cinta, dicintai Allah Ta’ala, dan diangkatnya derajat pada hari Kiamat.
- Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
—
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel 'Tiga Wasiat Penting Rasulullah — Muslim.Or.Id'
Jangan kita terpengaruh dengan...
Jangan kita terpengaruh dengan orang yang membawa ayat-ayat Al-Quran kemudian mentafsirkan dan menjelaskan maksudnya dengan sesuka hati mengikut perkiraan akal mereka. Umat Islam harus berhati-hati dengan kelas pengajian tafsir yang seperti ini.
Mereka membuka Al-Quran terjemahan, contohnya membaca terjemahan surah Al-Fatihah. Kemudian mereka menjelaskan maksud dan faedah dari surah dan ayat tersebut mengikut logik dan pemahaman mereka sendiri.
Sedangkan ada metodologi dan kaedah yang perlu diikuti di dalam pentafsiran Al-Quran. Antara cara yang diguna pakai dalam mentafsirkan Al-Quran dipanggil Tafsir bil maktsur (tafsir dengan riwayat/dalil), iaitu mentafsirkan Al-Quran dengan ayat Al-Quran yang lain, disusuli dengan mentafsirkan Al-Quran dengan Hadis, perkataan Sahabat Nabi dan disusuli perkataan Tabi’ut Tabi’in.
Tetapi mereka mentafsirkan Al-Quran mengikut akal mereka sendiri atau perkataan manusia lain yang bukan dari kalangan yang disebutkan di atas.
Wujud di sana kitab tafsir yang baik seperti Adhwa-ul Bayan fi Taudhih Al-Quran bi Al-Quran disusun oleh Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Al-Amin Al-Syanqiti.
'Tiga Amalan Harian Muslim Sejati
Saudaraku, setiap waktu merupakan ladang pahala bagi setiap muslim… Oleh sebab itu, janganlah kau lewatkan setiap jengkal waktu yang engkau lalui dengan kesia-siaan dan merugikan diri sendiri.
Berikut ini, akan kami sebutkan tiga buah amalan yang agung di sisi Allah, amalan yang dicintai-Nya, amalan yang akan mendekatkan dirimu kepada-Nya, amalan yang akan menentramkan hatimu dimanapun kau berada, amalan yang akan menjadi tabunganmu menyambut hari esok setelah ditiupnya sangkakala dan hancurnya dunia beserta segenap isinya…
Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih di dalam surga-Nya…, Allahumma amin.
[1] Perbanyaklah berdzikir kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya…” (QS. al-Ahzab: 41). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah.” (QS. al-Munafiqun: 9). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul seraya mengingat Allah, melainkan pasti malaikat akan menaungi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang di sisi-Nya.” (HR. Muslim)
[2] Tetaplah berdoa kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berfirman; Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri sehingga tidak mau beribadah (berdoa) kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu urusan yang lebih mulia bagi Allah daripada doa.” (HR. al-Hakim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah subhanah, maka Allah murka kepada dirinya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita tabaraka wa ta’ala setiap malam yaitu pada sepertiga malam terakhir turun ke langit terendah dan berfirman, ‘Siapakah yang mau berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapakah yang mau meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang mau meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
[3] Mohon ampunlah kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Allah akan menyiksa mereka sementara kamu berada di tengah-tengah mereka, dan tidaklah Allah akan menyiksa mereka sedangkan mereka selalu beristighfar/meminta ampunan.” (QS. al-Anfal: 33). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku setiap hari meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari).
Saudaraku,… perjalanan waktu menggiring kita semakin mendekati kematian… Oleh sebab itu marilah kita isi umur kita dengan dzikir, doa, dan taubat kepada-Nya.
Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dicintai-Nya, diampuni oleh-Nya, dan mendapatkan rahmat dari-Nya…
Sumber:
Kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Dari artikel 'Tiga Amalan Harian Muslim Sejati — Muslim.Or.Id'
Tashih 'Aqidah:
Tashih 'Aqidah:
Antara salah faham 'aqidah adalah ucapan sebahagian kita berkenaan pelaku maksiat: "jagan benci dia, siapa tahu dia akan taubat di akhir hayat", "jagan hina dia, mungkin nanti dia jadi lebih baik", dan seumpamanya seolah-olah maksiatnya tidak menjejaskan iman.
Antara salah faham 'aqidah adalah ucapan sebahagian kita berkenaan pelaku maksiat: "jagan benci dia, siapa tahu dia akan taubat di akhir hayat", "jagan hina dia, mungkin nanti dia jadi lebih baik", dan seumpamanya seolah-olah maksiatnya tidak menjejaskan iman.
Pernyataan ini tidak tepat dengan 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah:
Pertama: dri segi Tauhid al-Asma' was Sifat; ia berlawanan dengan iktiqad ASWJ bahawa ALLAH membenci pelaku maksiat semasa dia melakukan maksiat dan kebencian ini akan ALLAH tukar dgn reda jika dia bertaubat, yakni: ALLAH mempunyai sifat fi'liah ikhtiariah. pernyataan di atas dibina atas 'aqidah yang berlawanan dengan 'aqidah ASWJ ini iaitu 'aqidah ahli kalam seperti al-Kullabiah yang melihat perbuatan ALLAH Qadim dari segi jensi dan perinciannya, yakni: ALLAH sentiasa reda sejak azali t'hadap pelaku maksiat yg ALLAH tahu dia akan bertaubat akhirnya dan sebaliknya.
'Aqidah
ini salah kerana ALLAH ta'ala menetapkan bagi diri-Nya sifat perbuatan
ikhtiyari yang berubah-ubah; ALLAH reda kepada pelaku taat semasa taatnya dan
ALLAH murka kepada pelaku maksiat semasa dia melakukan maksiatnya.
Kedua: dari segi al-Wala' wal Bara', kita disuruh membenci maksiat & pelakunya, kekufuran & pelakunya, namun yamg dilarang adalah berlebih2an sehingga memutuskan raja' (harapan), ini yg dilarang, bukan semata-mata benci, bahkan benci itu disuruh dengan kadarnya.
Ketiga: kita disuruh berhukum secara zahir, dilarang mengintai-ngintai niat orang yang tersembunyi, maka tidak perlu kita cuba hendak meneka-neka benda yg ghaib.
Keempat: Maksiat menjejaskan Iman sama ada Iman menjadi kurang atau rosak. Pernyataan di ats seolah-olah ada bau irja' yg beranggapan iman tidak rosak dgn maksiat bahkan tetap utuh sempurna bagaikan Iman Jibril. -na'uzubillah minal irja'-.
maka yang wajar disebut: "aku benci pelaku maksiat itu, mudah2an ALLAH ampunkan dia & membuka hatinya kpd Taubat", "bencilah pelaku maksiat, tapi jangan putuskan harapan yg ALLAH akn memberinya taubat" ... ini yg disebut Ulama': berhimpunnya Wala' & Bara' sekaligus pd mukmin yg 'asi (melakukan maksiat).
Kedua: dari segi al-Wala' wal Bara', kita disuruh membenci maksiat & pelakunya, kekufuran & pelakunya, namun yamg dilarang adalah berlebih2an sehingga memutuskan raja' (harapan), ini yg dilarang, bukan semata-mata benci, bahkan benci itu disuruh dengan kadarnya.
Ketiga: kita disuruh berhukum secara zahir, dilarang mengintai-ngintai niat orang yang tersembunyi, maka tidak perlu kita cuba hendak meneka-neka benda yg ghaib.
Keempat: Maksiat menjejaskan Iman sama ada Iman menjadi kurang atau rosak. Pernyataan di ats seolah-olah ada bau irja' yg beranggapan iman tidak rosak dgn maksiat bahkan tetap utuh sempurna bagaikan Iman Jibril. -na'uzubillah minal irja'-.
maka yang wajar disebut: "aku benci pelaku maksiat itu, mudah2an ALLAH ampunkan dia & membuka hatinya kpd Taubat", "bencilah pelaku maksiat, tapi jangan putuskan harapan yg ALLAH akn memberinya taubat" ... ini yg disebut Ulama': berhimpunnya Wala' & Bara' sekaligus pd mukmin yg 'asi (melakukan maksiat).
Thursday, April 11, 2013
Itsar, Mendahulukan Saudaranya dari Diri Sendiri (1)
Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pernahkan Anda melihat pemandangan di kota-kota besar, di sudut-sudut ibu kota di mana terdapat sebuah perkampungan miskin, dengan rumah-rumah yang sudah rapuh, saluran air yang telah menghitam, berdampingan cukup dekat dengan gedung-gedung bertingkat dan rumah-rumah mewah? Suatu hal yang sungguh ironis, ketimpangan sosial serta rasa peduli dan empati yang sudah terkikis habis bukanlah suatu hal yang asing di masa kita. Di era modern yang demikian pesat, semakin tampak sikap egois dan mementingkan diri sendiri, akan mudah kita dapati orang-orang yang benar-benar tidak peduli terhadap penderitaan saudara di sekitarnya. Hatinya telah mengeras seperti batu, meski hanya sekedar membantu kepentingan saudaranya yang membutuhkan. Mereka telah kehilangan sebuah akhlak emas dalam Islam bernama “al-itsar”.
Pengertian Al-Itsar
Itsar (لْإِيثَارُا ), secara bahasa bermakna melebihkan orang lain atas dirinya sendiri. Sifat ini termasuk akhlak mulia yang sudah mulai hilang di masa kita sekarang ini, Padahal akhlak mulia ini adalah puncak tertinggi dari ukhuwah islamiyah dan merupakan hal yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala dan juga dicintai oleh setiap makhluk. Memang jika dilihat dari timbangan logika, hal ini merupakan hal yang sangat berat, mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain tanpa mendapatkan imbalan apapun. Akan tetapi di dalam agama islam, hal ini bukanlah suatu hal yang mustahil. Tinta emas sejarah telah menuliskannya, bagaimana sikap itsar kaum muslimin terhadap saudaranya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai sambutan orang-orang anshar terhadap orang-orang muhajirin,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ
وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا
يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى
أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah
beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka
mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada
memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan
kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa
yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah menjelaskan siapakah orang-orang yang dimaksud di dalam ayat ini, “Mereka adalah golongan As-Sabiqunal Awwalun, dari golongan muhajirin dan anshar, yaitu orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan kota Makkah dan mereka juga orang-orang yang berperang, termasuk orang-orang berbai’at di bawah pohon (Bai’at Ar-Ridhwan), yang jumlah mereka lebih dari 1.400 orang. (Lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, Tahqiq Abdul Muhsin at-Turki dan Syu’aib al-Arna’uth I/692)
Inilah akhlak para sahabat Nabi yang mulia, mereka kaum Anshar benar-benar menyambut kaum Muhajirin yang datang kepada mereka, mereka menerima saudara-saudara mereka yang seiman dan seaqidah dengan tangan terbuka. Mereka para kaum Anshar saling berlomba-lomba memberikan segala apa yang mereka bisa berikan kepada sesama. Padahal saat itu mereka sendiri membutuhkan.
Keutamaan Al-Itsar
Sungguh, seseorang yang mempunyai al-itsar, akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang sangat banyak, diantara keutamaan-keutaman al-itsar adalah:
Pertama, akan dicintai oleh Allah Ta’ala
Ini adalah suatu keutamaan yang sangat agung dan besar, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Orang yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa jalla adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kesenangan yang diberikan kepada sesama muslim, menghilangkan kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama salah seorang saudaraku untuk menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) sebulan lamanya. Barangsiapa berjalan bersama salah seorang saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sampai selesai, maka Alloh akan meneguhkan tapak kakinya pada hari ketika semua tapak kaki tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amal sebagaimana cuka yang merusak madu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad hasan)
Allah Ta’ala akan mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu berupaya dan berusaha membantu kebutuhan saudaranya. Dan sebagai balasannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongnya ketika keadaan genting dan sempit, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan bantuan kepadanya di saat kesulitan.
Kedua, akan dicintai oleh manusia
Sahl bin Sa’d as-Sa’idy –radhiallahu ‘anhu berkata, “Seseorang mendatangi Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku mengerjakannya aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai pula oleh sekalian manusia.” Rasul menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya kamu akan dicintai oleh Allah. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat hasan)
Seorang yang zuhud dari apa yang dimiliki manusia, maka ia akan dicintai oleh saudara-saudaranya, ia akan dicintai oleh kerabat dan teman-temannya. Sedangkan itsar, mendahulukan kepentingan saudaranya dibandingkan dengan dirinya sendiri, maka akan menumbuhkan kecintaan yang lebih besar daripada itu. Karena tabiat seseorang adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya dan berkorban untuknya.
Ketiga, akan dimudahkan urusannya di dunia dan dilepaskan dari kesusahan di akhirat
Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
seseorang yang memiliki sikap itsar, maka orang-orang akan mengenalnya sebagai sosok yang mudah membantu dan suka berkorban, maka orang-orang akan merasa berhutang budi dan akan balik memantunya dengan senang hati di kala ia kesulitan. Sehingga dengan izin Allah Ta’ala kesulitan-kesulitanya di dunia akan menjadi mudah, dan di akhirat Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan kepadanya.
Keempat, akan tumbuh ikatan ukhuwah yang erat dan kuat antar sesama muslim
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Albani rahimahullah dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)
Dan kemudian di kuatkan dengan hadits “Saling menghadiahilah kalian karena sesungguhnya hadiah itu akan mencabut/menghilangkan kedengkian.” (HR. Al-Bazzar no. 1937,dengan sanad dhoif, lihat pembahasannya dalam Irwa`ul Ghalil, 6/45, 46)
Hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa pemberian hadiah akan menarik rasa cinta di antara sesama manusia karena tabiat jiwa memang senang terhadap orang yang berbuat baik kepadanya. Inilah sebab disyariatkannya memberi hadiah. Dengannya akan terwujud kebaikan dan kedekatan. Sementara agama Islam adalah agama yang mementingkan kedekatan hati dan rasa cinta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika di masa jahiliyah kalian saling bermusuhan lalu ia mempersaudarakan hati-hati kalian maka kalian pun dengan nikmat-Nya menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imran: 103) (Taudhihul Ahkam Min Bulughul Maram, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Basam, Maktabah Al-Asadi, Makkah, V/126-128)
-bersambung insya Allah-
—20 September 2012 ,http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/itsar-mendahulukan-saudaranya-dari-diri-sendiri-1.html
Penulis: Abu Muhammad Nizamul Adli
Muroja’ah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id
Sunday, April 7, 2013
75% Of Physicians in The World Refuse Chemotherapy for Themselves
Doctors used to think that if they
drained a sick person's blood it would purge the "evil" infection or
disease right out of the body, but all that did was make the ill person
much weaker, unable to fight off whatever was invading their body, and
the patient was then highly likely to lose the battle for life, and in
less tim
Research using polls and questionnaires continue to show that 3 of every 4 doctors and scientists would refuse chemotherapy for themselves due to its devastating effects on the entire body and the immune system, and because of its extremely low success rate.
On top of that, only 2 to 4% of all cancers even respond to
chemotherapy or prove to be "life extending," yet it is prescribed
across the board for just about every kind of cancer.
Polls were taken by accomplished scientists at the McGill Cancer Center from 118 doctors who are all experts on cancer.
They asked the doctors to imagine they had cancer and to choose from
six different "experimental" therapies. These doctors not only denied
chemo choices, but they said they wouldn't allow their family members to
go through the process either! What does that say about their true
opinion of this archaic method?
These surveys are having a profound
effect on the general public opinion of chemo treatments in most of
Western society, especially the United States, which uses more than any
nation in the world. This lack of trust by doctors is spilling over to
patients, and the move towards natural remedies is increasing, much the
way it did in the early 1900's, before the dawn of corrupt medicine, pharmaceuticals, and radiation.
Auto-immune disorders are mainly caused
when humans ingest chemicals from food, drinking water, vaccines
contaminated with chemicals, artificial sweeteners and environmental
pollution. Chemotherapy, like the popular Cis-platinum, fills the body
with horrific toxins, and doctors and scientists know it, but because the
FDA outlaws doctors from suggesting or prescribing vitamins,
supplements, herbs and super-foods, chemical therapy is still
"recommended."
The way to beat cancer is to detoxify
your body and build up your host immune system, not break it down
further by dousing one tumor or one organ with chemicals that pollute
the entire system. Put it this way, if an elderly person had an injured
toe and it needed a cold compress to help heal it, would you submerge
the senior in a freezing pool of water repeatedly for days, and then
wait for the toe to heal? Doctors know how absurd the ideology of
chemotherapy really is, but when a society bases the bulk of its therapy
on chronic care management, the doctors are silently coerced into suggesting it or finding another profession.
Could it be some extreme coincidence that
although 75% of doctors would refuse chemotherapy for themselves and
their family members, they still prescribe it for 75% of their patients?
The costly price of chemo and the likelihood of Big Pharma "kickbacks"
is screaming the answer "no."
At best, chemotherapy should be
considered alternative treatment, but for over 70 years Allopathic
medicine has warped the public perception of true medicine, so if you
happen to get cancer and your doctor tells you what to do, you may want
to ask him/her if they would do the same thing for themselves and their
family members.
Sources for this article include:
CLICK HERE FOR FREE DOWNLOAD: 25 Amazing (and Disturbing) Facts about the Hidden History of Medicine
http://www.naturalnews.com/036054_chemotherapy_physicians_toxicity.html#ixzz1x8VNRjEa
http://www.naturalnews.com/036054_chemotherapy_physicians_toxicity.html#ixzz1x8VNRjEa
Subscribe to:
Posts (Atom)