Friday, April 19, 2013

Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal


Islam di bangun di atas ittiba' (mencontoh) bukan ibtida' (menyelisihi) Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak memerintahkan kita untuk fanatik terhadap madzhab, akan tetapi Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk taat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api Neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan."
(QS. An-Nisaa' [4] : 13 - 14)

"Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, orang-orang shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
(QS. An-Nisaa' [4] : 69)

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah."

(QS. Al-Ahzaab : 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu, Allah Tabaroka wa Ta'ala memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya 'Azza wa Jalla. Semoga Allah Jalla Jalaaluh senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau hingga hari Kiamat."
(Tafsiir Ibni Katsir, VI/391)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencintai kita jika kita mendengar dan taat kepada Rasulullah Muhammad 'alaihi shallaatu wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Katakanlah : 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
(QS. Ali 'Imran [3] : 31)

Imam Ibnu Katsir rahimahullaahu ta'ala berkata ketika menafsirkan ayat diatas,
"Ayat yang mulia ini merupakan hakim atau pemutus bagi orang-orang yang mengaku cinta Allah dan rasul-Nya tetapi dia tidak mengikuti jalan yang ditempuh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dia dusta dalam pengakuannya sehingga dia mengikuti syari'at (ajaran) dan agama Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam setiap ucapan, perbuatan dan keadaannya."
(Tafsir Ibnu Katsir, I/477)

Seperti yang telah saya jelaskan di atas kewajiban kita hanya untuk mendengar kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam bagi siapa saja yang menyelisihi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam akan diberikan adzab yang pedih.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Maka hendaklah (berhati-hati) orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih."
(QS. An-Nuur [24] : 63)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaahu ta'ala ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata,
"Menyalahi perintah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, yaitu menyalahi jalan hidup beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam, menyalahi manhaj (cara beragama), Sunnah, dan syari'at beliau. Maka seluruh perkataan dan seluruh amal, harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Apa yang sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam maka akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan apa yang tidak sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam maka akan ditolak oleh Allah Ta'ala. Siapa pun yang melakukan perkataan dan perbuatan itu serta apapun perkataan dan perbuatan itu. Meskipun ia seorang ulama, atau seorang yang 'alim, jika perkataan dan perbuatannya menyelisihi perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka ia wajib ditolak dengan dasar hadits, bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak."
(HR. Al-Bukhari, no. 2697, Muslim, no. 1718, Ahmad, VI/146, 180, 256, Abu Dawud, no. 4606, dan Ibnu Majah, no. 14)

Bahkan para ulama mujtahiddin pun melarang kaum muslimin taklid buta kepadanya setelah datang nash al-Qur-an dan As-Sunnah yang Shahiih.

Imam Abu Hanifah rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Tidak halal bagi seseorang mengambil perkataan kami selama ia belum mengetahui dari mana kami mengambilnya."
(I'laamul Muwaqqi'iin, III/488)

Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata,
"Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku."
(Iiqaazhul Himam, hal. 62)

Imam Malik rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Sesungguhnya aku hanya seorang manusia, terkadang aku benar dan terkadang salah. Maka lihatlah pendapatku, setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Kitab (baca : al-Qur'an) dan As-Sunnah (baca : hadits) maka ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah maka tinggalkanlah."
(Jaami' Bayaanil 'Ilmi wa Fadhlihi, I/775, no. 1435, 1436)

Imam asy-Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Setiap orang pasti terlewat dan luput darinya salah satu Sunnah (baca : hadits) Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Apa pun pendapat yang aku katakan atau prinsip yang aku tetapkan (baca : katakan) kemudian ada hadits dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, yang ternyata bertentangan dengan pendapatku, maka apa yang disabdakan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam itulah yang diambil. Dan itulah yang menjadi pendapatku."
(Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/475, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/46 - 47)

Beliau rahimahullaahu ta'ala juga berkata,
"Setiap yang aku ucapkan, namun ada hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang shahih menyelisihi pendapatku, maka hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itulah yang lebih patut diikuti. Maka janganlah kalian taklid kepadaku."
(Manaaqib al-Imam asy-Syafi'i, I/473, dan I'laamul Muwaqqi'iin, IV/45 - 46)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Kalian tidak boleh taklid kepadaku, tidak boleh juga taklid kepada Malik, Syafi'i, al-Auza'i, dan ats-Tsauri, tetapi ambillah darimana mereka mengambil."
(I'laamul Muwaqqi'iin, III/469)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaahu ta'ala berkata,
"Tidak diwajibkan atasnya (menganut satu madzhab), dan inilah pendapat yang benar dan pasti. Sebab, tidak ada kewajiban kecuali yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya. Dan Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya tidak mewajibkan atas seseorang untuk bermadzhab dengan madzhab salah seorang dari para imam sehingga ia taklid kepadanya dan tidak kepada yang lainnya."
(I'laamul Muwaqqi'iin, VI/203)

Kami Terpaksa menyertai pilihanraya dan parlimen..

bu Aisyah Muhammad Shukri's photo.
Bismillaah.

::: KAMI ‘TERPAKSA’ MENYERTAI PILIHAN RAYA & PARLIMEN! :::

Oleh: Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam

Al Ikrah atau “terpaksa” secara istilah berarti:
“Membawa seseorang untuk mengerjakan atau mengatakan sesuatu yang dia tidak ingin melakukannya”. 

Ini adalah definisi “terpaksa” menurut ilmu ushul fiqih.

Dengan pengertian ini berarti mesti ada pihak yang memaksa dan ada yang dipaksa. Dan mestinya orang yang memaksa mampu mengerjakan apa yang dikehendaki pada diri orang yang dipaksa. Itu karena lemahnya perlawanan orang yang dipaksa. 

Ini berdasarkan dalil dari Al Quran, Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa) akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An Nahl : 106)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Diangkat dari umatku (balasan) karena kesalahan, kelupaan dan yang dipaksa.” (HR. Thabrani dari Tsauban radliyallahu ‘anhu)

Ayat dan hadits tadi menunjukkan bahwa ada orang yang memaksa seorang Muslim untuk mengerjakan perbuatan haram atau perkataan yang haram.


Para ulama telah membagi keterpaksaan ini menjadi dua bagian:

[Pertama]
keterpaksaan orang yang mencari perlindungan.

Yaitu ketika seseorang diancam untuk dibunuh atau diancam dengan sesuatu yang dia tidak mampu untuk menanggungnya disertai sangkaan kuat bahwa ancaman tersebut sangat mungkin dilaksanakan. Maka pendapat para ulama dalam masalah ini nyaris sama karena inilah ulama belakangan melihat perlunya membagi masalah ini menjadi dua.

[Kedua]
Keterpaksaan orang yang tidak mencari perlindungan.

Batasannya ialah bila seseorang diancam dengan sesuatu yang tidak sampai menyebabkan binasa atau seorang yang memaksa tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan ancamannya.

~~~ Melakukan yang di-HARAM-kan dengan alasan terpaksa adalah boleh dengan syarat tadi. ~~~


»»»

Lantas kita tengok saudara-saudara kita ini. 

»» Kita katakan kepada mereka:

“Siapa yang telah memaksa kalian untuk berkecimpung melakukan kekufuran dalam pilihan raya?” 

»» Jika mereka katakan:

“Mereka telah memaksa kami.”

»» Kami jawab:

“Kenyataannya tidak ada paksaan terhadap kalian dan tidak terjadi satu jenis pun pemaksaan, tidak yang besar tidak pula yang kecil. Karena memang tidak ada orang yang memaksa. Justru kalianlah yang menyerukan pilihan raya (demokrasi, ed.) dan mencari-cari dalil (untuk membolehkannya) dan memerangi orang yang menyelisihi kalian dalam pemahaman tersebut.

Maka pernyataan bahwa kalian “dipaksa” adalah pengakuan yang batil.
Kalau pengakuan mereka terbukti batil lantas apa maksud dari segala publikasi dan propaganda kalian ini? (Yakni bahwa kalian terpaksa). 

Jawabnya adalah dalam rangka melegalkan sikap-sikap mereka dan memperdaya masyarakat umum. Sehingga bila gagal mereka pun “dimaafkan” oleh masyarakat.

Andai yang mereka maksud dengan kata “terpaksa” adalah: 
“Kami tidak menyukainya namun desakan situasilah yang menuntut kami untuk terjun ke dalam pemilu.”

Tentang ini, sebentar lagi akan ada jawabannya dengan rinci. Akan tetapi di sini ada satu pertanyaan, kenapa kalian menempatkan kaidah syar’i tidak pada tempatnya? 

Bukankah ini berarti mempermainkan kaidah-kaidah syar’i agar sebagiannya bercampur baur dengan yang lain? 

Jawabannya, begitulah keadaan mereka. 

Allah-lah tempat mengadu.


Dinukil dari buku:
| Menggugat Demokrasi dan Pemilu. 

Judul asli:
| Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat

Penerbit:
Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate.

Sumber:
| ulamasunnah(dot)wordpress(dot)com
Bismillaah.

::: KAMI ‘TERPAKSA’ MENYERTAI PILIHAN RAYA & PARLIMEN! :::

Oleh: Asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam
Al Ikrah atau “terpaksa” secara istilah berarti:
“Membawa seseorang untuk mengerjakan atau mengatakan sesuatu yang dia tidak ingin melakukannya”.

Ini adalah definisi “terpaksa” menurut ilmu ushul fiqih.

Dengan pengertian ini berarti mesti ada pihak yang memaksa dan ada yang dipaksa. Dan mestinya orang yang memaksa mampu mengerjakan apa yang dikehendaki pada diri orang yang dipaksa. Itu karena lemahnya perlawanan orang yang dipaksa.

Ini berdasarkan dalil dari Al Quran, Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa) akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An Nahl : 106)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Diangkat dari umatku (balasan) karena kesalahan, kelupaan dan yang dipaksa.” (HR. Thabrani dari Tsauban radliyallahu ‘anhu)

Ayat dan hadits tadi menunjukkan bahwa ada orang yang memaksa seorang Muslim untuk mengerjakan perbuatan haram atau perkataan yang haram.


Para ulama telah membagi keterpaksaan ini menjadi dua bagian:

[Pertama]
keterpaksaan orang yang mencari perlindungan.

Yaitu ketika seseorang diancam untuk dibunuh atau diancam dengan sesuatu yang dia tidak mampu untuk menanggungnya disertai sangkaan kuat bahwa ancaman tersebut sangat mungkin dilaksanakan. Maka pendapat para ulama dalam masalah ini nyaris sama karena inilah ulama belakangan melihat perlunya membagi masalah ini menjadi dua.

[Kedua]
Keterpaksaan orang yang tidak mencari perlindungan.

Batasannya ialah bila seseorang diancam dengan sesuatu yang tidak sampai menyebabkan binasa atau seorang yang memaksa tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan ancamannya.

~~~ Melakukan yang di-HARAM-kan dengan alasan terpaksa adalah boleh dengan syarat tadi. ~~~


»»»

Lantas kita tengok saudara-saudara kita ini.

»» Kita katakan kepada mereka:

“Siapa yang telah memaksa kalian untuk berkecimpung melakukan kekufuran dalam pilihan raya?”

»» Jika mereka katakan:

“Mereka telah memaksa kami.”

»» Kami jawab:

“Kenyataannya tidak ada paksaan terhadap kalian dan tidak terjadi satu jenis pun pemaksaan, tidak yang besar tidak pula yang kecil. Karena memang tidak ada orang yang memaksa. Justru kalianlah yang menyerukan pilihan raya (demokrasi, ed.) dan mencari-cari dalil (untuk membolehkannya) dan memerangi orang yang menyelisihi kalian dalam pemahaman tersebut.

Maka pernyataan bahwa kalian “dipaksa” adalah pengakuan yang batil.
Kalau pengakuan mereka terbukti batil lantas apa maksud dari segala publikasi dan propaganda kalian ini? (Yakni bahwa kalian terpaksa).

Jawabnya adalah dalam rangka melegalkan sikap-sikap mereka dan memperdaya masyarakat umum. Sehingga bila gagal mereka pun “dimaafkan” oleh masyarakat.

Andai yang mereka maksud dengan kata “terpaksa” adalah:
“Kami tidak menyukainya namun desakan situasilah yang menuntut kami untuk terjun ke dalam pemilu.”

Tentang ini, sebentar lagi akan ada jawabannya dengan rinci. Akan tetapi di sini ada satu pertanyaan, kenapa kalian menempatkan kaidah syar’i tidak pada tempatnya?

Bukankah ini berarti mempermainkan kaidah-kaidah syar’i agar sebagiannya bercampur baur dengan yang lain?

Jawabannya, begitulah keadaan mereka.

Allah-lah tempat mengadu.


Dinukil dari buku:
| Menggugat Demokrasi dan Pemilu.

Judul asli:
| Tanwir Azh-Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat al-Intikhabaat

Penerbit:
Maktabah al-Furqan, Ajman, Emirate.

Sumber:
| ulamasunnah(dot)wordpress(dot)com

Tuesday, April 16, 2013

15 FAKTA IMAM SYAFIE LAYAK DIGELAR WAHHABI



P/S: Diizinkan untuk menyebarluaskan nota ini. Lebih baik difotocopy dan diedarkan kepada orang ramai, khususnya mereka yang terpengaruh dengan fitnah ke atas pendukung sunnah yang dimomokkan dengan gelaran 'Wahhabi'.

Berikut ialah 14 amalan atau ciri-ciri yang sering dikaitkan dengan mereka yang ditohmah dan dilabel dengan gelaran Wahhabi. Mari kita lihat ciri-ciri yang dimaksudkan dan para ulamak bermazhab Syafie yang turut serta memiliki ciri-ciri tersebut.

Pertama: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak melakukan qunut solat subuh secara terus-menerus. Maka Imam Taqiyuddin as-Subki asy-Syafie dan Syeikh Abu Hasan al-Karajji asy-Syafie juga ialah Wahhabi kerana mereka meninggalkan qunut subuh atas alasan kelemahan hadisnya. – Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah, Ma’na Qaul al-Imam al-Muththalibi Idza Shahhal Hadits Fahuwa Madzahbi (Majmu’atur Rasa-ilil Muniriyyah) dan Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra.

Kedua: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak melaksanakan solat sunat qabliyyah dua rakaat (sebelum) solat Jumaat. Maka al-Hafizh al-'Iraqi asy-Syafie  dan Imam Abu Syamah asy-Syafie serta al-Imam Abi al-Thayyib Muhammad Syams al-Haq al-‘Azhim al-Abadi juga ialah Wahhabi kerana mereka  melemahkan pandangan yang mensabitkan solat sunat dua rakaat sebelum Jumaat. – Lihat al-Ba’its al-Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, Tharh al-Tsarib dan ‘Awn al-Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud.

Ketiga: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak bersetuju dengan azan dua kali Jumaat. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie yang cenderung kepada Sunnah Nabi, iaitu azan Jumaat hanya sekali di zamannya. – Lihat kitab al-Umm.

Keempat: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang membenci kenduri arwah. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie dan para imam bermazhab Syafie selainnya seperti Syeikh Mustafa Khin asy-Syafie, Syeikh Mustafa al-Bugha asy-Syafie, Syeikh ‘Ali al-Syarbaji asy-Syafie, Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari asy-Syafie, Syeikh Daud al-Fatani asy-Syafie, Syeikh Zainul Abidin Muhammad al-Fatani dan ramai lagi. Ini kerana mereka semua amat membenci amalan kenduri arwah. – Lihat kitab al-Umm, kitab I’anatu ath-Thalibin, Kashfu al-Litham, Sabil al-Muhtadin, Bughyatul Tullab  dan kitab al-Fiqh al-Manhaj ‘Ala Madzhab al-Imam asy-Syafie.

Kelima: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak bermazhab dan menentang taqlid buta dalam beragama (ikut membuta tuli). Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie kerana tidak bermazhab kepada mazhab-mazhab yang muncul sebelumnya, antaranya ialah Imam Malik (mazhab Maliki), iaitu gurunya sendiri. Juga Wahhabilah Imam asy-Syafie kerana menetang keras amalan bertaqlid buta dalam beragama. – lihat kitab Manaqib asy-Syafie, Siyar A’lam al-Nubala’, Hilyatul Auliya’ dan Tarikh Dimasyqi.
 
Keenam: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang menunaikan zakat dengan makanan ruji seperti gandung, tamar, beras dan seumpama. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie kerana memfatwakan zakat fitrah hendaklah menggunakan makanan ruji, bukan wang sebagaimana amalan umat Islam di Malaysia - termasuk mereka yang mengaku bermazhab Syafie. – Lihat Kitab al-Umm.

Ketujuh: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak membaca lafaz ‘Sayyidina’ ketika berselawat ke atas Nabi. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie yang tidak pernah menulis di dalam mana-mana kitabnya, baik kitab al-Umm mahupun kitab al-Risalah. Demikian juga Wahhabilah al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani asy-Syafie yang turut menyinggung permasalahan ini di dalam kitabnya yang terkenal, Fath al-Bari (syarah kepada al-Bukhari).

Kelapan: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak mengkhususkan bacaan surah Yasin pada malam Jumaat tetapi menggalakkan surah al-Kahfi. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie yang memfatwakan disukai membaca surah al-Kahfi di malam Jumaat atas alasan ia menepati Sunnah Nabi. Tambahan pula tidak ditemui dalam mana-mana kenyataannya atau pun para ulamak selainnya tentang galakkan membaca surah Yasin pada setiap malam Jumaat.– Lihat kitab al-Umm.

Kesembilan: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang enggan berdoa dan berzikir dengan suara yang kuat dan dilakukan secara beramai-ramai selepas solat berjemaah. Jika demikian Wahhabilah Imam asy-Syafie dan para ulamak bermazhab Syafie seperti Imam al-Nawawi,  Ibn Hajar al-Haitsami,  Syeikh Zainuddin ‘Abd al-‘Aziz asy-Syafie, al-Imam al-Baihaqi asy-Syafie  dan selainnya. Ini kerana mereka tidak pernah mengajarkan demikian dalam kitab-kitab mereka. Sebaliknya hanya membolehkan berzikir berjemaah (baca: bukan doa) dalam konteks mengajar makmum sahaja, bukan selalu. – Lihat kitab al-Umm, at-Tahqiq, Minhaj ath-Thalibin, Tuhfat al-Muhtaj bi Syarah al-Minhaj, Fath al-Bari, Fath al-Mu’in dan Sunan al-Kubra al-Baihaqi.

Kesepuluh: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak melafazkan niat sebelum solat. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie yang tidak pernah mengajarkan amalan demikian. Demikian juga Wahhabilah al-Qadhi Abu al-Rabi’ Sulaiman bin ‘Umar asy-Syafie kerana menyatakan amalan melafazkan niat sebelum solat itu bukan berasal daripada Sunnah Nabi yang sahih. – Lihat kitab al-Qaul al-Mubin Fi Akhtha’ al-Mushallin.

Kesebelas: Orang kata bahawa Wahhabi ialah mereka yang menafikan sampainya pahala bacaan al-Qur’an yang dihadiahkan kepada si mati. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie, Syeikh al-Haitsami asy-Syafie dan selainnya yang berpendapat tidak sampai pahala bacaan al-Qur’an yang dikirimkan kepada si mati. – Lihat Tafsir Ibn Katsir, al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab dan al-Fatwa al-Kubra al-Fiqhiyyah.

Kedua belas: Orang kata bahawa Wahhabi ialah mereka yang melarang mengkapur dan membina binaan di atas kubur. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie dan Imam al-Munawi yang menjelaskan kebencian Imam asy-Syafie kepada amalan membangun dan mengkapur kuburan sebagaimana yang mendarah daging dalam tradisi umat Islam yang mengaku bermazhab Syafie. – Lihat kitab al-Umm, Syarah Shahih Muslim dan Faidh al-Qadir.

Ketiga belas:  Orang kata bahawa Wahhabi ialah mereka yang menetapkan sifat al-Istiwa’ Allah di atas ‘Arasy di atas langit, sifat turun (al-Nuzul) dan sebagainya tanpa takwil. Maka Wahhabilah Imam asy-Syafie yang menetapkan kedua-dua sifat itu dan selainnya tanpa sebarang pentakwilan ke atasnya. Demikian juga al-Imam adz-Dzahabi asy-Syafie yang turut menetapkan sifat-sifat Allah. – Lihat kitab Tafsir Ibn Katsir dan al-‘Uluw Li al-‘Aliyyil ‘Azhim.

Keempat belas: Orang kata bahawa Wahhabi ialah mereka yang tidak belajar dan berakidah dengan sifat 20. Maka demikian Wahhabilah Imam asy-Syafie kerana tidak pernah mempelajari, apatah lagi mengajarkan sifat 20 itu. Tidak ada satu jua bukti beliau berpegang kepada kaedah pengajian sifat 20 dalam mana-mana kitabnya. - Lihat kitab al-Umm dan al-Risalah.

Kelima belas: Orang kata Wahhabi ialah mereka yang tidak menyapu muka selepas berdoa. Jika demikian maka Wahhabilah Imam al-Nawawi asy-Syafie yang menafikan kesunnahan menyapu muka selepas doa. Demikian juga Imam al-'Izz 'Abd as-Salam asy-Syafie yang menyatakan adalah bodoh orang-orang yang menyapu muka selepas berdoa. - Dinyatakan di dalam 'Irwa' al-Ghalil dan Shahih al-Adzkar wa Dha'ifuhu.
 
Dan banyak lagi jika hendak diperincikan. Rupanya Wahhabi ialah mereka yang menyelisihi kebiasaan masyarakat dan berpegang teguh kepada al-Qur'an serta as-Sunnah sahihah!    

    ~    Oleh: Mohd Hairi Nonchi @ Cikgu Arie

Monday, April 15, 2013

Mengatasi masaalah Kuat Marah pada anak..

Bhd's photo.
[ TIPS ] - MENGATASI MASALAH KUAT MARAH PADA ANAK

Anak kita adalah cermin diri kita…….. 

Kanak-kanak dalam lingkungan umur 2-7 tahun (preschool memang sering dilabelkan lasak kerana ingin mencuba apa sahaja yang dilihat dan mereka juga didapati ‘tidak dengar kata’. Apa yang berlaku ialah ketiadaan komunikasi dua hala di antara ibu bapa dan anak. 

Di samping itu kanak-kanak sebenarnya tidak dapat mendengar arahan dengan baik kerana tidak memberikan perhatian kepada suara ibu bapa. Sebaliknya perhatian mereka hanya tertumpu kepada permainan mereka dan alam sekeliling yang ingin diterokai. 

Kanak-kanak mempunyai komunikasi verbal yang sangat terhad disebabkan mereka tidak mempunyai pengetahuan (input) tentangnya. Mereka juga baru sahaja belajar bercakap, oleh itu ibu bapa kerapkali tidak dapat memahami apakah sebenarnya yang dimahukan oleh anak. 

Maka jadilah anak tersebut menjerit, membaling barang, memusnahkan permainan dan sebagainya lantaran frustration (kekecewaan) kerana hajatnya tidak difahami dan dipenuhi. Kanak-kanak pun tahu kecewa sebenarnya tuan/puan. Justeru itu siapakah yang bersalah? Sudah tentulah orang dewasa kerana tidak berusaha untuk memahami kehendak si anak. 

Ada beberapa tips yang boleh diberikan untuk tuan/puan berusaha mengatasi masalah ini. 

1. Kanak-kanak sangat memerlukan belaian kasih sayang dan perhatian dari kedua ibu bapa. Sekiranya bapa jarang mendampingi anak, sudah tentulah anak akan mengalihkan perhatian kepada ibunya. 

Oleh itu cuba fahami bahasa anak dengan bertanya secara lemah lembut kepadanya. Tinggalkan sebentar apa yang tuan/puan lakukan dan berikan perhatian kepada anak. Pandang mukanya dan tatap matanya. Berapa kalikah dalam sehari kita bertentang mata dengan anak. Eye contact sangat penting di dalam apa-apa jenis komunikasi walaupun dengan anak kecil. 

2. Sebaik sahaja tuan/puan pulang dari bekerja dan mengambil anak dari nurseri, luangkan masa setengah jam terlebih dahulu bersama anak. Jangan terus ke dapur memasak, angkat kain dsb. Berikan perhatian pertama tuan/puan kepada anak.
Tanyakan dengan lembut dan mesra apa yang dibuatnya seharian di rumah bersama bibik atau di nurseri/tadika. Dukung dan peluklah dia serta nyatakan di telinganya, papa/mama sangat sayangkannya. Bermain-main dengannya lebih kurang setengah jam, barulah puan minta diri untuk ke dapur dsb. Insya Allah anak akan lebih mendengar kata kerana perhatian yang diharapkannya telah diperolehi.

3. Ajarkan anak dengan perkataan “tunggu sebentar boleh” sekiranya anak perlukan sesuatu dan tuan/puan tidak dapat berikannya kerana sedang sibuk memasak dsb. Dan layanilah dia sebaik sahaja berkesempatan.
Jangan buat tak tahu sahaja atau bersikap acuh tidak acuh kerana sebenarnya tuan/puan sedang mengajar anak agar tidak menghiraukan tuan/puan sekiranya tuan/puan pula yang memanggilnya.
The right way to make her listen to you is by listening to her first. Kita tidak boleh expect anak patuh setiap arahan kita kerana Allah tidak menjadikan ia berlaku demikian. Ingatlah anak belajar dengan meniru setiap perbuatan kita. Buktinya boleh dilihat apabila dia melayani adiknya pula.

4. Cuba fahami personaliti anak. Setiap anak dikurniakan oleh Allah dengan personalitinya yang tersendiri. Anak yang suka menjerit walaupun tidak mempunyai apa-apa sebab boleh dikategorikan sebagai personality Sanguine. Anak ini memang sangat sukakan perhatian. Oleh itu jika anak ini menjerit, berilah perhatian kepadanya seperti memandang ke arahnya, bertepuk tangan sekiranya dia menyanyi dengan kuat dsb.
Walau bagaimanapun, tuan/puan boleh mengajarkan kepadanya bahawa perbuatan suka menjerit adalah tidak bagus kerana boleh mengganggu adik kecil yang sedang tidur.Sekiranya anak suka menjerit, tuan/puan boleh suruh dia mengadap dinding yang kosong dan menjerit di situ berulangkali sehingga dia letih.

Insya Allah dia akan kurang suka kepada menjerit kerana mendapati aktiviti tersebut memenatkan. Mungkin dia akan berhenti menjerit atau membuat perangai beberapa hari. Sekiranya dia mengulanginya semula, puan suruh dia lakukan perkara yang sama sehinggalah dia berhenti lama kelamaan.

Berikan dia hadiah (gula-gula dsb) jika tuan/puan dapati dia tidak menjerit atau semakin kurang menjerit dalam satu hari sebagai positive reinforcement. Katakan padanya, papa/mama beri hadiah coklat kerana kakak tidak menjerit hari ini. Dengan ini anak akan faham bahawa papa/mama tidak menyukai perbuatan tersebut.

5. Sentiasa ingatkan diri tuan/puan dengan sifat positif anak. Keletah dan karenah anak yang menghiburkan. Tumpukan perhatian tuan/puan terhadap kelebihan tersebut, jangan ingati kekurangan anak dan doakan setiap kali selesai sembahyang agar Allah memudahkan tuan/puan mengubah sifat negatifnya.

Bayangkan anak dengan semua sifat-sifat positif yang tuan/puan inginkan setiap kali tuan/puan berinteraksi dengan anak. Boleh juga tuan/puan berbuat demikian setengah jam setelah anak sudah masuk tidur dan nyenyak tidurnya. Usapkan dengan lembut di ubun-ubun kepalanya, cium dan bacakan selawat serta sebutkan harapan tuan/puan kepadanya.

Misalnya ‘papa/mama sayang kakak, papa/mama mahu kakak tidak menjerit lagi’. Sebutkan perkara spesifik yang tuan/puan mahukan. Jangan hanya menyebut ‘papa/mama harap kakak berubah’ atau menyebut dengan nada negatif seperti ‘mpapa/ama tak suka kakak menjerit’. Teknik ini dipanggil imagery atau visualization dan didapati sangat berkesan jika dilakukan berulangkali. Tuan/Puan juga boleh membacakan surah AlFatihah, Ayat Kursi dan 3 Kul kepada anak setiap kali mereka masuk tidur untuk memelihara dari gangguan syaitan. Tuan/Puan, mendidik anak tidak mudah apatah lagi di zaman globalisasi yang serba mencabar.

Semoga tuan/puan lebih bersabar, jangan ignore anak dan cubalah memahaminya. Fahami dunia anak yang tiada masalah, penuh keseronokan dan penerokaan. Bayangkan perasaan anak apabila dimarahi sedangkan apa yang cuba dibuatnya hanyalah meneroka alam sekeliling.

Anak-anak hidup dalam dunia yang tiada peraturan. Ibubapalah yang membuat peraturan, disiplin dan juga galakan kepada anak. Belilah buku-buku tentang panduan mendidik anak, mengenali personaliti anak dan cara-cara menghadapinya.

Sekian, semoga Allah mengurniakan rahmat dan kebijaksanaan kepada tuan/puan. Jangan berputus asa dengan anak kerana ia akan membuatkan anak berputus asa terhadap kita sebagai ibubapanya.

SHARE - SHARE  > www.facebook.com/gsr2u
 
 
[ TIPS ] - MENGATASI MASALAH KUAT MARAH PADA ANAK

Anak kita adalah cermin diri kita……..

Kanak-kanak dalam lingkungan umur 2-7 tahun (preschool memang sering dilabelkan lasak kerana ingin mencuba apa sahaja yang dilihat dan mereka juga didapati ‘tidak dengar kata’. Apa yang berlaku ialah ketiadaan komunikasi dua hala di antara ibu bapa dan anak.

Di samping itu kanak-kanak sebenarnya tidak dapat mendengar arahan dengan baik kerana tidak memberikan perhatian kepada suara ibu bapa. Sebaliknya perhatian mereka hanya tertumpu kepada permainan mereka dan alam sekeliling yang ingin diterokai.

Kanak-kanak mempunyai komunikasi verbal yang sangat terhad disebabkan mereka tidak mempunyai pengetahuan (input) tentangnya. Mereka juga baru sahaja belajar bercakap, oleh itu ibu bapa kerapkali tidak dapat memahami apakah sebenarnya yang dimahukan oleh anak.

Maka jadilah anak tersebut menjerit, membaling barang, memusnahkan permainan dan sebagainya lantaran frustration (kekecewaan) kerana hajatnya tidak difahami dan dipenuhi. Kanak-kanak pun tahu kecewa sebenarnya tuan/puan. Justeru itu siapakah yang bersalah? Sudah tentulah orang dewasa kerana tidak berusaha untuk memahami kehendak si anak.

Ada beberapa tips yang boleh diberikan untuk tuan/puan berusaha mengatasi masalah ini.

1. Kanak-kanak sangat memerlukan belaian kasih sayang dan perhatian dari kedua ibu bapa. Sekiranya bapa jarang mendampingi anak, sudah tentulah anak akan mengalihkan perhatian kepada ibunya.

Oleh itu cuba fahami bahasa anak dengan bertanya secara lemah lembut kepadanya. Tinggalkan sebentar apa yang tuan/puan lakukan dan berikan perhatian kepada anak. Pandang mukanya dan tatap matanya. Berapa kalikah dalam sehari kita bertentang mata dengan anak. Eye contact sangat penting di dalam apa-apa jenis komunikasi walaupun dengan anak kecil.

2. Sebaik sahaja tuan/puan pulang dari bekerja dan mengambil anak dari nurseri, luangkan masa setengah jam terlebih dahulu bersama anak. Jangan terus ke dapur memasak, angkat kain dsb. Berikan perhatian pertama tuan/puan kepada anak.
Tanyakan dengan lembut dan mesra apa yang dibuatnya seharian di rumah bersama bibik atau di nurseri/tadika. Dukung dan peluklah dia serta nyatakan di telinganya, papa/mama sangat sayangkannya. Bermain-main dengannya lebih kurang setengah jam, barulah puan minta diri untuk ke dapur dsb. Insya Allah anak akan lebih mendengar kata kerana perhatian yang diharapkannya telah diperolehi.

3. Ajarkan anak dengan perkataan “tunggu sebentar boleh” sekiranya anak perlukan sesuatu dan tuan/puan tidak dapat berikannya kerana sedang sibuk memasak dsb. Dan layanilah dia sebaik sahaja berkesempatan.
Jangan buat tak tahu sahaja atau bersikap acuh tidak acuh kerana sebenarnya tuan/puan sedang mengajar anak agar tidak menghiraukan tuan/puan sekiranya tuan/puan pula yang memanggilnya.
The right way to make her listen to you is by listening to her first. Kita tidak boleh expect anak patuh setiap arahan kita kerana Allah tidak menjadikan ia berlaku demikian. Ingatlah anak belajar dengan meniru setiap perbuatan kita. Buktinya boleh dilihat apabila dia melayani adiknya pula.

4. Cuba fahami personaliti anak. Setiap anak dikurniakan oleh Allah dengan personalitinya yang tersendiri. Anak yang suka menjerit walaupun tidak mempunyai apa-apa sebab boleh dikategorikan sebagai personality Sanguine. Anak ini memang sangat sukakan perhatian. Oleh itu jika anak ini menjerit, berilah perhatian kepadanya seperti memandang ke arahnya, bertepuk tangan sekiranya dia menyanyi dengan kuat dsb.
Walau bagaimanapun, tuan/puan boleh mengajarkan kepadanya bahawa perbuatan suka menjerit adalah tidak bagus kerana boleh mengganggu adik kecil yang sedang tidur.Sekiranya anak suka menjerit, tuan/puan boleh suruh dia mengadap dinding yang kosong dan menjerit di situ berulangkali sehingga dia letih.

Insya Allah dia akan kurang suka kepada menjerit kerana mendapati aktiviti tersebut memenatkan. Mungkin dia akan berhenti menjerit atau membuat perangai beberapa hari. Sekiranya dia mengulanginya semula, puan suruh dia lakukan perkara yang sama sehinggalah dia berhenti lama kelamaan.

Berikan dia hadiah (gula-gula dsb) jika tuan/puan dapati dia tidak menjerit atau semakin kurang menjerit dalam satu hari sebagai positive reinforcement. Katakan padanya, papa/mama beri hadiah coklat kerana kakak tidak menjerit hari ini. Dengan ini anak akan faham bahawa papa/mama tidak menyukai perbuatan tersebut.

5. Sentiasa ingatkan diri tuan/puan dengan sifat positif anak. Keletah dan karenah anak yang menghiburkan. Tumpukan perhatian tuan/puan terhadap kelebihan tersebut, jangan ingati kekurangan anak dan doakan setiap kali selesai sembahyang agar Allah memudahkan tuan/puan mengubah sifat negatifnya.

Bayangkan anak dengan semua sifat-sifat positif yang tuan/puan inginkan setiap kali tuan/puan berinteraksi dengan anak. Boleh juga tuan/puan berbuat demikian setengah jam setelah anak sudah masuk tidur dan nyenyak tidurnya. Usapkan dengan lembut di ubun-ubun kepalanya, cium dan bacakan selawat serta sebutkan harapan tuan/puan kepadanya.

Misalnya ‘papa/mama sayang kakak, papa/mama mahu kakak tidak menjerit lagi’. Sebutkan perkara spesifik yang tuan/puan mahukan. 
 
Jangan hanya menyebut ‘papa/mama harap kakak berubah’ atau menyebut dengan nada negatif seperti ‘mpapa/ama tak suka kakak menjerit’. Teknik ini dipanggil imagery atau visualization dan didapati sangat berkesan jika dilakukan berulangkali. 
 
Tuan/Puan juga boleh membacakan surah AlFatihah, Ayat Kursi dan 3 Kul kepada anak setiap kali mereka masuk tidur untuk memelihara dari gangguan syaitan. T
 
Tuan/Puan, mendidik anak tidak mudah apatah lagi di zaman globalisasi yang serba mencabar.

Semoga tuan/puan lebih bersabar, jangan ignore anak dan cubalah memahaminya. Fahami dunia anak yang tiada masalah, penuh keseronokan dan penerokaan. Bayangkan perasaan anak apabila dimarahi sedangkan apa yang cuba dibuatnya hanyalah meneroka alam sekeliling.

Anak-anak hidup dalam dunia yang tiada peraturan. Ibubapalah yang membuat peraturan, disiplin dan juga galakan kepada anak. Belilah buku-buku tentang panduan mendidik anak, mengenali personaliti anak dan cara-cara menghadapinya.

Sekian, semoga Allah mengurniakan rahmat dan kebijaksanaan kepada tuan/puan. Jangan berputus asa dengan anak kerana ia akan membuatkan anak berputus asa terhadap kita sebagai ibubapanya.

SHARE - SHARE > www.facebook.com/gsr2u

Maksud Sebenar Hadith Agama adalah Nasihat

MAKSUD SEBENAR HADITH AGAMA ADALAH NASIHAT oleh Maulana Asri Yusuf


لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَى وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Orang-orang yang lemah dan orang-orang yang sakit, dan juga orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu yang akan dibelanjakan, tidaklah menanggung dosa (kerana tidak turut berperang) apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya. Tidak ada jalan sedikitpun bagi menyalahkan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya; dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani (al-Tawbah[9:91])


Berdasarkan :
http://www.youtube.com/watch?v=lUfGE0-Z83M

Saturday, April 13, 2013

Jangan Kamu berdengki- dengkia...



Dari Abu Hurairah r.a, katanya :

Telah bersabda Rasulullah SAW :
" Janganlah kamu berdengki-dengkian, dan jangan kamu tipu-menipu, dan jangan benci-membenci, dan jangan musuh memusuhi, dan jangan kamu berjual beli atas jual beli setengah yang lain, dan jadilah kamu sekelian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah bersaudara sesama Muslim, tidak boleh menganiayanya, tidak boleh membiarkannya tertindas, tidak boleh mendustainya dan tidak boleh menghinainya. Taqwa itu berpunca dari sini - sambil Nabi SAW menunjukkan ke dadanya tiga kali. Sudah memadailah kejahatan seorang itu jika ia menghina saudaranya yang Islam. Seorang Muslim ke atas seorang Muslim yang lain diharamkan darahnya, harta bendanya dan kehormatannya. ' "

" Barangsiapa yang melapangkan seorang mukmin suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskan dirinya dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang yang susah, nescaya Allah akan meringankan penderitaan dirinya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup keaipan seorang Muslim, nescaya Allah akan menutup keaipannya di akhirat. Dan Allah selalu menolong hambaNya, selagi hambaNya berusaha menolong saudaranya. Barangsiapa yang menuju satu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah akan memudahkan suatu jalan baginya ke syurga. Dan tidak berhimpun suatu kelompok manusia dalam suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarainya antara sesama mereka, melainkan diturunkan ke atas perhimpunan mereka ketenteraman, diliputi oleh rahmat., di kelilingi oleh para Malaikat dan disebut Allah kepada sesiapa yang di sisiNya. Sesiapa yang dilengahkan oleh amalannya maka tidak akan dipercepatkan oleh keturunannya. "



Dari ‘Aisyah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:”Rahim (kasih sayang) itu tergantung di “Arasy. Katanya:”Siapa yang menghubungkanku, menghubungi pula Allah akan dia dan siapa memutuskanku, memutuskan pula Allah akan dia.”
~Mohamed Ibrahim Maricar

Seruan Multaqa Asatizah & Du’at (MURSHID)

Multaqa Asatizah & Du'at (MURSHID)'s photo.
Seruan Multaqa Asatizah & Du’at (MURSHID)
Menjelang PRU-13 Malaysia


MURSHID adalah perkumpulan asatizah, pendakwah dan ilmuan Islam yang meyakini bahawa pendekatan Islam yang Wasatiyyah merupakan cara yang terbaik untuk umat Islam melaksanakan Syariat Islam di dalam kehidupan mereka. Bertitik tolak dari kesedaran para ilmuwan merupakan guru dan pembimbing masyarakat, MURSHID terpanggil untuk membuat kenyataan rasmi menjelang PRU-13 sebagai sebahagian dari usaha mendidik dan menasihati masyarakat.

Berpegang kepada prinsip-prinsip fundamental yang telah digariskan oleh al-Quran dan Sunnah Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam berkaitan politik, kepimpinan, hak warga yang dipimpin dan juga peranan segenap anggota masyarakat seumpama:

1. Prinsip Amanah

al-Quran: “Allah telah memerintahkan kamu agar menunaikan amanah kepada mereka yang berhak, dan apabila kamu menghukum di antara manusia, berhukumlah dengan adil…. (al-Nisa (4): 58).

al-Quran (Ali Imran, (3): 103): “Berpeganglah kamu dengan tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”

Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam juga berpesan: “Setiap kamu adalah pengembala, dan setiap kamu bertanggungjawab ke atas gembalaanmu” (HR al-Bukhari)

2. Prinsip ‘Adl wa Ihsan

“Allah telah memerintahkan kamu agar menunaikan amanah kepada mereka yang berhak, dan apabila kamu menghukum di antara manusia, berhukumlah dengan adil…. (al-Nisa (4): 58)

Rasulullah Sallaallahu’alaihi wasallam, di antara lain yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan (menyempurnakan sesuatu dengan baik) dalam semua perkara.” (HR Muslim)

Di dalam hadis lain, baginda juga ada menyebutkan: “Barangsiapa yang berupaya memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya” (HR Muslim);

Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam juga menjanjikan menurut hadis yang disampaikan oleh Abu Hurayrah: “Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat.” (HR Muslim);


3. Prinsip Amar Ma’ruf Nahy Munkar (Mengajak kepada kebaikan melarang kemungkaran)

“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka: orang-orang yang fasik.” (Al Imran (3): 110);

Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam yang menyentuh persoalan tersebut, antaranya: “Barangsiapa yang nampak kemungkaran hendaklah dia merubahnya dengan tangan, dan jika dia tidak mampu, maka hendaklah dia menggunakan lisannya, dan jika tidak mampu hendaklah dia merubahnya dengan hatinya, maka itu adalah selemah-lemah iman” (HR Muslim.)

Di dalam hadis yang lain pula, Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ketua para syuhada di syurga ialah Hamzah, dan seorang lelaki yang berdiri di hadapan pemimpin yang zalim dan menasihatinya, dan kemudian dia dibunuh” (Hadis riwayat al-Hakim.)

Baginda juga menyatakan di dalam makna yang sama: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan pemimpin yang zalim” (Hadith riwayat al-Tarmidhi, Abu Daud dan Ibn Majah)


4. Prinsip Islah

“Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai umat Muhammad) ummatan wasata (satu umat yang pertengahan), supaya kamu layak menjadi orang yang menjadi Syuhada (saksi dan pemberi keterangan) kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah) dan Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi orang yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu.” (al-Baqarah (2): 143)

Islah juga merupakan tema asasi perutusan para Nabi dan Rasul. Pendekata, Islam sepertimana yang telah diturunkan oleh Allah SWT ke atas manusia sekeliannya melalaui para Nabi dan Rasul mempromosikan Islah secara hebat. Islah adalah tugas utama para Khalifah di muka bumi sebagai manifestasi kepada pandangan dunia Tawhid mereka. Tanpa Islah, proses ubudiyyah tidak akan berlaku secara berterusan dan diwarisi turun temurun .

5. Prinsip Akhlak Mulia

Allah SWT menegaskan: “Bantu-membantulah kamu di dalam hal kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu bantu-membantu di dalam hal maksiat dan permusuhan…” (Al-Maidah (5): 2)

Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam: “Sesungguhnya aku telah diutuskan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia (makarim al-akhlaq)” (Riwayat Malik b. Anas.)

Rasulullah sallaallahu’alaihi wasallam kepada Abu Bazrah ketika ia berkata kepada beliau: 
Wahai Rasululah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku.’ Beliau bersabda: “Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.” (Riwayat Ahmad di dalam Musnad.)


Bertitik tolak dari kesedaran dan prinsip-prinsip yang telah disebutkan, maka MURSHID menyeru:

1) Kepada para warga Malaysia Muslim yang layak mengundi, agar:

a) Menjalankan tanggungjawab mengundi dan hak yang dijamin oleh perlembagaan untuk memilih pemimpin pilihan anda melalui saluran demokrasi yang ada.
b) Membuat pilihan yang tepat berdasarkan maklumat yang lengkap dan adil terhadap calon-calon, parti-parti yang bertanding serta manifesto mereka.
c) Tidak menjadikan sentimen, fitnah, kebencian dan juga hasutan sebagai asas di dalam membuat pilihan ketika membuang undi.
d) Mengeji dan mengelakkan diri dari memberikan sebarang sokongan kepada usaha meraih undi melalui cara siaran gambar atau video berunsur lucah dan tidak bermoral sama ada ia melibatkan ahli atau pemimpin dari apa parti sekalipun. Dilarang juga menyebarluaskan video dan gambar terbabit hatta kalau ia benar sekalipun. Pihak berkuasa yang terlibat juga boleh membuat siasatan seadilnya berdasarkan undang-undang. Hal ini terpakai kepada seluruh warga Malaysia dari semua parti dan bangsa.
e) Memilih mereka yang mempunyai ciri-ciri pemimpin yang boleh menunaikan amanah, bersikap mesra-Islam dan juga mempunyai ciri-ciri pemimpin yang telah disebutkan di atas.
f) Memilih parti yang boleh memartabatkan Islam, berusaha ke arah tadbir urus yang baik (good governance), keadilan dan juga amalan politik yang sihat.
g) Memilih calon yang kuat berpegang dengan agama dan tinggi moralnya, hatta di kalangan bukan Islam sekalipun, kerana pegangan agama dan moral akan lebih menjamin keadilan, amanah dan integriti.
h) Mempertahankan harga diri dengan tidak mengambil rasuah politik, samada, duit, material dan dalam bentuk seumpamanya.
i) Berusaha mencari keyakinan terhadap seseorang calon yang bertanding, partinya dan gabungan bersamanya itu mampu dari sudut 'track record' untuk membawa lebih manfaat lebih baik kepada kebajikan awam. 'Track record' adalah faktor penting bagi menilai kebolehan dan skill calon, parti dan gabungannya untuk mentadbir negara Malaysia.
j) Memahami konteks politik di Malaysia yang mana terdiri dari pelbagai agama, bangsa, parti dan juga memahami jumlah kerusi yang diperlukan untuk membentuk kerajaan persekutuan di Malaysia adalah 112 kerusi parlimen dari 222 seluruh kerusi parlimen. Justeru, pengundi disarankan agar tidak dibazirkan undi masing-masing kepada parti atau calon yang kurang faedah kepada penubuhan kerajaan yang baik dan ditegah dari sengaja merosakkan undi.
k) Menjauhkan diri dari terjebak dalam aktiviti kafir mengkafir secara specifik kepada orang Islam tertentu, ini kerana klasifikasi murtad atau jatuh kafir secara pasti tidak layak diberikan oleh orang awam tanpa perbicaraan yang lengkap.
l) Menggesa agar semua pengundi yang berbeza kecenderungan politik dan parti yang disokong agar tidak (sekiranya tercipta) memanjangkan 'permusuhan', 'sengketa' dan dendam ingin memusnah kepada pihak yang berbeza. Sebaliknya, kembali berbaik dan hidup harmoni sebagai rakyat Malaysia.

Sehubungan itu juga, MURSHID juga ingin mengingatkan para pengundi sekelian bahawa pilihan yang anda lakukan akan dipersoalkan oleh Allah SWT di padang Mahsyar. Maka, pastikan pilihan anda itu bertitik tolak dari keimanan dan ketaqwaan.


2) Kepada parti-parti yang bertanding, agar:

a) Tidak berbohong, fitnah, keji, mencaci, politik kebencian dan kotor.
b) Tidak merasuah dan tidak mengamalkan politik wang untuk mendapatkan undi dan kuasa.
c) Tidak menyalahgunakan hak rakyat, wang pembayar cukai, fasiliti milik rakyat yang sepatutnya bukan milik parti, media dan pengaruh sepanjang kempen pilihanraya.
d) Meletakkan calon yang terbaik, berkarisma, mempunyai ciri-ciri yang disebutkan pada (1.e, f dan g) dan meletakkan sifat beragama sebagai asas, hatta di kalangan bukan Islam.
e) Meletakkan kepentingan agama, negara, masyarakat dan alam sekitar sebagai matlamat mendapatkan kuasa dan bukannya demi keuntungan individu, parti ataupun sesetengah kaum dan bangsa semata-mata.
f) Menawarkan tawaran dan manifesto kepada rakyat Malaysia yang mampu dilaksanakan secara realistik.



Sehubungan dengan itu, MURSHID juga ingin mengingatkan parti-parti yang bertanding bahawa kuasa adalah amanah, tanggung jawab dan bebanan, anda akan dipersoalkan di akhirat nanti. Maka, pastikan tindakan anda semuanya dan bertitik tolak dari keimanan dan ketaqwaan.


3) Kepada pihak media penyiaran dan media cetak, agar:

a) Bersikap adil dan memberikan hak dan peluang yang sama kepada setiap parti tanpa pilih kasih serta tidak menzalimi pihak yang lain.
b) Mengamalkan sikap bertanggungjawab dan jurnalisme beretika dengan menjauhi segala fitnah dan adu domba samada untuk tujuan pemasaran mahupun untuk memberikan kelebihan kepada satu pihak dengan menzalimi pihak yang lain.
c) Mengamalkan sikap profesionalisme yang tinggi dan merealisasikan jurnalisme berhemah serta menjaga akhlak dan moral yang tinggi di dalam membuat liputan, laporan dan juga penilaian.
d) Menjadi mata, telinga dan juga suara rakyat sepanjang membuat liputan mengenai pilihanraya, serta mendahulukan kepentingan rakyat berbanding kepentingan parti-parti tertentu.

Sehubungan dengan itu, MURSHID juga ingin mengingatkan pihak media bahawa anda akan dipersoalkan di akhirat nanti di atas apa yang anda laporkan. Maka, pastikan tindakan anda semuanya bertitik tolak dari keimanan dan ketaqwaan.



4) Kepada pihak Suruhanjaya Pilihanraya (SPR), agar:

a) Menjalankan tugas dan amanah yang telah diberikan oleh rakyat dengan adil, bertanggungjawab, penuh integriti, telus dan bersih.
b) Tidak berpihak, hatta kepada parti yang berkuasa dan sentiasa ingat bahawa akauntabiliti anda adalah kepada rakyat dan bukannya kepada parti yang memerintah sebelum parlimen dibubarkan.
c) Mengutamakan masa depan negara, kepentingan bersama seluruh rakyat Malaysia dan bukannya pihak-pihak tertentu sahaja.
d) Melakukan perkara-perkara yang patut seperti pembersihan senarai pemilih dan bersikap responsive terhadap tuntutan rakyat demi memperbaiki kredebiliti dan imej SPR yang semakin calar dan dipertikaikan.
e) Bertanggungjawab untuk mengembeleng segala usaha bagi mengembalikan keyakinan rakyat kepada fungsi asal SPR yang bukan sekadar tidak berpihak, tetapi juga wajib dilihat sebagai tidak berpihak.

Sehubungan dengan itu, MURSHID juga ingin mengingatkan pihak Suruhanjaya Pilihanraya (SPR) bahawa anda akan dipersoalkan di akhirat nanti di atas tanggungjawab yang anda jalankan. Maka, pastikan perlaksanaan tugas anda semuanya bertitik tolak dari keimanan dan ketaqwaan.

Dari Kami

Tuan Guru Dr Abdul Basit Abdul Rahman (Pengerusi Shura)
Dr Zaharuddin Abd Rahman (Presiden & Ahli Shura)
Tuan Guru Dr Zulkifli Mohamad Al-Bakri (Ahli Shura)
Dr Zahazan Mohamed (Ahli Shura)
Ustaz Roslan Mohamed (Timbalan Presiden & Ahli Shura)
Ustaz Abdullah Bukhari Abdul Rahman (Naib Presiden)
Ustaz Ahmad Husni Abd Rahman (Setiausaha Agung)
Ust Muhd Ramadhan Fitri Ellias (Bendahari Agung)


Ahli Jawatankuasa

Dr Maszlee Malik
Dr Ahmad Wifaq Mokhtar
Dr Mohd Sukki Othman
Ustaz Mohd Asyraf Mohd Ridzuan
Ustaz Fauwaz Fadzil
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil
Ustaz Mohammad Nidzam Abdul Kadir
Ustaz Mohd Aizam Mas’od
Ustaz Mohd Izhar Ariff Mohd Kassim
Ustaz Mohd Zamri bin Haji Mohd Zainuldin
Ustaz Syed Mohd Nor Hisyam Tuan Padang
Xifu Abdul Naser Abdul Rahman

13 April 2013