Showing posts with label Al Hadis. Show all posts
Showing posts with label Al Hadis. Show all posts

Saturday, July 12, 2014

Lima kelebihan Nabi Muhammad s.a.w





Lima kelebihan Nabi Muhammad s.a.w.:

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً.

Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang (Nabi)pun sebelumku:

(1) Aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan (yang Allah masukkan dalam hati) mereka sejauh satu bulan perjalanan,

(2) Dijadikan bumi untukku sebagai tempat sujud dan bersuci. Maka apabila saja seseorang daripada umatku mendapati waktu shalat, hendaklah dia shalat,

(3) Dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk seorang (Nabi)pun sebelumku,

(4) Aku diberikan (hak untuk memberikan) syafa’at (pada Hari Akhirat kelak) dan

(5) Para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.
 [Shahih al-Bukhari, no: 323/335]
-----------------------

Menarik untuk diperhatikan kelebihan no: 2. Seluruh bumi ini boleh dijadikan tempat bersuci, yakni tayamum. Ini menguatkan pandangan yang mengatakan tayamum bukan sekadar dengan tanah tetapi lain-lain seperti pasir dan batu.

 Bahkan ada yang meluaskannya kepada logam-logam seperti tembaga dan besi, bahkan pokok, selagi mana ia masih di bumi.
Persoalannya, jika yang dibumi sudah dikeluarkan untuk kegunaan manusia, bolehkah ia digunakan untuk bertayamum?
Contohnya batu marmar yang telah dikeluarkan kemudian diproses menjadi jubin lantai (floor tiles).
Contoh lain, seorang muslim yang dipenjarakan dan tidak diberikan air untuk berwudhu'. Bolehkah dia bertayamum dengan lantai simen penjaranya atau gril besi penjaranya?

Sesuatu untuk kita fikirkan 

~ Hafiz Firdaus Abdullah

Saturday, April 13, 2013

Jangan Kamu berdengki- dengkia...



Dari Abu Hurairah r.a, katanya :

Telah bersabda Rasulullah SAW :
" Janganlah kamu berdengki-dengkian, dan jangan kamu tipu-menipu, dan jangan benci-membenci, dan jangan musuh memusuhi, dan jangan kamu berjual beli atas jual beli setengah yang lain, dan jadilah kamu sekelian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah bersaudara sesama Muslim, tidak boleh menganiayanya, tidak boleh membiarkannya tertindas, tidak boleh mendustainya dan tidak boleh menghinainya. Taqwa itu berpunca dari sini - sambil Nabi SAW menunjukkan ke dadanya tiga kali. Sudah memadailah kejahatan seorang itu jika ia menghina saudaranya yang Islam. Seorang Muslim ke atas seorang Muslim yang lain diharamkan darahnya, harta bendanya dan kehormatannya. ' "

" Barangsiapa yang melapangkan seorang mukmin suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskan dirinya dari suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang yang susah, nescaya Allah akan meringankan penderitaan dirinya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup keaipan seorang Muslim, nescaya Allah akan menutup keaipannya di akhirat. Dan Allah selalu menolong hambaNya, selagi hambaNya berusaha menolong saudaranya. Barangsiapa yang menuju satu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah akan memudahkan suatu jalan baginya ke syurga. Dan tidak berhimpun suatu kelompok manusia dalam suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarainya antara sesama mereka, melainkan diturunkan ke atas perhimpunan mereka ketenteraman, diliputi oleh rahmat., di kelilingi oleh para Malaikat dan disebut Allah kepada sesiapa yang di sisiNya. Sesiapa yang dilengahkan oleh amalannya maka tidak akan dipercepatkan oleh keturunannya. "



Dari ‘Aisyah r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:”Rahim (kasih sayang) itu tergantung di “Arasy. Katanya:”Siapa yang menghubungkanku, menghubungi pula Allah akan dia dan siapa memutuskanku, memutuskan pula Allah akan dia.”
~Mohamed Ibrahim Maricar

Tuesday, March 12, 2013

Pemimpin Adalah Perisai Umat Islam

 

Pemimpin Adalah Perisai Umat Islam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, rakyat akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya. Apabila ia memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta bertindak adil, maka ia akan mendapat pahala. Tetapi jika ia memerintahkan dengan selain itu, maka ia akan mendapat akibat buruk hasil perbuatannya.” [Hadis Riwayat Muslim, 9/376, no. 3428]

Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) menjelaskan:

أي كالستر لأنه يمنع العدو من أذى المسلمين ويمنع الناس بعضهم من بعض ويحمي بيضة الإسلام ويتقيه الناس ويخافون سطوته ومعنى يقاتل من ورائه أي يقاتل معه الكفار والبغاة والخوارج وسائر أهل الفساد والظلم مطلقا

“Maksud menjadi perisai di sini adalah sebagai tabir yang menghalang musuh dari mengganggu umat Islam, juga menjaga perhubungan (perpaduan) dalam kalangan masyarakat, menjaga kehormatan Islam, menjadi yang ditakuti (dihormati) rakyatnya, dan mereka berlindung kepadanya. Berperang di belakangnya pula, maksudnya adalah berperang bersama pemimpin melawan orang-orang kafir, pembangkang (atau pemberontak), kaum khawarij, setiap orang yang melakukan kerosakan (ahli fasad), dan mereka yang melakukan kezaliman secara umum.” [Syarah Shahih Muslim, 12/230]


Friday, December 7, 2012

Janganlah kalian duduk dengan orang-orang yang berpegang pada rasional mereka..

‘Umar bin al-Khattab radyAllahu’anhu berkata:

“..Janganlah kalian duduk dengan orang-orang yang berpegang pada rasional mereka[1]. Kerana sesungguhya mereka itu musuh-musuh Sunnah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam[2], mereka tidak mampu menghafal (memerlihara) as-Sunnah, mereka lupa (dalam sebuah riwayat, mereka diserang) hadith-hadith Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mereka pun tidak mampu untuk memahaminya[3], mereka ditanya tentang hal yang tidak mereka ketahui lalu merasa malu untuk mengatakan, “Kami tidak tahu” sehingga mereka berfatwa dengan rasional mereka[4], maka mereka tersesat dari jalan yang lurus dan bahkan menyesatkan banyak orang[5]. Sesungguhnya Nabimu tidaklah wafat kecuali setelah Allah azza wajalla mencukupi dengan wahyu dan menjauhkan rasional[6]. Dan seandainya rasional lebih utama daripada Sunnah, niscaya mengusap bahagian bawah kedua sepatu (khuf) lebih utama daripada mengusap bahagian atasnya[7]..”

(Atsar Sahih al-Laalikai dalam Syarh Ushoolil I’tiqad no.201)
Kemudian aku menambah penjelasan agar manfaat:

  • [1] Terdapat larangan berduduk dengan ahlul bid'ah dan ini sangat masyhur di kalangan pelajar yang istiqamah atas manhaj Ahlus Sunnah serta tidak muwazanah dengan ahlul bid'ah. Kemudian yang dimaksudkan d
    i sini adalah ahli ra'yi (akal-akalan) dan merupakan larangan daripada Khalifah Umar radyallahu'anhu dimana berdasarkan hadith Irbad bin Sariyah, kaum muslimin harus mengambil perhatian larangan ini.
    "..Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelah peninggalanku, dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib bagimu untuk berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang diberi hidayah dan juga mereka berada diatas petunjuk, berpegang teguhlah padanya dan gigitlah dengan gigi gerhammu, serta jauhilah berbagai perkara baru (dalam agama) kerana sesungguhnya setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah..”
    (Tirmidzi no.2676-sahih)

    [2] Ketahuilah-semoga Allah merahmati kalian-bahawa musuh Islam adalah golongan kuffar yang berada di luar Islam dan di dalam Islam adalah golongan munafiqun dan ahlul bid'ah yang menentang agama Allah azza wajalla.

    [3] Di dalam sebuah hadith sahih, Nabi salallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
    "..Barangsiapa yang dipilih Allah azza wajalla kebaikan buatnya maka akan diberikan kefahaman terhadap agamanya.."
    kemudian hadith berikutnya yang masyhur sahih:
    "..Semoga Allah memberi kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataanku kemudian dia menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Bisa jadi orang yang membawa fiqh bukanlah seorang faqih, dan bisa jadi orang yang membawa fiqh ini membawanya kepada orang yang lebih faqih daripada dirinya.."
     
    Maka dapat difahami bahwa sebahagian manusia merasakan berat bagi mereka mambaca atau menghafal hujjah dan kemungkinan mereka yang berlandaskan rasional mereka tidak memahami hujjah tersebut kerana kefahaman merupakan kurnia daripada Allah azza wajalla dan tidak kesemua orang yang diangkat derajatnya di sisi-Nya sebagai ahli dzikir (ahli ilmu).

    [4] Merupakan sikap amanah para ulama' apabila menghadapi sesuatu soalan yang mereka tidak mengetahui atau ragu akan hadith yang mereka miliki dan mungkin disebabkan fitnah kebohongan kaum rafidhah dan munafiq pada zamannya mahupun kekhawatiran berdusta terhadap agama Allah azza wajalla, mereka akan mengatakan "Allahu'alam" atau "Aku tidak tahu". Malah Nabi salallahu 'alaihi wa sallam serta Malaikat Jibril 'alaihi sallam menyebutkan "Aku tidak tahu" kerana belum datang wahyu kepada mereka (Lihat Shifah Al-Fatwa wa Al-Mufti wa Al-Mustafti hlm 9).
     
    Allah azza wajalla berfirman:
    "..Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung..”
    (6:116)
    Al-Barra mengatakan, “..Aku melihat tiga ratus pengikut perang Badar, tidak seorang pun diantara mereka melainkan ingin bila sahabatnya yang menjadi ahli fatwa, bukan dirinya..”
    (Lihat Afatul ‘Ilm oleh Abu Abdillah Muhammad Ruslan)

    [5] Orang-orang yang sesat daripada jalan Tuhannya kerana meninggalkan manhaj Salafus Soleh disebutkan di dalam surah an-Nisa’ ayat 115:
    “..Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali..”
    (4:115)
    Bahkan dengan mereka memalingkan wajah mereka daripada al-Qur’an dan as-Sunnah maka kesesatan mereka dipimpin oleh syaithan la’natullah dan mereka merasakan mereka telah mendapat petunjuk:
    “..Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk..”
    (43:36-37)
    Kemudian mereka yang mendapatkan sijil untuk menjadi tokoh dalam bicara terhadap agama sedangkan mereka meninggalkan manhaj Ahlus Sunnah dengan akal mereka dan prinsip dasar yang baru mereka ciptakan dengan hawa nafsu mereka, tidak mereka sedari terhadap mereka hadith berikut:
    “..Diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat, diambilnya ilmu daripada asoghir (ahli bid’ah)..”
    (Kitab az-Zuhud oleh Ibn Mubarak)
    Kemudian hadith berikutnya:
    “..Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan..”
    (Shahih Muslim No.4828)

    [6] Berdasarkan ayat al-Qur’an:
    "..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..”
    (5:3)
    Dan di dalam hadith nabi salallahu ‘alaihi wa sallam:
    “..Aku tinggalkan kalian dalam suasana terang benderang. Malamnya seperti siang. Tidak ada yang tergelincir setelahku kecuali orang yang celaka..”
    (Ibnu Majah no.43)

    [7] Yaitu menegaskan bahawa agama Islam adalah isttiba’ bukan rasional. Lihatlah sikap para sabahat radyallahu’anhum ajma’in yang termaktub di dalam al-Qur’an:
    “..Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung..”
    (24:51)
    Berkata ‘Abdullah Ibn Mas’ud dalam menjelaskan sikap kaum muslimin terhadap perintah daripada Allah dan Rasul-Nya:
    “..Ikutilah dan janganlah mengada-adakan kerana sesungguhnya (ajaran syari’at yang ada) telah mencukupi kalian, hendaklah kalian berpegang pada tuntutan agama yang (ada sejak) dulu kala..”
    (al-Laalikai dalam Syarh Ushoolil I’tiqad no.126)

    Allahu'alam
    Abu Mu'adz

Thursday, December 6, 2012

IBN HIBBAN DAN HADIS-HADIS SIFAT

 

 

 

IBN HIBBAN DAN HADIS-HADIS SIFAT

Setelah Al-Sahihayn dan Sunan Al-Tirmidzi, kitab hadis kesukaan saya adalah kitab Sahih yang ditulis oleh Imam Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban Al-Busti (w.354H).[1] Beliau menggunakan pendekatan lintas disiplin yang sangat saya kagumi setiap kali berusaha memahami kandungan hadis-hadis Nabi Saw. Setiap perintah ataupun larangan, bahkan khabar (berita) dan lain-lain, dimaknai dengan sangat teliti dan selari dengan kaidah-kaidah yang diterima oleh para fuqaha. Saya sangat berharap para pengkaji hadis mengambil pendekatan ini setiap kali mencuba untuk memahami pesan Rasulullah Saw yang terakam dalam hadis agar terhindar dari sembarang kekeliruan.
Apabila terlibat dalam projek takhrij sekaligus analisis Sahih Ibn Hibban di bawah bimbingan Syeikh Riyad Al-Khiraqi di Damsyik, saya baru tersadar kekayaan ilmu yang terdapat di dalam kitab ini. Kita dapat menemukan di dalamnya berbagai aspek ilmu-ilmu keislaman seperti fiqh, usul, akidah, bahasa Arab, balaghah, dan tentu sahaja ilmu hadis dengan pelbagai cabangnya. Kitab ini ibarat samudera luas yang mengandungi pelbagai mutiara yang belum tersentuh tangan-tangan manusia. Berbagai aspek kajian yang pernah dilakukan ke atas kitab ini masih terlalu sedikit berbanding ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya.

A. Hadis-Hadis Sifat
Dalam tulisan kali ini, saya mencuba untuk berkongsi bacaan saya berkenaan dengan sikap Ibn Hibban terhadap hadis-hadis sifat. Hadis-hadis sifat yang saya maksudkan adalah pelbagai riwayat yang berasal dari Nabi Saw yang menyebut zat dan sifat-sifat Allah Swt. Dalam kajian Ilmu Kalam, riwayat-riwayat ini melahirkan dua pendekatan para ulama dalam menyikapinya, iaitu tafwid (popular di kalangan ulama generasi salaf) dan takwil (popular di kalangan khalaf). Belakangan ini hadis-hadis tersebut kembali hangat diperbincangkan dalam pelbagai kesempatan dengan pendekatan dan sentuhan yang berbeza-beza.
Saya mengamati bahawa sikap Imam Ibn Hibban dalam hal ini sangat berlainan dengan sikap gurunya, Imam Muhammad bin Ishaq Ibn Khuzaimah (w.311H). Sementara Ibn Khuzaimah cenderung “menetapkan (ithbat)” hadis-hadis itu sesuai dengan zahirnya tanpa takwil,[2] Ibn Hibban sangat aktif menafsirkan setiap kata yang mengandungi kesan tasybih dalam hadis-hadis tersebut berpandukan kaidah bahasa Arab yang sangat relevan.
Ibn Hibban berpendapat bahawa kata-kata seperti ini mesti dipahami sesuai dengan konteks dan tradisi berbahasa yang hidup di masyarakat Arabia kala itu. Bahasa Arab terkenal sangat kaya dengan pelbagai gaya bahasa (uslub), salah satunya penggunaan tamthil (perumpamaan) dan tasybih (penyerupaan), dalam praktik perbincangan mereka. Tamthil dan tasybih ini dikenal kemudian dalam perkembangan Ilmu Balaghah dengan sebutan: majaz. Setiap pembaca hadis harus sadar akan adanya aspek majaz ini apabila membaca hadis-hadis Nabi Saw, dan segera menghindari penafsiran hakikat bagi kata-kata majazi.

B. Majaz dalam Hadis
Ibn Hibban, bersama jumhur ulama, berpendapat bahawa hadis mengandungi majaz sebagaimana Al-Qur’an dan teks-teks berbahasa Arab lainnya. Sebab majaz adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari tradisi berkomunikasi yang dilakukan bangsa Arab.[3] Ibn Hibban bahkan membuat tarjamah (tajuk hadis) seperti ini: “Menyebutkan hadis yang menunjukkan bahawa lafaz-lafaz ini yang berasal daripada kategori ini menggunakan lafaz-lafaz tamthil dan tasybih sesuai dengan tradisi masyarakat (Arab) tanpa menghukumkan dengan zahirnya.”

Wednesday, August 29, 2012

Ancaman Berat Buat Penyebar Hadis Palsu !!!


 
ANCAMAN BERAT BUAT PARA PENYEBAR HADIS PALSU!
Nabi pun diancam oleh Allah jika berdusta atas nama agama? Bagaimana pula dengan pendusta agama dari kalangan para penyebar hadis palsu?

Firman Allah: "Dan kalaulah (Muhammad) mengatakan atas nama Kami sebarang kata-kata rekaan, sudah tentu Kami akan menyentapnya dengan kekuasaan Kami; kemudian sudah tentu Kamiakan memutuskan tali jantungnya." - Surah al-Haqqah, ayat 44-46.

Perhatikan, jika di dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan ancaman yang begitu keras ke atas Nabi dan Rasul-Nya yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam apabila baginda memperkatakan ke atas agama-Nya sesuatu yang bersifat dusta, maka bayangkan pula tahap ancaman yang bakal diberikan kepada mereka yang jauh lebih rendah kedudukannya berbanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbicara secara dusta ke atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mendakwahi manusia kepada mengenal dan mempraktikkan hadis-hadis atau al-Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu amalan yang terpuji dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Malah, dalam banyak hadisnya yang sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri amat memuji dan menjanjikan pahala yang begitu besar kepada mereka yang berusaha menghidupkan semula hadis atau sunnah-sunnahnya di akhir zaman yang penuh dengan pelbagai fitnah kesesatan dan pencemaran agama ini.

Akan tetapi di sebaliknya semua itu, suatu hal yang perlu kita perhatikan di dalam keghairahan mempraktik dan menyebarkan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat manusia adalah mengenai kedudukan (darjat) bagi setiap hadis yang kita amal dan sebarkan, apakah ianya benar-benar suatu yang diambil secara sah (sahih) daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau sebaliknya?

Bukanlah suatu hal yang memeranjatkan kita apabila dikatakan bahawa tidak semua yang kita dengari, kita pelajari, kita amalkan, kita ucapkan dan kita sebar-sebarkan iaitu sesuatu yang sering kita sebut-sebut sebagai "hadis" atau "sunnah" selama ini adalah bersumberkan daripada baginda shallallahu ‘alaihi wasallam.
 

Monday, July 18, 2011

BESARNYA PENGERTIAN NIAT DALAM HIDUP BERAGAMA




Besarnya Pengertian Niat Dalam Hidup Beragama


عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Daripada Umar bin al-Khattab r.a katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya amalan itu dengan niat, setiap orang akan memperolehi apa yang diniatkannya. Oleh itu sesiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, sesiapa yang hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehinya atau perempuan yang akan dinikahinya, hijrahnya itu adalah kepada apa yang dia niatkan. (hadis riwayat al-Bukhari: 1 dan Muslim: 1907))

Huraian:

Perkara yang menjadi ukuran kepada amalan seseorang ialah niat. Ia merupakan pencetus dan pendorong kepada amalan seseorang. Berdasarkan kepada niat, setiap amalan dikira baik, terpuji, buruk dan tercela.


  • Hadis ini mengemukakan kepada kita dua kumpulan manusia yang melakukan sesuatu amalan.Pertama, mereka yang mencari keredaan Allah s.w.t dan mereka adalah orang ikhlas. Kedua, mereka yang mencari dunia di sebalik amalan mereka.


  • Setiap kumpulan ini akan memperolehi apa yang mereka niatkan dan usahakan.


  • Sebagai seorang beriman dan berakal, kita hendaklah sentiasa memastikan niat kita ikhlas tanpa bercampur sebarang unsur yang menjejaskannya.

  • Hadis ini juga menegaskan, seseoarang itu akan menerima hasil daripada tindakannya bersesuaian dengan tujuannya.


Niat itu tempatnya di hati

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Apabila ia baik maka seluruhan tubuh itu menjadi baik dan apabila ia rosak maka rosaklah seluruh tubuh itu. Oleh itu, ketahuilah itu adalah hati. (al-Bukhari dan Muslim)

Hati berperanan sebagai penentu hala tujuan diri seseorang dan menggerakkan anggota tubuh badan sama ada melakukan ketaatan kepada Allah atau sebaliknya.


Hati yang taat kepada Allah akan sentiasa merancang kebaikan-kebaikan yang akan dilaksanakan.


Mempelbagaikan niat dengan amalan yang sama

Hadis ini juga menunjukkan kepada kita jalan untuk mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Dengan menggandakan niat yang ikhlas dan baik kita dapat mencapai beberapa faedah dan pahala.


Contohnya, amalan ke masjid, niat kita ikhlas untuk keredaan Allah. Di samping itu tujuan kita ke masjid untuk sembahyang berjemaah, menghubungkan silaturahim, menuntut ilmu dan sebagainya. Walaupun dengan amalan yang sedikit, kita akan mendapat pahala yang berganda dengan kita memperluaskan niat dan tujuan kita. Di sinilah letaknya keistimewaan niat.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Daripada Abu Darda` katanya Rasulullah s.a.w. besabda: “Sesiapa yang pergi ke tempat tidurnya dalam keadaan berniat untuk bangun malam sembahyang tahajjud lalu dia tidak terjaga sehingga ke subuh maka ditulis untuknya apa yang dia niatkan. Tidurnya (yang dia mendapat pahala denganya) merupakan sedekah untuknya dari Allah s.w.t. (al-Nasa`i)

عَنْ يَحْيَى بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَزَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَمْ يَنْوِ إِلَّا عِقَالًا فَلَهُ مَا نَوَى

Daripada Yahya bin al-Walid bin ‘Ubadah bin al-Samit daripada datuknya katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang berperang di jalan Allah dan dia tidak berniat melainkan untuk memperolehi seutas tali maka dia memperolehi apa yang dia niatkan sahaja. (al-Nasa`i)

Niat yang baik akan setiasa menjadi sebab kepada kelancaran sesuatu perkara.

Dalam hal ini sebuah hadis menyatakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Daripada Abu Hurayrah daripada Rasulullah s.a.w. sabdanya: “Sesiapa yang mengambil harta orang lain dengan niat untuk membayarnya balik maka Allah s.w.t. akan menunaikan bagi pihaknya sebaliknya sesiapa yang mengambil dengan niat untuk merosakkannya (tidak mahu membayar balik maka Allah akan merosakkannya. (al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahawa sesiapa yang mempunyai niat yang baik maka Allah s.w.t. akan mempermudah urusannya.

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَتْ مَيْمُونَةُ تَدَّانُ وَتُكْثِرُ فَقَالَ لَهَا أَهْلُهَا فِي ذَلِكَ وَلَامُوهَا وَوَجَدُوا عَلَيْهَا فَقَالَتْ لَا أَتْرُكُ الدَّيْنَ وَقَدْ سَمِعْتُ خَلِيلِي وَصَفِيِّي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ أَحَدٍ يَدَّانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا

Daripada ‘Imran bin Hudhayfah katanya, Maymunah selalu berhutang dan ianya banyak. Keluarganya menegurnya tentang perkara tersebut, mencelanya dan memarahinya. Beliau menjawab: “Saya tidak akan meninggalkan berhutang dan saya mendengar kekasihku Rasulullah s.a.w bersabda: “tidak ada seorangpun yang berhutang, maka Allah mengetahui bahawa dia mahu membayarnya melaikan Allah akan menunaikannya untuknya di dunia. (al-Nasa`i)

Kesimpulannya, niat ialah berfikir sebelum bertindak, merancang sebelum melaksanakan, kehendak sebelum kekemampuan dan merupakan kekuasaan dan pandangan yang memfokuskan matlamat. Sebelum memulakan urusan pekerjaan haruslah diletakkan matlamat di hadapan. Dengan kata lain, memulakan langkah untuk mencapai matlamat dengan mengikhlaskan amalan kerana itulah asasnya tercapai apa yang diniatkkan.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ كَالْوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَسْفَلُهُ طَابَ أَعْلَاهُ وَإِذَا فَسَدَ أَسْفَلُهُ فَسَدَ أَعْلَاهُ

Daripada Mu’awiyah katanya, saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya amalan-amalan itu seperti bekas. Apabila baik bahagian bawahnya maka baiklah bahagian atasnya. Apabila rosak bahagian bawahnya maka rosaklah bahagian atasnya (Ibn Majah)


Muhammad Hanief bin Awang Yahaya

www.darulkautsar.net

Monday, July 11, 2011

Hadis : Bila ingin meminta(pertolongan), Mintalah Kepada Allah





Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda ,

“Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Peliharala(perintah ) Alloh, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Alloh, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Alloh. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allash bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.”(HR Tirmidzi dia berkata , “Hadits ini hasan shohih”)

Dalam riwayat selain Tirmidzi dengan redaksi:

“Jagalah Alloh, niscaya engkau akan senantiasa mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Alloh di waktu lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan, ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan pernah menimpamu dan apa yang telah ditetapkan menimpamu tidak akan pernah luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan dan kemudahan itu selalu mengiringi kesusahan.”

Kedudukan Hadits
Hadits ini sangat agung karena memuat wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat penting.


Menjaga (memelihara) Allah

Menjaga Allah adalah dengan cara menjaga hak-hakNya. Hak-hak Allah ada dua macam, yaitu hak-hak yang wajib dan hak-hak yang sunnah. Dengan menunaikan kewajiban, dan memelihara sunnah berarti telah menjaga Allah. Menjaga Allah dalam batasan yang wajib yaitu menegakan tauhid, dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Lebih dari itu adalah sunnah. Manusia berbeda-beda derajatnya dalam menjaga Allah.

Pemeliharaan Allah


Pemeliharaan Allah terhadap manusia terwujud dalam dua bentuk, yaitu:

  1. Menjaga urusan dunianya, dalam bentuk menyehatkan badannya, melapangkan rezekinya, memelihara anak dan istrinya, dan lain-lain.
  2. Menjaga urusan agamanya. Bahagian ini lebih penting dan lebih tinggi nilainya dari pada bahagian sebelumnya.Bentuk penjagaannya berupa: hatinya bersih dari kotoran syubhat, senantiasa terikat dengan Allah, penuh rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertaubat kepada-Nya, dan anggota badannya terbebas dari memperturutkan hawa nafsu.

Melalaikan menjaga Allah dapat berakibat hilangnya penjagaan Allah terhadap dirinya.


Meminta Hanya Kepada Allah


Hukum meminta hanya kepada Allah ada dua macam:

  1. Wajib, yaitu meminta sesuatu yang tidak bisa melakukannya kecuali Allah. Inilah tauhid dalam meminta di mana jika dipalingkan kepada selain Allah hukumnya syirik.
  2. Sunat, yaitu dalam hal yang manusia mampu untuk melakukannya dan dia mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.

TAWAKAL


Makna tawakal kepada Allah adalah mengambil sebab yang diperintahkan kemudian menyerahkan urusannya kepada-Nya. Tawakal kepada Allah tanda keimanan yang sangat penting, bahkan merupakan tahap keimanan para nabi.

Dan tawakal kepada makhluk adalah perbuatan yang sangat tercela. Sekalipun makhluk mampu untuk melakukan apa yang kita inginkan, kita tidak boleh bertawakal kepadanya.



Sabar Dan Ridha


Sabar, khususnya ketika mendapatkan kesulitan adalah menjaga hati dari menggerutu, menjaga lisan dari berkeluh kesah dan menjaga diri dari perbuatan yang terlarang.

Ketika ditimpa musibah, di samping wajib untuk bersabar, juga disunatkan untuk redho bahkan jika mampu, bersyukur.


Ridho terhadap musibah adalah yakin bahwa akibat dari musibah tersebut baik baginya, maka tak ada perasaan "seandainya musibah tersebut tidak datang".[bahawa setiap musibah itu ada hikmahnya jika disambut dengan redho, dan bahawa ianya berlaku adalah dengan IZIN Allah ]

Adapun redha yang hukumnya wajib yaitu ridha terhadap perbuatan Allah yang telah mendatangkan musibah dengan kehendak dan kekuasaan-NYA [tiap sesuatu itu berlaku dengan Izin Allah ] . Dengan demikian terkait dengan musibah ada dua bentuk keredhoan, yaitu:

  1. Redha terhadap perbuatan Allah, hukumnya wajib.
  2. Ridho terhadap musibah itu sendiri, hukumnya sunnah.

26 April 2011 sumber : ahsan.TV