Wednesday, May 22, 2013

Sulitnya Mencari Orang Yang Jujur


Sulitnya Mencari Orang yang Jujur


 3 April 2013

Yang kami rasakan, mencari orang yang jujur saat ini begitu susah. Sampai orang yang rajin shalat dan jidadnya ireng-pun (berjidad hitam), hanya lahiriyah saja terlihat baik, namun tidak sedikit yang berperilaku jelek dan tidak jujur. Bahkan kami saksikan sendiri beberapa yang mengaku sebagai pengusaha muslim tidak jujur dalam mengemban amanat seperti dalam akad mudhorobah. Ada yang diberi modal untuk menjalankan usaha, malah modalnya digunakan untuk membangun rumah. Ini tanda tidak amanat dan bentuk khianat.

Ada satu cerita yang kami saksikan di desa kami.

Seorang takmir masjid yang kalau secara lahiriyah nampak alim, juga rajin menghidupkan masjid. Namun belangnya suatu saat ketahuan. Ketika warga miskin mendapat jatah zakat dan disalurkan lewat dirinya, memang betul amplop zakat sampai ke tangan si miskin. Tetapi di balik itu setelah penyerahan, ia berkata pada warga, “Amplopnya silakan buka di rumah (isinya 100.000 per amplop). Namun kembalikan untuk saya 20.000.” Artinya, setiap amplop yang diserahkan asalnya 100.000, namun dipotong sehingga tiap orang hanya mendapatkan zakat 80.000. Padahal dari segi penampilan tidak ada yang menyangka dia adalah orang yang suka korupsi seperti itu. Tetapi syukurlah, Allah menampakkan belangnya sehingga kita jadi tahu tidak selamanya orang yang mengurus masjid itu termasuk orang-orang yang jujur.

Perintah untuk Berlaku Jujur

Dalam beberapa ayat, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berlaku jujur. Di antaranya pada firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.(AsSoodiqeen) ” (QS. At Taubah: 119).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Dalam hadits dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga dijelaskan keutamaan sikap jujur dan bahaya sikap dusta.  Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607)

Begitu pula dalam hadits dari Al Hasan bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200, hasan shahih).

Jujur adalah suatu kebaikan sedangkan dusta (menipu) adalah suatu kejelekan. Yang namanya kebaikan pasti selalu mendatangkan ketenangan, sebaliknya kejelekan selalu membawa kegelisahan dalam jiwa.

Basyr Al Haafi berkata,
من عامل الله بالصدق، استوحش من الناس

“Barangsiapa yang berinteraksi dengan Allah dengan penuh kejujuran, maka manusia akan menjauhinya.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, 351).
Karena memang jujur itu begitu asing saat ini, sehingga orang yang jujur dianggap aneh.

Perintah untuk Menjaga Amanat

Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ

“Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)

Khianat ketika diberi amanat adalah di antara tanda munafik. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Bukhari no. 33)

Jadi, jika dititipi amanat, jagalah amanat tersebut itu dengan baik. Jangan sampai dikorupsi, jangan sampai dikurangi dan masuk kantong sendiri. Ingatlah ancaman dalam dalil di atas sebagaimana dikata munafik.

Kunci Utama

Kunci utama agar kita menjaga amanat ketika dititipi uang misalnya, sehingga tidak dikorupsi atau dikurangi adalah dengan memahami takdir ilahi. Ingatlah bahwa setiap orang telah ditetapkan rizkinya. Allah tetapkan rizki tersebut dengan adil, ada yang kaya dan ada yang miskin. Allah tetapkan ada yang berkelebihan harta dari lainnya, itu semua dengan kehendak Allah karena Dia tahu manakah yang terbaik untuk hamba-Nya. Sehingga kita hendaklah mensyukuri apa yang Allah beri walaupun itu sedikit.
اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ القَوِيُّ العَزِيزُ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah lantas menjelaskan,“Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh , tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/278)

Jika setiap orang memahami hal di atas, maka sungguh ia tidak akan korupsi, tidak akan menipu dan lari dari amanat. Realita yang kami saksikan sendiri menunjukkan bahwa mencari orang yang jujur itu amat sulit di zaman ini. Kita butuh menyeleksi dengan baik jika memberi amanat pada orang lain. Hanya dengan modal iman dan takwa-lah serta merasa takut pada Allah, kita bisa memiliki sifat jujur dan amanat.
Moga Allah Memberi Akhlak Mulia

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].” (HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

Wallahu waliyyut taufiq.

Diselesaikan di Warak, Desa Girisekar, Panggang-Gunung Kidul setelah shalat Shubuh

22 Sya’ban 1432 H, 24/07/2011



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sulitnya-mencari-orang-yang-jujur.html

Dari artikel 'Sulitnya Mencari Orang yang Jujur — Muslim.Or.Id'

Bertaubat Sebelum Tidur



BERTAUBAT SEBELUM TIDUR

Oleh Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawwaz, Lc



Hidup di dunia ini hanya sementara. Saat kematian menjemput seseorang, berarti harus berpisah dengan dunia dan segala isinya. Dan itu pasti terjadi. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. [al-Anbiyâ’/21:35]

Dalam ayat lain Allâh berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu (berada) dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [an-Nisâ`/4: 78]

Kematian akan menimpa semua orang, baik yang shalih atau yang durhaka, yang kaya raya ataupun yang miskin papa, yang terpandang ataupun tidak, yang ikut berjihad ataupun duduk santai di rumahnya, dan lain sebagainya. Semuanya pasti akan mati bila ajalnya telah tiba ajalnya dan semuanya akan binasa, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di bumi itu fana (tidak kekal) [ar-Rahmân/55:26]

Kemudian sesudah mati, kita semua akan dihidupkan kembali untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan kita. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati.” [Hûd/11:7]

MARI SEGERA BERTAUBAT KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA
 
Jika memang demikian, sementara sudah dapat dipastikan bahwa setiap manusia tidak akan luput dari kelalaian, kesalahan dan dosa kecuali yang dirahmati Allâh dan diberi al-‘ishmah (terpelihara dari salah dan dosa) seperti para nabi dan rasul, maka sudah seharusnya kita semua untuk segera bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menunda-nundanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak adam (manusia) pernah berbuat kesalahan, namun sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah orang yang segera bertaubat (kepada Allâh).” [HR. Ibnu Mâjah 2/1420, no.4251][1]) .

Allâh memerintahkan kita agar segera bertaubat, sebagaimana firman-Nya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” [an-Nûr/24:31].

Dan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allâh dengan taubat yang benar (ikhlas). [at-Tahrîm/66:8]

Dan hendaknya kita sering beristighfâr (mohon ampun kepada-Nya) atas dosa-dosa yang telah kita perbuat selama ini. Karena Allâh Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang akan senantiasa menerima taubat dari para hamba-Nya dan mengampuni dosa-dosa sebesar dan sebanyak apapun. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allâh. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [az-Zumar/39: 53]

Di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allâh berfirman: Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. [HR. Tirmidzi IV/548,no.3540][2]

Hendaknya kita mempersiapkan diri dengan bekal taqwa untuk menempuh perjalanan menuju ke negeri akhirat yang merupakan tempat tinggal abadi.

BEBERAPA HAL YANG DAPAT MENDORONG SEORANG HAMBA AGAR SEGERA BERATUBAT KEPADA ALLAH SEBELUM TIDUR
 
Kenapa sebelum tidur ? Terdapat banyak hal yang dapat membantu seorang hamba untuk segera bertaubat kepada Allâh kapan pun dan dimanapun. Namun dalam pembahasan kali ini kami akan menyebutkan sebagian amalan yang diharapkan dapat mendorong seorang hamba bertaubat kepada Allâh sebelum tidurnya. Di antaranya:

1. Melakukan Muhâsabah (Introspeksi Diri).
Muhâsabah ialah usaha seseorang untuk mengevaluasi segala perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Sebelum tidur hendaklah seorang hamba mengintrospeksi diri atas segala perkataan maupun perbuatannya sepanjang hari, baik yang berkaitan dengan hak-hak Allâh maupun hak-hak sesama manusia.  Jika dia telah melakukan amal shalih, maka hendaknya dia bersyukur dengan memuji Allâh dan memohon kepada-Nya tambahan nikmat. Dan memohon kepada-Nya pula agar senantiasa diberi taufiq dan kesanggupan untuk dapat melaksanakan amal ketaatan. Namun jika sebaliknya, maka hendaknya dia segera bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya serta bertekad untuk segera melakukan kebaikan.

Tentang muhâsabah, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allâh [al-Hasyr/59:18]

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (oleh Allâh) ….”.

2. Mengingat Alam Kubur Yang Sangat Gelap Dan Dia Akan Menyendiri di sana
Ketika akan tidur, hendaknya seseorang mengingat suasana alam kubur yang sangat gelap, dia akan berada di sana seorang diri tanpa teman, hanya amalannya selama di dunia yang mendampinginya. Dengan mengingat kondisi ini, hati akan merasa takut kepada Allâh dan siksa-Nya yang sangat pedih, sehingga dia terdorong untuk segera bertaubat kepada Allâh dan banyak mohon ampun kepada-Nya.

3. Banyak Mengingat Kematian
Setiap muslim dan muslimah, yang sehat ataupun yang sedang sakit, tua maupun muda, hendaknya selalu mengingat kematian yang datang secara tiba-tiba. Ingatan ini bisa menghalangi dan menghentikan seseorang dari perbuatan maksiat serta memotivasinya untuk beramal shalih.

Mengingat kematian ketika dalam kesempitan akan bisa melapangkan hati seorang hamba. Kalau dia ingat kematian ketika hatinya sedang senang, maka dia itu menyebabkan dia tidak lupa diri. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan siap untuk pergi meninggalkan dunia dan menghadap Allâh Azza wa Jalla .

Mengingat mati bisa melembutkan hati dan menghancurkan sikap tamak terhadap dunia. 
 Karenanya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran untuk banyak mengingatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ

Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) [HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258][3]

Orang cerdas yang sesungguhnya ialah orang yang banyka mengingat mengingat mati dan mempersiapkan bekal untuk mati. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, “Aku sedang duduk bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’ ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ


“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” [HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384]

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan antusias dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati, ia akan dihukum dengan tiga perkara : menunda taubat, tidak ridha dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu; Yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak merasakan sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya ! Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan memupus angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan tibanya hari kematianmu dan perpindahan hidupmu dari tempatmu yang sekarang?” [Lihat at-Tadzkîrah, hlm. 9].

4. Menyadari Hakikat Kehidupan Dunia Yang Fana Dan Akhirat Yang Kekal
Keberadaan makhluk di dunia ini hanyalah sementara, dan semua yang ada di alam semesta ini akan hancur kecuali Allâh semata yang kekal dan abadi. Allâh berfirman :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” [Ar-Rahman/55: 26]

Sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki, kekal dan abadi, sebagaimana firman-Nya:

وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”. [Al’A’la/87: 17].

Dan dia mengetahui pula bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakannya di dalam kehidupan ini tiada lain hanya untuk mengujinya, siapa di antara para hamba-Nya yang paling baik amal perbuatannya, sebagaimana firman-Nya di dalam surat Al-Mulk, ayat 2.

Dengan demikian, maka diapun segera terdorong untuk bertaubat kepada Allâh, memohon ampunan kepada-Nya, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang hakiki nan abadi.

Demikian tulisan singkat tentang bertaubat sebelum tidur. Mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya, dan menjadi amal shalih bagi penulisnya. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Syaikh al-Albâni rahimahullah meng-hasan-kannya dalam Takhrîj Misykâtul Mashâbîh, no.2341
[2]. Syaikh al-Albâni menilai hadits ini hasan dalam Silsilatul Ahâdîts Ash-Shahîhah 1/249, no.127.
[3]. Syaikh al-Albâni menilai hadits ini, “Hasan shahih.” (Takhrîj Misykâtul Mashâbih, no.1607)

http://almanhaj.or.id/content/3618/slash/0/bertaubat-sebelum-tidur/

Tuesday, May 21, 2013

Gabungan ESP Shaklee + Vitamin E Shaklee, amat baik untuk Kulit.








"Muka gebu berseri, Blackhead Hilang, Jerawat kecut"

2 in 1!! Selain makan boleh dijadikan MASKER! Jimat kan!!

Gabungan ESP Shaklee + Vitamin E Shaklee, amat baik untuk Kulit. Memang BERBALOI!

Kelebihan ESP:
✔ Kulit muka cantik, halus,gebu dan berseri
✔Membantu hilangkan parut jerawat di muka.
✔ Memberi tenaga berpanjangan menjadikan badan semakin sihat dan kurang letih.
✔Menganjalkan kulit dan menganjalkan kembali payudara yang kendur.

VITAMIN E SHAKLEE:
¬ Vitamin penting untuk kecantikan kulit
¬ Bertindak sebagai anti penuaan dan anti oksida
¬ Melindungi dan mencegah kerosakan sel, menghaluskan dan mencerahkan kulit
¬ Mempercepatkan proses pemulihan kulit,bagus untuk mereka yang mempunyai kulit kering
¬ Berupaya mengawal kandungan minyak dalam kulit
¬ Berupaya mengurangkan kesan jeragat yang ada pada kulit serta menghilangkan parut-parut
¬ Awet muda

✔ DIJAMIN HALAL & DILULUSKAN KKM
✔ TIADA KESAN SAMPINGAN
✔ SERVIS PANTAS & KONSULTASI PERCUMA

Anda berminat? Sila SMS/TEXT/Whatsapp ke nombor ☛013-6292754☚

~Ummi Adni

Saturday, May 18, 2013

Apa Itu Jin Khadam?...


Apa Itu Jin Khadam?...

JIN, Ifrit, setan dan Iblis adalah merupakan bagian dari golongan Jin, hanya saja tugas dan fungsi mereka yang berbeda. Jin sebagaimana yang telah dijelaskan di atas adalah sejenis mahkluk Allah yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia. Pengetahuan mereka lebih luas dan sangat panjang usianya.

Sedangkan Ifrit adalah golongan Jin yang sangat kuat dan pandai menipu serta sangat busuk hati terhadap manusia. Golongan ini sangat sombong dan durhaka kepada Allah.

Iblis dan setan juga terdiri dari golongan Jin dan mereka adalah kaum Jin yang sangat sombong lagi durhaka, pengacau dan menjadi musuh utama manusia dan mendapat kutukan Allah hingga hari kiamat.

Sebagaimana Firman Allah: “Iblis menjawab: Sebab engkau telah menghukum saya dengan tersesat, saya akan mencegah halangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangani mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Engkau tak akan menemukan kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).”

Beberapa ulama berpendapat bahwa Azazil itu bukanlah nenek moyang Jin, sebenarnya ia adalah Jin yang paling abid dan alim di kalangan Jin yang diangkat menjadi ketua ahli-ahli ibadah kepada Jin dan Malaikat. Dia menjadi angkuh dan diri di atas keilmuan, ketakwaan dan banyak beribadat serta asal usul kejadiannya dibandingkan dengan manusia (Adam).

Maka dengan sifatnya yang sombong itu Allah telah melaknatnya menjadi kafir dengan nama Iblis. Mulai dari saat itulah Iblis melancarkan gerakan permusuhan dengan manusia sampai hari kiamat.

Allah telah menjelaskan bahwa ada tiga jenis permusuhan dilakukan oleh Jin ke atas manusia yaitu:

1. Dalam Kejahatan (As-Suu’): yaitu gemar membuat dosa-dosa dan maksiat hati dan segala anggota tubuh.

2. Kekejian (Al-Fahsyaa ‘): yaitu kejahatan yang lebih buruk dan jahat. Kekejian ini adalah bagian dari hal yang membawa kepada kedurhakaan dan maksiat kepada Allah.

3. Dalam kebohongan dan menipu Allah dalam perbuatan, kata dan nawaitu.

– Khadam...

Khadam adalah pembantu atau suruhan yang akan membantu tuannya apabila diminta. Khadam terbagi atas dua golongan, yaitu:

1. Khadam Asal.

Khadam asal adalah terdiri dari rohani Malaikat dan Jin Islam peringkat tinggi yang nama mereka adalah nama malaikat. Ia tidak meminta syarat apapun kepada tuannya. Khadam jenis ini diharuskan oleh syarak.

2. Khadam Bersyarat.

Khadam jenis ini adalah terdiri dari Jin alam rendah terdiri dari Jin Islam atau Jin kafir. Golongan ini datang ke tuannya dengan perjanjian dan beberapa syarat khusus dan umum, baik yang bertepatan dengan hukum syariah atau yang diharamkan oleh syarak. Khadam jenis ini diharamkan oleh Islam.

Khadam bersyarat ini akan datang menolong melalui salah satu cara berikut:

A. Dampingan Luar.

Khadam ini akan mendampingi dan menolong tuannya melalui eksternal saja, yaitu hanya dalam perbuatan, ucapan atau qasad hati.

B. Dampingan Internal.

Khadam jenis ini juga dikenal sebagai Tanasakhul aruah atau penjelmaan khadam atau Jin dalam diri seseorang (menurun) dengan menamakan diri mereka, saat menurun dengan nama-nama tertentu seperti Nabi Khidhir, Panglima Hitam, Wali Songo dan sebagainya.

Jin yang meresap dalam cara ini memungkinkan orang yang diresapi itu menunjukkan keajaiban dan hal-hal yang luar biasa seperti berbicara dalam bahasa Jawa, Arab, Inggris dan sebagainya, padahal sebelumnya orang tersebut tidak mengetahui sedikit pun bahasa-bahasa tersebut.

Thursday, May 16, 2013

Ringan di Lisan Berat di Timbangan



Ringan di Lisan Berat di Timbangan
Kategori: Doa dan Wirid
 9 Februari 2009

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.”

Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Allah dengan nama-Nya ar-Rahman –Yang Maha pemurah-. Hikmahnya adalah –wallahu a’lam- karena untuk menunjukkan keluasan kasih sayang Allah ta’ala. Sebagai contohnya, di dalam hadits ini diberitakan bahwa Allah berkenan memberikan balasan pahala yang banyak walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/883)

Subhanallahi Wabihamdih
Makna ucapan subhanallah –Maha suci Allah- adalah; anda menyucikan Allah ta’ala dari segala aib dan kekurangan dan anda menyatakan bahwa Allah Maha sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah –wabihamdih- yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446)

Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya bahwa Allah adalah Sang pemilik berbagai kesempurnaan sehingga yakinlah dirinya bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah –tauhid uluhiyah-. Dengan demikian maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut –rububiyah dan uluhiyah- (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/885)

Makna pujian kepada Allah
Al-Hamdu atau pujian adalah sanjungan kepada Allah dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah ta’ala memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan mulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya tidak ada sifat yang tercela, bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimana pun keadaannya Allah senantiasa terpuji (lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-hamdu adalah mensifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan -dari yang memuji-, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)

Subhanallahil ‘Azhim
Makna ucapan ini adalah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah ta’ala dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah ta’ala itu Maha agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446).

Hal itu menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan Allah ta’ala, inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di dalam bacaan dzikir ini tergabung antara pujian dan pengagungan yang mengandung perasaan harap dan takut kepada Allah ta’ala (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/884-885).


Dari artikel 'Ringan di Lisan Berat di Timbangan — Muslim.Or.Id

Ringan di Lisan Berat di Timbangan

Kategori: Doa dan Wirid
40 Komentar // 9 Februari 2009
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Kedua kalimat ini merupakan penyebab kecintaan Allah kepada seorang hamba.” Beliau juga berpesan, “Wahai hamba Allah, sering-seringlah mengucapkan dua kalimat ini. Ucapkanlah keduanya secara kontinyu, karena kedua kalimat ini berat di dalam timbangan (amal) dan dicintai oleh ar-Rahman, sedangkan keduanya sama sekali tidak merugikanmu sedikitpun sementara keduanya sangat ringan diucapkan oleh lisan, ‘Subhanallahi wabihamdih, subhanallahil ‘azhim’. Maka sudah semestinya setiap insan mengucapkan dzikir itu dan memperbanyaknya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin, 3/446).

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Allah dengan nama-Nya ar-Rahman –Yang Maha pemurah-. Hikmahnya adalah –wallahu a’lam- karena untuk menunjukkan keluasan kasih sayang Allah ta’ala. Sebagai contohnya, di dalam hadits ini diberitakan bahwa Allah berkenan memberikan balasan pahala yang banyak walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/883)
Subhanallahi Wabihamdih
Makna ucapan subhanallah –Maha suci Allah- adalah; anda menyucikan Allah ta’ala dari segala aib dan kekurangan dan anda menyatakan bahwa Allah Maha sempurna dari segala sisi. Hal itu diiringi dengan pujian kepada Allah –wabihamdih- yang menunjukkan kesempurnaan karunia dan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepada makhluk serta kesempurnaan hikmah dan ilmu-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446)
Apabila telah terpatri dalam diri seorang hamba mengenai pengakuan dan keyakinan terhadap kesucian pada diri Allah dari segala kekurangan dan aib, maka secara otomatis akan terpatri pula di dalam jiwanya bahwa Allah adalah Sang pemilik berbagai kesempurnaan sehingga yakinlah dirinya bahwa Allah adalah Rabb bagi seluruh makhluk-Nya. Sedangkan keesaan Allah dalam hal rububiyah tersebut merupakan hujjah/argumen yang mewajibkan manusia untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah –tauhid uluhiyah-. Dengan demikian maka kalimat ini mengandung penetapan kedua macam tauhid tersebut –rububiyah dan uluhiyah- (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/885)
Makna pujian kepada Allah
Al-Hamdu atau pujian adalah sanjungan kepada Allah dikarenakan sifat-sifat-Nya yang sempurna, nikmat-nikmat-Nya yang melimpah ruah, kedermawanan-Nya kepada hamba-Nya, dan keelokan hikmah-Nya. Allah ta’ala memiliki nama, sifat dan perbuatan yang sempurna. Semua nama Allah adalah nama yang terindah dan mulia, tidak ada nama Allah yang tercela. Demikian pula dalam hal sifat-sifat-Nya tidak ada sifat yang tercela, bahkan sifat-sifat-Nya adalah sifat yang sempurna dari segala sisi. Perbuatan Allah juga senantiasa terpuji, karena perbuatan-Nya berkisar antara menegakkan keadilan dan memberikan keutamaan. Maka bagaimana pun keadaannya Allah senantiasa terpuji (lihat al-Qawa’id al-Fiqhiyah karya Syaikh as-Sa’di, hal. 7)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-hamdu adalah mensifati sesuatu yang dipuji dengan sifat-sifat sempurna yang diiringi oleh kecintaan dan pengagungan -dari yang memuji-, kesempurnaan dalam hal dzat, sifat, dan perbuatan. Maka Allah itu Maha sempurna dalam hal dzat, sifat, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 10)
Subhanallahil ‘Azhim
Makna ucapan ini adalah tidak ada sesuatu yang lebih agung dan berkuasa melebihi kekuasaan Allah ta’ala dan tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya daripada-Nya, tidak ada yang lebih dalam ilmunya daripada-Nya. Maka Allah ta’ala itu Maha agung dengan dzat dan sifat-sifat-Nya (lihat Syarh Riyadh as-Shalihin li Ibni Utsaimin, 3/446).
Hal itu menunjukkan keagungan, kemuliaan, dan kekuasaan Allah ta’ala, inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh-Nya. Di dalam bacaan dzikir ini tergabung antara pujian dan pengagungan yang mengandung perasaan harap dan takut kepada Allah ta’ala (lihat Taudhih al-Ahkam, 4/884-885).

Wednesday, May 15, 2013

Tanggungjawab Memperkenalkan Ulama dan Tempat Rujukan Yang Benar

 

TANGGUNGJAWAB MEMPERKENALKAN ULAMA & TEMPAT RUJUKAN YANG BENAR

Mei 14, 2013
Ustaz Fathul Bari Mat Jahya
Oxford_Centre_for_Islamic_Studies_-_geograph.org.uk_-_1399605

Barat cuba menjadikan Oxford sebagai pusat rujukan Islam dan mengangkat tokoh-tokoh yang sesuai dengan pemikiran mereka

Ahli Kalam pada hari ini sedang berusaha untuk memindahkan ilmu agama daripada Timur Tengah/Hijaz yakni tempat keluarnya ilmu berkaitan agama Islam ke Oxford. Pada hari ini mereka menubuhkan Islamic Center di Oxford. Apa tujuan Barat tiba-tiba hendak membuat Islamic Center?

Mereka hendak membawa dunia Islam menjadikan Pusat Islam mereka sebagai tempat ataupun pusat rujukan dalam hal-hal berkaitan agama Islam.

Satu masalah di negara Arab yang harus kita akui, terus terang kita katakan bahawa professionalisme dalam pengurusan dan pentadbiran masih terkebelakang.

Negara Arab di Timur Tengah ada ulama yang hebat tetapi kurang orang professional yang mampu mempopularkan Ulama-ulama ini di mata dunia. Popularnya tokoh-tokoh seperti Dr. Yusuf Al-Qaradhawi kerana apa? Kerana dia dipopularkan oleh golongan-golongan yang professional.

Tetapi mengapa tokoh-tokoh yang jauh lebih hebat dan berkali-kali ganda lebih hebat daripada Dr. Yusuf Al-Qaradhawi seperti Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad yang merupakan pakar ilmu hadis abad ini yang masih hidup, Syaikh Muhammad ibn Salih Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Al-Albani, walaupun mereka ini popular di kalangan penuntut ilmu di seluruh dunia, tetapi mengapa golongan-golongan professional ini tidak memandang mereka? Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah, Syaikh Salih Fauzan Al-Fauzan yang masih hidup pada hari ini, mengapa dunia tidak memandang dan tidak mempopularkan mereka?

Hanya penuntut ilmu yang kenal siapa ulama sahaja yang melihat mereka.
Mengapa hal ini terjadi adalah kerana golongan-golongan yang kononnya professional ini (khususnya media-media Barat), mereka melihat dan mempopularkan siapa yang sesuai dengan cara mereka berfikir.

Sekiranya cara mereka berfikir sama dengan cara berfikir Barat, maka Barat akan memanfaatkan media mereka untuk mempopularkan tokoh-tokoh tersebut.

Cuba kita fikirkan, masuk akal atau tidak Barat hendak dijadikan tempat rujukan ilmu Islam? Sedangkan Timur Tengah merupakan janji wahyu, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahawa iman akan kembali ke Madinah, Nabi mengkhabarkan bahawa kefaqihan itu di Yaman.

Mengapa kita tidak bertanggungjawab mempopularkan Timur Tengah sebagai pusat rujukan Islam? Alihkan semula usaha golongan Barat yang hendak mempopularkan Oxford sebagai pusat sumber Islam kembali ke Timur Tengah.

Ini kerana asas kita adalah wahyu. Wahyu telah mengkhabarkan kepada kita bahawa ilmu akan kembali ke situ. Iman akan kembali ke Madinah sebagaimana sabda Baginda sallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah seperti seekor ular yang kembali ke lubang sarangnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kita yang bertanggungjawab mempopularkan Ulama-ulama kita. Kita yang bertanggungjawab memperkenalkan ulama-ulama kita di mata dunia.

Kesan ilmu kalam ataupun ilmu logik pada hari ini yang kononnya mengatakan bahawa manusia mesti mendahulukan akal, dari sinilah lahirnya pemikiran-pemikiran liberal, plural, sekular dan pemikiran sesat yang lain. Mereka mendahulukan akal dan logik berbanding wahyu.

Walaubagaimanapun ini bukan bererti di tempat lain kita tidak boleh belajar ilmu agama. Tidak. Tetapi kita harus ingat bahawa pusat sumber dan rujukan ilmu agama semuanya daripada Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Jadikan tempat tersebut sebagai pusat asas, dan kemudian negara-negara di persekitarannya di mana di sana juga muncul ulama-ulama yang berkaliber yang bercakap hanya untuk kepentingan agama Islam.

Wallahu a’lam.
Teks disediakan berdasarkan rakaman berikut:
 http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=GfiJxHMMung
About these ads

Tuesday, May 14, 2013

Tuntutan al-Sunnah dalam Bulan Rejab

 

 

 Tuntutan al-Sunnah dalam Bulan Reja



rejab2 


Segala puji bagi Allah Ta ‘ala yang telah memberikan pelbagai nikmat kepada kita sebagai hamba-hambaNya. Di antara nikmat-nikmat tersebut ialah musim-musim ibadah yang diselang-selikan untuk hamba-hambaNya mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dari semasa ke semasa. Sebagai manusia, pastinya mempunyai macam-macam kelemahan. Akan tetapi pada masa yang sama, manusia juga mempunyai kecergasan yang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita telah diarahkan supaya menjaga masa dan menjaga hak-hak khaliq dan makhluk. Hadith Salman wajarlah menjadi pedoman kita dalam perkara ini.

Kisah Salman dengan Abu Al-Darda’ adalah seperti berikut:
Maksudnya: Terdapat riwayat daripada Abu Juhfah katanya:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaudarakan antara Salman dan Abu al-Darda’. Pada suatu hari Salman menziarahi Abu al-Darda’ dan dia melihat isteri Abu al-Darda’ tidak terurus. Salman bertanya kepadanya, “Kenapa kamu begini?” Isteri Abu al-Darda’ menjawab, “Saudaramu, Abu al-Darda’ tidak berhajat kepada dunia.” Apabila Abu al-Darda’ datang dan membuat hidangan untuk Salman, Salman mengajak beliau makan sekali. Abu al-Darda’ menjawab, “Saya Puasa.” Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika kamu tidak makan.” Abu al-Darda’ pun makan bersama. Apabila tiba waktu tidur di permulaan malam, Abu al-Darda’ bangun untuk solat malam. Salman menyuruhnya tidur, lalu beliau pun tidur. Tidak lama kemudian Abu al-Darda’ bangun untuk solat malam. Sekali lagi Salman menyuruhnya tidur. Apabila sampai penghujung malam, Salman berkata, “Sekarang bangun.” Mereka pun bangun dan solat malam. Kemudian Salman berkata kepada Abu al-Darda’ “Sesungguhnya kamu mempunyai tanggungjawab terhadap Tuhanmu, tanggungjawab terhadap badanmu, tanggungjawab terhadap keluargamu; jadi hendaklah kamu melaksanakan tanggungjawab kamu kepada mereka semua.” Abu al-Darda’ kemudiannya pergi bertanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara ini lalu Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Benar kata Salman.”
(HR al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab Man Aqsama ‘ala Akhihi Liyuftir, No. 1832)

Di samping itu kita juga mestilah mengetahui bahawa amalan yang terbaik di sisi Allah Ta‘ala ialah yang berterusan walaupun sedikit.
وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
Maksudnya: “Sebaik-baik amalan di sisi Allah Ta’ala ialah yang berterusan walaupun sedikit
(HR al-Bukhari, No. 5523. Juga Muslim, No. 782)

Semua ini mestilah dilakukan dengan penuh keikhlasan dan menepati garis panduan yang telah diletakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang kita semua maklum, al-Ikhlas dan menepati al-Sunnah adalah dua syarat penerimaan amalan kita di sisi Allah Ta‘ala selepas wujud keimanan. Perkara pertama adalah amat penting. Sesuatu amalan yang tidak disulami al-Ikhlas akan tinggal amalan yang kering dan tidak bermaya. Penelitian terhadap sirah dan sejarah para ulamak akan banyak membantu individu muslim untuk menerapkan sifat mulia ini di dalam kehidupan hariannya.

Selepas memastikan kewujudan al-Ikhlas, datanglah giliran al-Sunnah untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Apabila melihat kepada al-Sunnah pastilah perbincangan di sini menjurus kepada dua perkara iaitu kesahihan hadith dan ikutan terhadapnya. Orang yang mahir dalam disiplin hadith akan digelar ‘Sahibu hadith’ manakala orang yang menitik-beratkan ikutan terhadap hadith akan digelar ‘Sahibu sunnah.’ Apapun gelarannya, kedua-duanya amat diperlukan oleh kita di Malaysia khususnya dan di Nusantara umumnya.

Tuntutan al-Sunnah: Rejab.

Berkenaan dengan bulan Rejab, sebenarnya tidak terdapat dalil-dalil yang menentukan kelebihan bulan ini. Justeru, dapatlah diringkaskan bahawa bulan ini samalah dengan bulan-bulan lain. Untuk mendapat gambaran ringkas tentang tuntutan al-Sunnah di dalam bulan ini perhatikanlah kenyataan-kenyataan berikut:

1. Al-Quran menjelaskan bahawa bulan Rejab adalah salah satu daripada al-Ashhur al-Hurum (bulan-bulan haram).

 Firman Allah Ta‘ala:
Maksudnya: “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Surah at-Taubah, ayat 36)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَةِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Maksudnya: “Sesungguhnya waktu telah kembali seperti keadaannya pada hari Allah mencipta langit dan bumi. Satu tahun mempunyai 12 bulan. Di kalangannya 4 bulan haram, 3 berterusan; Zul Qi‘dah, Zul Hijjah dan al-Muharram serta Rejab kabilah Mudar di antara Jumada dan Sya‘ban.
(HR al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Hajjah al-Wida’, No. 4054. Juga Muslim, Kitab al-Qasamah Wa al-Muharibin Wa al-Qisas Wa al-Diyat, BabTaghliz Tahrim al-Dima’ Wa al-A‘rad Wa al-Amwal, No. 3179.)

2. Tiada solat khas dalam bulan Rejab:

Imam al-Nawawi telah berkata ‘Para ulamak telah berhujjah dengannya ke atas kebencian solat yang yang bid‘ah ini yang dinamakan al-Raghaib. Semoga Allah memerangi pemalsunya dan penciptanya. Sesungguhnya ia adalah bid‘ah yang munkar yang terdiri daripada bid‘ah-bid‘ah yang sesat dan kejahilan.
Di dalamnnya terdapat kemungkaran yang jelas. Sekumpulan para ulamak telah menulis tulisan-tulisan yang bermutu dalam memburukkannya dan menyesatkan orang yang bersolat dengannya dan menciptanya. Dalil-dalil berkenaan kekejiannya, kebatilannya dan kesesatan pembuatnya amat banyak sehingga tidak terbilang.

Berkenaan dengan solat, di dalam bulan Rejab tidak terdapat solat yang khas untuk bulan ini. Hadith-hadith yang diriwayatkan berkenaan kelebihan solat al-Raghaib pada Jumaat pertama bulan Rejab adalah penipuan dan batil serta tidak sah. Solat ini adalah bid‘ah di sisi kebanyakan ulamak. Kali pertama solat ini muncul ialah selepas tahun 400. Oleh sebab itulah ianya tidak diketahui oleh ulamak terdahulu dan mereka tidak membincangkannya.
(Sila lihat al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, Jil. 8 Hlm. 20.)

3. Berpuasa di bulan Rejab tidak mempunyai keistimewaan tertentu:

“Semua hadith yang menyatakan puasa bulan Rejab dan solat sebahagian malam-malamnya adalah penipuan yang direka.”
“Tidak terdapat hadith sahih yang boleh dijadikan hujah berkenaan kelebihan bulan Rejab, puasa bulan ini, puasa hari-hari tertentu bulan ini mahupun bangun malam tertentu pada bulan ini.”
(lihat: Ibnu al-Qayyim, al-Manar al-Munif, Hlm. 96)

4. Membuat umrah di bulan Rejab tidak mempunyai keistimewaan tertentu:

Setakat ini, penulis masih belum berjumpa dengan hadith sahih yang menerangkan kelebihan umrah di bulan Rejab. Ya, terdapat beberapa riwayat golongan Syi‘ah yang mengatakan umrah bulan Rejab adalah umrah yang terbaik. Akan tetapi Ahl al-Sunnah tidak menerima periwayatan mereka di samping riwayat tersebut tidak bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Malam al-Isra’ wal-Mi‘raj tidak sah pada malam ke 27 bulan Rejab:

Imam Ibnu Kathir telah berkata ; Abdul Ghani al-Maqdisi telah meriwayatkan sebuah hadith yang tidak sah sanadnya dan kami telah jelaskan dalam ‘Fadail Shahr Rajab’ bahawa peristiwa al-Isra’ telah berlaku pada malan ke-27 bulan Rejab, Allah jua yang lebih mengetahui. Ada juga di antara manusia yang menyangka bahawa peristiwa al-Isra’ telah berlaku pada Jumaat pertama dalam bulan Rejab, iaitulah malam al-Raghaib yang dicipta padanya solat yang masyhur, sedangkan tiada asal bagi perkara ini, Allah jua yang lebih mengetahui.
(Sila lihat Ibnu Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 3 Hlm. 136-137)

Kesimpulannya, amalan-amalan di bulan Rejab adalah sama seperti amalan-amalan di bulan-bulan lain. Perkara yang membezakannya ialah bulan ini tergolong dalam bulan-bulan haram yang mana kezaliman dan peperangan tanpa sebab amat dimurkai oleh Allah Ta’ala berbanding dengan bulan-bulan lain.


Ustaz Dr Fadlan Mohd Othman
http://drfadlanothman.wordpress.com
May 14, 2013