Dari al- Hadith


الدين النصيحة, قلنا: لمن؟ قال: “لله, ولكتابه, ولرسوله, ولأئمة المسلمين, وعامتهم” (رواه مسلم).

“Agama adalah nasehat(ikhlas)”. Kami bertanya:’Bagi siapa?’, Rasul bersabda:”Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umumnya mereka” (HR. Muslim
)


Rasulullah Salallahu 'alaihi wassalam bersabda yang bermaksud:”Sesiapa yang berkehendakkan dunia maka hendaklah ia berilmu, sesiapa yang berkehendakkan akhirat maka hendaklah ia berilmu dan sesiapa yang berkehendakkan kedua-duanya maka hendaklah ia berilmu.”

Riwayat at-Tirmidzi
 
-------------------------
Hadis Ahad
 http://insidewinme.blogspot.com/2011/09/hadits-ahad-tidak-boleh-dijadikan.html?m=1
..........................
Nabi sallallahu`alaihiwasallam bersabda:من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين، وإنما أنا قاسم والله يعطي، ولن تزال هذه الأمةقائمة على أمر الله، لا يضرهم من خالفهم، حتى يأتي أمر الله 
" Sesiapa yg Allah menghendaki kebaikan baginya maka dia diberikan kefahaman dalam agama,sesungguhnya aku hanyalah pembahagi( yg mnyampaikan wahyu dr Tuhanku) sedangkan Allah yg memberi( ilmu & hidayah),dan akan sentiasa ummat ini ada sekelompok yg menegakkan perintah Allah,mereka x akn dimudaratkan oleh org2 yg menyelisihi mereka hinggalah datangnya perintah Allah( hari kiamat).. [ HR Bukhari no:71 ]
Dalam riwayat lain Nabi sallallahu`alaihiwasallam bersabda:

لا يزال من أمتي أمة قائمة بأمر الله، لا يضرهم من خذلهم، ولا من خالفهم، حتى يأتيهم أمر الله وهم على ذلك

Sentiasa ada segolongan dari ummatku yang selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang tidak menolong mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap berada di atas yang demikian itu.

[ HR Bukhari no:3369,6906, Muslim no: 3544, 3548 ]


Berkata Imam Ahmad Ibn Hanbal rahimahullah:

إِنْ لَمْ يَكُونُوا أَهْل الْحَدِيث فَلَا أَدْرِي مَنْ هُمْ

Kalaulah mereka bukan ahli Hadith maka aku tidak tahu siapa lagi mereka.

[ Fathul Bari, Ibn Hajar al-`Asqalani 20/368 ]


Begitu juga yang berpendapat mereka adalah ahli hadith ialah `Ali Ibn al-Madini dan Imam al-Bukhari.

[ Tuhfatul al-Ahwazi, 6/11 ]

Berkata Qadhi al-`Iyyadh: Sesungguhnya apa yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad ialah mereka ialah sesiapa sahaja yang beri`tiqad(berpegang,berkeyakinan,melazimi)mazhab ahli Hadith.

[ Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 6/400 ]

---------------------------------------------------
Ka’ab bin Ujrah r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang di kemudian hari nanti, setelah aku tiada; beberapa pemimpin yang berdusta dan berbuat aniaya. Maka barang siapa yang membenarkan kedustaan mereka dan membantu (mendukung) tindakan mereka yang aniaya itu, maka ia bukan termasuk umatku, dan bukanlah aku daripadanya. Dan ia tidak akan dapat sampai datang ke telaga (yang ada di syurga).- Riwayat Tirmidzi, Nasae’i dan Hakim.
 
"Janganlah kalian banyak berkata-kata kecuali
perkataan yang mengandung dzikrullah, karena banyak berkata-kata yang tidak mengandung dzikrullah akan membuat hati membatu, sedangkan sejauh-jauhnya manusia adalah orang yang keras hatinya.” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘Umar)

"Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: "Tadi aku diperlihatkan syurga, sehingga aku ingin memetik salah satu dari buah-buahan syurga, andai kata aku dapat mengambilnya pasti kalian akan memakannya dan buah tersebut akan tetap tidak habis selama-lamanya. Demikian pula, aku diperlihatkan neraka, kulihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita". Tanya para sahabat: "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Sabda beliau: "Kebanyakan kaum wanita dimasukkan ke dalam neraka, kerana mereka banyak yang ingkar". Tanya para sahabat: "Apakah mereka, banyak yang ingkar kepada Allah?" Jawab Nabi: "Tidak, kebanyakan mereka tidak pandai berterima kasih pada kaum suami, walaupun kalian telah berbuat baik terhadap mereka, tetapi jika sekali saja kamu tidak berbuat baik, pasti mereka akan berkata: "Sedikitpun tidak pernah aku menerima kebaikan dari kamu."

Sunan An-Nasai Jilid 2. Hadith Nombor 1467.

“Whoever possesses the following three qualities will have the sweetness (delight) of faith:

1. The one to whom Allah and His Apostle becomes dearer than anything else.
2. Who loves a person and he loves him only for Allah's sake.
3. Who hates to revert to Atheism (disbelief) as he hates to be thrown into the fire.”

Sahih Al Bukhari, Vol.1, Book 2, No. 16
--------------------------------------------------------


وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ! اِحْفَظِ اَللَّهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اَللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اَللَّهَ وَإِذَا اِسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ
Ibnu Abbas RA berkata: Aku pernah di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari dan beliau bersabda:
“Wahai anak muda peliharalah (ajaran) Allah niscaya Dia akan memelihara engkau dan peliharalah (ajaran) Allah niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.”
 

“Orang yang menuduh harus memberikan bukti dan yang dituduh memberikan sumpah” (Tirmidzi, no. 1261)
Larangan  mencela ulama apalagi tidak terdapat bukti yang jelas, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak termasuk umatku; orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama” (Ahmad, no. 21693)

Keutamaan Mendoakan Kebaikan untuk Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya.

Dari Ummu Darda’ dan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


“Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menja
ganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.”

(HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no. 2895 dan Ahmad no. 21708)

“Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata:”Ya Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh seseorang kepada kebaikan adalah sedekah, melarangnya dari kemungkaran adalah sedekah.” (HR Muslim 1674)
Rasulullah Shallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 
"Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman lalu dari tanaman tersebut dimakan oleh manusia atau haiwan melainkan pahala sedekah menjadi miliknya dengan sebab itu." (Hadis Riwayat Muslim, no. 1553)
Daripada Abu Darda RA berkata: Aku telah mendengar Nabi SAAW bersabda: "...Dan para Nabi itu sebenarnya tidak mewariskan dinar (wang emas) dan dirham (wang perak)tetapi yang diwariskan oleh mereka ialah ilmu. Maka barang siapa mengambil ilmu bererti ia telahmengambil habuan yang paling sempurna."

Hadis Riwayat Abu Daud





“Anybody who believes in Allah and the Last Day should not harm his neighbour, and anybody who believes in Allah and the Last Day should
entertain his guest generously and anybody who believes in
Allah and the Last Day should talk what is good or keep quiet.(i.e. abstain from all kinds of evil any dirty talk)”

Sahih Al Bukhari Vol.8, Book 78, No.6018
--------------------------------------------

  Sabda Rasulullah SAW maksudnya : "Barang siapa memelihara sembahyang lima waktu dengan sempurna wuduk dan waktunya, adalah baginya cahaya dan tanda pada hari akhirat, dan barang
siapa mensia-siakannya, nescaya dikumpulkan ia (kelak di neraka) dengan Fir'aun dan Haman." (Hadis Riwayat Ahmad)

Huraiannya :

Orang mukmin yang menjaga solat lima waktu dengan mengerjakan di awal waktunya dan mengambil wuduk dengan sempurna maka pada hari kiamat solat dan wuduknya akan bercahaya-cahaya sebagai satu kurniaan dan rahmat daripada Allah SWT.

Dalam hadis yang lain Nabi SAW bersabda maksudnya : "Tidaklah salah seorang di antara kamu berwuduk, maka ia sempurnakan wuduknya kemudian berkata, 'Aku bersaksi bahawa tidak ada tuhan kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,' kecuali dibukakan baginya delapan pintu syurga, ia boleh masuk dari mana sahaja yang dikehendakinya." (Hadis Riwayat Muslim daripada Umar bin Khattab r.a)

Daripada riwayat yang lain dari Abu Hurairah r.a. yang berkata, bahawa ia mendengar Rasulullah SAW. bersabda yang bermaksud : "Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bersinar putih wajah dan anggota wuduknya dari bekas-bekas wuduk. Barangsiapa di antara kamu ingin memanjanglan sinarnya, maka lakukanlah."
(Hadis Riwayat Muttafaq Alaih)
---------------------------------------
Hadits Usamah bin Zaid radhiyallåhu ‘anhumaa

Ia berkata:
“Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bertanya:

“Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya?”

Aku menjawab:

“Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang.”

Rasulullah shållallåhu ‘alaihi wa sallam, bersabda (yang artinya):
“APAKAH ENGKAU SUDAH MEMBEDAH DADANYA sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?”

Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu.

(HR Muslim No 140)
 
Imam al-Qurthubi rahimahullah (Wafat: 671H) menyebutkan dalam Tafsirnya:

وليس في ليلة النصف من شعبان حديث يعول عليه لا في فضلها ولا في نسخ الآجال فيها

“Berkenaan dengan malam nisfu Sya’ban, padanya tidak terdapat satu hadis pun yang dapat dijadikan sebagai sandaran, sama ada tentang keutamaannya atau tentang pembatalan ajal seseorang.” (Tafsir al-Qurthubi, 16/128)
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Cukuplah bagi anak keturunan Adam agar makan sekadar untuk menegakkan tulang sulbinya (tulang punggung). Melainkan jika ia tidak dapat mengelak, maka isilah 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumannya, dan 1/3 untuk nafasnya.”

[Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 2380. Dinilai sahih oleh at-Tirmidzi]
 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Orang yang meninggalkan solat ‘Ashar seolah-olah ia kehilangan keluarga dan hartanya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 519)
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِيْ أَثَرَةً فَاصْبِرُوْا حَتَّى تَلْقَوْنِيْ عَلَى الْحَوْضِ

“Bahawasanya kamu nanti akan menemui atsarah (pemegang amanah (pemimpin) yang mementingkan diri). Maka bersabarlah sehingga kamu menemuiku di haudh.” [Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 4330. Muslim, no. 1061, 1845]
Sahabat Bertanya Tentang Pemerintah, Rasulullah Jawab!

Salamah B. Yazid al-Ju’fi radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَمْنَعُونَّا حَقَّنَا وَيَسْأَلُونَّا حَقَّهُمْ؟

“Apa pandangan kamu jika ada pemerintah kami yang menghalang kami dari hak kami tetapi mereka meminta kami untuk memberikan hak mereka?”

Jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ
“Dengar dan Taatlah kamu kerana sesungguhnya mereka akan dihitung atas tanggungjawab mereka dan demikian juga kamu akan dihitung atas apa yang dibebankan atas kamu.” (Hadis Riwayat At-Tirmidzi, no. 2199. Dinilai sahih oleh At-Tirmidzi)

ZUHUD

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi rahmatullah alaih mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)

Abu Dzar r.a mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada pada Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.“(riwayat ini mauquf, hanya perkataan Abu Dzar) sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd.” (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346)
 
 
 
 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya sentiasa bersikap ihsan (baik) terhadap segala sesuatu. Apabila kamu hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang paling baik.

Apabila kamu hendak menyembelih haiwan, maka sembelihlah dengan cara yang paling baik iaitu dengan menajamkan alat sembelihan dan hendaklah meletakkan haiwan dalam keadaan yang selesa.” (Hadis Riwayat Muslim, 10/122, no. 3615)

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no.2988)

“If Allah wants to favor someone, He grants him comprehension (understanding) of this religion.”
[Sahih Bukhari vol.1 # 71, Tirmidhi and Musnad Ahmad]



 Membantu orang lain bertinya(hakikatnya ) membantu diri sendiri juga( Rahmat dari ar Rahman ):
"..If anyone fulfills his brother's needs, Allah will fulfill his needs; if one relieves a Muslim of his troubles, Allah will relieve his troubles on the Day of Resurrection.."
[Al-Bukhari and Muslim].
Prophet (sallallahu alaihi wasallam) was asked,

“What deeds are loved most by Allah?”

He said, “The most regular constant deeds even though they may be few.”

[Sahih Al Bukhari, Vol. 8, Book of Ar Riqaaq, Hadith No. 6465]
"Sesiapa yg menempuh jln untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jln menuju Syurga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di slh sebuah rumah Allah (masjid) utk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mrk, melainkan ketenangan (sakinah) turun kpd mereka, rahmat Allah meliputi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mrk di hadapan para malaikat yg berada di sisi-Nya.” (Hadis Riwayat Muslim, 13/212, no. 4867)

"Janganlah kamu menjadi orang yg ikut-ikutan dengan mengatakan, 'Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik, dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim.' Akan tetapi, teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, 'Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula, dan kalau orang lain berbuat kejahatan, Maka kami tidak melakukannya." (HR. At-Tirmidzi)
 
Nabi saw. bersabda, “Sesiapa yang merasa gembira apabila dia melakukan amal baik dan merasa dukacita dengan perlakuan dosanya, itulah ciri mukmin sejati”. (HR At-Tirmizi)
Nabi S.A.W. bersabda yang maksudnya : "Tiap mata pasti akan menangis pada hari kiamat, kecuali mata yang dipejamkan dari segala yang haram dan mata yang berjaga malam dalam jihad fisabilillah dan mata yang mentitiskan air mata walaupun sebesar kepala lalat kerana takutkan Allah." (Hadis Riwayat Abu Naim)

"Bacalah Al-Qur'an karena dia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat
bagi orang yang membacanya".(HR. Muslim: 804. )

Kata Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya agama ini adalah mudah, dan tiada seorang pun yg cuba menyusah-nyusahkan diri dlm perkara agama ini melainkan dia pasti gagal." (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Iman, 1/69, no. 38)

Termasuk org yg menyusah-nyusahkan diri dlm beragama adlh para pereka bid'ah seperti mensyari'atkan ritual tahlilan bila ada kematian, bersuluk utk mencapai kasyaf, berzikir tahlil 200x atau 70000x dlm satu nafas.

Sedangkan amalan2 seperti ini tidak pernah pun disyari'atkan oleh Rasulullah. Cukupkanlah dan mudahkanlah diri kita dgn sunnah tanpa bid'ah (tokok tambah).
 
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Jadikanlah dirimu orang alim (berilmu) atau orang yang menuntut ilmu atau orang yang selalu mendengar pengajaran atau orang yang mencintai (tiga golongan yang tersebut) dan janganlah engkau menjadi dari golongan yang kelima, yang dengan sebabnya engkau akan binasa.”

Riwayat al-Bazzar

------------------------------------------------------------------------------------------
Daripada ‘Abdullah B. ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة، وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة، كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة، قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Sesungguhnya bani Israel telah berpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Mereka semua di Neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah dia (yang selamat itu) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

(Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 9/235, no. 2565. Beliau berkata, “Hadis ini adalah hadis yang hasan gharib yang telah ditafsirkan, kami tidak mengetahui melainkan daripada periwayatan ini.” Dinilai hasan oleh al-Albani. Hadis iftiraqul ummah ini diriwayatkan dengan beberapa jalur periwayatan. Para ulama berhujjah dengannya)

عن أبي سعيد الخدري قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم ، قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى؟ قال : فمن

Daripada Abu Sa’id al Khudri RA, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Kamu akan mengikut jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka.”

Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani yang engkau maksudkan?”

Nabi SAW menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?”
  ( Hadis Riwayat Muslim)

 
Hadis-hadis berkenaan as-Sawadul A’zham:

فإن بني إسرائيل افترقوا على إحدى وسبعين فرقة ، والنصارى على اثنتين وسبعين فرقة ، وإن أمتي ستفترق على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها على الضلالة ، إلا السواد الأعظم » قالوا : يا رسول الله ، ما السواد الأعظم ؟ قال : من كان على ما أنا عليه وأصحابي ، من لم يمار في دين الله تعالى ولم يكفر أحدا من أهل التوحيد بذنب

Terjemahan: Bahawa Sesungguhnya bani Isra’il telah berpecah menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan/puak), dan Nashrani pula berpecah menjadi tujuh puluh dua firqah, manakala umatku pula akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah. Kesemua mereka di atas kesesatan, kecuali as-sawadul a’zham. (Para sahabat bertanya): “Wahai Rasulullah, apa itu as-sawadul a’zham?” (Rasulullah menjawab): “Sesiapa sahaja yang berada di atas jalanku dan para sahabatku. Iaitu mereka yang tidak keluar dari agama Allah Ta’ala dan tidak mengeluarkan seorang pun dari ahli tauhid dengan dosanya. (Rujuk: al-Ajurri, asy-Syari'ah, 1/122. Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, 8/152, no. 7659. Dari Anas B. Malik)

ان بني إسرائيل افترقت على إحدى وسبعين فرقة هذ الأمة تزيد عليها واحدة كلها في النار إلا السواد الأعظم

Terjemahan: Bahawasanya Bani Isra’il telah berpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan umat ini akan menambah di atasnya satu lagi (menjadi 72 golongan), semua ke Neraka kecuali as-Sawadul A’zham. (Hadis Riwayat al-Marwadzi, 1/22, no. 56. Dari Abi Umamah)

اختلفت اليهود على إحدى وسبعين فرقة ، سبعون فرقة في النار وواحدة في الجنة ، واختلفت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة ، واحدة وسبعون في النار وفرقة واحدة في الجنة ، فقال : تختلف هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة ، اثنتان وسبعون في النار وواحدة في الجنة. قلنا : انعتهم لنا قال : السواد الأعظم

Terjemahan: Telah berpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan/puak), tujuh puluh firqah di neraka dan hanya satu di jannah. Dan kaum Nashara pula telah berpecah kepada tujuh puluh dua firqah, dan tujuh puluh satu di neraka, manakala hanya satu di jannah. Kemudian beliau (Nabi) bersabda: Akan berpecah umatku ini menjadi tujuh puluh tiga firqah, tujuh puluh dua golongan di neraka dan hanya satu di jannah. Yang satu itu adalah as-Sawadul A’zham. (Rujuk: al-Lalika’i, Syarah Ushul I’tiqad, 1/155, no. 131)

تفرقت بنو إسرائيل على إحدى وسبعين ، وأمتي تزيد عليها ، كلها في النار إلا السواد الأعظم

Terjemahan: Telah berpecah bani Isra’il menjadi tujuh puluh satu golongan dan umat ini akan melebihi mereka (dalam perpecahan), semuanya ke neraka kecuali as-Sawadul A’zham. (Rujuk: al-Laalika’i, Syarah Ushul I’tiqad, 1/156, no. 132. Dari Abu Gholib secara mauquf)

افترقت بنو إسرائيل على إحدى وسبعين فرقة ، وإن أمتي ستفترق على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها في النار إلا السواد الأعظم

Terjemahan: Telah berpecah bani Isra’il menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan), dan bahawasanya umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah (golongan), mereka semuanya ke neraka kecuali as-Sawadul A’zham. (Rujuk: al-Lalika’i, Syarah Ushul I’tiqad, 1/104, no. 152. al-Marwadzi, as-Sunnah, 1/22, no. 57. Al-Ajurri, asy-Syari’ah, 1/31, no. 27. Dari hadis Anas B. Malik)

ما كان الله ليجمع هذه الأمَّة على ضلالة أبدا، ويد الله على الجماعة هكذا، فعليكم بالسواد الأعظم، فإنه من شذَّ شَذَّ في النار

Terjemahan: Tidaklah Allah akan menghimpun umat ini di atas kesesatan untuk selama-lamanya. Dan tangan Allah di atas jamaah ini. Hendaklah kamu mengikuti as-Sawadul A'zham kerana sesungguhnya sesiapa yang terasing (Syaadz), maka dia terasing ke dalam neraka. (Rujuk: Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 11/442, no. 3940. al-Albani, Taraji’at al-‘Allamah al-Albani fi at-Tashih wa at-Tad’if, 1/13, no. 85. Dari hadis Anas B. Malik)
Berkaitan AL-JAMAAH:


Berkenaan perkataan al-Jama’ah, Ibnu Mas’oud radhiyallahu ‘anhu menyebutkan (menjelaskan) sebagaimana berikut:


ان جمهور الناس فارقوا الجماعة وأن الجماعة ما وافق الحق وأن كنت وحدك


Terjemahan: Sesungguhnya kebanyakan manusia berpecah dari al-Jamaah dan al-Jamaah itu adalah apa yang bersesuaian dengan kebenaran meskipun anda berseorangan. (Rujuk: Imam ‘Abdurrahman B. ‘Ismail Abu Syamah, al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits, 1/22)

إنما الجماعة ما وافق طاعة الله وإن كنت وحدك

Terjemahan: Sesungguhnya al-Jama’ah itu adalah sesiapa yang mengikuti ketaatan kepada Allah meskipun engkau berseorangan. (Rujuk: al-Laalika’i, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, 1/163)

Abu Syamah rahimahullah berkata:

أن اختيارك لنفسك خير من اختيار الله ورسوله وحيث جاء الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق واتباعة وان كان المتمسك بالحق قليلا والمخالف كثيرا لأن الحق الذي كانت عليه الجماعة الأولى من النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه رضى الله عنهم ولا نظر الى كثرة أهل الباطل بعدهم

Terjemahan: Sebenarnya pilihan yang terbaik untuk diri anda adalah memilih Allah dan Rasul-Nya, di mana telah datang perintah supaya berpegang teguh kepada al-Jama’ah. Maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang teguh kepada kebenaran dan mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh itu sedikit dan yang menyelisihinya itu banyak. Kerana kebenaran adalah apa yang berada pada Jama’ah (kumpulan) pertama, iaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersama para Sahabatnya. Dan janganlah kita mengambil kira golongan setelah mereka yang berada di atas kebatilan walaupun jumlah mereka adalah ramai (majoriti). (Rujuk: Imam ‘Abdurrahman B. ‘Ismail Abu Syamah, al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits, 1/22)

Ibnu Hibban berkata di dalam Shohihnya:

قال أبو حاتم : « الأمر بالجماعة بلفظ العموم ، والمراد منه الخاص ، لأن الجماعة هي إجماع أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فمن لزم ما كانوا عليه وشذ عن من بعدهم لم يكن بشاق للجماعة ، ولا مفارق لها ، ومن شذ عنهم وتبع من بعدهم كان شاقا للجماعة ، والجماعة بعد الصحابة هم أقوام اجتمع فيهم الدين والعقل والعلم ، ولزموا ترك الهوى فيما هم فيه . وإن قلت أعدادهم ، لا أوباش الناس ورعاعهم ، وإن كثروا

Terjemahan: Abu Hatim berkata: Perintah berjama’ah disebutkan dengan lafaz umum, tetapi apa yang dimaksudkan adalah khusus, kerana al-Jama’ah adalah ijma’ para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dengan itu, sesiapa yang berpegang teguh kepada apa yang ditempuh oleh para sahabat (mengikuti prinsip para sahabat) walaupun mereka bersendirian (terasing) dari orang-orang setelah mereka, maka mereka tidaklah termasuk orang-orang yang menentang dan menyelisihi al-Jama’ah. Tetapi sesiapa yang menyelisihi para Sahabat dan mengikuti prinsip orang-orang setelah mereka (setelah para sahabat), maka dia adalah terkeluar dari al-Jama’ah (menyelisihi al-Jama’ah). Sedangkan pengertian al-Jama’ah setelah sepeninggalan para Sahabat adalah orang-orang yang pada diri mereka berkumpul tiang-tiang agama, akal, dan ilmu, serta sentiasa meninggalkan hawa nafsu yang ada pada mereka dan jumlah mereka adalah sedikit. Dan bukanlah al-Jama’ah itu kumpulan manusia sebarangan dan orang-orang kecil yang tidak berilmu walaupun jumlahnya ramai. (Rujuk: Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Hibban, 26/6)

Maksud Sebenar as-Sawadul A’zham :
Berkata Imam Ibnul Atsir rahimahullah:


وفيه [ عليكم بالسَّوادِ الأعْظَم ] أي جُمْلة النَّاس ومُعْظَمهم الذين يجتمعون على طاعة السُّلطان وسُلُوك النَّهج المُسْتقيم

Terjemahan: Dan yang dimaksudkan dengan 'Alaikum bi as-Sawadul A'zham (Kamu di atas as-Sawadul A'zham) adalah sekumpulan besar manusia yang berhimpun di dalam mentaati sultan (pemimpin) dan berjalan di atas jalan yang benar (lurus). (Rujuk: Ibnul Atsir, an-Nihayah Fi Ghoribil Hadis, 2/1029)

Berkata
Imam al-Barbahari rahimahullah:

واعلم رحمك الله أن الدين إنما جاء من قبل الله تبارك وتعالى لم يوضع على عقول الرجال وآرائهم وعلمه عند الله وعند رسوله فلا تتبع شيئا بهواك فتمرق من الدين فتخرج من الإسلام فإنه لا حجة لك فقد بين رسول الله صلى الله عليه و سلم لأمته السنة وأوضحها لأصحابه وهم الجماعة وهم السواد الأعظم والسواد الأعظم الحق وأهله فمن خالف أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم في شيء من أمر الدين فقد كفر

Terjemahan: Wahai saudaraku rahimakallah, bahawasanya agama itu adalah hanya apa yang datang dari Allah Tabaraka wa Ta'ala dan bukanlah apa yang ditetapkan oleh akal serta pemikiran manusia. Setiap ilmu agama itu sumbernya adalah dari Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga kamu terlepas dari agama lalu keluar dari Islam. Tidak ada alasan bagi kamu, kerana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada seluruh umatnya dan mengajarkan kepada para sahabatnya dengan lengkap. Mereka adalah al-Jama'ah dan as-Sawadul A'zham. As-Sawadul A'zham adalah kebenaran dan para pembelanya, maka sesiapa yang menyelisihi para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di dalam sebahagian perkara agama, maka dia termasuk orang yang ingkar (kafir). (Rujuk: Imam al-Barbahari, Syarhus Sunnah, m/s. 22, Tahqiq: Muhammad Sa'id Salim al-Qahthani)


Ishaq B. Rahawaih berkata (sebagaimana yang dibawakan oleh Imam asy-Syathibi rahimahullah):

قال إسحاق: لو سألت الجهال عن السواد الأعظم لقالوا: جماعة الناس ولا يعلمون أن الجماعة عالم متمسك بأثر النبي صلى الله عليه و سلم وطريقه فمن كان معه وتبعه فهو الجماعة

Terjemahan: Ishaq (B. Rahawaih) berkata: Jika kamu bertanya kepada orang-orang yang jahil berkenaan maksud as-Sawadul A’zham, sudah tentu mereka akan menjawab: majoriti/himpunan (jama’ah) manusia, dan sebenarnya mereka tidak mengetahui bahawa al-Jama’ah itu adalah para ulama yang berpegang teguh kepada atsar (jejak/prinsip) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta golongan yang sentiasa bersama beliau, dan mereka yang mengikutinya adalah al-Jama’ah. (Rujuk: asy-Syathibi, al-I’tisham, 1/482)

Imam asy-Syathibi telah membawakan lima pendapat berkenaan maksud al-Jama’ah. Di antara pendapat tersebut sebagaimana yang telah diringkaskan oleh Syaikh Alawi ‘Abdul Qadir as-Saqqaf:

إنها السواد الأعظم من أهل الإسلام. فعلى هذا القول يدخل في الجماعة مجتهدو الأُمة وعلماؤها وأهل الشريعة العاملون بها، ومن سواهم داخلون في حكمهم، لأنهم تابعون لهم ومقتدون بهم، فكل من خرج عن جماعتهم فهم الذين شذوا وهم نهبه الشيطان ويدخل في هؤلاء جميع أهل البدع لأنهم مخالفون لمن تقدم من الأُمة، لم يدخلوا في سوادهم بحال.

Terjemahan: (Al-Jama’ah) yang dimaksudkan adalah as-Sawadul A’zham (majoriti) dari umat Islam. Dari pandangan ini, yang termasuk ke dalam al-Jama’ah adalah para mujtahid dan ulama ummat ini, para ahli fiqh, serta orang-orang yang mengikuti dan mencontohi mereka. Setiap orang yang tidak mengikuti mereka bererti dia telah memisahkan diri dari al-Jama’ah dan akan menjadi mangsa syaitan. Dan mereka yang tergolong ke dalam kelompok yang keluar dari al-Jama’ah adalah semua ahli bid’ah. Kerana mereka menyelisihi para pendahulu umat ini.... (Rujuk: Alawi B. ‘Abdul Qadir as-Saqqaf, Mukhtashar Kitab al-I’tisham, m/s. 133-134. Edisi Terjemahan: Ringkasan al-I’tisham Imam asy-Syathibi, m/s. 198, Media Hidayah, Cet. 2003M)


Dan setelah membawakan pandangan-pandangan tersebut, beliau (asy-Syathibi) berkata:

فانظر في حكايته تتبين غلط من ظن أن الجماعة هي جماعة الناس وإن لم يكن فيهم عالم وهو وهم العوام لا فهم العلماء فليثبت الموفق في هذه المزلة قدمه لئلا يضل عن سواء السبيل ولا توفيق إلا بالله

Terjemahan: Maka lihatlah, dari sini kita dapat mengetahui kesalahan mereka yang mengatakan bahawa al-Jama’ah itu ditentukan berdasarkan majoriti manusia, walaupun tidak terdapat seorang alim pun di dalam kumpulan mereka. Dan bahawasanya ini hanyalah prasangka orang-orang awam, bukannya kefahaman para ulama. Dari itu, kita perlulah memperteguhkan pendirian kita supaya tidak tergelincir sebagaimana mereka dan supaya tidak tersesat memasuki jalan yang buruk. Tiada taufiq untuk itu melainkan hanya dari Allah. (Rujuk: asy-Syathibi, al-I’tisham, 1/482)
·

 -------------------------------------------------------------------
Nabi S.A.Wasallam bersabda (ertinya ): 
“Janganlah ( kamu  bersikap ) banyak bercakap tanpa menyertakan sekali (zikir kepada Allah SWT,) sesungguhnya banyak bercakap dengan tidak disertakan zikir kepada Allah itu adalah penyebab hati seseorang menjadi keras. Dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia daripada Allah SWT itu ialah mereka yang keras hatinya”. (HR Tirmizi)

 "Sesungguhnya Iman akan kembali berhimpun ke Madinah sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya"
[ HR Bukhari no:1876 ]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

Sekiranya kamu melakukan perniagaan dgn ‘inah (sejenis riba), mengikuti belakang ekor lembu, berpuas-hati dgn pertanian (sibuk dengan duniawi), serta meninggalkan jihad (tidak memperjuangkan agama Allah), maka Allah pasti membelenggu kamu dlm kehinaan. Dia tidak akan mencabut kehinaan tersebut dari diri kamu sehinggalah kamu kembali kepada agama kamu (Islam yang sebenar).” (Hadis Riwayat Abu Daud, 9/325, no. 3003. Dinilai sahih oleh al-Albani)
 
عليه وسلم، فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم: «إنما ينصر الله هذه الأمة بضعيفها، بدعوتهم وصلاتهم وإخلاصهم
Daripada Mus`ab bin Sa`d drpd bapanya,bahawasanya dia menyangka dia mempunyai kelebihan ats org yg dibwhnya dr klngn sahabat Nabi sallallahu`alaihiwasallam,lalu
Nabi sallallahu`alaihiwasallam bersabda: " Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dgn org2 yg lemah dikalangan mereka,dengan doa mereka,solat mereka dan keikhlasan mereka .[ HR An-Nasai no:3178 dgn sanad yg sahih disahihkan oleh Al-Albani dan Syeikh Muqbil dlm As-Shahih Al-Musnad

Siksaan neraka bagi mereka yang menyuruh kepada kebaikan tetapi tidak mengerjakannya dan melarang kemungkaran tetapi mereka sendiri mengerjakannya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يجاء برجل فيطرح في النار فيطحن فيها كطحن الحمار برحاه كيطيف به أهل النار فيقولون اى فلان الست كنت تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر فيقول اني كنت أمر بالمعروف ولا أفعله وأنهى عن المنكر وافعله

Rasulullah SAW bersabda : " Akan datang seseorang kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka , lantas di sana dia berputar-putar seperti keldai menarik alat penggilingan, maka penghuni neraka mengelilingi orang tersebut dan bertanya , ' Hai Fulan, bukankah kamu dahulu pernah menyuruh berbuat baik dan melarang kemungkaran ? '. Ia menjawab, ' Ya aku dahulu menyuruh berbuat baik tetapi aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran tetapi aku mengerjakannya' " ( Riwayat Bukhari, Sahih Bukhari Hadis 6569 , Lidwa )

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

" Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab ? Maka tidakkah kamu berfikir " ( Al Baqarah : Ayat 44 )
 
 
 

solat sunat Tahajjud: 

"Hendaknya kalian melaksanakan shalat malam. Ia adalah kebiasaan orang-orang salih sebelum kalian, media untuk mendekat kepada Tuhan kalian, pembersih kesalahan, serta penghalang dari perbuatan dosa." (HR Muslim)


-(Antara penyebab sesorang layak masuk syurga..):
"Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.”

               -(HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)


solat sunat rutin :
“Barangsiapa rutin menegakkan sholat sunnah 12 rakaat, maka Allah ta’aala akan membuatkan rumah baginya di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudah Zhuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Tirmidzi 379)........
besarnya rahmat Allah ;
 Baginda s.a.w. mengingatkan umatnya: "Sesungguhnya ALLAH s.w.t. membentangkan tanganNya pada waktu malam menerima taubat daripada hamba-hambaNya yang bersalah di siang hari, dan membentangkan tanganNya pada siang hari menerima taubat hamba-hambaNya yang bersalah di malam hari. sehinggalah matahari terbit daripada barat. (Riwayat Muslim).
 
Agama dan amanah
Rasulullah saw bersabda :

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ (رواه أحمد والبيهقي)

“Tidak sempurna IMAN seseorang yang tidak bisa memikul AMANAH, tidak sempurna AGAMA seseorang yang tidak bisa dipegang JANJIinya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Sikap amanah dan metepati janji, adalah dua sifat yang saling berkaitan, apabila ada amanah pasti ada sikap menepati janji, jika satu sifat hilang maka hilang pula yang lain, seseorang dikatakan amanah apabila ia mampu menepati janji dan ucapannya di hadapan orang lain, sebaliknya seseorang dikatakan menepati janji jika ia memiliki karakter amanah dalam dirinya.

Keduanya adalah sifat utama yang harus terbangun dalam kepribadian setiap muslim. Keduanya adalah sifat wajib yang punya kaitan erat dan langsung dengan keimanan muslim kepada Allah swt.
 
berinteraksi dengan pemimpin yg Zalim :
Dalam sebuah hadis daripada Hudzaifah Ibn al-Yaman radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

يَكُوْن بَعْدِيْ أَئِمَّة لاَ يَهتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُوْنَ بِسُنَّتِيْ وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رجَال قُلُوْبُهُم قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنَ فِيْ جِثْمَانِ إِنْسِ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتَطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ فَاسْمَعْ وَأطِعْ

"Akan ada sepeninggalanku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati syaitan dalam bentuk manusia." Aku (Hudzaifah) bertanya, "Apa yang perlu aku lakukan jika aku menemuinya?" Beliau menjawab, "(Hendaklah) kamu mendengar dan taat kepada amir (pemerintah), walaupun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat." (Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, 3/387, no. 3435)
Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

“..Tidak akan bergerak kedua kaki manusia pada Hari Kiamat disisi Allooh sehingga ia ditanya tentang 5 perkara: (1)Tentang umurnya, dirusak untuk apa, (2)Tentang kepemudaannya, dihabiskan untuk apa,(3)Tentang hartanya, darimana didapat, (4)Tentang hartanya, kemana dibelanjakan, (5)Tentang amalan, apa yang diamalkan dari ilmu yang diketahuinya.."

Hadits Riwayat Al Imaam At Turmudzy no: 2602, di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany 
رحمه الله
Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"..Sekiranya manusia memiliki satu bukit berupa emas, maka ia menginginkan untuk memiliki dua bukit (emas). Dan tidak akan ada yang dapat memenuhi keinginan manusia kecuali tanah (setelah manusia dikubur). Dan Allah akan mengampuni siapa saja yang bertaubat kepadanya.."
(HR Bukhari).
 
 

Agama adalah nasihat


الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْناَ لِمَنْ قاَلَ ِللهِ وَلِكِتاَبِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama (Islam) ini adalah nasehat (diulangi tiga kali oleh beliau).” Kami bertanya: “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Kata beliau: “Untuk Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Serta untuk para imam (pemimpin) kaum muslimin dan awam mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)


Daripada Ibnu Mas’ud r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada satupun  dan tidak ada satupun amalan yang boleh menghampirkan kepada syurga kecuali aku telah perintahkan kamu supaya melakukannya , tidak ada satup amalanyang menghampirkan kamu kepada neraka kecuali aku telah melarang kamu daripadanya”. 
The Prophet (peace be upon him) said: "Do not be people without minds of your own, saying that if others treat you well you will treat them well, and that if they do wrong you will do wrong. Instead, accustom yourselves to do good if people do good and not to do wrong if they do evil." [Tirmidhi, Hadith 1325] Amazing advice!
oleh 'Abd Allah bin Mas’ud radhiallahu’anhu:

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

"Sederhana dalam sesuatu (amalan yang menepati) sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam sesuatu bid’ah." - Sunan al-Darimi, kitab al-Muqaddimah,no: 217.
 
 
Dan Amr bin Ibnu Abasah mende-ngar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tempat yang paling mendekat-kan seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia dalam sujudnya dan jika ia bangun melaksanakan shalat pada
sepertiga malam yang akhir. Karena itu, jika kamu mampu menjadi orang
yang berdzikir kepada Allah pada saat itu maka jadilah. (jadilah orang yang mengamalkannya)” .
- HR. At-Tirmidzi,Ahmad dan di-shahih -kan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan Al Albani.

 
 
Rasulullah s.a.w. bersabda :
Siapa yang menjaga solatnya maka ia mendapat nur ( cahaya ) dan bukti dan selamat pada hari qiamat.  Dan siapa yang meninggalkan/ mengabaikan  solatnya , maka tidak mendapat nur penerangan dan bukti dan tidak selamat bahkan pada hari qiamat ia kan berkumpul dengan Qarun, firaun dan Ubay bin Khalaf.   ( H.R. Ahmad, Ibn Hibbban ).
 


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715) 
-------------------------------------------------------
"Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat, wa tarkal munkaraat " :" Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran." [HR Tirmidzi]
Doa apabila mengalami  kesulitan:

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ
سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah.
Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau
menghendakinya.”
 
(H.R. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya no. 2427 (Mawaarid), Ibnus Sunni no. 351)

----------------------------------------------------------------
Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesiapa yang sentiasa beristighfar maka Allah akan menjadikan baginya setiap kesusahan itu ada jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada cara mengatasinya serta memberikan rezeki kepadanya daripada sumber yang tidak disangka-sangka.”

Riwayat Abu Daud


“Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham (perpegang eratlah terhadapnya), dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan at Tirmidzi dan berkata at Tirmidzi, “Hasan Shahih”)



‎"Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia menyelesaikan kesulitan orang lain."(Hadis riwayat: Imam Ahmad)

Berkata Abdullah bin Mas’ud: “Bagaimana keadaan kamu, apabila kamu diselubungi fitnah, semakin lemah orang yang tua, dan semakin membesar anak-anak kecil, dan mereka menjadikan fitnah (amalan bukan agama) itu sebagai sunnah (dianggap sebagai agama yang perlu diikuti). Maka apabila fitnah itu hendak diubah, mereka berkata: Sunnah telah diubah (dibuang). Orang ramai bertanya kepada Ibn Mas’ud: Bilakah berlaku keadaan tersebut wahai Abu Abdul Rahman? Beliau menjawab: Apabila semakin ramai orang yang hanya pandai membaca al-Quran, tetapi sedikit orang yang memahaminya, dan apabila semakin ramai orang yang berebut jawatan pemimpin tetapi semakin sedikit orang yang amanah dalam kepimpinan, dan orang berlumba-lumba mencari habuan dunia dengan amalan akhirat.” (Sunan al-Darimi)
BERMEGAH-MEGAH DENGAN MASJID..

Dari Anas bin Malik r.a. bahawasanya Rasulullah saw. bersabda: "Tidak berlaku (terjadi) hari qiamat sehingga umat ku bermegah-megah (dengan binaan) masjid".
(H.R Abu Daud)
 
 
Rasulullah s.a.w:
“Bandingan orang-orang mukmin dalam kasih-sayang, kesian dan simpati sama seperti satu jasad. Apabila satu anggota merasa sakit, maka seluruh angota lain turut berjaga malam dan demam” (Riwayat Muslim)
Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرْ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

"Sesiapa yang ingin agar Allah memperkenankan doanya di saat-saat sempit dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan berdoa di saat-saat ia senang" [HR Tirmidzi: 3304, dihasankan oleh al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadist As-Sohihah]


“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 186)
An-Nu'man Bin Basyir berkata: Nabi SAW bersabda di atas minbar: Sesiapa yang tidak mensyukuri hal yang sedikit, dia tidak akan bersyukur untuk yang banyak. Sesiapa yang tidak mensyukuri manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah. Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah syukur, meninggalkannya adalah kufur. Perpaduan itu rahmat, perpecahan itu azab [Musnad Ahmad: 18921]


من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه وإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان.
Maksudnya: “Sesiapa yang melihat sesuatu kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangan (kuasa)nya, jika tidak mampu hendaklah dia mengubahnya dengan lidah (perkataan)nya dan jika tidak mampu hendaklah dia mengubahnya dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”[12].
Muslim

Hadis Rasulullah s.a.w. menjelaskan :

: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدرك الموت وأنت على ذلك
  ertinya : "... maka jauhilah dirimu drpd semua Firqah-Firqah  (puak-puak - hizbiyy )  kesemuanya ,walaupun pada masa itu kamu harus menggigit pohon2 (kerana kelaparan) , sehingga datangnya kepadamu kematian  dan kamu tetap dengan hal itu (yakni berpaut pada apa yg menepati al Haq walaupun kamu keseorangan) - (H. Riwayat Bukhari )


Rasulullah saw. Bersabda ertinya :: “Lagi akan datang kepada manusia tahun-tahun yang tandus (kemarau panjang). Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?”. Nabi saw. menjawab, “Orang yang kerdil dan sebenarnya hina dan tidak mengerti urusan orang ramai”. (Riwayat Ibnu Majah)

Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda:
"Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk syurga."
Kami (para shahabat) bertanya, “Golongan manakah yang akan selamat ?”
Rasulullah SAW menjawab," ’Siapa yang berada diatas (ajaran) seperti ajaranku hari ini dan para sahabatku."
(HR At-Tirmidzi & Thabrani )


“Dari Abi Umamah al-Bahili, dari Rasulullah saw baginda bersabda:
Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan dikuti oleh ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”. (Hadis Riwayat Ahmad. 5/251)
Dalam hadis al-Imam al-Bukhari daripada Anas bin Malik r.a. katanya:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّابًا وَلاَ فَحَّاشًا وَلاَ لَعَّانًا
"Bukanlah Nabi s.a.w itu seorang pemaki orang, tidak juga seorang pengucap kekejian dan bukan seorang pelaknat orang lain". 
“Sesiapa yg akhirat itu tujuan utamanya, maka Allah jadikan kekayaannya dlm jiwanya. Allah mudahkan segala urusannya & dunia akan dtg kpdnya dgn hina (iaitu dlm keadaan dirinya mulia). Sesiapa yg menjadikan dunia itu tujuan utamanya, maka Allah akan letakkan kefakirannya antara kedua matanya. Allah cerai beraikan urusannya, & dunia pula tidak dtg kpdnya melainkan dgn apa yg ditakdirkan untuknya (iaitu dlm keadaan dirinya hina)”. (Riwayat al-Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani). 
"Barangsiapa yg mencari Ridha Allah sekalipun manusia BENCI, maka Allah akan Ridha kpd nya dan membuat manusia Ridha kpd nya..dan barangsiapa yg mencari Ridha manusia dgn kemurkaan Allah, maka Allah akan Murka kepadanya dan menjadikan manusia murka kepadanya..."(HR.Ibnu Hibban dlm Shahihnya: 276).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 “Perbandingan antara dunia dan akhirat adalah seperti seseorang yang memasukkan jari-jemarinya ke dalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dapat diperolehinya? -  (Riwayat Muslim)


Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka”  (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan selain mereka)


 Sesiapa yang membenci sesuatu dari tindakan amirnya (pemerintah), maka hendaklah dia bersabar, kerana seseorang yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin walaupun satu jengkal, sekiranya dia mati, maka matinya adalah seperti matinya kaum jahiliyyah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 22/51, no. 6610)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kamu selalu berusaha (berhasrat) untuk menjadi pemerintah, padahal ia akan menjadikan kamu menyesal pada hari Kiamat kelak.”

[Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 7148]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّا فًـا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ, لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

"Barangsiapa yang datang kepada dukun (orang pintar atau tukang ramal), lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam".
[HR Muslim no. 2230 (125), Ahmad IV/68, V/380 dari seorang isteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

مَنْ أَتَى عَرَّا فًـا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ, فَقَد كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلى مُحَمَّدٍ

"Barangsiapa yang mendatangi orang pintar (tukang ramal atau dukun), lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad".

- [HR Ahmad II/408,429,476; Hakim I/8; Baihaqi, VIII/135; dari sahabat Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Hakim dan disetujui Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani menshahihkan juga dalam Shahih Al Jami’ish Shaghir no. 5939].



Tho`ifah al-Mansurah(Golongan yang Mendapat Pertolongan)


Mereka juga disebut sebagai Tho`ifah al-Mansurah, iaitulah kelompok atau golongan yang diberi pertolongan oleh Allah ta`ala,hal ini berdasarkan hadith Nabi sallallahu`alaihiwasallam:


لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Sentiasa akan ada segolongan dari ummatku mereka diberikan pertolongan dan tidak dapat mencelakai mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sehingga datangnya hari kiamat.

[ HR Ibn Majah no:6,Shahih Sunan Ibn Majah , 1/78 ]
-------------------------------------
Dalil pemutus bagi isu BERSIH sebagai panduan bagi orang beriman...

Salamah bin Yazid al-Ju'fi radiallahu 'anhu bertanya kpd Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam:


أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَمْنَعُونَّا حَقَّنَا وَيَسْأَلُونَّا حَقَّهُمْ؟


Maksudnya: "Apakah pandangan kamu jika ada pemerintah kami yang menghalang kami daripada hak kami namun mereka meminta kami utk memberikan
hak mereka?"

Jawab Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Maksudnya: "Dengar dan Taatlah kamu kerana sesungguhnya mereka akn dihitung ats tanggungjawab mereka dan demikian juga kamu akan dihitung ats tanggungjawab kamu".

[HR Muslim & al-Tirmizi].
 
---------------------------------------------------- 
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat. HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
 keterangan Hadis
Dalam usaha untuk mempraktikkan perintah Allah dan RasuNya , kebijaksanaan amat diperlukan agar ianya jadi lebih mudah dan berkesan .Contohnya seperti hadis ini..., pelajaran yg boleh diambil darinya adalah (antara lain ) : setiap muslim-mukmin akan berusaha mendapatkan seorang yang bagus deennya untuk dijadikan teman, kerana teman itu akan mempengaruhi deen seseorang , jika baikdeennya, maka Alhamdulillah. Jika sebaliknya maka samaada berusaha untuk membantu memperbaiki deennya atau jauhkan diri darinya (jika tak mampu ).Kerana jika tiada teman yang baik untuk jadi teman...lebihbaiklah kita tak berteman (bertemanlah dengan Allah dan ayat-ayatNya, teman yang maha Hidup..tak tidur dan tak mati, tidak LEMAH DAN TAK AKAN MENGECEWAKAN KITA.,.BERTEMANLAH DENGAN HADIS RASULULLAH saw..kerana ia sentiasa membawa kita kepada cahaya petunjuk Al Quran agar dapat mempraktikkannya dengan betul...., bertemanlah dengan para sahabat dan generasi yang soleh ; ..dan jangan lupa, bahawa kitalah yang harus berusaha menjadi temn yang soleh (bagus deennya) itu sebelum berharap untuk dikurniakan teman yang soleh...
-----------------------------------------------

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci maki orang muslim itu perbuatan fasiq dan memeranginya adalah perbuatan kufur”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
“Jiwa seorang mukmin tergantung kerana hutangnya, sampai hutang itu dilunaskannya.” (HR. At Tirmidzi) 
Rasulullah bersabda "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yg dirosakkan oleh air." Seorang sahabat telah bertanya "Apakah caranya untuk menjadikan hati itu bersinar kembali?" Jawab Rasulullah "Banyakkan mengingati maut dan membaca Al-Quran."
(Riwayat Baihaqi dari Ibnu Umar)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
"Badaal Islaamu ghoreeban fa sa ya'udu ghoreeban kama bada-a, fathuba lil ghuraba ."
(ertinya): “Islam itu bermula asing lagi aneh (ganjil) dan akan kembali asing sebagaimana asal datangnya. Maka beruntunglah mereka yang dianggap aneh (asing).” (Hadis Riwayat Muslim)

Dalam riwayat yang lain, “Maka beruntunglah mereka yang dianggap asing, iaitu orang-orang yang melakukan islah (pembaikan) di ketika manusia berkeadaan rosak.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi. at-Tirmidzi mensahihkannya)
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesiapa yang melakukan kebaikan kepada kamu, maka balaslah kepadanya. Jika kamu tidak ada apa-apa untuk membalasnya, maka berdoalah untuknya sehingga kamu dapati bahawa kamu telah membalasnya.”

[Hadis Riwayat Abu Daud, no. 1672. Dinilai sahih oleh al-Albani]

 
Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba, yang memberi makannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau bersabda: "Mereka itu sama." (H.R. Muslim juz 3, hal. 1219
Do not envy one another; do not hate one another; do not turn away from another; and do not undercut one another, but be you,  O servants of Allah, brothers. (Muslim)
 
Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

”Barangsiapa yang mengadakan perkara-perkara yang baru dalam urusanku ini (Islam) yang tidak bersumber darinya, maka amalan tersebut akan tertolak”.

Dalam riwayat lain berbunyi:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusanku (Islam), maka amalan tersebut tertolak”.
 
Kita (umat Islam ) boleh berbeza dalam perkara-perkara Ijtihadiah dan Khilafiah , tetapai dalam perkara yang sudah ada ketetapan dari Allah dan RasulNya ,  maka tidak boleh berbeza (tiada pilian lagi melainkan mengikut ketetapan Allah dan RasulNya ). Jika berbeza juga bermakna kita telah menyimpang dari Jalan yang Lurus .
Firman Allah (ertinya) : "Dan TIDAK seharusnya bagi orang-orang beriman, lelaki dan perempuan - apabila Allah dan RasulNya telah MENETAPKANkan KEPUTUSAN mengenai sesuatu perkara - bahawa ia mempunyai hak (boleh )memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka ( tiada pilihan lagi sesudah penetapan dari sisi Allah dan rasul). Dan sesiapa yang mengingkari (tidak taat ) Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata." (Al-Ahzaab 33:36) 
 
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat.HR. Abu Daud no. 4883 dan Tirmidzi no. 2378. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan

Bersyukur :
"Sedikit sekali di kalangan hamba-hambaKu yang bersyukur."(Saba' 34:13) 
 
Daripada ‘Abdullah B. ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة، وَتَفْتَرِق أُمَّتِي عَلَى ثَلَاث وَسَبْعِينَ مِلَّة، كُلّهمْ فِي النَّار إِلَّا مِلَّة وَاحِدَة، قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُول اللَّه ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Sesungguhnya bani Israel telah berpecah-belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Mereka semua di Neraka kecuali satu golongan.” Para sahabat bertanya, “Siapakah dia (yang selamat itu) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
(Hadis Riwayat at-Tirmidzi, 9/235, no. 2565. 
Beliau berkata, “Hadis ini adalah hadis yang hasan gharib yang telah ditafsirkan, kami tidak mengetahui melainkan daripada periwayatan ini.” Dinilai hasan oleh al-Albani. Hadis iftiraqul ummah ini diriwayatkan dengan beberapa jalur periwayatan. Para ulama berhujjah dengannya)

Kata 'Abdullah B. Mas'oud radhiyallahu 'ahu, “Sesungguhnya kebanyakan manusia berpecah dari al-Jama’ah dan al-Jama’ah itu adlh apa yg bersesuaian dgn kebenaran walaupun engkau berseorangan.” (al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits, 1/22)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari : Nabi saw apabila takut kepada sesuatu kaum, beliau mengucapkan , ‘Allahuma innaa naj’ aluka fii nuhuurihim wa na’udzu bika min syururihim .” (Wahai Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau untuk menolak mereka (bermaksud : menyerahkan sepenuh hati kepada Allah yang Maha Agung) dan kami memohon perlindungan dengan Engkau dari kejahatan mereka) [0365]

Sahih Abu Daud
 

 

Keutamaan Zikir Dengan Memuji, Mengagungkan dan Mensucikan Nama Allah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ »
Ada dua kalimat (zikir) yang ringan diucapkan di lidah, (tapi) berat (besar pahalanya) pada timbangan amal (kebaikan) dan sangat dicintai oleh ar-Rahman (Allah Ta’ala Yang Maha Luas Rahmat-Nya), (yaitu): Subhaanallahi wabihamdihi, subhaanallahil ‘azhiim (maha suci Allah dengan memuji-Nya, dan maha suci Allah yang maha agung)”[1].
Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan dua kalimat zikir ini dan menghayati kandungan maknanya, karena amal shaleh ini dicintai oleh Allah Ta’ala dan menjadikan berat timbangan amal kebaikan seorang hamba pada hari kiamat[2].
Oleh karena itu, makna dua kalimat zikir ini disebutkan dalam al-Qur’an sebagai doa dan zikir penghuni surga, yaitu dalam firman Allah Ta’ala,
{دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Doa mereka (penghuni surga) di dalam surga adalah: “Subhanakallahumma” (maha suci Engkau ya Allah), dan salam penghormatan mereka ialah: “Salaam” (kesejahteraan bagimu), serta penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin” (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)” (QS Yunus: 10)[3].
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
- Arti “maha suci Allah” adalah mensucikan Allah Ta’ala dari segala sifat yang menunjukkan kekurangan, celaan dan tidak pantas bagi-Nya, serta menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya[4].
Arti memuji Allah Ta’ala adalah menyanjungnya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang berkisar di antara keutamaan dan keadilan, maka bagi-Nyalah segala pujian yang sempurna dari semua sisi[5].
- Dikhususkannya penyebutan nama “ar-Rahman” dalam hadits ini untuk mengingatkan manusia akan maha luasnya rahmat Allah Ta’ala, di mana Dia  memberi balasan bagi amal yang ringan dengan pahala yang sangat besar[6].
- Keutamaan yang dijanjikan dalam hadits ini berlaku bagi orang yang berzikir dengan mengucapkan dua kalimat zikir dia atas secara bergandengan[7].
- Zikir ini lebih utama jika diucapkan dengan lisan disertai dengan penghayatan akan kandungan maknanya dalam hati, karena zikir yang dilakukan dengan lisan dan hati adalah lebih sempurna dan utama[8].
- Perlu diingatkan di sini bahwa semua bentuk zikir, doa dan bacaan al-Qur’an yang disyariatkan dalam Islam adalah bacaan yang diucapkan dengan lidah dan tidak cukup dengan hanya terucap dalam hati tanpa menggerakkan lidah, sebagaimana pendapat mayoritas ulama Islam[9].
- Dalam hadits ini juga terdapat anjuran untuk menetapi dan banyak mengucapkan dua kalimat zikir di atas[10].
- Hadits ini juga menunjukkan adanya timbangan amal kebaikan yang hakiki pada hari kiamat dan bahwa amal perbuatan manusia akan ditimbangan dengan timbangan tersebut, ini termasuk bagian dari iman terhadap hari akhir/kiamat[11].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 15 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
------------------------------------------
Ujian iman di akhir zaman(fitnah akhir zaman ) :
Daripada Abu Hurairah ra bahawasanya Rasulullah SAW bersabda :"Bersegeralah kamu beramal sebelum menemui fitnah (ujian berat terhadap iman) seumpama malam yang sangat gelap. Seseorang yang masih beriman di waktu pagi, kemudian di waktu petang dia sudah menjadi kafir, atau seseorang yang masih beriman di watu petang, kemudian pada esok harinya ia sudah menjadi kafir. Ia telah menjual agamanya dengan sedikit dari mata benda dunia".(Hadis Riwayat Muslim)
Huraiannya : Hadis ini menerangkan kepada kita betapa dashyatnya dan hebatnya ujian terhadap iman seseorang di akhir zaman. Seseorang yang beriman di waktu pagi, tiba-tiba dia menjadi kafir di waktu petang. Begitu pula dengan seseorang yang masih beriman di waktu petang, tiba-tiba pada esok harinya telah menjadi kafir. Begitu pantas dan cepat perubahan yang berlaku.

Iman yang begitu mahal boleh gugur di dalam godaan satu malam atau satu hari sahaja, sehingga ramai orang yang menggadaikan imannya kerana hanya hendak mendapatkan sedikit dari harta benda dunia. Dunia lebih dicintai di sisi mereka daripada iman. Dan menurut Ibnu Majah, beliau menambahkan, "kecuali orang yang hatinya dihidupkan Allah SWT dengan ilmu".

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita di antara orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, sehingga dengan itu Allah SWT akan menyelamatkan iman kita dari ujian yang dashyat ini.
(Abu Basyer)
--------------------------------------
Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda:
"Barang siapa yg mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala org yg mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya. Dan siapa yg mengajak kepada kesesatan, dia menanggung dosa seperti orang2 yg mengikutinya tanpa dikurangi dosanya sedikitpun." (HRMuslim)




مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمانا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Sesiapa yang mengerjakan puasa bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan rahmat Allah Taala, nescaya diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu".


Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya sesiapa yg hidup selepasku akan melihat perselisihan yg banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh kpd sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ al-Rasyidin al-Mahdiyyin (yang mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara² yang diada²kan (dlm agama) kerana setiap yg diada²kan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

[Hadis Riwayat Abu Daud, 12/211, no. 3991. Dinilai sahih oleh al-Albani]





Maksud satu hadis Rasulullah riwayat ibnu Majah; ''Akan tiba satu zaman di mana yang benar dikatakan bohong, yang bohong dikatakan benar. Amanah dikatakan khianat, khianat dikatakan amanah. Akan muncul pada zaman itu golongan 'Ruwaibidhoh' iaitu orang yang jahil tentang agama bercakap mengenai urusan manusia.'' 




Dari Abdullah bin Umar r.a berkata bahawa aku telah mendengar Rasulullah SAW telah bersabda: Bilamana kamu terlalu sibuk di dalam urusan jual beli(Ainah), dan kamu memegang ekor lembu dan leka bercucuk tanam dan kamu meninggalkan jihad, maka Allah SWT akan menimpakan ke atas kamu kehinaan yang tidak akan terluput sehinggalah kamu kembali kepada ugamamu (yang berjihad itu adalah sebahagian darinya). (HR Abu Daud)


Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahawa hambanya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang solat. Lalu ia memberikan isyarat untuk menyimpannya. Sayangnya setelah Aisyah selesai mendirikan solat, ia lupa adanya bubur. Datanglah seekor kucing lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika Aisyah melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bahagian yang disentuh kucing dan Aisyah memakannya. Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling”. Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhuk dari sisa bekas jilatan kucing, (HR AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).
Di antara tanda orang berilmu adalah tidak mengulas dan menunjuk pandai dalam apa yang dia tidak ada ilmu tentangnya.

‘Abdullah B. Mas’oud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, 
 “Wahai manusia, sesiapa yang mengetahui sesuatu hendaklah dia mengatakannya, dan sesiapa yang tidak mengetahui hendaklah dia mengatakan, “Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui)”. Kerana termasuk sebahagian dari ilmu adalah mengatakan “Allahu A’lam” bagi sesuatu yang tidak diketahuinya.”

[Hadis Riwayat al-Bukhari, 15/9, no. 4435]
 
Sahih Muslim Hadith 6251 Narrated by Abu Hurayrah

Allah's Messenger (saws) said: 'Do you know who is a 'muflis' (abjectly poor or one who is totally bankrupt)?' They (the Companions (r.a.) of the Prophet (saws)) said: 'A 'muflis' amongst us is one who has neither dirham with him nor wealth.'

He (the Prophet (saws)) said: 'The 'muflis' of my Ummah would be he who would come on the Day of Resurrection with prayers and fasts and Zakah but (he would find himself bankrupt on that day as he would have exhausted his funds of virtues) since he hurled abuses upon others, brought calumny (making false and slanderous statement) against others, unlawfully consumed the wealth of others, shed the blood of others, and beat others. His virtues would be credited to the account of one (who suffered at his hand). And if his good deeds fall short to clear the account (of his mis-deeds), then their sins would be entered in (his account) and he would be thrown in the Hell-Fire!'
 

---------------------------------------------------------------------------
Rasulullah Sollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"'Arasy itu di atas air,ALLAH di atas 'Arasy,dan Dia mengetahui apa yang kamu lakukan".

[Hadis Riwayat al-Imam Abu Dawud dengan sanad yang Hasan]
 
Daripada Abdullah bin Amr bin 'ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Bahawasanya Allah swt. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah swt. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama. Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, orang ramai akan memilih orang-orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain." H.R. Muslim
"Janganlah kamu menjadi orang yg ikut-ikutan dengan mengatakan, 'Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik, dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim.' Akan tetapi, teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, 'Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami berbuat kebaikan pula, dan kalau orang lain berbuat kejahatan, Maka kami tidak melakukannya." (HR. At-Tirmidzi)
"Apakah kamu tidak mempercayaiku,sedangkan aku dipercayai oleh Dia yang berada di langit".[Hadis hasan]
"Rabbuna ALLAH yang berada di langit,maha suci namaMu".

Hadis Riwayat al-Imam Abu Dawud dengan sanad yang hasan.
Berkata al-Imam al-Auza'ie Rahimahullah:

"Sesungguhnya kami dan para Tabi'in yang bertebaran mengatakan: "Sesungguhnya ALLAH Subhanah di atas 'ArasyNya,dan kami beriman dengan apa yang warid dari Sunnah berkenaan Sifat-sifat(ALLAH)."

[Kitab al-Aqidah as-Sahihah,al-Imam Abd al-'Aziz Bin 'Abdillah Ibn Baz]
Kata al-Walid Bin Muslim Rahimahullah:

"Ditanyakan kepada al-Imam Malik,al-Auza'ie,al-Laits Bin Sa'd,dan Sufyan at-Tsauri Rahimahumullah tentang perkhabaran-perkhabaran yang warid berkenaan ayat-ayat sifat.Kesemua mereka berkata: "Lalukanlah ia sebagaimana ia datang tanpa membagaimanakan."

[Kitab al-Aqidah as-Sahihah,al-Imam Abd al-'Aziz Bin 'Abdillah Ibn Baz]
 
Kata al-Imam al-Auza'ie Rahimahullah:

"Ditanyakan kepada az-Zuhri dan Makhul berkenaan ayat-ayat Sifat,lalu kedua-dua mereka berkata: "Lalukanlah ia sebagaimana ia datang".

[Kitab al-Aqidah as-Sahihah,al-Imam Abd al-'Aziz Bin 'Abdillah Ibn Baz]
Kata 'Abdullah Ibn Mas'ud Radhiallahu 'anh berkenaan ayat { ثم استوى على العرش } :

"Arasy itu di atas air,dan ALLAH berada di atas 'Arasy."

[Kitab Khalqu Af'aal al-'Ibaad,al-Imam al-Bukhari]
Kata al-Imam 'Abdullah Ibn Mubarak Rahimahullah:

"Kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Jahmiyyah bahawa ALLAH itu tempatnya di sini di bumi.Bahkan Dia di atas 'Arasynya beristiwa'.Di katakan kepadanya: "Bagaimanakah kita mengenal Rabb kita?".Beliau menjawab: "Dia di atas langitNya,di atas 'Arasynya".

[Kitab Khalqu Af'aal al-'Ibaad,al-Imam al-Bukhari]
Kata al-Imam al-Barbahari Rahimahullah(Wafat 329 h.):

"Dan berhati-hatilah dengan perkara-perkara kecil yang di ada-adakan.Kerana sesungguhnya bidaah-bidaah yang kecil itu akan membawa kepada bidaah yang lebih besar.Demikianlah setiap bidaah yang berlaku pada umat ini,yang mana pada awalnya kecil dan menyerupai kebenaran".

[Kitab Syarh as-Sunnah,al-Imam al-Barbahari]
Kata al-Imam al-Barbahari Rahimahullah(Wafat 329 h.):

"Dan ketahuilah,sesungguhnya manusia tidaklah berbuat bidaah sahaja sehinggalah mereka meninggalkan sunnah.Maka berhati-hatilah dengan perkara-perkara yang (baru),kerana sesungguhnya perkara baharu yang diada-adakan itu adalah Bidaah.Setiap bidaah adalah sesat dan kesesatan bersama ahlinya di dalam neraka".

[Kitab Syarh as-Sunnah,al-Imam al-Barbahari]
Kata al-Imam al-Barbahari Rahimahullah(Wafat 329 h.):

"Dan asas terbinanya al-Jamaah,mereka ialah para Sahabat Nabi Radhiallahu 'anhum ajma'in.Mereka itulah Ahlus Sunnah wal-Jama'ah.Sesiapa yang tidak mengambil dari mereka,maka sesungguhnya dia telah sesat dan berbuat bidaah.Setiap bidaah adalah sesat,dan kesesatan bersama ahlinya di dalam neraka".

[Kitab Syarh as-Sunnah,al-Imam al-Barbahari]
Kata al-Imam al-Barbahari Rahimahullah(Wafat 329 h.):

"Ketahuilah sesungguhnya Islam itu adalah as-Sunnah,dan as-Sunnah itu adalah Islam.Tidak akan tertegak salah satunya melainkan dengan yang lain.Di antara Sunnah itu ialah melazimi al-Jama'ah.Barangsiapa yang membenci al-Jama'ah,maka telah tercabutlah ikatan Islam dari lehernya.Dia itu sesat lagi menyesatkan".

[Kitab Syarh as-Sunnah,al-Imam al-Barbahari]
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

الفِطْرَةُ خَمْسٌ، أَوْ خَمْسٌ مِنَ الفِطْرَةِ: الخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima atau lima perkara yang termasuk dari fitrah itu adalah: Khitan, memotong bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kuku, dan merapikan misai.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 5889)
 
Kata Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu 'anh:

"Di antara langit yang paling tinggi dengan kursi adalah lima ratus tahun, dan di antara kursi dengan air juga demikian.'Arasy di atas air dan Allah di atas 'Arasy, dan tidak sesuatupun yang tersembunyi atas-Nya dari amal perbuatan kalian."

Dikeluarkan Oleh:

1. Al-Lalika'i, Syarah Usul I'tiqad Ahlis Sunnah Wal Jamaah, 3/395-396, no: 659. 2. Al-Baihaqi, Al-Asma' Was Sifat, 2/186-187. 3. Ad-Darimi, Ar-Raddu Al-Jahmiyyah, 275. 4. Ibn Khuzaimah, At-Tauhid, 1/242-243, no: 149. 5. Al-Thabrani, Mu'jam al-Kabir, 9/228. 6. Abu al-Syeikh, Al-Azhamah, 2/688-689, no: 279. 7. Ibn Abdil Barr, At-Tamhid, 7/... 8. Ibn Qudamah Itsbat Sifat Al-Uluw, 104-105, no: 75. 9. Al-Dzahabi, Al-Uluw, 64, katanya sanadnya sahih. 10. Ibn Qayyim al-Jauzi, Ijtima' Al-Juyusy Al-Islamiyyah, 122. 11. Al-Haitsami, Majma' Az-Zawa'id, 1/86, katanya perawi-perawinya adalah sahih.
 
Dakwah Islam bermula dengan dakwah Aqidah.Kerana itu merupakan dakwah para Rasul.Ini juga yang diajarkan oleh al-Qur'an:

1- قال تعالى : لقد أرسلنا نوحا إلى قومه فقال يا قوم اعبدوا الله ما لكم من إله غيره .
2-وقال هود عليه السلام لقومه : اعبدوا الله ما لكم من إله غيره .
3-وقال صالح عليه السلام لقومه : اعبدوا الله ما لكم من إله غيره.
4-وقال شعيب عليه السلام لقومه : اعبدوا الله ما لكم من إله غيره .
Kata al-Imam al-Muzani Rahimahullah:

"Tauhid seseorang tidak benar sehingga dia mengetahui bahawa ALLAH di atas 'arasy dengan sifat-sifatNya.Aku (Muhammad Bin Ismail at-Tirmizi) bertanya: "Contohnya?.Beliau menjawab: "Sami',Bashir,'Alim".

Al-Muzani wafat pada tahun 264 H.Merupakan anak murid al-Imam as-Syafi'e.

(Siyaar A'laam an-Nubala' 12/492).
Kata Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah(Wafat 728 h.):

"Ahlus Sunnah wal-Jama'ah,mereka tidak menafikan apa-apa yang ALLAH sifatkan tentang diriNya,dan mereka tidak mengubah kalimah-kalimah (al-Qur'an) dari tempatnya,mereka tidak mulhid di dalam bab asma' ALLAH dan sifat-sifatNya.Mereka tidak memberi kaifiyatkan ALLAH,dan mereka tidak menyerupakan sifat-sifat ALLAH dengan sifat makhluk."

[Kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah,Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah]
Kata Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah(Wafat 728 h.):

"Di antara tanda keimanan kepada ALLAH ialah beriman dengan apa sahaja yang dia sifatkan tentang diriNya di dalam al-Quran,dan apa sahaja yang RasulNya Muhammad Sollallahu 'alaihi wasallam sifatkan tentang diriNya.Tanpa tahrif(mengubah huruf),dan Ta'thil(menolak).Tanpa Takyif(membagaimanakan) dan Tamsil(menyerupakan Allah dengan Makhluk).Bahkan Ahlus Sunnah wal-Jama'ah beriman bahawasanya ALLAH: { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ }.

[Kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah,Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah]
Kata Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah Rahimahullah(Wafat 728 h.):

"Inilah I'tiqad Al-Firqah an-Naajiyah al-Manshurah sehingga hari Kiamat:Ahlus Sunnah wal-Jama'ah.Iaitu:
1-Beriman kepada ALLAH.
2-Beriman kepada Malaikat.
3-Beriman kepada Kitab-kitabNya.
4-Beriman kepada para RasulNya.
5-Beriman kepada kebangkitan selepas mati.
6-Beriman dengan QadarNya,baik dan buruk.

[Kitab al-Aqidah al-Wasithiyyah,Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menjelaskan keutamaan dalam berdakwah:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kelompok ahli kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala.”

(Hadis Riwayat al-Bukhari, 22/363, no. 6824)
 
Benarlah sabda Nabi sallallahu`alaihiwasallam:
"Sesungguhnya Iman akan kembali berhimpun ke Madinah sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya"
[ HR Bukhari no:1876 ]
Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengulas maksud hadith ini;
Maksud: sebagaimana kembalinya ular ke lubangnya iaitu sebagaimana ianya bertebaran keluar daripada lubangnya untuk mencari apa yang boleh menjamin keberlangsungan hidupnya,apabila ada sesuatu yang mebuatkan dirinya takut maka ia kembali ke lubangnya, begitulah juga Iman( ahli-ahlinya), yang bertebaran di Madinah ,dan setiap mukmin bagi dirinya sendiri akan cenderung untuk datang ke Madinah disebabkan kecintaannya terhadap Nabi Sallallahu`alaihiwasallam maka kelebihan(madinah) ini merangkumi setiap zaman kerana sesungguhnya pada zaman Nabi sallallahu`alaihiwasallam kehadiran mereka ke sana adalah bertujuan untuk mempelajari ilmu daripada baginda,dan pada zaman Sahabat dan Tabi`in dan orang-orang yang mengikuti mereka bertujuan untuk mengikuti dan mencontohi petunjuk mereka dan begitu orang-orang selepas mereka..
[ Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari 4/ 93 ]
 
Hukuman bagi penyihir adalah dipenggal dengan pedang.(At-Tirmizi,1460, dan Al-Hakim,4/360 )


================================================================


 -
 "Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka."
(Imam Abu Hanifah)
"Imam Ahmad berkata; "Mana-mana orang yang membelek-belek kitab pasti akan mendapat faedah walaupun sedikit".



 
Nasihat guru-guru saya di Jordan, "jika kelak nanti menjumpai ulama' atau ilmuan Islam yg kerjanya ASYIK menghina org lain, dorong benci kpd ulama' lain, mengutuk, asyik menyalahkan dengan kata-kata kesat & berat tanpa adab, JAUHILAH DIA walau setinggi manapun ilmunya kerana hakikatnya ilmu Islamnya tidak meresap ke dalam jiwa & hatinya, hanya terhenti di kerongkong. Nanti pula anda akan menjadi seorg ulama pengutuk jua hasil 'cetakan' dari cara guru itu (UZAR)

Kata Imam adz-Dzahabi rahimahullah (Wafat: 748H), 
“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ia adalah cahaya yang dicampakkan oleh Allah ke dalam hati, dan syaratnya adalah al-ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), dan melarikan diri dari hawa nafsu serta al-ibtida’ (bid’ah).” (adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 13/323)
 
Rasulullah saw. bersabda, "Satu dinar yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan hamba, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu maka yang paling besar pahalanya ialah dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu". (HR Muslim)
 
Daripada ‘Uqbah Bin ‘Amir r.a. menceritakan : Rasulullah S.A.W keluar dan kami berada di tempat duduk masjid yang beratap. Maka beliau bersabda:

“Siapakah di antara kamu yang suka keluar di pagi hari pada setiap hari menuju ke Buthan atau ‘Atiq, dan dia mengambil darinya dua ekor unta yang gemuk dalam keadaan dia tidak melakukan dosa dan tidak putus hubungan silaturrahim”. Kami menjawab : “Kami suka demikian itu. Sabda Rasulullah S.A.W : “Kenapakah kamu tidak pergi ke masjid belajar atau membaca dua ayat Al Quran lebih baik dari dua ekor unta, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor, empat ayat lebih baik dari empat ekor unta demikianlah seterusnya mengikut bilangan ayatnya”.

(HadithRiwayat Muslim)
 
Ibnul Mubarok pernah berkata:

رُبَّ عملٍ صغيرٍ تعظِّمهُ النيَّةُ ، وربَّ عمل كبيرٍ تُصَغِّره النيَّةُ

"Betapa banyak amal yang kecil menjadi bernilai besar karena niat, dan betapa banyak amalan besar yang menjadi bernilai kecil karena niat" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam hal 13)
 
"Abu Bakar dan Umar memerintah orang seperti aku, manakala aku memimpin orang seperti kamu", jelas khalifah Ali bin Abi Talib kepada seorang lelaki khawarij yang mempertikaikan pemerintahannya.
"Bida’ is more beloved to Iblees (Shaytaan) than sinning. One repents from sinning, and one does not repent from Bida’."
[Sufyaan ibn Sa’eed ath-Thawri (d. 161 A.H.) - From ‘Sharh Usool I’tiqaad Ahl-us-Sunnah’ al –Laalkaee 132]
"Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri"
(Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, 1/147)
  
 
Imam Syafie mewajibkan tunduk kepada dalil, bukan taksub kepada imam.

Kata Imam Syafie: “Ulama telah berijmak (sepakat) bahawa sesiapa yang telah nyata baginya sunnah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, tidak halal dia meninggalkannya kerana mengikut pendapat seseorang”. (Madarij al-Salikin 2/335).
   أَنَّ عَقْلِيْ قَدْ ذَهَبَ.

“Apabila aku meriwayatkan sebuah hadis sahih daripada Rasulullah kemudian aku tidak mengambilnya, maka saksikanlah olehmu dan semua orang bahawa aku telah gila.” - Adab Asy-Syafi’i oleh Ibnu Abi Hatim al-Razi, ms. 67 dan Manaqib asy-Syafi’i oleh al-Baihaqi 1/475.

Katanya lagi:

كُلُّ مَا قُلْتُ: وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ خِلَافَ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحُّ، فَحَدِيْثُ النَّبِيِّ أَوْلَى وَلَا تُقَلِّدُوْنِيْ!

“Setiap apa yang telah aku ucapkan padahal telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih yang bertentangan dengan ucapanku itu, maka mengambil hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itulah yang utama dan janganlah kamu bertaklid kepadaku!.” - Adab Asy-Syafi’i oleh Ibnu Abi Hatim al-Razi, ms. 67.
 
Kata Imam asy-Syafi'i rahimahullah (wafat: 204H), "Tiada suatu pun perbuatan taqarrub kpd Allah yg paling utama setelah ibadah fardhu melainkan menuntut ilmu." (Al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab, 1/12)
 
Rasulullah S.A.W  bersabda  maksud nya:

"Apabila kamu melihat Allah memberikan limpah kurnia di dunia kepada
hamba-hambaNya sedangkan segala maksiat disukainya (dan diperbuat),
ketahuilah sesungguhnya itu ialah istidraj.

Kemudian Nabi S.A.W membaca firman Allah
dalam surah al-An'am ayat 44 : "Dan taktala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami bukakan atas mereka pintu kepada  pelbagai perkara (yang mereka sukai), Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diperoleh, kami akan rampas daripadanya secara tiba2. Ketika itulah mereka berputus asa."
(Riwaya
t Ahmad dan al-Tabarani, perawinya thiqah-boleh dipercayai)
 
 
Imam Ahmad ketika mendengar seseorang yang memuji salah seorang tokoh Ahli Bid'ah yang digambarkan sebagai seorang yang zuhud, 'abid, lembut dan tawadhuk (rendah diri), berkata:

"Janganlah kau tertipu dengan kekusyukkan dan kelembutannya dan jangan kamu terpedaya dengan kebiasaannya menundukkan kepalanya (menzahirkan sifat tawadhuk/rendah diri) kerana sesungguhnya dia adalah lelaki yang jahat. Dia itu tidaklah mengetahuinya kecuali yang telah berpengelaman dengannya. Jangan kamu ajak dia berbicara. Tidak ada kemuliaan baginya." - Thabaqat al-Hanabilah 1/233-234, no: 325. Riwayat daripada Ali bin Abi Khalid.

Imam Ahmad r.h juga berkata:

"Kuburan Ahli Sunnah (Sunni) pelaku dosa besar bagaikan taman sedang kubur Ahli Bid'ah biarpun zuhud adalah jurang neraka. Orang fasiq (pelaku dosa) di kalangan Ahli Sunnah termasuk wali-wali Allah sedangkan orang-orang zuhud (ahli ibadah) dari kalangan Ahli Bid'ah adalah musuh-musuh Allah." - Thabaqat al-Hanabilah 1/184.
Berkata Sufyan at Stauri :
البدعة احب الابليس من المعصية..المعصية يتاب منها..والبدعة لا يتاب منها

maksudnya ;
Bidaah sangat disukai oleh iblis lebih dari maksiat kerana orang yg melakukan maksiat kelak lambat laun mereka akan bertaubat..sedangkan ahli bidaah ia tidak akan bertaubt dari kebidaahannya( kerana mereka menyangka mereka berada dlm kebenaran) .....

Imam Syaitibi didalam ithisom membawa kata al hasan
لا تجالس صاحب بدعة فانه يمرض قلبك
janganlah kamu duduk dgn ahli bidaah ..kerna ia menumbuhkan penyakit didalam hati..
 
Hayati pesanan Imam al-Qatadah al-Sadusi didalam Siyar ‘Alam al-Nubala’ : 
“Waspadalah dan berhati-hati dari sikap memberat-beratkan diri, berlebih-lebihan, ghuluw dan berasa Ujub (merasa hebat) dalam diri sendiri. Hendaklah kamu bersikap tawadhu’, agar Allah swt meningkat martabat kamu”.
 
"Sesungguhnya ahlul bid'ah itu tidak bersandar kepada Al Qur'an dan As Sunnah serta perbuatan Salafus Salih dari kalangan Sahabat mahupun Tabi'in. Mereka hanya berpedoman dengan logika akal dan kaedah bahasa. Kamu akan temui mereka itu tidak mahu berpedoman dengan kitab-kitab tafsir yang ma'tsur. Mereka hanya berpegang dengan kitab-kitab adab (sastera dan bahasa) serta kitab-kitab ahli falsafah ilmu kalam. Kemudian dari sinilah mereka membawakan pendapat dan pemikiran mereka yang sesat."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang dikasihi didalam Majmu' Al Fatawa.
 
Imam Abu Hanifah rahimahullah (Wafat: 150H) pernah menegaskan:

“Tidak halal bagi seorang pun mengikuti perkataan kami apabila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.” (Ibn ‘Abidin, Hasyiah al-Bahri ar-Ra’iq, 4/293 – Dinukil dari Shifatush Sholah oleh al-Albani)
Dan ingatlah ucapan Abu Hazim seorang ulama salaf: “Engkau tidak akan menjadi ulama (tidak pantas disebut ulama) sampai engkau memiliki tiga perangai:

1. Tidak memusuhi orang yang di atasmu (dari segi ilmu, umur dan kedudukan)

2. Tidak meremehkan orang yang di bawahmu.
3. Tidak menginginkan dengan ilmu ini sekelumit dari dunia (kedudukan.kekayaanpangkat dan sebagainya.)

Lihat Siyar A’lam An-Nubala karya Adz-Dzahaby (6/90).
  
 
Berkata Al-Imam Muhammad bin Sirin
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Beliau juga berkata :
“Dahulu mereka tak menanyakan tentang sanad, maka tatkala fitnah telah terjadi, mereka pun berkata: ‘Sebutkanlah rawi-rawi kalian kepada kami, maka diperiksalah, bila berasal dari kalangan ahlus sunnah maka diambil haditsnya & bila berasal dari ahlul bid’ah maka tak diambil haditsnya.”
(Kedua atsar di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dlm Muqaddimah Shahihnya).
 
 
Kata imam asy-Syafi’i kepada imam Ahmad B. Hanbal dalam satu pertemuan:

“Sekiranya engkau memiliki hadis yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka sampaikanlah kepadaku, aku pasti akan mengambilnya.”

[al-Baihaqi, Manaaqib asy-Syafi’i, 1/476 - Maktabah Daar at-Turats]
 
"The sins that you do in private kills the heart more than the sins that you do in public, because it means that you value the eyes of the people more than you value the sight of Allah. You are more worried about people catching you sinning than Allah seeing you." (Ibn Qudamah al-Maqdisi)
Imam Malik bin Anas Rahimahullah berkata:

“Sunnah itu bagaikan bahtera nabi Nuh, barangsiapa menaikinya nescaya dia akan selamat, dan barangsiapa yang terlambat dari bahtera tersebut, pasti dia akan tenggelam.”

Dikeluarkan oleh Imam As-Suyuti dalam Miftahul Jannah fil I’tisom bis Sunnah
 
Imam al-Barbahari rahimahullah (Wafat: 329H):

واعلم أن العلم ليس بكثرة الرواية والكتب ولكن العالم من اتبع الكتاب والسنة وإن كان قليل العلم والكتب ومن خالف الكتاب والسنة فهو صاحب بدعة وإن كان كثير الرواية وال
كتب

“Dan fahamilah bahawa ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab, tetapi yang dikatakan sebagai ‘aalim (orang yang berilmu) itu adalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah walaupun hanya sedikit ilmu dan kitabnya. Sesiapa yang menyalahi al-Kitab dan as-Sunnah maka dia adalah ahli bid’ah walaupun ilmu dan kitabnya banyak.” (Syarhus Sunnah, m/s. 45, no. 81)
 
Kata Imam Abu Muhammad al-Hasan al-Barbahari rahimahullah [w.329 H]:

وإذا ظهر لك من إنسان شيء من البدع، فاحذره؛ فإن الذي أخفى [عنك] أكثر مما أظهر

Maksudnya: "dan jika zahir kepada kamu daripada seseorang itu akan suatu dripada Bidaah maka berhati-hatilah kamu daripadanya; kerana sesungguhnya apa yg dia sembunyikan (dripada Bidaahnya) dripada kamu lebih banyak daripada apa yg dia telah zahirkan"

[Syarh al-Sunnah, perenggan 139].
 
Ikhlas dlm menuntut ilmu itu ada 3 perkara menurut Syaikh Al-Utsaimin:
1) Niatkan utk mempraktik perintah Allah & RasulNya
2) Niatkan utk membela syari'at Allah Ta'ala
3) Niatkan utk mengamalkan ilmu tsbt.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
"Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran." (Al Fatawa 4/149)
Imam Asy-Syafi'i :

“Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.”

(Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)
"All humans are dead except those who have knowledge; and all those who have knowledge are asleep except those who do good deeds; and those who do good deeds are deceived; except those who are sincere are always in a state of worry". (Imam Shafi' - rahimu Allah)
Imam Ahmad Rahimahullah "Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.( Ash Sholah, hal. 12)
 
 
لَنْ يُصْلِحَ أَمْرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ بِهَا أَوَّلَهَا
"‘Tidak akan baik akhir umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertamanya."-Imam Malik Rahimahullah- 


Doa
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
Allahumma ahsin ‘aqibatanaa fil umuuri kullihaa, wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzabil akhiroh.
(Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat)
(HR. Ahmad)