Wednesday, May 2, 2012

Kiriman Hadiah AL FATIHAH UNTUK ORANG MATI


 
 
 
Kiriman Hadiah AL FATIHAH UNTUK ORANG MATI DALAM PANDANGAN IMAM AS-SYAFI'I

Sampaikah kiriman hadiah pahala bacaan Al Qur’an kepada si mayit menurut Imam Syafi'i?

Sangat akrab di telinga kita sebuah ritual kirim pahala setelah membaca al Qur'an dll. Redaksinya kurang lebih sebagai berikut;


Ila hadrati ruhi Fulan bin Fulan..........Alfaaatihah !

------------------------------------------------------------

Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta' (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) no. 2232.

Pertanyaan:

Apakah pahala membaca Al Qur’an dan bentuk peribadahan lainnya sampai kepada mayit (orang yang sudah meninggal dunia), baik dari anak maupun selainnya?

Jawaban:

Tidak ada dalil -setahu kami- yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayit dari kerabat atau selainnya . Seandainya pahalanya memang sampai kepada kerabat atau orang lain yang sudah mati, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersemangat untuk melakukannya. Tentu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini pada umatnya, supaya umatnya yang masih hidup memberi kemanfaatan kepada orang yang sudah mati. Padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang beriman sangat menaruh kasihan dan menyayangi mereka.

Para Khulafaur Rosyidin, orang-orang sesudah mereka dan sahabat lainnya –radhiyallahu ‘anhum- yang mengikuti petunjuk beliau tidaklah kami ketahui bahwa salah seorang dari mereka menghadiahkan pahala membaca Al Qur’an kepada selainnya.

Seutama-utama kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga petunjuk Khulafaur Rosyidin serta petunjuk sahabat radhiyallahu ‘anhum lainnya. Sejelek-jelek perkara adalah dengan mengikuti perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah).

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)


مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Oleh karena itu, tidaklah boleh membaca Al Qur’an untuk si mayit, pahala bacaan Al Qur’an ini juga tidak akan sampai kepada si mayit, bahkan perbuatan semacam ini termasuk bid’ah (yang tercela).

Adapun bentuk pendekatan diri pada Allah yang lainnya, jika terdapat dalil shohih yang menunjukkan sampainya pahala amalan tersebut kepada si mayit, maka wajib kita terima. Seperti sedekah yang diniatkan dari si mayit, do’a kepadanya, dan menghajikannya. Sedangkan amalan yang tidak ada dalil bahwa pahala amalan tersebut sampai pada si mayit, maka amalan tersebut tidaklah disyari’atkan sampai ditemukan dalil.

Oleh karena itu, -sekali lagi- tidak boleh membaca Al Qur’an dan pahalanya ditujukan kepada si mayit. Pahala bacaan tersebut tidak akan sampai kepadanya, menurut pendapat yang paling kuat. Bahkan perbuatan semacam ini termasuk bid’ah yang tercela.

Hanya Allah-lah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada pengikut dan para sahabatnya.

Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Anggota : Abdullah bin Ghodyan
Wakil Ketua : Abdur Rozaq ‘Afifi
Ketua : Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz

-------------------------------------------------------

BACAAN AL-FATIHAH ATAS ORANG YANG TELAH MENINGGAL

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Membacakan Al-fatihah atas orang yang telah meninggal tidak saya dapatkan adanya nash hadits yang membolehkannya. Berdasarkan hal tersebut maka tidak diperbolehkan membacakan Al-Fatihah atas orang yang sudah meninggal. Karena pada dasarnya suatu ibadah itu tidak boleh dikerjakan hingga ada suatu dalil yang menunjukkan disyari’atkannya ibadah tersebut dan bahwa perbuatan itu termasuk syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalilnya adalah bahwasanya Allah mengingkari orang yang membuat syari’at dan ketentuan dalam agama Allah yang tidak dizinkanNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih” [Asy-Sura : 21]

Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya belaiu bersabda.

“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak”[1]

Apabila tertolak maka termasuk perbuatan batil yang tidak ada manfaatnya. Allah berlepas dari ibadah untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan cara demikian.

Adapun mengupah orang untuk membacakan Al-Qur’an kemudian pahalanya diberikan untuk orang yang telah meninggal termasuk perbuatan haram dan tidak diperbolehkan mengambil upah atas bacaan yang dikerjakan. Barangsiapa mengambil upah atas bacaan yang dilakukannya maka ia telah berdosa dan tidak ada pahala baginya, karena membaca Al-Qur’an termasuk ibadah, dan suatu ibadah tidak boleh dipergunakan sebagai wasilah untuk mendapatkan tujuan duniawi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan” [Huud : 15]

[Nur ‘Alad Darbi, Juz I, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah]

-----------------------------------------------------

BACAAN AL-FATIHAH UNTUK KEDUA ORANG TUA

Oleh : Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


Membacakan surat Al-Fatihah untuk kedua orang tua yang telah meninggal atau yang lain merupakan perbuatan bid’ah karena tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Al-Fatihah boleh dibacakan untuk orang yang meninggal atau arwah mereka, baik itu orang tuanya atau orang lain. Yang disyariatkan adalah mendo’akan bagi kedua orang tua dalam shalat dan sesudahnya, memohonkan ampunan dan maghfirah bagi keduanya dan sejenisnya yang termasuk doa yang bisa bermanfaat bagi yang sudah meninggal.

[Nur ‘Alad Darbi, Juz III, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah]

-------------------------------------------------

MENGUPAH QARI’ UNTUK MEMBACA AL-QUR’AN

Oleh : Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


Mengupah seorang qari’ untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal termasuk bid’ah dan makan harta manusia dengan tidak benar. Karena bila seorang qari’ membacakan Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan upah atas bacaannya, maka perbuatannya termasuk kebatilan, karena ia menginginkan harta dan kehidupan dunia dari perbuatannya tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Huud : 15-16]

Perkara ibadah -termasuk membaca Al-Qur’an- tidak boleh dilakukan dengan tujuan duniawi dan mencari harta, akan tetapi harus dilakukan dengan tujuan untuk medekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang qari’ yang membaca Al-Qur’an dengan diupah, maka tiada pahala baginya, dan bacaannya tidak akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Harta yang dikeluarkan merupakan harta yang sia-sia, tidak bermanfaat. Kalaulah harta itu digunakan untuk suatu sedekah atas nama orang yang meninggal, sebagai ganti dari mengupah seorang qari’, maka inilah perbuatan yang disyariatkan dan bisa mendatangkan suatu manfaat bagi orang yang telah meninggal.

Maka menjadi kewajiban bagi para qari untuk mengembalikan harta yang telah mereka perolah dari manusia sebagai upah atas bacaan yang mereka lakukan atas orang yang telah meninggal, karena menggunakan harta tersebut tergolong makan harta manusia dengan cara tidak benar. Dan hendaknya mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memohon kepadanya untuk memberikan rizki kepada mereka dengan cara selain cara yang haram tersebut.

Bagi setiap muslim hendaknya tidak makan harta manusia dengan cara yang tidak disyariatkan sedemikian ini. Benar bahwa membaca Al-Qur’an termasuk salah satu ibadah yang utama, barangsiapa membaca satu haruf dari Al-Qur’an maka akan mendapatkan suatu kebaikan, dan suatu kebaikan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat. Tapi itu bagi orang yang niatnya benar dan hanya menginginkan keridhaan Allah semata serta tidak menginginkan suatu tujuan duniawi.

Mengupah seorang qari untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal : Pertama : Termasuk perbuatan bid’ah, karena tidak ada dari para salaf shalih yang melakukannya. Kedua : Bahwa perbuatannya termasuk memakan harta manusia dengan cara tidak benar, karena suatu ibadah dan ketaatan tidak boleh mengambil upah karenanya.

[Nur ‘Alad Darbi, Juz III, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah]

[Disalin dari kitab 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penulis Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerjemah Ahmad Amin Sjihab, Penerbit Darul Haq
-------------------------------------------------------

Ilustrasi ;
BIRO JASA PENGIRIMAN PAHALA

Kami melayani pengiriman pahala kepada anggota keluarga Anda yang sudah meninggal dunia, dan sekaligus menerima lowongan penerimaan Anggota/Pegawai baru sebanyak-banyaknya pada Biro Jasa Pengiriman Pahala.

"Anda tidak perlu khawatir lagi seandainya anda atau anggota keluarga anda dulunya telah banyak melakukan perbuatan dosa semasa hidupnya. Insya Allah, dengan adanya pengiriman pahala dari kami, dosa anda akan kalah timbangannya dengan pahala yang kami kirimkan."

Biro Jasa ini melayani dengan ketentuan , syarat, dan tarif sebagai berikut;
Untuk perekrutan Anggota/Pegawai baru, syaratnya sangat mudah, tidak diperlukan keahlian / ijazah khusus. Hanya saja yang dicari adalah yang sudah sering ikut Haulan, Diba'an, Maulidan, Yasinan, Sholawatan dan Habsiyan. Atau serendah-rendahnya hafal beberapa ayat pendek (Juz 'Amma) Al Qur'an.

Berikut, dibawah ini adalah beberapa paket yang ditawarkan:

1. Paket Pengiriman Ekpress atau kilat khusus sebesar Rp.1000.000 ke atas…………(dengan jumlah Jama'ah yang mengirimi pahala banyaknya 1 Mesjid + Konsumsi dll)

2. Paket Plus Rp.100.000 ke atas………( jama'ah terbatas, tetapi ada Habib dan Kiyai dll dengan Amplok Khusus)

3. Paket Sederhana Rp. 50.000 s/d Rp.100.000…….(biasanya dikirimkan sebelum sholat Jum'at)

Mohon ma'af, ini hanya sekedar ilustrasi, seandainya ada Biro Jasa Pengiriman Pahala, he…he…he….ternyata gampangkan masuk surga ! Tidak perlu beribadah……. Yang penting punya DUIT coy !!!!!! Fulus, Fuluuuus…………..

--------------------------------------------------

TAFSIR IBNU KATSIR QS. AN NAJM : 33-41

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّى (33) وَأَعْطَى قَلِيلًا وَأَكْدَى (34) أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى (35) أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (36) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (37) أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (40) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى (41)

{ فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُون } [الروم: 17] حتى ختم الآية. ورواه ابن جرير عن أبي كُرَيْب، عن رِشْدِين بن سعد، عن (1) زَبَّان، به (2) .
ثم شرع تعالى يبين ما كان أوحاه في صحف إبراهيم وموسى فقال: { أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى } أي: كل نفس ظلمت نفسها بكفر أو شيء من الذنوب فإنما عليها وزرها، لا يحمله عنها أحد، كما قال: { وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى } [فاطر: 18] ، { وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى } أي:
كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن هذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما.
وأما الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه، عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: من ولد صالح يدعو له، أو صدقة جارية من بعده، أو علم ينتفع به" (3) ، فهذه الثلاثة في الحقيقة هي من سعيه وكده وعمله، كما جاء في الحديث: "إن أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وإن ولده من كسبه" (4) . والصدقة الجارية كالوقف ونحوه هي من آثار عمله ووقفه، وقد قال تعالى: { إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُم } (5) الآية [يس: 12]. والعلم الذي نشره في الناس فاقتدى به الناس بعده هو أيضا من سعيه وعمله، وثبت في الصحيح: "من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من اتبعه، من غير أن ينقص من أجورهم شيئا".
وقوله: { وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى } أي: يوم القيامة، كما قال تعالى: { وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُون } [التوبة: 105] أي: فيخبركم به، ويجزيكم عليه أتم الجزاء، إن خيرا فخير، وإن شرا فشر. وهكذا قال هاهنا: { ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الأوْفَى } أي: الأوفر.

Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. maksudnya, sebagaimana dosa orang lain tidak akan dibebankan kepadanya, maka demikian pula ia tidak akan mendapatkan pahala melainkan dari apa yang telah diusahakan sendiri. Dari ayat ini pula Imam Syafi'i dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa pengiriman pahala bacaan al Qur'an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal usaha mereka. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah mensunnahkan atau memerintahkan ummatnya untuk melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah membimbing ummatnya berbuat demikian, baik dalam bentuk nash maupun melalui isyarat. Dan perbuatan itu juga tidak pernah dinukil dari sahabat. [Walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi] Sekiranya itu merupakan suatu HAL YANG BAIK, niscaya mereka akan mendahului kita semua dalam mengamalkannya. Dan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah narus didasarkan kepada nash-nash, tidak boleh didasarkan pada berbagai qiyas dan pendapat semata. Sedangkan do'a dan amal jariyah sudah menjadi kesepakatan para ulama dan ketetapan nash syariat bahwa hal itu akan sampai kepada si mayit.
 


SYARAH SAHIH MUSLIM OLEH IMAM NAWAWI
الشافعى فى كتابه الحاوى عن بعض أصحاب الكلام من أن الميت لا يلحقه بعد موته ثواب فهو مذهب باطل قطعا وخطأ بين مخالف لنصوص الكتاب والسنة واجماع الامة فلا التفات إليه ولا تعريج عليه وأما الصلاة والصوم فمذهب الشافعى وجماهير العلماء أنه لا يصل ثوابهما إلى الميت الا اذا كان الصوم واجبا على الميت فقضاه عنه وليه أو من أذن له الولي فان فيه قولين للشافعى أشهرهما عنه أنه لا يصح وأصحهما عند محققى متأخرى أصحابه أنه يصح وستأتى المسألة فى كتاب الصيام ان شاء الله تعالى وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك وفى صحيح البخارى فى باب من مات وعليه نذر أن بن عمر أمر من ماتت أمها وعليها صلاة أن تصلى عنها وحكى صاحب الحاوى عن عطاء بن أبى رباح واسحاق بن راهويه أنهما قالا بجواز الصلاة عن الميت وقال الشيخ أبو سعد عبد الله بن محمد بن هبة الله بن أبى عصرون من أصحابنا المتأخرين فى كتابه الانتصار إلى اختيار هذا وقال الامام أبو محمد البغوى من أصحابنا فى كتابه التهذيب لا يبعد أن يطعم عن كل صلاة مد من طعام وكل هذه المذاهب ضعيفة ودليلهم القياس على الدعاء والصدقة والحج فانها تصل بالاجماع ودليل الشافعى وموافقيه قول الله تعالى وأن ليس للانسان الا ما سعى وقول النبى صلى الله عليه و سلم اذا مات بن آدم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له واختلف أصحاب الشافعى فى ركعتى الطواف فى حج الأجير هل تقعان عن الأجير أم عن المستأجر والله أعلم وأما خراش المذكور فبكسر الخاء المعجمة وقد تقدم فى الفصول أنه ليس فى الصحيحين حراش بالمهملة الا والد ربعى وأما قول مسلم ( حدثنى أبو بكر بن النضر بن أبى النضر قال حدثنى أبو النضر هاشم بن القاسم قال حدثنا أبو عقيل صاحب بهية ) فهكذا وقع فى الاصول أبو بكر بن النضر

Adapun pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi'i adalah pegiriman pahala bacaan al Qur'an tidak sampai kepada si mayit. ( lihat syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi Juz I halaman 90)


PENDAPAT PARA ULAMA MAZHAB SYAFI'I

Imam Nawawi dalam kitab Takmilatul Majmu' Syarah Muhadzab mengatakan :

"Adapun bacaan Al Qur'an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit dst....menurut Imam Syafi'i dan Jumhur Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti itu telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya Syarah Muslim." (Lihat Imam As Subki, Takmilatul Majmu' Syarah Muhadzab, Juz X hal. 426)

Ibnu Hajar al Haitami dalam kitabnya Al Fatawa al Kubra Al Fiqhiyah Juz. 2 hal. 9, mengatakan :

"Mayit tidak boleh dibacakan apapun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama mutaqaddimin, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada si mayit adalah tidak sampai kepadanya. Sebab pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari yang mengamalkan perbuatan itu."

Imam Khazin dalam Tafsirnya Al Jamal, mengatakan :

"Dan yang masyhur dalam mazhab Syafi'i, bahwa bacaan al Qur'an yang pahalanya dikirimkan kepada si mayit adalah tidak sampai kepada mayit yang dikirimi." (Tafsir Jamal, Imam Khazin Juz. 4, Hal. 236)


TAFSIR FI DZILAALIL QUR'AN SURAH AN NAJM : AYAT 29 oleh SAYYID QUTB


Maka tidaklah sekali-kali dihitung kepada seseorang manusia, kecuali dari hasil amal dan usahanya sendiri, tidaklah bertambah atasnya sesuatu (pahala) dari amal yang bukan dari amalnya sendiri, dan tidaklah berkurang sedikitpun sesuatu darinya untuk orang lain (tetap, tidak mengalami perubahan). Kehidupan dunia ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk berbuat amal dan berusaha seoptimal mungkin. Dan apabila telah mati, maka kesempatan untuk berbuat dan beramal tidak berguna lagi, dan terputuslah amal perbuatannya. Kecuali hanya apa yang sesuai dengan keterangan "nash" padanya dari hadits Rasulullah SAW, seperti sabda beliau ; "Apabila mati seorang manusia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal :

1. Dari anak yang sholeh yang mendoakannya ( perhatikan redaksi haditsnya ! hanya anak yang "sholeh", bukan anak yang tidak sholeh. Kemudian yang "mendo'akan" bukan kirim pahala :red)

2. Shadaqah Jariyah yang dilakukan selama di dunia,

3. Ilmu yang bermanfa'at padanya dan bagi orang lain.

Ketiga hal ini pada hakikatnya adalah dari amal perbuatannya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi'i radiyallahu 'anhu dan orang-orang yang mengikutinya mengambil keputusan hukum, bahwa bacaan al Qur'an tidak sampai pahalanya kepada orang yang telah meninggal dunia. Karena bukan berasal dari amal dan perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah mensunnahkan atau memperintahkan ummatnya untuk melakukan hal tersebut. Selain itu, beliau juga tidak pernah membimbing ummatnya berbuat demikian, baik dalam bentuk nash maupun melalui isyarat. Dan perbuatan itu tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat.

SEKIRANYA PERBUATAN ITU BAIK, NISCAYA MEREKA TERLEBIH DAHULU MELAKUKANNYA DARIPADA KITA.

Para sahabat adalah orang yang paling sholeh, paling ta'at dan paling mengerti tentang Islam daripada kita, bahkan Allah ridha kepada mereka sehingga dijanjikan surga. Mereka semua tidak melakukan praktek kirim pahala. Sedangkan kita yang ke Islamannya belum dijamin surga, latah, melakukannya. Seakan-akan kita lebih hebat daripada mereka.



-----------------------------------------------

BEBERAPA AYAT ALQUR’AN YANG MENJELASKAN BAHWA PAHALA DAN DOSA TIDAK BISA DIGANTIKAN OLEH ORANG LAIN


QS. Al- Baqarah : 123 (QS 1 : 123)

وَاتَّقُوا يَوْمًا لا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ

Dan takutlah kamu kepada suatu hari diwaktu seseorang tidak dapat menggantikan 86) seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfa’at sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.

86) Maksudnya : dosa dan pahala seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.


QS. Al- Baqarah : 134 (QS 1 : 134)

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itu adalah umat yang lalu ; baginya apa yang telah diusahakan dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertangungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.


QS. Al- Baqarah : 286 (QS 1 : 286)

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. Dst…


QS. Al An’aam : 164 (QS 6 : 164)

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Katakanlah : “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain 526). Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan.

526) Maksudnya : masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.


QS. Al Israa’ : 15 ( QS. 17 : 15)

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.


QS. Faathir : 18 (QS. 35 : 18)

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain 1253). Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya. Dst…

1253) Maksudnya : Lihat not 526) masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri


QS. Fusilat : 46 (QS. 41 : 46)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ

Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri ; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.


QS. An Najm : 38-39 (QS. 53 : 38 - 39)

أَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.


QS. Yaasiin : 54 (QS. 36 : 54)

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلا تُجْزَوْنَ إِلا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.


QS. Muddatstsir : 38 (QS. 74 : 38)

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.


(QS. Fathir : 18)

وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1252]. dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu Tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya dan mereka mendirikan sembahyang. dan Barangsiapa yang mensucikan dirinya, Sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allahlah kembali(mu).

[1252] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.
.

(QS. Al Ankabut : 6)

وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.


(QS.An Nisa 4 : 85)

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik[325], niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk[326], niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[325] Syafa'at yang baik Ialah: Setiap sya'faat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang Muslim atau menghindarkannya dari sesuatu kemudharatan.
[326] Syafa'at yang buruk ialah kebalikan syafa'at yang baik.


(QS. Al An Aam : 6 : 52)

وَلا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu Termasuk orang-orang yang zalim)[475].

[475] Ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini.


(QS Huud : 11 : 35)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تُجْرِمُونَ

Katakanlah: "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat".


(QS. Al Ankabuut : 29 : 12)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: "Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu", dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.


(QS. Az Zumar : 39 : 7)

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu[1307] dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1308]. kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.

[1307] Maksudnya: manusia beriman atau tidak hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun.
[1308] Maksudnya: masing-masing memikul dosanya sendiri- sendiri.


(QS. Ar Ruum : 30 :44)

مَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلأنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ

Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).

-----------------
Wallahu a'lam.
Anwar Baru Belajar
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/sampaikah-kiriman-hadiah-pahala-bacaan.html#mor

53 comments:

  1. saya tidak setuju dengan forum ini, kalian semua hanya belajar sedikit tp seolah2 mengetahui apa yang dialami Nabi Muhammad. untuk apa ada doa Illa hadrati....(dst), untuk apa ada sholat jenasah, dll... itu semua ada krn ada hadist yg belum pernah kalian baca sblmnya.....spt inilah orang kafir yg mengaku islam...serigala berbulu domba kalian tuh....klo ortu kalian punya anak spt kalian pasti ortu kalian masuk neraka....tobatlah bro...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kepada "Biggar Comunication", kalau memang ada "Illa hadrati" atau kiriman Al-fatihah kepada Rasulullah, tlong beritahu saya yang mana riwayat haditsnya, biar saya juga tahu kalau memang itu benar-benar diajarkan oleh Rasulullah atau para sahabat. Terima kasih.

      Delete
    2. kpd "biggar" hati hati menyatakan orang lain kafir, Islam dibangun dengan ilmu, saya dulu juga spt itu, tahu dari orang tua, dari guru ini guru itu, walhasil setelah saya belajar sedikit2 hal itu tidak pernah diajarkan Rosululloh Salallahu 'Alaihi Wassalam...
      Cari dulu ilmunya, karena justru yang kita tahu belum tentu datang nya dari Rosululloh Salallahu 'Alaihi Wassalam, jangan2 cuma ikut2an saja tanpa landasan...
      banyak orang yang bnyk amalannya tapi sia2, Na Udzubillah

      Delete
    3. maff sebelumnya....
      kalo begitu trus bagaimana dengan doa anak kpd orang tuanya? untuk apa solat jenazah? yg didalamnya jg terdapat doa..
      bukankah al fatihah jg doa, bahkan setiap ucapan adalah doa,, wallohu a'lam...
      wassalam....

      coba dibaca artikel berikut
      http://ardankulwakid.blogspot.com/2012/12/hukum-tahlilan.html
      http://shofiyullah.wordpress.com/2013/02/08/doa-bagi-orang-yg-sdh-meninggal/
      http://oborhati.blogspot.com/2013/03/doa-keampunan-untuk-orang-yang-sudah.html

      Delete
  2. beberapa pendapat telah disampaikan, beberapa pandangan telah di sajikan.. diikuti dengan argumennya.. sekarang tinggal kita mau ikut pendapat yang mana... insyaAllah tidak salah....

    ReplyDelete
  3. Kalau membacanya dengan nafsu, maka yg terlihat hanya salah orang. Cobalah renungkan dengan baik pendapat2 yg telah disampaikan berikut alasan2nya, Insya Allah kita dapat merasakan kebenaran tsb.

    ReplyDelete
  4. Yang penting ada dalil Naqli trus didukung juga dalil Aqli, why not? Siap amalkan..
    Wallahu a'lamu bish-shawwab..

    ReplyDelete
  5. As-Salam,

    Pada saya insyaAllah, senang sahaja... Ada tak Rasulullah SAW cakap "bida'ah" jika ada orang2 Islam membacakan Al-Fatihah atau Ya-Siin pada si mati. Ada, tak? Tidak ada, bukan?...

    Cuba ada paradigm shift sikit. daripada asyik cakap Nabi Muhammad SAW tidak buat, ke, ada tak Nabi Muhammad SAW melarang...??

    Pokoknya, perkara2 yang BAGUS - seperti baca Quran (Yasiin/Fatihah juga termasuk dalam Al-Quran), bukanlah "bida'ah" kerana ia boleh mendatangkan pahala pada si pembaca juga.

    KALAU perkara2 seperti berdo'a meminta nombor ekor/bertuah dekat tepi kubur (yang berdosa/syirik, & Bukan pahala), barulah logik disebut "bida'ah" -- mengada-adakan perbuatan/inovasi; yang jelas berdosa.

    WAllahu'ALAM.

    ------- Bicara Sampingan:

    Perkataan "bida'ah" adalah 'hukum' yang suka disebut2 oleh orang2 Wahabi yang secara mudahnya, adalah 1 kumpulan yang meng'guna'kan Excuse "hanya ikut perkara2 yang dibuat oleh Rasulullah SAW"; tetapi objektif sebenar adalah untuk tidak menggalakkan Ummat Islam beribadah bersama-sama/ramai-ramai. Spiritual Unity kita (terutamanya di Nusantara/Alam Melayu ini adalah insyaAllah, sangat Utuh/Kuat... Sebab itu, zaman sekarang ini (yang Ummat Islam kita seperti LEMAH), Senang Sahaja wahabo masuk.

    Soalan: Ada tak saudara-saudari semua terfikir Kenapa ulama2 Kita dia Nusantara/Alam Melayu ini, TIDAK ter-ikut2 'concept' wahabi itu?? Adakah mereka 'bodoh'? Atau, adakah mereka (iaitu Ulama2) Tahu Rahsia disebalik wahabi itu??

    FYA, Muhammad Abdul Wahab, pengasas Wahabi, adalah seorang yahudi. Memang yahudi pun ada Islam, yahudi yang munafiq ada juga. Apa2pun, silalah lihat video ini:
    http://blip.tv/rising-sun-tv/wahabi-konspirasi-yahudi-3779205

    WAllahu'alam, Allahu Akbar.

    Semoga kita Ummat Akhir Zaman ini dapat KEKAL BERSATU MENEGAKKAN SYI'AR ISLAM (& beribadah sama-sama) yang sememangya tidak disenangi oleh yahudi; di Nusantara/Alam Melayu kita ini! Amiin Ya Rabb.

    Terima kasih & WassalamWW, saudara-saudari seIslam ku.
    => Tunnusantara.

    ReplyDelete
  6. Ass.w.w
    Sebelumnya saya mohon maaf baik kepada penulis, komentator maupun pembaca forum ini, karena saya hanya orang awam tentang agama islam. Shalat pun masih sering tertinggal dan membaca alqur'an masih terbata-bata.
    Saya sudah membaca beberapa forum ttg hukum mendoakan orang yang telah meninggal karena saya teringat ttg adik saya yang kurang lebih sudah 30 thn tidak tahu kemana rimbanya.
    Pada hari ini saya ada keinginan untuk membacakan surat alfatihah dan yg lainnya serta mendoakannya, tapi setelah membaca beberapa forum yang berkaitan dengan orang yg telah meninggal ternyata banyak saling bertentangan tentang hukumnya.
    Berdasarkan ayat alqur'an disebutkan bahwa "hanya" doa anak yg "shaleh"kepada orang tuanya yg telah meninggal yg diterima.
    Sebagai muslim saya dan kita semua yg sudah aqil balig diwajibkan untuk melaksanakan shalat yg lima waktu.
    Pada bagian dari shalat ada bacaan shalawat nabi dan baik dari terjemahan maupun dari beberapa literatur pengertian shalawat nabi adalah "doa" yg ditujukan kepada nabi Muhammad saw dan kita semua tahu bahwa beliau nabi Muhammad saw telah meninggal.
    Jadi apakah doa tidak akan sampai atau terputus kecuali hanya doa anak yg shaleh untuk orang tuanya yg telah meninggal??

    Wass.w.w


    ReplyDelete
  7. Na'uzubillah...

    Berdalil seenak perut... Imam syafi,nawi dll...yg kalian jdi hujjah, pdahl dalil2 yg Kalian buat sndri, wallahii! kelak di ahirat kalian akn d tuntut oleh biliu2.
    mau nyampai atau gak yg jelas baca fatihah itu baik.
    Bida'ah? Jngan trlalu tolol dong jadi orng memahinya.

    Meyakini bacaan itu smpai jauh lbih aman ktimbang tdak.
    Kita lihat saja besok di ahirat siapa yg lbih benar...

    ReplyDelete
  8. saya lahir dari rahim islam namun saya kurang memahami hukum islam bahakn mengajipun masih jauh dari benar semua yang saya kerjakan dengan batasan2 hukum agama yang saya tahu dan yang menurut logika saya itu benar.

    ReplyDelete
  9. assalamualaikum
    mohon maaf sebelumnya,menyangkut bid'ah,bid'ah di bagi dua.bukankah dari jaman nabi perbedaan itu selalu ada bukankah pintu syurga itu bukan hanya satu yang penting kita yakin dengan hati kita dan menurut apa yang di ajarkan oleh nabi kita Muhammad SAW.jadi jangan saling menyela yang lain bersikaplah bijak,jangan terlalu fanatik.kita itu tidak boleh menilai sesuatu apalagi masalah agama hanya dari satu sisi,kita itu hidup bermasyarakat mari kita tingkatkan kebersamaan dalam perbedaan supaya orang orang kafir tidak mudah memecah belah umat islam.apa kalian ingin umat islam selalu jadi sorotan,terorislah apalah...bukankah itu memojokkan islam .apa kalian sadar banyak pembunuhan,pemerkosaan maling koruptor rata rata apa ngakunya islam.tapi dimana akhlaknya.
    sekali lagi mohon maaf saya bukan menggurui atau menasihati tapi saya hanya ingin agar umat islam itu tetap damai walau ada perbedaan terima kasih
    wassalam.

    ReplyDelete
  10. andaikan kita puas dengan Quran dan Hadist maka hidup ini simpel dan sederhana ..jajal

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Saya kasih contoh satu saja,semoga menambah keyaqinan kita bersama." Dar Ummul mukminin Siti A'isyah ra.beliau berkata," Bahwasanya Nabi berkata" " Barangsiapa meninggal sedang ia berhutang puasa,maka walinya boleh menggantikan puasanya itu " ( H.R Imam Muslim syarah Muslim juz 8 pagina 23 ) menurut Imam N

    ReplyDelete
  13. Mengenai bacaan Alqur'anul kariim," tersebut dalam hadist " Artinya; " Dari Mi'qol bin yasaar ,berkata Nabi muhammad saw.Bacakanlah orang yang sudah mati surat Yaasiin " ( Sunan Abi daud juz 3 pagina 91 dengan sanad yang shoheh ) Arti mautakum dalam hadist ini,adalah orang yang telah mati terbukti Imam Abu Daud memberi judul dalam hadist ini," Baabul qurrooti indal mayyit " artinya " Bab membaca ayat dihadapan orang mati "

    ReplyDelete
  14. " Diriwayatkan dari Ma'qil Bin Yasar,ra.bahwa Rosululloh saw.bersabda," Surah yasin adalah intisari Alqur'an.Tidakla seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Alloh swa.kecuali Alloh akan mengampuni dosa-dosanya.Maka bacakanlah surat yasin kepada orang yang sudah meninggal diantara kamu sekalian,( Musna Akhmad Bin Hambal 19415 ) jelaslah kiranya bahwa bacaan qur'an itu yang sangat dinantikan oleh arwah saudara kita yang ada dikuburan,semoga menjadi siraman amiin.

    ReplyDelete
  15. " Dari Ibnu Abbas ra.ia berkata," ada seorang laki-laki datang kepada Nabi,Muhammad, saw,lalu bertanya," saudara perempuan saya bernadzar haji namun iameninggal dunia ( sebelum melaksanakan nadzarnya,) "Rosululloh kemudian menjawb," Apakah jika kamu mempunyai hutang akan membayarnya ? laki-laki itumenjawab," Ya " lalu rosululloh bersabda," Tunaikanlah hutang kepada Alloh swa.lebih berhak untuk diunasi" (Shoheh Albukhori 2605 ) maka sepantasnyalah sebagai bentuk bakti dan kasih sayang kepada orang tua anak dan saudara kita untuk membacakan Alqur'an tahmid tahlil karena sangat diharapkan oleh arwah-arwah kita semua,bahkan dalam satu hadist dilelaskan,bahwa orang mukmin setiap malam turun ke langit dunia dan berhenti di depan pintu kita semua mereka menjerit minta tolong,seribu kali jeritan,minta didoakan dibacakan Alqur'an tahmid tahlil,bahkan dalam jeritan itu " wahai anakku wahai keluargaku yang telah menempati rumahku,yang telah memakai pakaianku tolonglah kami,kami berada di pengasingan,apalagi diwaktu masa 7 hari dari kematian,menurut riwayat mayyit mendapat cobaan yang sangatberat sekali,maka kata Nabi hendaklah dihibur dengan banyak sedekah,dan do'a serta bacaan-bacaan Alqur'an dll.tentunya apabila kita murah dan belas kasih sayang terhadap ahlilqubur,tentunya kita akan dibalas pula demikian adany,semoga bermamfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi kita semua amin

    ReplyDelete
  16. Jadi yang dimaksud " Awwaldin sholeh " Wa'allaisa illaa maasa'aa " surat Annajmi itu tidak menghapuskan usaha seseorang kepada orang lain,kerena asbabun nuzulnya,( sebab-sebab turunnya ayat tersebut," Tetkala Ibnu Mughiroh masuk islam diejek oleh orang musyrik,dan orang musyriktadi berkata : " Kalau engkau kembali kepada agama kami,dan memberi uang kepada kami,kami yang menanggung siksaanmu diakhirat," Maka tunlah ayat terebut,yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain,bagi sesorang apa yang telah ia kerjakan,bukan berarti menghilangkan pekerjaan seorang untuk orang lain.Terbukti,bahwa doa Nabi Muhammad untuk dirinya dan para umatnya yang membawa iman.seperti surat Nuh,Surat Ibrahim,kenapa kalimat itu selalu diiringi dengan kata-kata beriman karena banyak amalan atau do'a dalam Qur'an yang tidak sampai hanya kepada kafir sedangkan bagi mukmin yang beriman semuanya sampek,Wlloohu yahdii ilaa sawaaissabiil.

    ReplyDelete
  17. Perlu kami tambahkan sedikit,mengenai bacaan Qur'an menurut Iman Syfi'i bisa dilihat ( Dalilul faalihin juz 6 hal 103 ) selengkapnya " blogthohiranam.blogspot.com " ttg tahlil dan sampainya doa dan bcaan.wallohu aklam.

    ReplyDelete
  18. Hadist diriwayatkan oleh Sayyidina Ali karromallohu wajhah,yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad al-samarkandi Arrafi'i dan Al-Daraquthni." Dari Ali ra." Rosululloh saw.bersabda," " Barangsiapa berjalan melewati pemakaman,lalu membaca surat Al-Ikhlas sebelas kali,dan menghadiahkannya pahala pada ahlilqubur,maka ia akan diberi paha sejumlah ahli kubur,.( lihat haulahkhashaish Alqur'an 45 ) Juga diriwayatkan oleh Abi Huroiroh ra.( beliau sahabat Nabi yang terdekat,Rosululloh saw. bersabda," barangsiapa memasuki pemakaman lalu membaca surat Al-Fatihah dan Al-Takastur,lalu berdo'a " Aku hadiahkan pahala bacaan yang aku baca dari firman-Mu untuk semua ahli qubur itu akan memberikan syafa'at (pertolongan ) kepada orang yang membaca surat tersebut,( hadist diriwayatkan oleh Abu Alqosim Haulah khashashil qur'an 45 ) demikianla saudaraku muslimin rohimakumulloh,saya kira sudah cukup.wassalam.

    ReplyDelete
  19. Bacaan surat " Yaasiin " juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad yang shoheh," Iqrouu alaaan mautaakum " Yaasiin " ( rowaahubnu Hibbaan washohhahaahuu ) Maknanya: Bacakanlah untuk mayit-mayit kamu sekalian dengan surat " Yaasiini"nampaklah dari keterangan hadist ini,sangat baik sekali para almarhum dan almarhumah k.ita semua dibacakan surat yaasiin karena sangat dibutuhkan kiriman tersebut

    ReplyDelete
  20. Lihatlah pendapat tokoh sentral " Ibnu Taimiyah " Dalam karangannya ( Hukm al-syariah al-islamiyah fimaktam al-arbain,36 ) juga Ibnul Qoyyim Aljauziyah " ( Arruh 142 ) Bahwa mayyit mendapat manfaat dari bacaan Alqur'an,tahmid tahlil,termasuk sholat.Pendapat itu didukung oleh sebuah hadst shoheh Muslim, " Dari A'isyah ra.seseorang laki-laki bertanya kepada Nabi,saw. " Ibu maninggal secara mendadak dan tidak sempat berwasiat,Saya menduga seandainya ia dapat berwasiat,tetu ia akan bersedekah.apakah ia mendapat pahaa seandainya saya bersedekah atas namanya ? Nabi Muhammad saw. menjawab," iya " " ( shoheh muslim 1672 )

    ReplyDelete
  21. " WADZAKKIR FAINNADZIKRO TANFAUL MUKMINIIN " ( Aadzdzaariyaat 55 ) berilah peringatan, sesungguhnya peringatan bermanfa'at untuk orang-orang mukmiin,menurut ayat ini,orang mukmin walaupun dia telah meninggal dunia tetap mendapat manfaat dari orang yang hidup.

    ReplyDelete
  22. Rosul besabda,'" Iqro'uu alaa mautaakum yaasiin " artinya," Bacalah surat yasin untuk mayyit-mayyit kamu," ( HR Ibnu Hibban washohhahahu ) juga diperkuat oleh awahabi, " Bacalah surat al-Fatihah,al-Ihlas,al-Haakumuttakaastur, hadist marfuk dari Anas,ra.sama-sama meriwayatkannya.( Ahkamuttamanni,Almauti li Syaikh Muhammad Abdul wahhab ( Wahhabi ),75 )

    ReplyDelete
  23. Memang banyak dalam Alqur'an senada dengan surat Annajm,albaqoroh Yasin, " Maksuk mayyit mendapat dengan usahanya sendiri,yang dimaksud,memang mayyi tidak mungkin sholat lagi,puasa lagi,haji lagi,atau beramal lagi, memang sudah mati pengertian tsb,tidak beratrti menolak pemberian orang lain,masalah tafsir serahkanlah pada bidangnya,termasuk sahabat Rosul,memang sudah diberi wewenang.sama dengan hadist diatas,( Ibnulqoyyim dan Ibnu hazm mengertikannya,hanya putusnya amalan sendiri waktu didunia,sa sekali tidak menjelaskan putusnya amalan orang lain.

    ReplyDelete
  24. Ketika Rosul berkorban,apa dia bilang " Dengan Nma Alloh ,Ya Alloh,( Korbanku ) dari Muhammad,dan keluarga Muhammad,dan dari Ummat Muhammad, 9 HR Muslim Shoheh Muslimjuz 13 pagina 122 ) senada dengan Syyidina Ali 2 kibas 1 untuk Muhammad pahalanya 2 untuk dirinya sendiri ) Sholat mayyit apabila yang menyola 3 shof atau 40 orang 100 orang mayyit mendapat syafaat,shoheh Muslim,8 pagina 24 Abu daud 3 203,pahala haji juga Fathul Bari shoheh Bukhori 4 pagina 437.andaikan leptop kami untukmenulisnya tentu tidak akan muat,lantas katanya tidak menemukan dalil pahala carinya dimana ?

    ReplyDelete
  25. Sudah saatnya saudaraku muslimin menyadari atas kekhifannya,faham sunny dijami yang paling benar tidak ada yang lain yang membawa islam petama kali ke Indonesia ini adalah Ulamak yang masi keturunan dari Rosul termasu titisan dari Ali kw.pasti benar,yang membuat kisruh akhir-akhir inilah islam yang sudah terkontaminasi oleh orang Yahudi, Mereka hafadz Qur'an Hadist,tapi intinya kita bersaudara di adu domba dengan dalil-dalil yang sekilas benar secara dhohiriyah hakekatnya salah maka dari itu kita jangan mudah diadu domba.semua fatwa serahkanlah kepada majlis Ulamak,karena memang mereka punya kapasitas.Wallohu yahdii ilaa sawaissabiil.

    ReplyDelete
  26. Islam sdh sgt jelas menjelaskan smuax, mengirim Al Fatihah ataupun surat yasiin itu bid'ah krn Nabi Muhammad SAW tdk pernah melakukannya. Dosa kalian saja blm tentu di ampuni kok malah melakukan hal yg bid'ah.
    Nabi sdh menjlskan bhw ada 3 perkara yg bs sampai kepd si mayit :
    1. Amal jahariyah
    2. Doa anak yg saleh
    3. Ilmu yg bermanfaat.

    Intix bhw bila si anak melakukan hal yg baik sesuai dgn ajaran islam mk org tua yg ssdh meninggal jg mendptkan pahala dari hasil perbuatan anak tersebut, bgtpun sebalikx. Tks

    ReplyDelete
  27. Bagus jawabannya,hadis tadi yang dimaksud putus amalannya sendiri,tak ada dalil sedikitpun yang menolakamalan orang lain.anakpun begitu " Awil intipak " masih mendapat dari orang lain,kalau cukup anak saja yang lain tidak sampai,lalu kal;au tahyat ketika membaca " ALLOHUMMA SHOLLI ALAA MUHAMMAD WA'ALAA AALI MUHAMMAD,KAMAA SHOLLAITA ALAA IBRAAHIIM,WALLA AALI IBBRAHIM " PERHATIKNNLAH ARTINYA, " SEMOGA KESEJAHTERAAN KEPADAMU MUHAMMAD,DAN KELUARGANYA,JUGA KEPADA IBRAAHIM DAN KELUARGANYA," Apakah Muhammad dan keluarganya,Ibraahiim dan keluarganya bapak kamu ? bukan kan ? nyatanya sampek walaupun kamu bukan anaknya,nah bagainmana dengan hdis kamu ? jawab dan belajar teruussss!!!

    ReplyDelete
  28. Komentar kami selalu di hapus tdk objektif

    ReplyDelete
  29. Ketika kami mensholati mayyit p.modin p.kiai p.Lurah dan orang-orang kampung semu bukan bapakya dan anaknya,kenyataannya,kan begitu termasuk kamu pernahkah mensholati mayyit yang bukan bapak kamu ,ataukah kalau kamu meninggal tidak usah di wudhua'i disholati karena mereka bukan anakmu ? sebetulnya sampai kawan cuma ilmu kita kurang satu sreeetttt,selangkah lagi insya'alloh kamu faham.wolloohu aklam.

    ReplyDelete
  30. Saya tabah 1 saja sebetulnya dalil diatas sudah cukup, " KETIKA ADA SAHABAT MENGELUH KEPADA NABI, YA ROSUL ORANG KAYA SANGAT BERUNTUNB DI SHOLAT,DIA PUASA DIA ZAKAT SAMA DEBNGAN KAMI CUMA MEREKA PUNYA KELEBIHAN MEREKA BISA BERSEDEKAH SEDANGKAN KAMI TIDAK BISA, APA JAWAB BEGINDA NABI MUHAMMAD SAW.BUKANKAH ALLOH TELAH MENYEDIAKAN SESUATU YANG DAPAT KAMU SEDEKAHKAN,? SESUNGGUHNYA SETIAP TASBIH YANG KAMU BACA SEDEKH,SETIAP TAKBIR YANG KAMU BACA ADALAH SEDEKAH SETIAP TAHMID YANG KAMU BACA ADALAH SEDEKAH,SETIAP TAHLIL YANG KAMU BACA ADALAH JUGA SEDEKAH. ( Shoheh Muslim 1674 ) cukuplah kiranya tinggal menunggu hidaya dari Alloh,dan sudah jelas mayyit mendapat menfaat dari yang hidup.

    ReplyDelete
  31. Mana jawabanmu kawan ?? " KETIKA SAMPEAN TAHYAT ADA KATA-KATA ASSALAA MUALAINAA WA'ALAA IBAADILLAAHISSHOOLIHIIN " Domir Naa " ialah dhomir mutakallim ma'al ghoiri,artinya berbicara pada orang banyak ,artinya,KESEJAHTERAAN SEMOGA TETAP PADAMU KAUM MUSLIMIN SELURUHNYA. Apakah semua muslimin dimuka bumi ini bapakmu semua ? kalau bersikukuh cuma anaknya saja do'a yang sampai ? yaa tidak usah dibaca,ternyata sampai.

    ReplyDelete
  32. ni pasti penulis copy copy dari blog org lain ya ?

    ReplyDelete
  33. Kalau ente juga mau copy paste juga datang di P.P " MAMBAUL-ULUIM Banjarejo Gondanglegi Malang JL kh Hasbulloh berdekatan dengan AL-KHOIROT ente kalau mau copi juga saya tunggu.

    ReplyDelete
  34. Banyaklah copi pastedi PP. biar dak mudah ikut-ikutan, kalau di P.P yang inya'alloh selamat.

    ReplyDelete
  35. Nah kalau copy pastenya P P. yang salaf ilmu alatnya cukup,dak gampang terpengaruh buku terjemahan semata,dan sudah banyak perbandingan insyaalloh sio deh ?????

    ReplyDelete
  36. Dan tidak mudah terpengaruh oleh H T I ujung-ujungnya " wahabi "

    ReplyDelete
  37. Karena akal merupakan sarana untuk memahami naqli bukan malah menentukan sebuah hukum, sebrapa pandai atas nama manusia kalau naqli pasti benar walau akal kita belum sampaimpai kesana dalam memahaminya.

    ReplyDelete
  38. Karena banyak da'i- da'i pemula yang belum sampai matang berulah di midia masa,sehingga banyak dalil dali yang kontradiktip dengan naqli yang sebenarnya,qur'an sama hadist dipertentangkan qur'an sama qur'an padahal hakekatnya al-qur'an dijaga kesuciannya dan rosulpun maksum,kita harus menyadari keterbatasan ilmu kitalah yang harus dipebanayak والله هعلم بالصواب

    ReplyDelete
  39. alhamdulillah, begitu banyak coretan2 pena yg menyatakan bahwa pembacaan Alqur'an (fatihah dll) sia2 bagi si mayit.. dan sekarang antum "thohir anam" ikut membantah dan menjelaskan secara lugas manfaat yg di dapatkan atas sedekah pahala dari bacaan Alqur'an u/ mayit itu sampai... semoga kbaikan selalu menyertai kita dan orang2 pendahulu kita.. Amin Ya Rob

    ReplyDelete
  40. Kalau do'a orang lain dak sampai,hanya anaknya saja, kalau istrimu sekarat atau mati masak tidak mau didoakan, dibantu pengucapan kalimat tauhid, atau paman kamu atau saudara kandung kamu,ini bukti pamahaman yang ngawur, atau mungkin kalau mati cukup dilempar saja kelobang buaya, karena orang lain dak mamfa'at,sungguh Alqur'an dimanipulasi demi hawa nafsu.

    ReplyDelete
  41. ام لم ينباء في صحف موس وابراهيم الدي الاتزروازرة وزراخري وان ليس للا نسا ن الا ما سعي

    ReplyDelete
  42. Cobak perhatikan surat An-Najmi 36 diatas, secara lengkap, ayat tersebut menceritakan shuhuf Nabi Musa,as." Bahwa manusia tidak bisa mendapat kecuali apa yang diusahakannya " dan ayat ini telah dimansukh dengan surat Atthur 21, yang berbunyi," DAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN,DAN DIIKUTI OLEH ANAK CUCU MEREKA DENGAN KEIMANAN, ' " KAMI KATA TUHAN " AKAN MENGHUBUNGKAN ANAK CUCU MEREKA DENGAN TIDAK MENGURANGKAN SEDIKITPUN DARI AMAL MEREKA " ( At-thur : 21 ) Jadi jelas menurut ayat ini,anak dan cucunya akan dimasukkan syorga atas kebaikan orang tua mereka walaupun anak dan cucu-cucunya tidak sepadan amalnya dengan ayah dan kakeknnya. " AKAN TETAPI AYAT TERSEBUT OLEH ORANG-ORANG WAHABI DIAMBIL EKORNYA,DAN BUNTUTNYA SAJA,TANPA MENGIKUTI PENAFSIRAN PARA SAHABAT DAN AHLI TAFSIR, JELAS AL-QUR'AN DIPALSUKAN.( Tafsir jamii'ul bayan meninggal 310 H ) ( Tafsir khozin jilid 6 hal 223 ) setiap dalil menyangkut hadiah pahala, atau ttg bid'ah,atau ttg kesucian Mushhaf, mereka tidak mengambil dalil secara utuh untuk mengelabui umat muslim,sungguh berani wahabi itu,

    ReplyDelete
  43. Imam Nawawi seorang ulamakmadzhab Syafi'i mengatakandalam syarah Hadist Muslim,

    من اراد بر والد يه فليتصد ق عنهما فا ن صد قت تصل الي الميث وينتفع بها بلا خلا ف بين المسلمين وهذا هوا لصواب

    ReplyDelete
  44. Artinya : " Barangsiapa yang hendak berbuat kebajikan kepada Ibu Bapaknya,ia boleh bersedekah untuk keduanya,dan pahala sedekahitu sampai kepada mayat,dan mayat mendapat manfaat dari padanya. Hal ini tidak pertikaian antara kaum muslimin,dan inilah pendapat yang benar. ( Syarah Muslim juz 1 pagina 89 ) Lalu Imam Nawawi menyamung kata-katanya itu," Adapun ang dikabarkan oleh Qhodi Abu Hasan, AL-Mawardi,dalam kitabnya Al-Hawi, bahwa sebagian ahli berpendapat,bahwa mayat tidak akan lagi mandapat apa setelah wafatnya,maka itulah Madzhab yang salah,jelas batalnya,karena berlawanan dengan nash-nash Kitabulloh,sunnah dan ijmak ummat, pendapat itu tidak layak untuk diperhatikan," ( Syarah Muslim juz1 pagina 90 ) " Inilah dalil yang lengkap jangan membodohi Ummat )

    ReplyDelete
  45. Adapun bacaan Alquran memang terdapat 2 fatwa dalam madzhab Syafi'i ada yang mengatakan tidak sampai ada yang mengatakan sampai,danfatwa yang mengatakan tidak sampai jelas berlawanan dengan Alquran Hadist,shoheh Bukhori Muslim,Sunan Abi Daud dan Ibnu Hibban,قو له لا يصل ثوا به ضعيف وقوله وقا ل بعض اصحا بنا معتمد " Perkataan tiada sampai bacaan kepada mayat " adalah pendapat yang dho'if dan berfatwa sebagian sahabat katanya sampai ( Albujairimi ) ( I'anatuttholibin juz3 pagina 221 ) ( Menurut Imam Subkhi Sampai bacaan kepada Mayyit fathul Muin bab wasiat ) قا ل الشا فعي والاصحا ب يستحب ان يقرء من القران قا لو فان خثم القر ان كله حسنا " Berkata Imam Syafi'i dan keanyakan sahabat-sahabat beliau sunnah membacakan sedikit ayat qur'an dihadapan Mayyit.Kalau dapat dibacakan sekhatam Qur'an dihadapan Mayyit adalah baik sekali. ( Al-Adzkarpagina 147 ) dan pendapat inilah yang didukung Alqur'an Hadist.

    ReplyDelete
  46. Adalah dibenarkan mengirim Pahala Bacaan Al-Fatihah kepada yang mati dan yang hidup. dgn syaratnya.. DOA.. baca Al-Fatihah..dan doa agar pahala bacaan itu dihadiahkan kepada si Fulan/fulanah... maka Inshaa ALLAh yang didoakan itu akan dapat dan yang mendoakan itu juga akan dapat pahala yang serupa... begitulah hebatnya Islam.. dalil2 mu di atas tidak sesuai dengan isu ini.. kita meng 'Kias' kannya dengan Salawat nabi dan beberapa hadis nabi SAW yang membolehkannya.... Nabi juga tidak melarang mendoakan orang lain... lagipun perihal dosa dan pahala itu memang sendiri buat.. sendiri tanggung akibatnya... konsep mendoakan dan menghadiahkan pahala bacaan tidak termasuk dalam konsep menanggung dosa dan pahala ini.. ianya berbeza.!

    ReplyDelete
  47. kepada para pembaca blok ini harap berhati2 karena bacaan ini akan melencongkan agama saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat dari dari penulis ini.ini penulis gila atau tak waras.

    ReplyDelete
  48. ini forom bangsat pakailah untuk kepercayaanmu sendiri .

    ReplyDelete
  49. dalilnya ada kok!

    pernakah anda melakukan sholat jenazah?
    jika pernah maka anda ketika takbir pertama membaca apa?
    pastinya surat Al Fatihah

    jika anda mengatakan tidak ada berarti anda meniadakan syari'at sholat jenazah
    perhatikanlah itu!

    ReplyDelete