Showing posts with label Lailatul Qadr. Show all posts
Showing posts with label Lailatul Qadr. Show all posts

Wednesday, August 24, 2011

Cara Wanita Haid Menghidupkan Lailatul Qadar


Lailatul qadar untuk wanita haid

Soalan :

Bagaimana cara wanita haid menghidupkan lailatul qadar?

Jawaban:

Untuk wanita haid yang ingin medapatkan malam lailatul qadar :

Wanita haid bisa melakukan banyak ibadah selain shalat.

Juwaibir mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhahak,


“Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifas, haid, musafir, dan orang yang tidur; apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh-Dhahak pun menjawab, “Iya, mereka tetap berpeluang mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalannya akan mendapatkan bagian lailatul qadar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 341)

Keterangan ini menunjukkan bahwa wanita haid, nifas dan musafir tetap berpeluang mendapatkan bagian dari lailatul qadar. Hanya saja, wanita haid dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat. Bagi mendapatkan banyak pahala ketika lailatul qadar, wanita haid atau nifas masih memiliki banyak kesempatan ibadah.


Di antara bentuk ibadah yang boleh dilakukan adalah:

  1. Membaca Alquran tanpa menyentuh mushaf.
  2. Berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (la ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah), dan zikir lainnya.
  3. Memperbanyak istigfar.
  4. Memperbanyak doa.
  5. Membaca zikir ketika lailatul qadar, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha
    , “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai satu malam yang itu merupakan lailatul qadar, apa yang aku ucapkan?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ucapkanlah, ‘اللَّـهُـمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُـحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي’ (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pemaaf dan Pemurah maka maafkanlah diriku.)’” (Hadis sahih; diriwayatkan At-Turmudzi dan Ibnu majah)


Dalam Fatwa Islam Tanya-Jawab dijelaskan,

“Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah, kecuali shalat, puasa, tawaf di ka’bah, dan i’tikaf di masjid. Menghidupkan lailatul qadar tidak hanya dengan shalat, namun mencakup semua bentuk ibadah. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, ‘Makna ‘menghidupkan malam lailatul qadar adalah begadang di malam tersebut dengan melakukan ketaatan.’ An-Nawawi mengatakan, “Makna ‘menghidupkan lailatul qadar’ adalah menghabiskan waktu malam tersebut dengan bergadang untuk shalat dan amal ibadah lainnya.’”

Kesimpulan: Meskipun wanita berhalangan, mereka masih mampu untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Sumber: http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753

Allahu a’lam.

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Artikel: www.KonsultasiSyariah.com


Credit to : Moslem Channel

Tuesday, August 23, 2011

Tafsir Surat Al Qadr : Kapankah Lailatul Qadr?



TAFSIR SURAT AL QADR :Bilakah terjadinya..


بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}‏

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Pada edisi sebelumnya, telah kami sampaikan tentang Lailatul Qadr. Pada malam itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan seluruhnya, selamat dari segala kejahatan dan keburukan apapun, setan-setan tidak mampu berbuat kerusakan dan kejahatan sampai terbit fajar di pagi harinya. Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan Lailatul Qadr?

KAPANKAH LAILATUL QADR?

Sudah dijelaskan di atas bahwa Lailatul Qadr terjadi pada satu malam saja dari bulan Ramadhan pada setiap tahun, akan tetapi tidak dapat dipastikan kapan terjadinya [1]. Sehingga banyak hadits-hadits dan atsar-atsar yang menerangkan waktu-waktu malam, yang mungkin terjadi padanya Lailatul Qadr[2]. Di antara waktu-waktu yang di terangkan hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut ialah sebagai berikut:

1. Pada Malam Pertama Pada Bulan Ramadhan.
Ibnu Katsir berkata: "Ini diriwayatkan dari Abu Razin Al ‘Uqaili (seorang sahabat)" [3].

2. Pada Malam Ke Tujuh Belas Pada Bulan Ramadhan.
Ibnu Katsir berkata [4]: “Dalam hal ini Abu Dawud telah meriwayatkan hadits marfu’ [5] dari Ibnu Mas’ud. Juga diriwayatkan dengan mauquf [6] darinya, Zaid bin Arqam dan Utsman bin Abi Al ‘Ash [7]. Dan ini adalah salah satu perkataan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Juga diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri. Mereka semua beralasan, karena (malam ke tujuh belas Ramadhan adalah) malam (terjadinya) perang Badr, yang terjadi pada malam Jum’at, malam ke tujuh belas dari bulan Ramadhan, dan di pagi harinya (terjadilah) perang Badr. Itulah hari yang Allah katakan dalam firmanNya:

يَوْمَ الْفُرْقَانِ

(Di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan) [8].

3. Pada Malam Ke Sembilan Belas Pada Bulan Ramadhan.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum [9].

4. Pada Malam Ke Dua Puluh Satu Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata:

اِعْتَكَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ الأَوَّلِ مِنْ رَمَضَانَ, وَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ, فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ, فَقَالَ: (إِنَّ الَّذِيْ تَطْلُبُ أَمَامَكَ), فَاعْتَكَفَ العَشْرَ الأَوْسَطَ فَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ, فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ, فَقَالَ: (إِنَّ الَّذِيْ تَطْلُبُ أَمَامَكَ), قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيْباً صَبِيْحَةَ عِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ, فَقَالَ: ((مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ, فَإِنِّيْ أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, وَإِنِّيْ نُسِّيْتُهَا, وَإِنَّهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِيْ وِتْرٍ, وَإِنِّيْ رَأَيْتُ كَأَنِّيْ أَسْجُدُ فِيْ طِيْنٍ وَمَاءٍ)), وَكَانَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ جَرِيْدَ النَّخْلِ, وَمَا نَرَى فِيْ السَّمَاءِ شَيْئاً فَجَاءَتْ قَزَعَةٌ فَأُمْطِرْنَا, فَصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّيْنِ وَالْمَاءِ عَلَى جَبْهَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْنَبَتِهِ تَصْدِيْقَ رُؤْيَاهُ.

"Rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kamipun beri’tikaf bersamanya. Lalu Jibril datang dan berkata: “Sesungguhnya apa yang kamu minta (ada) di depanmu,” lalu Rasulullah berkhutbah pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda: “Barangsiapa yang i’tikaf bersama Nabi, pulanglah. Karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr, dan aku sudah lupa. Lailatul Qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada (malam) ganjilnya, dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Saat itu atap masjid (terbuat dari) pelepah daun pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatupun di langit. Lalu tiba-tiba muncul awan, dan kamipun dihujani. Lalu Rasulullah shalat bersama kami, sampai-sampai aku melihat bekas tanah dan air yang melekat di dahi dan ujung hidungnya sebagai pembenaran mimpinya".[10]

Asy Syafi’i berkata: “Hadits ini adalah riwayat paling shahih”.[11]

5. Pada Malam Ke Dua Puluh Tiga Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abdullah bin Unais, beliau berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيْتُهَا, وَأَرَانِيْ صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِيْ مَاءٍ وَطِيْنٍ)), قَالَ: فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ, فَصَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْصَرَفَ, وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّيْنِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ, قَالَ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ يَقُوْلُ: ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ.

"Sesungguhnya Rasulullah bersabda: ((Aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air)). Maka kami dihujani pada malam yang ke dua puluh tiga, Rasulullah shalat bersama kami, kemudian beliau pergi sedangkan bekas air dan tanah (masih melekat) di dahi dan hidungnya”.

Dan Abdullah bin Unais berkata: Dua puluh tiga [12].

6. Pada Malam Ke Dua Puluh Empat Di Bulan Ramadhan
Sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri, berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ)).

"Rasulullah bersabda: ((Lailatul Qadr malam yang ke dua puluh empat))" [13].

Ibnu Katsir berkata: "Sanadnya para perawi tsiqat (kuat)" [14].

Demikian juga lafazh hadits yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Bilal.[15]

Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan perkataannya (untuk mengomentari hadits Bilal tersebut): “(Pada sanadnya ada) Ibnu Lahi’ah (dan dia) dha’if, dan (hadits ini) tidak sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu Al Khair, dari Abu Abdillah Ash Shunaabihi berkata: “Bilal -Mu’adzin Rasulullah- telah memberitahu kepadaku bahwa Lailatul Qadr dimulai malam ke tujuh dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan). [16]” Maka hadits yang mauquf ini lebih sah, wallahu a’lam.

Demikian halnya telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Al Hasan, Qatadah, Abdullah bin Wahb (yang semuanya mengatakan) bahwa Lailatul Qadr adalah pada malam yang ke dua puluh empat. [17]

7. Pada Malam Ke Dua Puluh Lima Di Bulan Ramadhan
Sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى.

"Nabi bersabda: Carilah Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa" [18].

8. Pada Malam Ke Dua Puluh Tujuh Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits yang di keluarkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka’b:

عَنْ عَبْدَةَ وَعَاصِمِ بْنِ أَبِيْ النُّجُوْدِ سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ يَقُوْلُ: سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, فَقُلْتُ: إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُوْدٍ يَقُوْلُ: مَنْ يُقِمْ الحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ القَدْرِ, فَقَالَ: رَحِمَهُ اللهُ, أَرَادَ أَنْ لاَ يَتَّكِلَ النَّاسُ, أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِيْ رَمَضَانَ, وَأَنَّهَا فَيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ, وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ. ثُمَّ حَلَفَ لاَ يَسْتَثْنِيْ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ, فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُوْلُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ؟ قَالَ: بِالْعَلاَمَةِ أَوْ بِالآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

"Dari Abdah dan Ashim bin Abi An Nujud, mereka mendengar Zirr bin Hubaisy berkata: Aku pernah bertanya Ubai bin Ka’b, maka aku berkata: “Sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) selama setahun, pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr.” Ubay bin Ka’b berkata: “Semoga Allah merahmatinya, beliau bermaksud agar orang-orang tidak bersandar (pada malam tertentu untuk mendapatkan Lailatul Qadr, Pen), walaupun beliau sudah tahu bahwa malam (Lailatul Qadr) itu di bulan Ramadhan, dan ada pada sepuluh malam terakhir, dan pada malam yang ke dua puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’b bersumpah tanpa istitsna’ [19], dan yakin bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh. Aku (Zirr) berkata: “Dengan apa (sehingga) engkau berkata demikian, wahai Abu Al Mundzir? [20]” Beliau berkata: “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu (matahari) terbit (pada pagi harinya) tanpa sinar (yang terik)”.[21]

Juga hadits Abdullah bin Umar:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْمَنَامِ فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ, فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ)).

"Dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang sahabat Nabi diperlihatkan (mimpi) Lailatul Qadr pada tujuh malam terakhir, lalu Rasulullah bersabda: “Aku kira mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Maka barangsiapa yang ingin mendapatkannya, carilah pada tujuh malam terakhir" [22].

Demikian pula hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ)).

"Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dari Nabi dalam (masalah) Lailatul Qadr bersabda: “Lailatul Qadr pada malam ke dua puluh tujuh" [23]

Ibnu Katsir berkata: “Dan ini (Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh tujuh) adalah pendapat sebagian ulama salaf, pendapat madzhab Ahmad bin Hanbal, dan riwayat dari Abi Hanifah. Juga telah diriwayatkan dari sebagian Salaf, mereka berusaha mencocokkan malam Lailatul Qadr dengan malam yang ke dua puluh tujuh dengan firman Allah ( هِيَ) . Karena, kata ini adalah kata yang ke dua puluh tujuh dari surat Al Qadr. Wallahu a’lam”. [24]

9. Pada Malam Ke Dua Puluh Sembilan Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abu Hurairah, berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى.

"Sesungguhnya Rasulullah bersabda tentang Lailatul Qadr: “Sesungguhnya malam itu malam yang ke (dua puluh) tujuh atau ke dua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)" [25].

Juga hadits ‘Ubadah bin Shamit:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ, أَنَّهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((فِيْ رَمَضَانَ, فَالْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ, فإِنَّهَا فَيْ وِتْرٍ, فِيْ إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ, أَوْ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنِ, أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ, فَمَنْ قَامَهَا ابْتِغَاءَهَا إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ)).

"Dari Ubadah bin Ash Shamit, beliau bertanya kepada Rasulullah tentang Lailatul Qadr, maka Rasulullah bersabda: “Di bulan Ramadhan. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir. Karena malam (Lailatul Qadr) itu (terjadi) pada malam-malam ganjil, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam (bulan Ramadhan). Barangsiapa yang menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh harapan (pada Allah) kemudian dia mendapatkannya, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang" [26].

10. Pada Malam Terakhir Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Ubadah bin Ash Shamit [27] di atas, dan hadits Abu Bakrah:

عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ.

"Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata: “Ayahku telah mengkhabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang Lailatul Qadr kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam Lailatul Qadr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata: ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadhan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’,” berkata Abdurrahman: “Dan Abu Bakrah shalat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadhan seperti shalat-shalat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun, tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh" [28].

Hadits yang serupa telah diriwayatkan dari Mu’awiyah [29].

Inilah waktu-waktu yang diterangkan di berbagai kitab-kitab tafsir maupun hadits. Jika kita perhatikan, banyak hadits-hadits shahih yang menerangkan, bahwa kemungkinan terbesar terjadinya Lailatul Qadr ialah malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam ke dua puluh satu dan dua puluh tujuh.

Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata: "Tidak pernah ada ketentuan (pembatasan) yang memastikan waktu terjadinya malam itu (Lailatul Qadr) pada bulan Ramadhan. Para ulama telah banyak membawakan pendapat (perkataan) dan nash-nash. Di antara perkataan (para ulama) tersebut ada yang sangat umum. (Bahwa Lailatul Qadr) mungkin terjadi pada setahun penuh, akan tetapi ini tidak mengandung hal yang baru. Perkataan ini dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud, tetapi (sebetulnya) maksudnya ialah (agar manusia) bersungguh-sungguh (dalam mencarinya). Ada yang mengatakan bahwa malam itu (mungkin) terjadi pada bulan Ramadhan seluruhnya. (Mereka) berdalil dengan keumuman nash-nash Al Qur`an. Ada pula yang berkata, Lailatul Qadr mungkin terjadi pada sepuluh malam terakhir. Pendapat ini lebih khusus dari sebelumnya. Dan ada yang berpendapat, malam itu terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut. Maka dari sini, ada yang berpendapat pada malam ke dua puluh satu, ke dua puluh tiga, ke dua puluh lima, ke dua puluh tujuh, ke dua puluh sembilan, dan malam terakhir, sesuai dengan masing-masing nash yang menunjukkan terjadinya Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut. Akan tetapi, yang paling mashur dan shahih (dari nash-nash tersebut) adalah pada malam ke dua puluh tujuh dan dua puluh satu… (Dengan demikian), apabila seluruh nash yang menerangkan Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut semuanya shahih, maka besar kemungkinan Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil tersebut. Dan bukan berarti malam Lailatul Qadr tersebut tidak berpindah-pindah, akan tetapi (ada kemungkinan), dalam tahun ini terjadi pada malam ke dua puluh satu, dan pada tahun berikutnya pada malam ke dua puluh lima atau dua puluh tujuh, dan pada tahun yang lainnya lagi terjadi pada malam ke dua puluh tiga atau dua puluh sembilan, dan begitulah seterusnya. Wallahu a’lam"[30]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Dan hal ini ada hikmahnya, sesuai dengan hadits yang telah berlalu dalam Shahih Al Bukhari (2/711 no.1919 & 5/2248 no.5705) dari Ubadah bin Shamit: (وَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْراً لَكُمْ), “dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian”, sehingga Ibnu Katsir berkata: “Maksudnya adalah ketidaktahuan kalian terhadap kapan terjadinya Lailatul Qadr itu lebih baik bagi kalian, karena hal itu membuat orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkannya akan berusaha dengan sungguh-sungguh beribadah di setiap kemungkinan waktu terjadinya Lailatul Qadr tersebut, maka dia akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah. Lain halnya jika waktu Lailatul Qadr sudah diketahui, kesungguhan pun akan berkurang dan dia akan beribadah pada waktu malam itu saja”. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim (8/451).
[2]. Al Hafizh Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari (4/262-266) membawakan lebih dari empat puluh lima pendapat ulama yang berkaitan dengan keterangan kemungkinan waktu-waktu terjadinya Lailatul Qadr.
[3]. Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447). Dan kami tidak mendapatkan atsar yang menerangkan hal ini, kecuali apa yang telah dinukilkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari (4/263) dari Ibnu Abi Ashim dari Anas berkata: “Lailatul Qadr adalah malam pertama di bulan Ramadhan”.
[4]. Di dalam tafsirnya (8/447).
[5]. Hadits marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan,perbuatan, pernyataan, ataupun sifat beliau.
[6]. Hadits mauquf adalah hadits yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi, baik berupa perkataan,perbuatan, atau pernyataan.
[7]. Sunan Abu Dawud (2/53 no.1384). Dan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini. (Lihat Dha’if Sunan Abi Dawud).
[8]. Al Anfaal:41.
[9]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447) dan Fathul Bari (4/263).
[10]. HR Al Bukhari (1/280 no.780, 2/709 & 710 no.1912 & 1914, 2/716 no.1931) dan Muslim (2/826 no. 1167), dan lain-lainnya.
[11]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447).
[12]. Muslim (2/826 no. 1167), dan Al Muwatha’ (1/320)
[13]. Musnad Ath Thayalisi (1/288).
[14]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447).
[15]. Musnad Imam Ahmad (6/12), dan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini (Lihat Dha’if Al Jami’ no.4957).
[16]. HR Al Bukhari (4/1621)
[17]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448), dan lihat juga tafsir beliau pada surat Al Baqarah ayat 185 (Tafsir Al Quran Al Azhim (1/505).
[18]. HR Al Bukhari (2/711 no.1917), Abu Dawud (2/52 no.1381), Ahmad (1/231 no.2052, 1/279 no.2520, 1/360 no.3401, 1/365 no.3456), dan lain-lainnya.
[19]. Bersumpah tanpa istitsnaa’ adalah bersumpah dengan tidak menyebutkan kata “Insya Allah” setelahnya.
[20]. Kunyahnya Ubay bin Ka’b. (Lihat Taqrib At Tahdzib hal:120).
[21]. HR Muslim (2/828 no.762), Abu Dawud (2/51 no.1378), At Tirmidzi (3/160 no.793 dan 5/445 no.3351), Ahmad (5/130 no.21231).
[22]. HR Muslim (2/822 no.1165), Ahmad (2/8 no.4547, 2/27 no.4808, 2/157 no.6474) dan dishahihkan Al Albani (Shahih Al Jami’ no.2920).
[23]. HR Abu Dawud (2/53 no.1386). Dan Hadits ini dishahihkan Al Albani (Lihat Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Al-Jami no.1240).
[24]. Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448), dikatakan pula bahwa kata ( لَيْلَةُ الْقَدْرِ ) ada sembilan huruf, dan kata ini terdapat dalam surat Al Qadr sebanyak tiga kali pengulangan, maka jumlah keseluruhan hurufnya ada dua puluh tujuh, maka itulah malam Lailatul Qadr. (Lihat Adhwa’ Al Bayan 9/37).
[25]. Musnad Ahmad (2/519 no.10745 dan 2/529 no.10860), Shahih Ibnu Khuzaimah (3/332 no.2194), Musnad Ath Thayalisi (1/332 no.2545). Dan Al Albani menghasankan hadits ini. (Lihat Shahih Al Jami’ no.5473, dan Silsilah Ash Shahihah 5/240).
[26]. HR Ahmad (5/318, 321, 324 no.22675, 22793, 22815 dan 22817).
[27]. Ibid.
[28]. HR At Tirmidzi (3/160 no.794), An Nasa’i di As-Sunan Al Kubra (2/273 no.3403, 3404), Ahmad (5/36 no.20392, 5/39 no.20420), Ibnu Hibban di Shahihnya (8/442 no.3686), Al Hakim di Al Mustadraknya(1/604 no.1594), dan lain-lainnya. Dan hadits ini dishahihkan Al Albani. (Lihat Shahih Sunan At Tirmidzi, Shahih Al Jami’ no.1243).
[29]. Shahih Ibnu Khuzaimah (3/330 no.2189). Dan hadits ini dishahihkan Al Albani. (Lihat Shahih Al Jami’ no.1238).
[30].Adhwa’ Al Bayan (9/35-36). Syaikh Al Utsaimin pernah ditanya: ”Apakah malam lailatul qadar tertentu pada satu malam ataukah berpindah-pindah (berubah-ubah pada setiap tahunnya) dari satu malam ke malam yang lainnya?”, beliaupun menjawab dengan jawaban yang serupa dengan perkatan Syaikh Asy Syinqithi dalam tafsirnya tersebut, yaitu berpindah-pindah/berubah-ubah pada setiap tahunnya. Wallahu a’lam. (Lihat Majmu’ Fatawa Lajnah Da’imah: 14/228-229).
Ibnu Katsir juga membawakan pendapat ulama dalam masalah ini secara panjang lebar. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim: 8/450).

Oleh :Ustadz Arief B bin Usman Rozali
almanhaj.or.id
Rabu, 24 Agustus 2011

Artikel berkaitan :Tanda-tanda Lailatul Qadr

Monday, August 22, 2011

Antara tanda-tanda malam Lailatul Qadar

Kubah di Kuala Ibai
Ada pelbagai pendapat mengenai tanda-tanda malam Lailatul Qadar, dari yang benar hinggalah yang diada-adakan. Ada beberapa perkara yang didakwa berlaku pada malamnya, yang mungkin pernah kita dengar dari mereka-mereka yang mendakwa bertemu dengan Lailatul Qadar atau dari penceritaan semula. Di antaranya ialah pokok tunduk atau sujud, ikan di laut bergelimpangan di atas tanah, air sungai berhenti mengalir, malam yang sangat tenang dan sebagainya.


Menurut Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, "Pendapat terpilih berdasarkan himpunan dalil-dalil bahawa, dijadikan Lailatul Qadar itu tetap berlaku pada malam sepuluh akhir Ramadhan, kemudian pada malam ganjilnya, tidak ditetapkan melalui tanda-tandanya yang khusus, sebagaimana petunjuk dalil-dalilnya yang jelas. (Fathul Bari, 4/260)

Di dalam Kitab Fath al-Bari fi Syarh Sahih al-Bukhari menyebutkan ada 46 pendapat ulama mengenai bila berlakunya Lailatul Qadar.

Menurut Imam Syafie, Lailatul Qadar termasuk dalam 10 hari yang terakhir Ramadhan, pada malam yang ganjil iaitu malam ke 21. Imam Tirmizi menyatakan dalam kitabnya Sunan Tirmizi, bahawa Imam Syafie menyatakan; “Dan riwayat (hadis) yang paling kuat di antara hadis-hadis (tentangnya) pada pandanganku ialah ia pada malam dua puluh satu”. (Tuhfatul Ahwazi, juz 3, m/s 424).

Imam Abdul Razzaq telah meriwayatkan dalam kitabnya al-Musonnaf, bahawa Saidina Umar pernah memanggil para sahabat untuk membincangkan bilakah malam lailatul qadar, dan akhirnya mereka sepakat bahawa ia adalah pada sepuluh malam yang terakhir.

Berikut ini adalah tanda-tanda malam Lailatul qadar menurut hadith-hadith dan apa yang berlaku pada sahabat.

1 - Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lazatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lain.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Surah AlQadr)


2 - Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan)

Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan)” (Hadith Riwayat at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)


3 - Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari Ubay bin Ka’ab r.a, bahawasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar..” (Hadith Riwayat Muslim)


6 - Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairah r.a pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapakah dari kalian yang masih ingat apabila bulan muncul, yang berukuran separuh dulang.” (Hadith Riwayat Muslim)

5 - Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas r.a berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul qadar adalah malam tenteram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang matahari terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadith hassan)

6. Kadang-kadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang kadang-kadang dialami oleh sebahagian sahabat Nabi radhiallahu ’anhum.


Syeikh Yusuf Khattar Muhammad menyatakan hikmah tidak ditentukan Lailatul Qadar secara jelas adalah supaya kita sentiasa melakukan ibadah kepada Allah pada setiap malam dalam bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam yang terakhir.

“Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir. Namun jika salah seorang dari kamu tidak mampu, maka jangan sampai terlepas pada hari ketujuh yang terakhir.” (Hadith Riwayat Muslim)

Aisyah r.a mengatakan : " Rasulullah ShallAllahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang ertinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan" " (Hadith Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)




Rujukan:

1 - Al-Nafahat al-Nuraniyah fi Fadhail al-Ayyam wa al-Layali wa al-Syuhur al-Qomariyah - Syeikh Yusuf Khattar Muhammad.

2 - Fath al-Bari bi Syarh Sohih al-Bukhari - Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin hajar al-Asqolani.

3 - Buletin al-madina edisi 390

unikversiti.blogspot.com

Sabtu, 6 Ogos 2011



Saturday, August 20, 2011

LAILAT AL-QADR




إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ القَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَىكَ مَا لَيْلَةُ القَدْرِ (2) لَيْلَةُ القَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الفَجْرِ (5)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. ( Al-Qadr : 1-5)"

Pengajaran Ayat :

1. Berdasarkan ayat (1) di atas Al-Quran diturunkan pada malam Lailat Al-Qadr. Malam tersebut sangat mulia sehingga mendapat gelaran ( سَيِّدَةُ الَّيَالِي ) : Penghulu Semua Malam.

Ayat ini ditafsirkan oleh ayat (3) suarah Al-Dukhan:

( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ) :

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang diberkati.
Lailat Al-Qadr penuh berkat bermakna : pada malam itu ganjaran akan dilipat gandakan oleh Allah setiap amal soleh yang dilakukan oleh seseorang.

Berdasarkan ayat (3) diatas “Lailat Al-Qadr“ lebih baik dari 1000 bulan atau hampir 84 tahun. Sungguh istimewa ganjaran sesiapa yang memperolehi malam tersebut. Itulah sebabnya pertanyaan tentang malam tersebut menggunakan istilah (وَمَا أدْرَىكَ ) : Dan tahukah kamu ?

Menurut disiplin Ilmu Tafsir segala pertanyaan dalam bentuk tersebut : mesti membawa makna hebat dan istimewa ;

seperti ( وَمَا أَدْرَىكَ مَا القَارِعَة ) : Dan tahukan kamu apakah itu Hari Kiamat itu ?

( وَمَا أَدْرَىكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ ) : Dan tahukan kamu apakah itu Hari Pembalasan itu ?


Kalau ( لَيْلَةُ ) maksudnya Malam, lalu apakah makna ( القَدْرُ ) ?

Ada tiga makna Al-Qadr

1. Kemuliaan ;

2. Sempit ;

3. Penentuan Taqdir.

1. Malam Kemuliaan ; Sungguh tepat jika malam tersebut dikatakan sebagai malam kemuliaan. Malam tersebut adalah malam yang diberkati Allah ( إنَّا أنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ) sebagaimana Allah SWT nyatakan tentangnya dalam ayat 3 Surah Al-Dukhan. Lihat Nota 038 : Nuzul Al-Quran. Ia digelar sebagai Penghulu Semua Malam. Segala yang bergelar penghulu pasti membawa makna istimewa dan hebat, sebagaimana istilah Penghulu Ayat Al-Quran untuk Ayat Al-Kursi ; Nabi Muhammad SAW Penghulu Semua Nabi dan Rasul ; Ramadhan Penghulu Semua Bulan ; Jumaat Penghulu Semua Hari dalam seminggu ; Hari Arafah Penghulu Semua Hari dalam setahun ; Jibrail Penghulu Semua Malaikat dan lain-lain. Oleh sebab itu, sesiapa yang menginginkan kemuliaan hendaklah bersungguh-sungguh mendapatkan Lailat Al-Qadr pada 10 Akhir Ramadhan.

2. Malam Yang Sempit ; Menurut bahasa Arab diantara makna perkataan ( القَدْرُ ) adalah sempit. Ini sebagaimana firman Allah : ( اللهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ) : Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia (pulalah yang) menyempitkannya (Al-Ra’d : 26) ; Mengapa Malam Lailat Al-Qadr dikatakan sebagai malam yang sempit ? Sebanya ialah kerana pada malam itu sungguh banyak malaikat turun dari langit, sehingga tidak ada ruang dipermukaan bumi yang kosong melainkan diisi sepenuhnya oleh para malaikat. Hakikat ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya ( تَنَزَّلُ المَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ ). Setiap tempat yang dipenuhi atau dihadiri oleh para malaikat pasti diberkati Allah SWT dan dijanjikan ganjaran pahala yang berlipat ganda.

Bandingkan antara fadhilat amalan yang dilakukan di rumah dengan di masjid ;

Mengapa majlis ilmu dikatakan sebagai Taman Syurga ; Kelebihan tersebut ada kaitannya dengan kehadiran malaikat yang sangat ramai ditempat-tempat tersebut. Jadi disebabkan oleh bilangan malaikat yang turun dari langit sangat ramai sehingga memenuhi permukaan bumi, maka setiap amal soleh yang dilakukan pada malam itu akan dilipat-gandakan oleh Allah SWT melebihi ibadat yang dilakukan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan.


3. Malam Penentuan Taqdir ; Perkataan Al-Qadr mempunyai kaitan yang sangat rapat dengan Taqdir. Menurut keyakinan kita bahawa setiap manusia sudah ditulis taqdirnya sejak azaliy, apakah yang baiknya atau yang buruknya.

Menurut Rasulullah SAW bahawa taqdir setiap manusia telah ditulis oleh Qalam (pen) atas perintah Allah SWT sejak 50.000 tahun sebelum Allah SWT mencipta langit dan bumi.


Sayogia dimaklumi bahawa Taqdir Manusia terbagi dua, iaitu :

1. ( تَقْدِيْر مُبْرَم ) : Taqdir Mubram dan

2. ( تَقْدِيْر مُعَلَّق ) : Taqdir Mu’allaq.


Taqdir Mubram : Taqdir yang pasti dan tidak akan berubah seperti setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian.


Taqdir Mu’allaq : Taqdir yang tergantung. Taqdir jenis ini akan menimpa makhluk sesuai dengan masa atau ketika yang telah ditetapkan oleh Allah. Taqdir jenis ini boleh dirubah oleh Allah SWT atas permintaan manusia seperti memohon panjang umur, mohon hidup bahagia, mohon rumah tangga aman dan harmoni, mohon agar anak lulus peperiksaan dengan cemerlang dan lain-lain.

Hakikat ini tergambar dalam firman Allah :

( تَنَزَّلُ المَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ) :

"Turunlah para malaikat dan roh (Jibrail) pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur urusan manusia "
.
Jadi maksudnya : Pada Malam Lailat Al-Qadr para Malaikat akan menulis Taqdir Manusia dari jenis Taqdir Mu’allaq untuk setahun akan datang.


5. Atas sebab itulah sudah menjadi amalan tetap Rasulullah SAW beliau bersungguh-sungguh menekuni masjid atau I’tikaf selama 10 Akhir Ramadhan. Baginda SAW akan bangunkan ahli keluarganya untuk sama-sama beribadat kepada Allah SWT.

Masa inilah yang paling tepat jika kita ingin memohon kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Sila renung Nota berikutnya : I’tikaf 10 Akhir Ramadhan. Walaupun Rasulullah SAW banyak beribadat kepada Allah sepanjang tahun, namun pada 10 Akhir Ramadhan baginda SAW akan lebih bersungguh-sungguh lagi mendekatkan dirinya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Baginda SAW berbuat demikian, padahal baginda SAW telah dijamin masuk syurga. Bagaimana dengan kita ? Kita semua sebagai umatnya akhir zaman belum ada jaminan masuk syurga. Seharusnya kesungguhan kita beribadat kepada Allah, khasnya memohon kebaikan pada 10 Akhir Ramadhan melebihi kesungguhan Rasulullah SAW.

Antara doa yang diajar oleh Nabi SAW ialah : ( اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ) : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh sebab itu ampunkanlah dosa-dosaku.

Sesetengan ulama menyarankan agar kita selalu membaca doa ( اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ المُوَفَّقِيْنَ بِلَيْلَةِ القَدْرِ ) : Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang layak mendapat Lailat Al-Qadr.

NOTE : I’tikaf 10 Akhir Ramadhan bimbingan Ustaz Dr. Abdullah Yasin akan diadakan di Masjid Nahdhah Al-Diniyah – Kg. Malaysia Tambahan – Sg. Besi – Kuala Lumpur bermula hari ini 19hb Ogos hingga 28hb Ogos dengan ketentuan berikut : Setiap malam genap seperti malam ini 19hb Ogos/Ramadhan malam 20 Ramadhan bermula dengan qiyam pada jam 3.00 pagi hingga Subuh. Dan setiap malam ganjil seperti esok 20hb Ogos/ Ramadhan malam 21 Ramadhan bermula dari berbuka puasa Maghrib hingga Subuh. Makan minum selama program I’tikaf disediakan. Semua Muslim dan Muslimat dijemput hadir. Ingat ! Tiada jaminan setiap kita akan menemui Ramadhan akan datang. Oleh itu, jadikanlah Ramadhan tahun ini lebih baik daripada Ramadhan sebelumnya. Amin.


by Abdullah Yasin on Friday, August 19, 2011

Thursday, August 18, 2011

Malam al-Qadar (Lailatul Qadar) Di Bulan Ramadhan


Keutamaan Lailatul Qadar sangat besar kerana malam tersebut menyaksikan turunnya al-Qur’an al-Karim, iaitu kitabullah yang menjadi petunjuk bagi mereka yang berpegang dengannya kepada jalan kemuliaan dan mengangkat ke darjat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak perlu mengguna pakai tanda-tanda tertentu dan tidak pula memasang lampu-lampu pelita untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka wajar untuk berlumba-lumba bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Berikut ini adalah di antara keutamaan malam Lailatul Qadar berdasarkan dalil-dalil yang sahih.

1. Keutamaan Lailatul Qadar (Malam al-Qadar)

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahawasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan dan merupakan malam yang diberkahi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an pada malam al-Qadar, tahukah engkau apakah malam al-Qadar itu? Malam al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk mengatur) segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sehingga terbit fajar.” (al-Qadar, 97: 1-5)

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yagn penuh hikmah:

“Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (ad-Dukhan, 44: 3-6)

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahawa malam tersebut terjadi pada tanggal malam ke 21, 23, 25, 27, 29 dan malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang terdapat dalam masalah ini berbeza-beza, Imam al-Iraqi telah mengarang suatu risalah khusus yang diberi judul Syarhush Shadr bi Dzikri Lailatil Qadar yang membawakan perkataan para ulama berkaitan permasalahan ini)

Imam asy-Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab bertepatan dengan yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Adakah kami mencarinya di malam ini?” Beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut”.”

Pendapat yang paling kuat, terjadinya Lailatul Qadar itu pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/225) dan Muslim (1169))

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sehingga terluput dari tujuh hari terakhir, kerana riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari yang selebihnya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/221) dan Muslim (1165))

“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh hari terakhir.”

Telah diketahui di dalam as-sunnah, pemberitahuan ini wujud adalah kerana pada masa itu berlaku perselisihan di antara para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada malam al-Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda:

“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kamu berkenaan Lailatul Qadar, tetapi ada dua orang sedang berselisih sehingga pengetahuan berkenaannya tidak diberikan. Mudah-mudahan ini lebih baik bagi kamu, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, pada malam ke tujuh, sembilan dan lima).” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/232))

Telah banyak hadis yang mengisyaratkan bahawa Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadis yang pertama sifatnya umum, manakala hadis kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan ada beberapa hadis yang lain turut menjelaskan bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan dan yang ini terikat kepada yang mengalami ketidakmampuan dan kelemahan, sehingga tidak ada masalah. Makanya, di sini hadis-hadis yang berkaitan adalah saling bersesuaian dan tidak bertentangan.

Kesimpulannya, jika seorang muslim ingin mencari Lailatul Qadar, maka carilah ia pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, 21, 23, 25, 27 dan 29. Sekiranya tidak berupaya mencarinya pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam-malam ganjil tujuh hari terakhir iaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.

3. Bagaimana Mencari Lailatul Qadar

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang terhalang dari mendapatkannya, maka bererti dia telah terhalang dari seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah terhalang dari kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang rugi. Oleh kerana itu dianjurkan bagi kaum muslimin (agar) bersemangat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan terhadap pahala-Nya yang besar, jika telah berbuat demikian niscaya akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa berdiri (solat) pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/217) dan Muslim (759))

Disunnahkan untuk memperbanyakkan do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahawa dia bertanya,
“Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mendapat Lailatul Qadar (mengetahui terjadinya), apa yang mesti aku ucapkan?” Beliau menjawab,

“Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Sanadnya sahih)

Semoga Allah memberkati dan memberi taufiq kepada kita dalam usaha mentaati-Nya. Berdasarkan beberapa penjelasan tadi, maka kita telah mengetahui serba sedikit bagaimana keadaan Lailatul Qadar dan keutamaannya untuk berusaha mendapatkannya. Maka wajarlah kita berusaha untuk bangun (menegakkan ibadah, solat, dan berdoa) pada sepuluh malam-malam yang terakhir. Bersungguh-sungguhlah dalam menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi hubungan suami isteri. Juga perintahkanlah kepada keluarga kita untuk tujuan yang sama iaitu memperbanyakkan perbuatan ketaatan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam apabila memasuki sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau memperkuatkan ikatan kainnya sambil menghidupkan malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari (4/233) dan Muslim (1174))

Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (dalam beribadah) apabila telah masuk sepuluh malam terakhir yang tidak beliau lakukan pada malam-malam pada bulan selainnya.” (Hadis Riwayat Muslim (1174))

4. Tanda-Tandanya

Mudah-mudahan Allah membantu kita dengan pertolongan-Nya dalam memahami datangnya malam al-Qadar. Dalam hal ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menggambarkan (menyifatkan) paginya Lailatul Qadar agar seseorang muslim dapat mengetahuinya.

Dari ‘Ubai radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Pagi hari (setelah) Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan (tanpa sinar), seakan-akan ia bejana sehinggalah ia meninggi.” (Hadis riwayat Muslim (762))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda:

“Siapa di antara kalian yang masih ingat ketika terbit bulan yang ianya seperti syiqi jafnah (separuh mangkuk).” (Hadis Riwayat Muslim (1170). Kalimat syiqi jafnah, syiq membawa erti setengah, jafnah pula ertinya bejana. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Dalam hadis ini menunjukkan isyarat bahawa Lailatul Qadar hanya di akhir bulan, kerana bulan tidak akan berbentuk (berupa) sedemikian rupa ketika terbit melainkan ketika di akhir-akhir bulan”)


Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Malam al-Qadar adalah malam yang indah penuh kelembutan, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Manakala pada keesokan harinya sinar mataharinya kelihatan melemah kemerah-merahan.” (Hadis Riwayat ath-Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), al-Bazzar (1/486) dan sanadnya hasan)


http://fiqh-sunnah.blogspot.com