Showing posts with label Renungan dan Nasihah. Show all posts
Showing posts with label Renungan dan Nasihah. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

Berhati-hatilah Dengan Tentara Allah


Berhati-hatilah Dengan Tentara Allah

Aisyah ra pernah terkagum-kagum melihat seorang ibu yang baru saja diberinya tiga potong roti , dengan penuh kasih sayang oleh ibu tesebut dua potong roti yang diterimanya itu diberikan kepada kedua anaknya yang sedang kelaparan , dalam sekejap roti itu habis dilahap , karena masih lapar mereka minta bagian ibunya yang sekeping itu , apa yang dilakukan oleh sang ibu benar-benar mengagumkan , ia bagi sepotong roti itu menjadi dua bahagian dan memberikannya kepada kedua anaknya , sang ibu rela melepaskan bahagiannya demi anak-anak kesayangannya.

Peristiwa ini diceritakannya kepada Rasulullah Saw  . Maka secara singkat Rasulullah Saw memberi komentar bahwa “ Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anak-anaknya.”

Ya , memang Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini tak akan terwujud , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini sudah lama ditutup , bagaimana tidak . . . sedang manusia yang diamanahi untuk memelihara kelestarian bumi ini justeru membuat ulah merusak , bahkan tanpa malu-malu menentang Tuhan.

Penentangan manusia terhadap Allah Swt dilakukan secara terang-terangan , baik berupa pemikiran maupun perbuatan . Penyimpangan aqidah telah terjadi diseganap penjuru , pelanggaran syari’ah menjadi lumrah dan kerusakan akhlak jadi tontonan sehari-hari.

Kita tahu bahwa segala benda alam ini adalah milik Allah Swt dan sekaligus tentara-tentara-Nya yang sewaktu-waktu akan digerakkan sesuai kehendak-Nya . Air hujan yang selalu dinantikan kedatangannya oleh segenap manusia , bisa berubah menjadi bencana besar yang menelan korban ribuan manusia , sekali sapu ribuan hektar tanah tenggelam bersama isinya , semua bisa hanyut seketika. Api adalah juga tentara Allah, api memang bermanfaat besar bagi umat manusia , industry kecil dan industry besar tak akan jalan tanpa peran energy api ini. Akan tetapi bila Allah Swt menggerakkan api maka gedung pencakar langitpun bisa hangus dalam waktu yang tidak lama , hutan berjuta juta hektar bisa gundul dimakan api kebakaran.

” Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” ( QS Al-An’aam : 44 )

Rasulullah Saw bersabda : “ Bagaimana kamu jika dilanda oleh lima perkara ? , kalau aku ( Rasulullah Saw ) , aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya .

Yang pertama ; jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu .

Yang kedua ; Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan, kalaulah bukan karena binatang-binatang ternak tentulah hujan tidak akan diturunkan sama sekali.

Yang Ketiga ; Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezholiman penguasa.

Yang keempat ; Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka.

Yang kelima ; jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi maka Allah akan menjadikan permusuhan diantara mereka . “ ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah )

Hadits diatas menjelaskan kepada kita hubungan antara kemaksiatan kepada Allah dengan berbagai musibah yang akan ditimpakan kepada manusia . Ribuan peristiwa yang kita baca , kita dengar dan kita lihat lewat media informasi ternyata menguap begitu saja tanpa menimbulkan kesan dan menjadi buah pelajaran , apalagi membuahkan hikmah .

Ini terjadi bukan karena manusia buta matanya , tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kebutaan mata hati, mereka tukar kebenaran dengan kesenangan sesaat , mereka tinggalkan jalan petunjuk menuju jalan kesesatan .

“ Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” ( QS Al-Baqarah : 17 – 18)

Tuesday, February 26, 2013

Tujuh ciri-ciri penghuni Syurga..

 
 
 
MANUSIA akan memperoleh ganjaran setimpal berdasarkan usaha atau amalan dilakukannya baik perkara kecil atau besar yang tergolong dalam perbuatan yang baik dan buruk. Orang Mukmin yang taat adalah golongan yang mendapat kemuliaan dan kasih sayang Allah dan dijanjikan sebagai penghuni syurga bernama Firdaus yang kekal di dalamnya. 
 
Tujuh ciri dimiliki golongan ini dinyatakan Allah dalam surah al-Mukminun, ayat 1 hingga 11. Ciri itu ialah:

1)Khusyuk dalam menunaikan solat
Insan yang Mukmin mampu melaksanakan solat dengan khusyuk sesuai dengan keteguhan dan kemantapan iman dimilikinya. Pengertian khusyuk mencakupi seseorang itu memahami apa yang dibaca dan dilakukannya dalam solat.
Menurut Imam al-Ghazali, dalam khusyuk itu juga harus ada rasa takut kepada Allah. Sembahyang yang dikerjakan dengan khusyuk adalah syarat pertama untuk mewarisi syurga Firdaus


2)Memelihara diri daripada perbuatan yang tiada berguna
Seseorang yang benar-benar mukmin tidak akan membiarkan masa berlalu dengan tidak melakukan perkara berfaedah


3)Menunaikan zakat
Seorang Muslim sejati akan rela dengan ikhlas menunaikan kewajipan zakatnya tanpa wujud paksaan, lantaran sedar bahawa hartanya sudah memenuhi syarat untuk berzakat
Selain itu, dia sedar bahawa pada harta miliknya itu ada hak orang lain yang harus diberikan, terutama hak fakir miskin. Hartanya yang sebenar hanyalah harta yang tinggal selepas dikeluarkan zakatnya

4)Memelihara kehormatan
Orang mukmin berjaya akan menghindarkan diri daripada melakukan penyimpangan dalam hal seksual dan tidak mendekati zina. Dia tidak akan berlaku serong dan hanya menyalurkan keinginan syahwat (persetubuhan) melalui jalan halal dengan pasangan sah.


5)Melaksanakan amanah
Seseorang mukmin yang diberi kepercayaan akan menunaikannya dengan baik kerana kepercayaan itu adalah penghormatan paling berharga baginya.


6)Memenuhi janji
Islam mengajar bahawa setiap janji mesti ditunaikan kerana janji itu ibarat hutang. Lantaran itu ia perlu dibayar. Segala sesuatu yang dijanjikan perlu dipenuhi kerana yang demikian adalah ciri Mukmin berjaya.

7)Memelihara solat
Solat pada pandangan Mukmin sejati paling penting. Jadi, solat mereka cukup terpelihara, sehingga dapat dilaksanakan dengan begitu baik lagi sempurna. Waktu solat dijaga dengan baik seperti solat pada awal waktu. Begitu juga dengan rukun dan pelbagai syarat lainnya yang mana semuanya itu sangat diberi perhatian


kredit to :Mirra Amira

Saturday, October 20, 2012

Apabila perbuatan syirik diredhai



Delegasi Pas bersama bishop Sebastian


Tugas Para Nabi Dan Rasul

Untuk apa setiap Nabi dan Rasul diutus kepada setiap umat manusia sejak terciptanya Adam as? Dari belayarnya Nuh as hingga hijrahnya Rasulullah saw: semuanya menegakkan sebuah panji yang sama walaupun zaman mereka berbeza. Telah Allah sebutkan tugas utama setiap Nabi dan Rasul yang Dia utus dalam kitab suci: “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat (untuk mengatakan): ‘sembahlah Allah dan jauhilah thoghut” (An Nahl 36).

Renunglah kisah Nabi Muhammad saw. Diusir dari Thaif dengan hujan batu hingga darah mengalir sampai membentuk bekas-bekas tapak kaki. Dipulau oleh masyarakat sehingga terpaksa makan akar kayu. Dikejar dengan kuda saat meninggalkan kampung halaman menuju Yatsrib. Hidupnya dipenuhi pergolakan dan peperangan. Pendek kata tidak ada masa santai seperti kita, jauh sekali punya masa untuk melawat dan kembara, melancong ke sana sini.

Itu belum lagi kita menghitung jumlah sahabat baginda yang gugur dalam medan tempur. Mereka perang melawan orang yang mereka kenali. Ada yang berpedang melawan teman karib dan jiran tetangga, ada yang memanah bapa saudara dan sepupu, malah ada yang menebas leher anak dan bapa sendiri. Bunuh dan terbunuh mereka hanyalah untuk sebuah kata: “Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selainNya”. (Al A’raf:59).


Syirik Lambang Kebodohan

Tidak tega hati Nabi membiarkan Allah Ta’ala disekutukan dengan apapun jua. Mendidih hatinya dan bergetar bibirnya saat melihat berhala disujud, manusia dituhankan dan bulan bintang dipuja. Malah kesyirikan adalah sebuah lambang kebodohan dan kehinaan yang paling nyata. Apakah semua makhluk yang dijadikan tuhan oleh kaum musyrikin itu mampu menghidupkan dan mematikan manusia? Pasti tidak! Justeru terbukti syirik itu lambang kebodohan.

Tatkala Nabi sampai di Yatsrib lalu baginda memansuhkan perayaan kaum musyrikin kemudian  Allah menggantikan dengan dua hari raya yang lebih mulia. Nabi mengingatkan kaum Muslimin agar berbeza dengan kaum Musyrikin kerana mereka itu adalah musuh Allah Ta’ala. Murka Allah atas mereka dan setiap hari kita mencela mereka dalam solat.

Sebuah pesan kepada sahabat baginda yang merupakan anak muridnya dan juga teman seperjuangan baginda; “Tidak boleh ada dua agama di Semenanjung Arab” (Al Muwatha’ Imam Malik)

  Sebuah wasiat kepada seluruh umat Islam betapa bencinya Rasulullah saw terhadap kesyirikan. Tidak ada kompromi untuk Allah dihina dan disekutu oleh sesiapa. Namun manusia bukanlah haiwan yang boleh dibuat sesuka hati. Setiap dari jiwa ini memiliki hak termasuk kaum Musyrikin.

Islam mengiktiraf hak dan perjanjian; pencabulan bererti ingkar kepada Allah dan sebuah sikap khianat. Oleh itu Rasulullah saw menjamin kekebalan para duta dari negara kafir. Ketika tiba deligasi yang dikirim oleh Musailamah al Kazzab maka Rasulullah saw berkata: “Sekiranya para utusan boleh dibunuh, pasti aku akan membunuh kalian berdua” (Sunan Ad Darimi). Justeru pembunuhan Duta Amerika di Libya bukanlah ajaran Islam.

Mahupun kebencian atas kesyirikan mendidih dalam hati Rasulullah saw, seorang utusan diplomatik tetap memiliki hak yang Allah tetapkan: menerima layanan yang baik dan pulang membawa hadiah. Sementara itu Rasulullah saw juga akan mengenakan pakaian yang indah dan menawan. Rumah Ramlah binti Al Harith An Najjariyah diubah menjadi tempat bertamu bagi para delegasi, dinamakan sebagai ‘Dar Ad Dhaifan’ (lihat At Tabaqat karya Ibnu Saad)

Nabi menghantar para utusan ke wilayah di sekitar Semenanjung Arab. Negeri yang bersetuju untuk menganut Islam maka seluruh rakyatnya mendapat hak-hak seorang Muslim. Manakala negeri kafir yang enggan menganut Islam maka wajib membayar ufti tahunan berupa 1 dinar emas (anggaran RM600.00) setiap jiwa. Sementara itu negeri kafir yang menentang akan diperang habis-habisan; tawanan dijadikan hamba, harta-benda dirampas, ternakan dipungut dan negeri tersebut akan dijadikan wilayah Islam.


Hukum Bunuh Untuk Murtad

Tawanan Badar yang tidak mahu menganut Islam perlu membayar wang tebusan seanggaran RM 60,000 sehingga RM 240,000 bergantung kepada taraf sosio-ekonomi tawanan jika mereka ingin lepas bebas. Namun sesudah itu turun wahyu menegur Nabi lantaran mengambil wang tebusan, walhal sepatutnya tawanan ini dibunuh semuanya oleh sebab kebanyakan mereka adalah ketua-ketua penentang Islam di kemudian hari. (lihat Al-Anfaal: 67)

Bagi sesiapa yang sudah menerima Islam sebagai agama dan cara hidupnya, dia memiliki hak atas lima perkara (Maslahah Ad Dharuriyah): (1) agama (2) jiwa (3) akal (4) harta (5) kehormatan dan keturunan. Namun seandainya dia murtad dan tetap tidak mahu kembali insaf dan taubat maka kesemua hak ini akan hilang. Pertamanya dia akan dibunuh dan seluruh hartanya akan dirampas oleh kerajaan.

Ketika Muaz Bin Jabal diutus ke Yaman untuk membantu pentadbiran Abu Musa, dia melihat seorang pesalah yang belum dijatuhkan hukuman. Abu Musa datang lalu menyodorkan kusyen kepada Muaz namun Muaz tidak mahu duduk sebaliknya bertanya: “Siapakah orang ini”? Abu Musa menjawab: “Dahulu dia seorang Yahudi lalu memeluk Islam kemudian menjadi Yahudi semula”. Abu Musa berkata lagi: “Duduklah wahai Muaz”. Namun Muaz tetap tidak mahu duduk lalu berkata: “Aku tidak akan duduk sampai dia dihukum mati”. (lihat Musnad Imam Ahmad dan Sahih Bukhari)

Lihatlah bagaimana para sahabat tidak akan bertoleransi dengan isu mempersekutukan Allah. Mereka tidak redha dengan kesyirikan kerana kesyirikan adalah sebesar-besar kezaliman. Allah menyebutkan dalam Al Qur’an: “Janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah sebesar-besar kezaliman” (Luqman : 13)

Kezaliman seorang penguasa yang memakan rasuah wang berbilion, atau memenjara musuh-musuh politiknya  itu masih tidak dapat menyamai kesalahan mengikat seutas benang hitam kepada anak kecil oleh orang tuanya dengan niat menghalau gangguan jin. Makna kata, kesesatan aqidah lebih zalim dari seluruh kemaksiatan. Seorang yang mengatakan bahawa isteri Rasulullah saw itu pelacur seperti Ajaran Syiah Rafidhah, lebih zalim dari penguasa yang tidak menegakkan hudud.


Menerima Penganut Agama Lain

Walaupun Rasulullah saw membenci kaum musyrikin namun baginda membenarkan pengamalan agama tersebut dengan beberapa syarat antaranya adalah lambang agama mereka tidak dipamerkan tatkala mereka keluar dari kampung halaman mereka. Pengamalan agama hanya dibenarkan di kawasan tempat tinggal mereka sahaja.

Manakala ketika Umar membuka Mesir, beliau menetapkan beberapa peraturan yang kemudiannya menjadi hukum Islam terhadap kafir Zimmi. Ini kerana sunnah Khalifah Ar Rasyidin adalah sebahagian dari sumber hukum. Antaranya adalah kafir Zimmi tidak dibenarkan membaca Al Qur’an, namun diperdengarkan kalam Allah kepada mereka. (lihat Majmu’ Fatawa oleh Ibn Taimiyyah). Lebih terlarang jika orang kafir pula yang membacakan ayat-ayat Al Qur’an untuk diperdengarkan kepada kaum Muslimin, atau memberi tazkirah di dalam masjid dan surau.

Begitu juga Rasulullah saw tidak pernah menghantar surat ‘tahniah’ atas sebuah upacara kesyirikan, malah tidak pernah mengunjungi para paderi atau pendeta untuk mengucapkan tahniah diatas perlantikan. Para sahabat dan tabi’in malah seluruh imam kaum muslimin tidak pernah melakukannya juga. Mereka semua tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk seperti ini; ia ibarat sebuah redha kepada mensyirikkan Allah Ta’ala. Jika perbuatan ini baik, pasti Rasulullah saw dan para salaf telah lakukan.

Terbaru tindakan Dr Mujahid Yusuf Rawa yang mengetuai delegasi PAS dalam kunjungan hormat kepada Bishop Diocese Pulau Pinang, Sebastian Francis yang baharu dilantik. Dalam sesi kunjungan PAS ke Katedral Ruh Kudus ini berlakulah sesi bertukar doa antara ulama’ PAS dan ulama’ Kristian. PAS dan Bishop berdoa agar hubungan Islam – Kristian makin erat. Kemudian PAS memberi hadiah buku dan kek “selamat berjaya” kepada Bishop Sebastian. Pendedahan ini boleh diambil dari laman sesawang kumpulan kristian sendiri: Catholic Lawyers Society Malaysia. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan meredhai syirik dan pelakunya.

Rujuk:  http://www.catholiclawyersmalaysia.org/news/pas-makes-courtesy-call-new-penang-bishop

Penulis adalah Pengkaji Perbandingan Mazhab, Tamadun, Falsafah dan Agama dan juga Setiausaha 1 Sekretariat  iLMU

Sila layari ilmuanmalaysia.com, ilmu-islam.com, dan abuaqifstudio.blogspot.com
Siaran akhbar Sabtu 20 Oktober 2012



Ilmuanmalaysia.com/2012/10/21/musibah-apabila-perbuatan-syirik-diredhai/
Mohd Radzi Othman

Monday, September 17, 2012

IKUTILAH APA SAHAJA YANG BERASAL DARI RASULULLAH




IKUTILAH APA SAHAJA YANG BERASAL DARI RASULULLAH
 

Saudaraku kaum muslimin, ketahuilah! Salah satu sifat utama seorang muslim sejati itu adalah ittiba’ (mengikuti) apa saja yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam perkara ibadah, akhlaknya, aqidahnya, muamalahnya dan dalam perkara apa saja.Hal ini dilakukan sebagai bentuk realisasi firman Allah Ta’ala:

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)! ” (Al-Hasyr: 7)

Makna ayat tersebut di atas dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya sebagai berikut: “Yakni, apa pun yang kalian diperintahkan untuk melakukannya, maka lakukanlah (kerjakanlah)! Dan apapun yang kalian dilarang untuk mengerjakannya, maka jauhilah! Kerana sesungguhnya baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memerintahkan dengan kebaikan, dan hanya melarang kalian dari kejahatan@fasad.”Demikianlah! Sejalan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala tersebut di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga menegaskan:

“Apabila aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara, maka kerjakanlah semampu kalian! Dan apa saja yang aku larang kalian dari mengerjakannya, maka jauhilah (tinggalkanlah)!” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagai contoh penerapan ayat Al-Qur’an dan hadits tersebut di atas, diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallah bahwa Ibnu Mas’ud pernah berkata (ketika mengajarkan ilmu agama ini kepada para sahabat dan tabi’in yang hidup di jaman itu, pent.):

“Allah melaknat para wanita yang membuat tahi lalat palsu (Al-Waasyimaat), dan wanita yang meminta untuk dibuatkan tahi lalat palsu (Al-Mustausyimaat), (dan juga melaknat) wanita yang mencukur (mengerik) bulu alisnya (Al-Mutanammishat), dan wanita yang meratakan gigi untuk keindahan (kecantikan), yang merubah ciptaan Allah .”

Kemudian sampailah berita itu kepada seorang wanita dari Bani Asad di rumahnya, yang bernama Ummu Ya’qub. Lalu dia datang menemui Ibnu Mas’ud dan berkata: “Telah sampai berita kepadaku, bahwa anda telah mengatakan begini dan begitu (yakni seperti yang di ucapkan oleh Ibnu Mas’ud tersebut di atas, pent.)” Maka Ibnu Mas’ud menjawab: “Bagaimana aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah di laknat pula dalam kitabullah Ta’ala (Al-Qur’an)?” Lalu wanita itu pun berkata lagi: “Sesungguhnya aku benar-benar telah membaca (Al-Qur’an) semuanya, tetapi aku tidak mendapatinya (yakni tidak mendapati larangan seperti itu dalam Al-Qur’an, pent.)!” Ibnu Mas’ud menjawab: “Sesungguhnya jika Anda benar-benar membacanya, pasti akan mendapatinya. Bukankah anda telah firman Allah :


وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)!” (Al-Hasyr: 7)

Wanita itu menjawab: “Benar!” Lalu Ibnu Mas’ud menjelaskan lagi: “Maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang darinya (yakni perbuatan-perbuatan yang tersebut dalam ucapan Ibnu Mas’ud terdahulu, pent.)!”Lalu wanita itu masih mengatakan: “Tetapi aku telah melihat keluargamu (isterimu) telah melakukan perbuatan tersebut.” Ibnu Mas’ud mengatakan: “Pergilah kamu (menemui keluargaku) dan lihatlah!” Kemudian wanita itu pun pergi kesana tetapi tidak melihat orang yang dicarinya (melakukan perbuatan yang dituduhkannya, pent.), kemudian dia datang lagi menemui Ibnu Mas’ud dan mengatakan: “Aku tidak melihat apa-apa!” Ibnu Mas’ud menjawab: “Kalau begitu kita sepakat!” (lihat kisah tersebut dalam Shahih Al-Bukhari juz 4 hal. 336, bagian Kitabut Tafsir, yakni Tafsir Surat Al-Hasyr, juga dalam Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari juz 7 hal. 631).

Kesimpulan yang boleh di ambil dari riwayat tersebut di atas menjelaskan pada kita bahwa pada hukum apapun yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an, secara umum wajib dijadikan hujjah (argumentasi/dalil) dan sandaran amal ibadah. Baik itu berupa perintah maupun larangan, baik itu perkara Fardhu (wajib) maupun mustahab (sunnah), dan seterusnya! (Lihat Buletin As-Sunnah ini pada edisi No. 02, pada judul utama: Hubungan antara As-Sunnah dengan Al-Qur’an”)

Kemudian, berkaitan dengan firman Allah yang mulia ini pula, ada kisah menarik yang pernah disampaikan oleh Asy-Syaikh Muhamad bin Jamil Zainu (guru di Madrasah Daarul Hadits Al-Khairiyyah di kota Mekkah Al-Mukarramah).Beliau mengatakan: “Ayat ini (Al-Hasyr ayat 7) diterapkan untuk semua perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam perkara kejujuran, amanah, menepati janji, membiarkan jenggot panjang dan lain-lainnya dari perintah-perintah baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam.Sungguh, sejak berapa tahun lamanya saya menasihati para jama’ah haji agar membiarkan janggut-janggut mereka memanjang dan menyuruh mencukur misai-misai mereka sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdirilah salah seorang hadirin, dan dia meminta dalil dari Al-Qur’anul Karim yang menunjukkan wajibnya perkara tersebut. Lalu saya membacakan untuknya firman Allah Ta’ala:

“Dan apa saja yang datang dari Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka hentikanlah (tinggalkanlah)!(Al-Hasyr: 7)

(Kemudian saya katakan padanya): Dan sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk membiarkan panjang janggut-janggut kita!” Lalu orang tersebut berkata: “Menurutku, sungguh Anda benar!” Maka setelah hari itu dia membiarkan jenggotnya panjang.” (Lihat kitab “Kaifa Nafhamul Qur’an” atau kitab Majmu’ah Rosaail At-Taujiihaati Al-Islamiyyah li Ashlaahil Faradi wal Mujtama’ juz 2 hal. 88, karya Syaikh Muhamad bin Jamil Zainu hafizhahullah)

Wallahu a’lamu bish shawwab.

Sumber : BULETIN DAKWAH ISLAM AS-SUNNAH
 

Wednesday, September 12, 2012

MENANGIS BAGINDA RASULULLAH SAW SUATU HARI..




Para sahabat bertanya: "Apakah yang membuatkan dirimu menangis wahai Rasulullah?"

Jawab Baginda SAW: "Aku rindukan para kekasihku."

Para sahabat berkata: "Tidakkah kami ini para kekasihmu wahai Rasulullah?"

Jawab Baginda SAW: "Tidak...Kalian adalah sahabatku. Adapun para kekasihku mereka yang datang selepas aku..beriman denganku sedangkan mereka tidak melihatku."

Ya ALLAH! Jadikan kami mereka kalangan mereka yang dirindui oleh RasulMu..

Berapa kali dalam hidup kita mengalirkan air mata kerana merindui Rasulullah?

Tuesday, September 11, 2012

Wasiat Syaikh Hassan bin Ali Al Barbahari


Wasiat Syaikh Hassan bin Ali Al Barbahari

Syaikh Al Albani Rahimahullah dlm penutup kitabnya Hijjatun Nabi shalallahu'laihiwasalam dgn sebuah nasehat dari Imam besar diantara Ulamak kaum muslimeen terdahulu,Syaikh Hassan bin Ali Al Barbahari (sahabat Imam Ahmad rahumahullah) .

Dia Rahimahullah berkata,

" Waspadalah dari hal-hal baru yg kecil-kecil kerana sesungguhnya bid'ah2 kecil yg dibiasa kan menjadi besar.Demikian juga setiap bid'ah yg diadakan di tengah umat ini mulanya kecil menyerupai kebenaran sehingga terpedaya olehnya org2 yg masuk kedalamnya. Kemudian dia tidak boleh keluar lagi darinya. Kemudian ia menjadi besar dan menjadi agama yg dilakukannya.Perhatikan..semuga engkau di kasehi Allah..setiap org yg engkau dengar perkataannya yg ada dimasa engkau khususnya, lalu jgn terburu-buru dan jangan masuk sama sekali ke perkataan itu sehingga engkau bertanya, "

"Apakah diantara para sahabat Rasulullah shalallahu'laihiwasalam atau diantara para ulamak ada yg mengatakan hal itu ?", Jika engkau dapati bahawa yg di katakan itu adalah atsar dari mereka ,berpeganglah kepadanya dan jangan langgar sedikit pun, Jangan pilih sesuatu utk menggantikannya sehingga engkau terjerumus ke dlm neraka.

Dan ketahuilah ,semoga engkau di kasehi oleh Allah, tidak akan sempurna Islam seseorg sehingga dia menjadi pengikut ,Pembenar dan Muslim. Barangsiapa yg mendakwa bahawa dirinya mengabadikan sedikit perkara Islam yg tidak dilakukan oleh sahabat Rasulullah shalallahu'laihiwasalam ,dan dia telah mendustakan mereka. Dan dgn itu sudah cukup utk berpisah dan mancacatkan mereka. Dia adalah Pelaku Bid'ah yg sesat dan menyesatkan, pengada-ngada didlm Islam apa-apa yg bukan darinya .
[ Thabaqat Al hanabilah, karya Ibnu Abi Ya'la ]

Saturday, September 1, 2012

Perbuatan Makan Dan Berzikir DiKuburan Pada Hari Raya



 
Antara bid’ah kaum-kaum jahiliyah ialah mengkhususkan ziarah kubur di Hari Raya. Duduk membaca Yasin, berzikir, bertahmid, menanam pokok, menabur bunga, mencantikkan kubur, menghias, menutup kepala nisan dengan kain putih atau kuning, menangis, meratap, meraung, bertawassul dengan ahli kubur dan ada membawa makanan untuk bersantap di kuburan. Di dalam hal ini, Imam as-Syafie rahimahullah mengharamkannya dan beliau berfatwa:

ويكره …. نقل الطعام الى القبور

“Dimakruhkan (haram) membawa makanan ke kuburan”. (Lihat: الطالبين اعانة (ina’atu at-Tholibin) Juz. 2 hlm. 146)

Haram menyambut Hari Raya di kuburan termasuklah di kubur para nabi, wali atau mana-mana kubur, kerana tidak ada Hari Raya kubur (عيد القبر). Nabi sallallahu ‘alahi wa-sallam bersabda:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ : لاَ تَتَّخِذُوا قَبْرِيْ عِيْدًا

“Dari Abi Hurairah radiallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Janganlah jadikan kuburku sebagai tempat berhari raya”. (Hadis Sahih H/R Ahmad 2/367 dan Abu Daud 2042)

Imam Syafie rahimahullah mengharamkan duduk di atas kubur, beliau berlandaskan kepada hadis:

لاَنْ يَجْلِسَ اَحَدُكُمْ عَلَىجَمْرَةٍ ، فَتَحرق ثِيَابَهُ ، فَتخلص اِلَىجَلْدِهِ خَيْرٌ مِنْ اَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْر

“Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasulullah: Jika salah seorang kamu duduk di atas bara api membakar sampai menembusi pakaianmu lalu membakar kulitnya, masih lebih baik baginya daripada ia duduk di atas kuburan”. (H/R Muslim, 3/62. Abu Daud 3228. Ahmad 2/311. Baihaqi 4/79. Ibnu Majah dan An-Nasaii)

Imam Syafie berfatwa: Membaca al-Quran untuk menghadiahkan pahalanya kepada orang mati adalah perbuatan yang haram dan sia-sia, kerana tidak sampai kepada Si Mati. Beliau berfatwa:

ان القراءة القرآن لايصل اهداء ثوا الى الموتى لانه من عملهم ولا كسبهم ولهذا لم يندب اليه رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا ارشدهم اليه بنص ولا اعاء
“Sesungguhnya pahala bacaan al-Quran dan hadiah pahala tidak sampai kepada Si Mati kerana bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka. Rasulullah sallahu ‘alaihi wa-sallam tidak pernah menghukum sunnah umatnya dan tidak pernah mendesak mereka melakukan perkara tersebut dan tidak pula menujukkan kepadanya walau melalui satu nas atau seruan”. (Lihat: Tafsir Ibn kathir 4/335)

Orang-orang yang beriman sewajarnya mempu menghapuskan setiap amalan-amalan bid’ah, terutama yang telah dijelaskan dalil-dalilnya dan telah difatwakan oleh Imam Syafie rahimahullah.
~Akademi Al-Quran

Tuesday, August 28, 2012

Kabar Gembira bagi yang Bertakwa...



Takwa merupakan wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu, saat ini dan akan datang. (QS. An-Nisa': 131). Takwa sekaligus wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabat dan umatnya, melalui sabdanya, "Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah.” (HR. Ibnu Majah).

Takwa yang berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, lebih jauh merupakan derajat keimanan tertinggi. Ia adalah kata agung yang mencakup semua sisi kebajikan. Ia menjadi penghalang antara kita dengan amarah dan azab Allah SWT.

Jalan menuju ketakwaan antara lain dilakukan dengan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap kegiatan dan keadaan; menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; meninggalkan hal-hal yang meragukan (syubhat); memelihara sikap jujur dalam ucapan dan perbuatan; serta mewujudkan niat ihlas dalam semua amal ibadah.

Takwa bukan hanya bekal keselamatan kehidupan akhirat. Namun ia merupakan modal utama kehidupan dunia yang memberikan manfaat dan berkah di dunia maupun di akhirat. Sehingga ia harus nyata dalam segala gerak kehidupan dan bukan hanya tampak saat berada di tempat-tempat suci dan bulan Ramadhan.

Alqur'an dan As-sunah menjamin lima kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa:

❤ Pertama, orang yang bertakwa akan senantiasa mendapatkan solusi terbaik dalam menghadapi masalah/persoalan.

Allah SWT berfirman, "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya." (QS. At-Thalaq: 2). Hal tersebut karena orang yang bertakwa memiliki sifat sabar dan tawakal melebihi sifat normal manusia lainnya oleh sebab ketakwaannya. Kisah Ya'qub AS membuktikan fenomena tersebut.

❤ Kedua, orang yang bertakwa senantiasa merasa dilapangkan rezekinya. Allah SWT berfirman, "Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di duga-duga." (QS. At-Thalaq: 3). Mendapatkan rezeki yang berkah dan dari arah yang tidak diduga merupakan buah ketakwaan, sedangkan rezeki yang diduga perkiraannya dari jalan sebab-akibat merupakan kelaziman bagi semua manusia. Kisah Maryam AS yang mendapat jamuan dari langit merupakan fenomena yang membuktikan teori dimaksud.

❤ Ketiga, orang yang bertakwa senantiasa diterima amal perbuatannya di sisi Allah. Allah SWT berfirman, "(Habil) berkata: "Sungguh, Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27). Kisah Qabil dan Habil membuktikan penolakan dan penerimaan amal perbuatan di sisi Allah SWT karena yang satu tidak didasari oleh ketakwaan sedang yang lain (diterima) dilandasi oleh ketakwaan. Ketakwaan dengan demikian merupakan jaminan diterimanya amal perbuatan.

❤ Keempat, orang yang bertakwa dan mewariskan ketakwaannya menjamin keturunannya dari segala bahaya dan api neraka, (QS. An Nisaa': 9). Takwa merupakan wasiat terbaik yang jika dipegangi oleh sanak keturunan akan mengantarkan mereka selamat dunia-akhirat, sebagaimana wasiat takwa Ya'qub kepada anak-anaknya.

❤ Kelima, orang yang bertakwa senantiasa diberikan tambahan petunjuk serta diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepadamu dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni dosa-dosamu." (QS. Al Anfal: 29).

Berbahagialah orang-orang yang menghiasi perilakunya dengan sifat-sifat takwa sebab kendati terasa berat, namun Allah SWT akan menjamin lima kabar gembira baginya dan Allah adalah Dzat yang tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Wallahua'lam.

Tuesday, May 29, 2012

Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh



 
“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.
“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.
“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.
“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]
Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutin harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.
“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)
“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :
  • Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
  • Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
  • Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
  • Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
  • Carilah kawan yang baik (shalih)
  • Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
  • Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
  • Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
  • Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
  • Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

Disarikan dari :
Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani
Penerbit : Aqwam 
~"Kisah-Kisah Teladan Islami Penuh Hikmah" ·

Sunday, April 22, 2012

LGBT ibarat wabak jadi kanser




KUALA LUMPUR - Amalan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) ibarat satu wabak yang akan menjadi kanser dan menjadi satu penyakit parah dalam masyarakat dengan ancaman dahsyat yang membawa kesan negatif serta boleh merosakkan fabrik sosial.


Pengerusi Pusat Kajian Fiqh Kontemporari Nasharudin Mat Isa berkata, semua pihak perlu berganding bahu memastikan generasi muda bebas daripada gejala LGBT kerana mereka merupakan bakal pemimpin serta pewaris untuk mengemudi negara ini dengan akhlak yang baik serta terpuji.

Oleh itu, bekas Timbalan Presiden Pas itu berkata, demi masa depan dan akidah generasi muda, isu LGBT tidak boleh dipolitikkan .
“Ini bukan sesuatu yang boleh dipolitikkan kerana ia melangkaui politik dan kita jangan hanya kejar pembangunan sehingga terikut dengan budaya negatif Barat,” katanya kepada pemberita selepas membentangkan kertas kerja pada “Wacana Kemungkaran LGBT: LGBT Mengundang Bala Allah SWT” , semalam.

Nasharudin berkata, wacana seumpama itu merupakan satu gerakan bagi menyedarkan rakyat serta memastikan mereka tidak terjebak serta menyokong golongan ini.

Sementara itu, Ahli Jawatankuasa Biro Undang-undang Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan Mahamad Naser Disa turut berkongsi pendapat sama dengan Nasharudin agar isu LGBT, yang jelas melanggar prinsis asas agama, tidak dipolitikkan kerana ia boleh menyekat usaha untuk membela agama Islam.


“Islam adalah agama rasmi negara, saya tidak kisah sebarang kecenderungan politik, jika ada parti yang menyokong Alhamdulillah tetapi saya tidak mengaitkan diri saya dengan politik,” katanya.

Mahamad Naser turut menyelar pihak yang cuba mempertahankan golongan LGBT serta memberi sokongan kepada golongan itu memperjuangkan hak bagi mendapatkan tuntutan yang mereka inginkan.

“Ia seolah-olah mempopularkan golongan ini bila ada pihak yang mempertahankan mereka sedangkan golongan ini ternyata sekali pelaku orientasi seks yang dilarang di dalam undang-undang dan mencabar ketentuan Tuhan,” katanya.

Wacana sehari ini dihadiri kira-kira 100 peserta daripada segenap lapisan masyarakat anjuran Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia - Bernama

Sumber:http://www.sinarharian.com.my/nasional/lgbt-ibarat-wabak-jadi-kanser-1.42189

Friday, December 30, 2011

Agar Amal Tidak Sia-sia





Setiap daripada kita tentu tidak mahu sekiranya apa yang kita amalkan dari setiap amal-amal kita sehari-hari menjadi sia-sia dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kita telah berusaha bersungguh-sungguh dan menghabiskan segenap qudrat untuk melakukan dengan sebaik-baiknya.


Tidakkah kita bimbang menjadi orang-orang yang sia-sia amalannya lalu menjadilah kita orang-orang yang rugi di akhirat kelak? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Adakah perlu kami beritahu kepadamu tentang orang yang paling rugi amalannya?” Iaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka beranggapan telah melakukan yang sebaik-baiknya.” (Surah al-Kahfi, 18: 103-104)

Kata al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H), “Ayat ini bersifat umum mencakupi setiap orang yang beribadah kepada Allah tetapi tidak menggunakan cara yang diredhai-Nya. Mereka beranggapan apa yang dilakukannya telah benar dan amal perbuatannya akan diterima, tetapi rupanya sangkaan mereka meleset dan amalnya pun ditolak.

Firman Allah, “... orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia...” Maksudnya, mengerjakan amal yang bathil yang tidak bersesuaian dengan syari’at yang telah ditetapkan dan diredhai serta diterima.

Firman Allah, “... sedangkan mereka beranggapan telah melakukan yang sebaik-baiknya.” Maksudnya, mereka menyangka bahawa mereka akan mendapat suatu manfaat dan mereka menyangka mereka adalah orang-orang yang diterima amalnya dan dicintai oleh Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/202)

Pada hari ini ramai dari kalangan kita berlumba-lumba untuk beramal ibadah dengan semaksima yang mungkin. Ini adalah sebahagian dari bentuk-bentuk amal usaha mengabdikan diri kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa yang kepada-Nya sahaja kita beribadah. Supaya dengan amal-amal tersebut dapat membantu kita untuk meraih keredhaan dan rahmat dari-Nya.

Umumnya, ia adalah sikap yang sangat positif dan perlu dipandang baik. Di saat banyaknya kelompok manusia yang mengabaikan amal-amal ibadah sama ada yang wajib, fardhu, atau sunnah, sikap sebahagian umat Islam lainnya yang berlumba-lumba dalam beramal kebaikan adalah wajar diikuti dan dicontohi.

Namun, dalam keghairahan kita beramal dan beribadah, adakalanya kita mungkin terlupa beberapa aspek utama yang menjadi tunjang diterimanya sesuatu amalan tersebut.

Pengertian Ibadah

Ibadah kepada Allah Ta’ala adalah segala sesuatu yang apabila kita melaksanakannya atau meninggalkannya ia akan dicintai dan diredhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap amal ibadah diikat dengan beberapa syarat. Setiap amal ibadah perlu dilaksanakan dengan dalil, iaitu mengikuti sunnah. Amal ibadah tidak boleh direka mahupun diada-adakan.

Para ulama menyatakan bahawa:

التقرير فى العبادة إنما يؤخذ عن توقيف

“Penetapan dalam ibadah adalah dengan mengambil dari apa yang telah ditetapkan (oleh dalil). (Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, 2/80)

Kemudian, setiap amal hendaklah dilaksanakan dengan ikhlas semata-mata kerana Allah dengan tidak mensyirikkan-Nya. Syarat dan kriteria asas inilah yang bakal menentukan sama ada amal-amal kita diterima oleh Allah ataupun tidak.

Mengikuti Sunnah

Suatu perkara yang amat penting adalah melakukan amal ibadah itu dengan berpandukan al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidaklah diterima suatu amalan jika tidak terdapat contohnya (atau saranannya) dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, jika sesuatu amalan yang dilakukan itu tidak terdapat saranannya dari dua sumber tersebut, maka ianya bukanlah dari Islam walaupun ia diniatkan kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada mereka), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”.” (Surah Ali ‘Imran, 3: 31)

Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah (Wafat: 774H) menjelaskan melalui tafsirnya:

“Ayat yang mulia ini menghukumi setiap mereka yang mengaku mencintai Allah tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Maka jelaslah pengakuannya itu hanya suatu pendustaan sehingga mereka mengikuti syari’at Muhammad dan agama nabawi di dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Ini adalah sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shahih daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (katanya), “Sesiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya daripada kami, maka amalan tersebut tertolak (tidak diterima).” (Hadis Riwayat Muslim).” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/32)

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

“Jika datang kepada kamu petunjuk daripada-Ku, maka sesiapa yang mengikut petunjuk-Ku itu nescaya dia tidak akan sesat dan dia tidak akan menderita (dengan azab sengsara).” (Surah Thoha, 20: 123)


Dalam usaha mengikuti sunnah ini, tidak dapat tidak seseorang itu perlu terlebih dahulu mempelajari sunnah itu sendiri. Maka, dari sinilah pentingnya aspek ilmu. Supaya apabila kita berilmu, kita akan dapat mengenal pasti apa yang sunnah dan apa yang bukan.

Tidaklah nanti kita hanya bersangka-sangka sahaja suatu amalan itu sunnah dan mendatangkan kebaikan, tetapi rupanya tidak. Dengan ilmulah kita mampu mengenal pasti sumber-sumber yang betul dalam mengambil sunnah dan agama ini, mengetahui sesuatu hadis itu sahih atau pun tidak, memahami maksud suatu hadis, memahami tafsir ayat-ayat al-Qur’an, dan seumpamanya.

Sebagai contoh, pada hari ini ada sebahagian umat Islam yang mengamalkan zikir-zikir harian tertentu yang tidak diketahui sumber ambilannya, kaifiyat tatacaranya, dan fadhilatnya. Contohnya, ada yang mengamalkan bacaan tahlil (laa ilaaha illallah) sehingga 10000 kali setiap hari dan berkeyakinan padanya memiliki fadhilat-fahilat tertentu jika diamalkan dengan jumlah tersebut. Kemudian ada juga yang mengamalkan selawat syifa’ di setiap kali sebelum tidur supaya dijauhkan dari pelbagai penyakit.

Tetapi bila diteliti, kita pun tidak tahu dari mana datangnya kaedah dan bentuk-bentuk pengamalan zikir-zikir seperti ini. Tidak dari sunnah, tidak juga dari amalan para sahabat Rasulullah.

Ikhlas dan Tidak Syirik

Setiap amal ibadah yang hendak dilaksanakan mestilah di atas landasan aqidah Islam yang suci murni dari segala bentuk kesyirikan serta ikhlas semata-mata kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap amal yang dilakukan di luar ruang lingkup aqidah Islam dan keikhlasan yang tulus, maka ia akan menjadi sia-sia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada engkau (Wahai Muhammad) dan kepada Nabi-nabi yang terdahulu daripada engkau: “Demi sesungguhnya, sekiranya Engkau (dan pengikut-pengikutmu) berbuat syirik, sudah tentu segala amalanmu akan terhapus, dan engkau akan tetap menjadi orang-orang yang rugi.”.” (Surah az-Zumar, 39: 65)


وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan sekiranya mereka mensyirikan Allah, nescaya gugurlah dari mereka apa yang telah mereka lakukan (dari amal-amal yang baik).” (Surah al-An’am, 6: 88)


Oleh itu, bagi kita yang memiliki semangat dan keghairahan dalam beramal hendaklah memberi perhatian dan penekanan dalam dua aspek utama ini. Di samping berusaha bersungguh-sungguh mengikuti sunnah, dia juga perlu bersungguh-sungguh menjaga kemurniaan aqidahnya dengan menjauhi segala bentuk syirik kepada Allah.

Jangan nanti beramal separuh mati, tetapi dalam hatinya bercampur dengan riya’, aqidahnya bergelumang pula dengan kepercayaan-kepercayaan syirik seperti mempertikaikan takdir, mempercayai ramalan bintang (horoskop), terlibat dalam perbomohan, pertangkalan, dan pelbagai bentuk bid’ah khurafat. Takut-takut kita menyangka telah berbuat sebaik-baiknya, tetapi rupanya sia-sia belaka.

Wallahu 'alam

Abu Numair Nawawi B. Subandi

Sumber : Manhaj Aqeedah

Thursday, December 29, 2011

Dr Mahathir atasi krisis kewangan



MUNCULNYA satu detik, yang jarang sekali berlaku dalam hidup, apabila suatu peristiwa menakrifkan semula kehidupan seseorang dan merubah haluan buat selama-lamanya. Bagi saya, pertemuan dengan Tun Dr Mahathir Mohamad di Buenos Aires, Argentina, pada petang 2 Oktober 1997 merupakan detik itu. Ia membolehkan saya memberi tumpuan selama enam tahun dalam kehidupan saya untuk berkhidmat dengan beliau, dan menemuinya hampir setiap hari. Sepanjang proses itu, ia membolehkan saya melihat lebih dekat keupayaan yang dimiliki insan hebat ini.


Jarang sekali kita melihat gabungan nilai-nilai mulia dalam diri seseorang, dan gabungan unik inilah yang membolehkan Dr Mahathir mengubah Malaysia daripada sebuah negara Dunia Ketiga kepada negara berkembang maju dan bertenaga, dan kini berada pada landasannya untuk menjadi negara maju. Gabungan kualiti ini jugalah yang membolehkan Dr Mahathir menyelamatkan Malaysia daripada menjadi sebuah lagi negara IMF semasa krisis kewangan 1997/98.


Ia bermula pada 29 September 1997, apabila saya menerima panggilan telefon dari pejabat Perdana Menteri yang memberitahu Dr Mahathir mahu menemui saya. Beliau berada di Cuba pada ketika itu, dan secara berseloroh, saya bertanya, adakah saya harus menemuinya di sana!


Saya diberitahu, bukan secara berseloroh, bahawa beliau akan tiba di Buenos Aires pada 2 Oktober dan saya harus memastikan diri saya berada di situ sekurang-kurangnya sehari sebelum ketibaan beliau. Saya segera berlepas ke Argentina, dan tiba pada 1 Oktober.


Perdana Menteri tiba pada 5 petang hari berikutnya dan kami segera bertemu di suite beliau. Dr Mahathir memberitahu, beliau telah bertanya ramai orang mengenai punca krisis kewangan tetapi tiada siapa mampu memberi penjelasan memuaskan. Beliau bertanya sama ada saya boleh menjelaskan apa sebenarnya yang berlaku.


Saya bertanya berapa banyak masa beliau ada. Dua jam, katanya. Saya pun menjelaskan bagaimana pasaran pertukaran asing berlaku, tentang kedudukan jangka pendek dan panjang, mengenai perlindungan nilai, bagaimana matawang dipinjam dan dijual, perbezaan "tawaran" dan "penawaran" serta bagaimana dana boleh dipindahkan di antara negara hanya dengan satu klik. Saya juga menjelaskan bagaimana pasaran ekuiti berlaku dan hubungan antara pasaran tukaran mata wang asing dan pasaran ekuiti. Dr Mahathir langsung tidak bercakap, kecuali bertanya satu atau dua soalan, dan mendengar penuh mendalam.


Selepas dua jam, beliau terpaksa menamatkan pertemuan itu untuk bersedia ke majlis makan malam rasmi. Beliau bertanya rancangan saya untuk malam itu dan saya memberitahu bahawa saya turut dijemput ke majlis yang sama. Dr Mahathir berkata: "Pulang ke bilik anda dan tulis semua yang anda beritahu sejak dua jam lepas, dan jumpa saya 7 pagi esok." Saya kembali ke bilik saya, tidak ke majlis makan malam dan menulis kesemuanya, yang selesai kira-kira 6 pagi.


Laporan

Saya menyerahkan laporan itu padanya sejam kemudian. Beliau menyuruh saya berehat dan menemuinya semula pada 2 petang. Apabila saya kembali menemuinya, beliau memberitahu beliau telah membaca laporan itu dan faham apa yang berlaku dalam pasaran kewangan. Kami mula membincangkan pelbagai kaedah untuk mengatasi krisis itu, dan perbincangan kami diteruskan selepas pulang ke Malaysia. Saya menemui beliau hampir setiap hari, kadang kala di kediaman beliau, dan pada masa lain di pejabat beliau. Kami mencuba beberapa mekanisme untuk mengatasi krisis itu, ada antaranya yang berfungsi pada mulanya, tetapi dana lindung nilai begitu kukuh hingga sukar untuk meneruskan penggunaan mekanisme itu dengan jayanya.


Pada awal 1998, Dr Mahathir meminta saya menerokai idea untuk mengenakan rejim kawalan pertukaran bagi mengatasi krisis itu. Saya masih ingat bagaimana saya menyediakan banyak nota mengenai perkara itu. Dr Mahathir meneliti nota-nota itu, dan sentiasa meminta maklumat demi maklumat. Kami telah melalui banyak pusingan perbincangan, sehingga beliau akhirnya yakin dengan kedua-dua konsep dan mekanisme yang dicadangkan. Selebihnya, saya rasa sudah menjadi sejarah.


Dr Mahathir juga meminta saya menyediakan satu kertas kerja mengenai bagaimana menamatkan dagangan saham-saham Malaysia di CLOB (Central Limit Order Book) di Singapura. Beliau berpendapat, satu sebab penting mengakibatkan pasaran saham jatuh ialah jualan singkat saham Malaysia di CLOB. Saya menyediakan laporan dan Dr Mahathir memahami, buat pertama kalinya, bagaimana CLOB beroperasi. Laporan itu, yang turut dilaksanakan pada 1 September 1998, telah menamatkan perdagangan saham Malaysia di CLOB.


Saya perlu menyatakan bahawa langkah-langkah kawalan pertukaran telah direka sedemikian rupa untuk meminimumkan aspek-aspek kawalan dan memaksimumkan hasil. Dr Mahathir telah meneliti banyak kali mekanisme yang dicadangkan itu untuk memastikan hanya ada sedikit elemen kawalan tetapi mencukupi untuk memastikan hasil yang positif. Tidak ada elemen birokrasi dalam langkah-langkah itu, seperti mewajibkan pengimport untuk mendapatkan kebenaran Bank Negara bagi mengimport. Ringgit juga ditambat pada tahap di mana ia tidak terlebih nilai.


Di hampir setiap negara lain yang mengenakan langkah-langkah kawalan pertukaran dan penambatan matawang, secara definisinya, banyak kawalan birokrasi dan matawang juga ditambat pada kadar terlebih nilai.


Sistem kawalan pertukaran (termasuk kadar pertukaran tetap), yang dilaksanakan pada 1 September 1998, sering dianggap sebagai penyelamat negara. Langkah itu sememangnya diperlukan tetapi ia tidak cukup untuk mengatasi krisis itu. Malaysia diselamatkan, bukan dengan kawalan pertukaran itu sendiri, tetapi oleh Dr Mahathir.


Biar saya jelaskan. Jika mana-mana negara membangun lain, yang menghadapi krisis sama, memperkenalkan langkah yang kita perkenalkan pada September 1998, ia mungkin gagal. Langkah-langkah itu berjaya di Malaysia adalah kerana keupayaan dan watak Dr Mahathir. Ekonomi dan sistem kewangan, di bawah kepimpinannya berada dalam keadaan sihat - cukup sihat untuk membolehkan langkah-langkah kawalan pertukaran dilaksanakan tanpa kesan negatif. Selain itu, gaya pengurusan kendiri Perdana Menteri membolehkan keputusan cepat dan tepat pada masanya dibuat, yang penting di bawah rejim kawalan pertukaran baru.


Beliau memastikan ekonomi Malaysia pada asasnya kukuh. Ringgit kukuh dan stabil. Di belakang kestabilan matawang (pada RM2.50 berbanding dolar Amerika Syarikat), Malaysia berada pada kedudukan amat baik. Pada akhir 1996, keluaran dalam negara kasar berkembang hampir 8.5 peratus dan pertumbuhan itu dijangka berterusan untuk tahun-tahun mendatang. Kerajaan telah menikmati lebihan fiskal. Hutang luar negara adalah rendah, pada 40 peratus daripada keluaran negara kasar. Akaun matawang dari imbangan pembayaran telah mengecil daripada defisit 10 peratus kepada lima peratus daripada KNK, dan dijangka terus bertambah baik. Inflasi berada pada tahap paling rendah iaitu 2.1 peratus. Kita mempunyai pertumbuhan kukuh lebih lapan peratus bagi sebahagian besar tempoh itu. Dan kekuatan asas ini merupakan faktor penting yang membolehkan langkah kawalan pertukaran berjaya.


Meneliti

Selama lebih setahun lepas langkah 1 September 1998 itu, Perdana Menteri bertemu kumpulan kecil kami enam hari seminggu - sekurang-kurangnya dua jam sehari - bagi meneliti pelbagai data ekonomi termasuk mengenai pertumbuhan pinjaman, eksport, import dan hartanah tidak terjual. Ini membolehkan beliau mengambil tindakan cepat, pada bila-bila masa perlu. Saya masih ingat satu pagi, semasa kami sedang meneliti angka-angka hartanah, beliau memandang saya dan mengarahkan saya menganjurkan pameran untuk menghabiskan hartanah yang tidak terjual. Saya lakukannya, dan hartanah bernilai lebih RM3 bilion telah dijual. Malah selepas berakhirnya krisis itu, Dr Mahathir terus menemui kumpulan kami, walaupun tidak sekerap sebelumnya. Dan Dr Mahathir terus meneliti semua data ekonomi dengan pensel tajam.


Tempoh 1997/98 adalah, mengikut parafrasa Charles Dickens, masa terburuk, tetapi ia juga masa terbaik. Keadaan paling buruk telah menyerlahkan yang terbaik dalam diri Dr Mahathir. Ada perumpamaan mengatakan pemimpin yang baik adalah seperti teh yang baik - anda hanya mengetahui kualiti sebenarnya apabila beliau berada dalam keadaan panas!


Sepanjang tempoh krisis, Perdana Menteri memberi tumpuan pada usaha mengatasinya. Siang malam, tiada perkara lain difikirkannya. Beliau membaca segala yang boleh mengenai kewangan; beliau terus meminta saya menyediakan nota-nota pelbagai isu teknikal. Kadang kala, walaupun selesema, beliau tetap bekerja. Beliau sedar beliau perlu memahami isu-isu berkenaan sebelum boleh berusaha mencari penyelesaian. Kepintaran semula jadi dan keupayaan beliau memberi tumpuan pada isu-isu teras sentiasa terserlah sepanjang krisis itu. Beliau tidak menunjukkan tanda takut walaupun dalam masa terburuk; satu-satunya kebimbangan beliau ialah keadaan ekonomi yang cepat merosot. Pada setiap masa, beliau yakin akan berjaya akhirnya.


Saya ingin menambah dua lagi perkara. Pertama, dalam melaksanakan langkah 1 September 1998, Dr Mahathir bukan saja menyelamatkan Malaysia malah negara-negara jiran juga.


Apabila Malaysia mengenakan langkah kawalan pertukaran, spekulator matawang menyedari negara lain yang terjejas (Thailand, Indonesia dan Korea Selatan) juga boleh mengenakan kawalan yang sama, dan mereka, dengan itu menghentikan aktiviti mereka. Spekulator menarik diri. Mereka membeli semula matawang yang mereka jual. Ini mengakibatkan kenaikan nilai mata wang serantau.

Selain itu, IMF tidak berpuas hati dengan tindakan Malaysia terutamanya sejak selepas melaksanakan langkah-langkah itu, kita melakukan perkara sebaliknya daripada apa yang IMF mahu - kita turunkan kadar faedah dan menyuntik kecairan dalam sistem. IMF kemudian mula melonggarkan syarat di negara lain dan membenarkan mereka merendahkan kadar faedah dan menyuntik kecairan bagi merangsang ekonomi mereka supaya Malaysia tidak mengatasi negara-negara IMF itu.


Perkara kedua ialah apa yang akan terjadi jika langkah kawalan pertukaran tidak dilaksanakan. Banyak syarikat di Malaysia mungkin gulung tikar akibat kadar faedah tinggi. Apabila syarikat jatuh seperti domino, bank akan menghadapi masalah kecairan dan mampu bayar yang teruk berikutan pinjaman tidak berbayar semakin membesar.


Masalah yang dihadapi oleh bank akan menyebabkan berlakunya tekanan kredit, yang akan membawa kepada satu lagi pusingan kegagalan korporat. Pendapatan kerajaan mungkin merosot dengan mendadak kerana kurang firma akan membayar cukai korporat, dengan itu mengurangkan keupayaan kerajaan untuk merangsang ekonomi melalui langkah dasar fiskal. Akibat daripada masalah yang dihadapi syarikat dan bank, kadar pengangguran akan meningkat dengan ketara, yang membawa kepada pusingan masalah kedua.


Ini adalah putaran ganas yang klasik, yang akhirnya boleh memusnahkan kestabilan sosial dan politik negara. Ini adalah senario yang menunggu untuk berlaku. Namun, ia tidak berlaku kerana ketegasan dan keberanian Dr Mahathir, yang memutuskan untuk berusaha melalui jalan yang jarang dilalui. (less path travelled)

Oleh Nor Mohamed Yakcop

- Utusan

by pisau on 26.12.11

http://www.pisau.net/2011/12/dr-mahathir-atasi-krisis-kewangan.html

Tuesday, December 20, 2011

Keutamaan Iffah dan Bersabar

Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ


“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)

Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi manfaat.

Pertama: Ucapan Nabi n:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ

“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah.”

Kedua: Ucapan Nabi n:

وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

“Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).”

Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah l, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah l semata, merdeka dari perbudakan makhluk.

Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut:

1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).

Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda kepada Umar z:

مَا أَتَاكَ مِنْ هذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ, وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ


“Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan jiwamu kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)

Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta menghindar dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada mereka, merupakan sebab yang kuat untuk mencapai ‘iffah.

2. Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa cukup dengan Allah l, percaya dengan pencukupan-Nya
.
Siapa yang bertawakal kepada Allah l, pasti Allah l akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan.

Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus memperkuat kebergantungan dirinya kepada Allah l, berharap dan bercita-cita terhadap keutamaan Allah l dan kebaikan-Nya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya.

Allah l itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya.

Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat kebergantungan kepada Allah l, semakin lemah kebergantungan terhadap makhluk. Demikian pula sebaliknya.

Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi n:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى


“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan.” (HR. Muslim no. 6842 dari Ibnu Mas’ud z)

Seluruh kebaikan terkumpul dalam doa ini.
Al-huda (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat,
ketakwaan adalah amal saleh dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hal ini membawa kebaikan agama.
Penyempurnanya adalah baik dan tenangnya hati, dengan tidak berharap kepada makhluk dan merasa cukup dengan Allah l.

Orang yang merasa cukup dengan Allah l, dialah orang kaya yang sebenarnya, walaupun sedikit hartanya. Orang kaya bukanlah orang yang banyak hartanya. Akan tetapi, orang kaya yang hakiki adalah orang yang kaya hatinya.

Dengan ‘iffah dan kekayaan hati sempurnalah kehidupan yang baik bagi seorang hamba. Dia akan merasakan kenikmatan duniawi dan qana’ah/merasa cukup dengan apa yang Allah l berikan kepadanya.

Ketiga: Ucapan Nabi n:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ
“Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar.”


Keempat: Bila Allah l memberikan kesabaran kepada seorang hamba, itu merupakan pemberian yang paling utama, paling luas, dan paling agung, karena kesabaran itu akan bisa membantunya menghadapi berbagai masalah.
Allah l berfirman:
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (Al-Baqarah: 45)

Maknanya, dalam seluruh masalah kalian.
Sabar itu, sebagaimana seluruh akhlak yang lain, membutuhkan kesungguhan (mujahadah) dan latihan jiwa. Karena itulah, Rasulullah n mengatakan: وَمَنْ يَتَصَبَّرْ “memaksa jiwanya untuk bersabar”, balasannya: يُصَبِّرهُ اللهُ “Allah l akan menjadikannya sabar.”
Usaha dia akan berbuah bantuan Allah l terhadapnya.
Sabar itu disebut pemberian terbesar, karena sifat ini berkaitan dengan seluruh masalah hamba dan kesempurnaannya. Dalam setiap keadaan hamba membutuhkan kesabaran.
Ia membutuhkan kesabaran dalam taat kepada Allah l sehingga bisa menegakkan ketaatan tersebut dan menunaikannya.
Ia membutuhkan kesabaran untuk menjauhi maksiat kepada Allah l sehingga ia bisa meninggalkannya karena Allah l.
Ia membutuhkan sabar dalam menghadapi takdir Allah l yang menyakitkan sehingga ia tidak menyalahkan/murka terhadap takdir tersebut. Bahkan, ia pun tetap membutuhkan sabar menghadapi nikmat-nikmat Allah l dan hal-hal yang dicintai oleh jiwa sehingga tidak membiarkan jiwanya bangga dan bergembira yang tercela. Ia justru menyibukkan diri dengan bersyukur kepada Allah l.

Demikianlah, ia memerlukan kesabaran dalam setiap keadaan. Dengan sabar, akan diperoleh keuntungan dan kejayaan.

Oleh karena itulah, Allah l menyebutkan ahlul jannah (penghuni surga) dengan firman-Nya:

"Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Ar-Ra’d: 23—24)

Demikian pula firman-Nya:
“Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran mereka….” (Al-Furqan: 75)

Dengan kesabaranlah mereka memperoleh surga berikut kenikmatannya dan mencapai tempat-tempat yang tinggi.

Seorang hamba hendaklah meminta keselamatan kepada Allah l, agar dihindarkan dari musibah yang ia tidak mengetahui akibatnya. Akan tetapi, bila musibah itu tetap menghampirinya, tugasnya adalah bersabar. Kesabaran merupakan hal yang diperintahkan dan Allah l-lah yang menolong hamba-Nya.

Allah l menjanjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya bahwa orang-orang yang bersabar akan beroleh ganjaran yang tinggi lagi mulia.
Allah l berjanji akan menolong mereka dalam semua urusan, menyertai mereka dengan penjagaan, taufik dan pelurusan-Nya, mencintai dan mengokohkan hati serta telapak kaki mereka.
Allah l akan memberikan ketenangan dan ketenteraman, memudahkan mereka melakukan banyak ketaatan.
Dia juga akan menjaga mereka dari penyelisihan.
Dia memberikan keutamaan kepada mereka dengan shalawat, rahmat, dan hidayah ketika tertimpa musibah.
Dia mengangkat mereka kepada tempat-tempat yang paling tinggi di dunia dan akhirat.
Dia berjanji menolong mereka, memudahkan menempuh jalan yang mudah, dan menjauhkan mereka dari kesulitan.
Dia menjanjikan mereka memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kejayaan.
Dia juga akan memberi mereka pahala tanpa hitungan.
Dia akan mengganti apa yang luput dari mereka di dunia dengan ganti yang lebih banyak dan lebih baik daripada hal-hal yang mereka cintai yang telah diambil dari mereka.

Allah l pun akan mengganti hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa mereka dengan ganti yang segera, banyaknya berlipat-lipat daripada musibah yang menimpa mereka.

Sabar itu pada mulanya sulit dan berat, namun pada akhirnya mudah lagi terpuji akibatnya.

Ini sebagaimana dikatakan dalam bait syair berikut.

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ
لَكِنَّ عَوَاقِبَهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ
Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya
Akan tetapi, akibatnya lebih manis daripada madu.

(ditulis oleh: Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di)


Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Diterjemahkan Ummu Ishaq al-Atsariyyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, hadits ke-33, hlm. 9l—93, Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t)

http://asysyariah.com/keutamaan-iffah-dan-bersabar.html#more-3284