Showing posts with label Sunnah. Show all posts
Showing posts with label Sunnah. Show all posts

Sunday, June 19, 2011

Mengagungkan Sunnah




Mengagungkan Sunnah

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.¡¨ (QS. al-Ahzab : 36)

Di dalam ayat yang lain, artinya,
¡
§Barangsiapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.¡¨ (QS. an-Nisa¡¦ :80)


Dan juga firman-Nya, artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi , dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak gugur (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. al-Hujurat : 2)


Al-Imam Ibnul Qayyim berkata mengomentari ayat ini, "Maka Allah Subhannahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin tentang gugurnya amalan mereka karena mengeraskan suara kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana mereka mengeraskan suara kepada temannya. Hal ini tidak menunjukkan kemurtadan, akan tetapi merupakan kemaksiatan yang dapat menggugurkan amalan, sedangkan pelakunya tidak merasakan. Maka bagaimana lagi terhadap orang yang mengesampingkan perkataan Rasul Shalallaahu alaihi wasalam, petunjuk serta jalanya, lalu mengutamakan perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau? Bukankah hal ini sungguh telah menggugurkan amalannya, sedang mereka tidak merasakan?

Diriwayatkan dari al-Irbadh bin Saariyah dia berkata,
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang membuat hati menjadi tergetar dan air mata pun bercucuran. Maka kami berkata, 'Wahai Rasulullah, seakan-akan nasehat itu adalah nasehat orang yang akan berpisah, oleh karena itu berilah nasehat kepada kami'. Baginda berkata,
"Aku nasehatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat, walaupun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak, maka barangsiapa yang hidup di antara kalian, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa¡¦-ur Rasyidiin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah (pegang teguhlah) oleh kalian sunnah itu dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dari setiap hal yang baru, karena sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam neraka¡¨

Berkata Abu Bakar Ash Shidiq, “Tidaklah pernah aku meninggalkan perbuatan yang Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melakukannya, melainkan aku selalu melakukannya. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya, maka aku akan menyimpang (tersesat).

Ibnu Bathoh mengomentari hal ini dengan perkataannya, “Wahai saudaraku! Ini ash-Shidiqul akbar, beliau merasa takut terhadap dirinya dari penyimpangan jika beliau menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya. Maka bagaimana pula terhadap suatu zaman yang masyarakatnya telah menjadi orang-orang yang memperolok-olok Nabi mereka dan perintahnya, bangga dengan suatu yang menyelisihi perintahnya dan bangga dengan pelecehan sunnahnya. Kita meminta kepada Allah ƒ¹agar terjaga dari ketergelinciran dan memohon keselamatan dari amalan-amalan yang jelek.

Dari Abi Qilaabah dia telah berkata, “Jika kamu mengajak berbicara kepada seseorang dengan sunnah, kemudian orang tersebut berkata, ¡§Tinggalkan ini dan berikan padaku Kitab Allah Subhannahu wa Ta’ala (saja), maka ketahuilah bahwasanya dia adalah orang yang sesat.”

Berkata al-Imam asy-Syafi’i, “Kaum muslimin telah bersepakat, bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut dikarenakan perkataan seseorang.¡¨

Berkata al-Imam al-Barbahari,
“Apabila kamu mendengar seseorang mencerca atsar atau menolak atsar atau menginginkan yang selain atsar, maka ragukanlah dia tentang keislamannya, dan janganlah kamu ragu bahwasanya dia adalah seorang pengikut hawa nafsu yang mubtadi’.

Disegerakan Balasan bagi Orang yang Melecehkan Sunnah

Diriwayatkan dari Salman bin Al Akwa, “Bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka baginda berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu.¡¨ Orang itu berkata, “Saya tidak bisa". Maka baginda berkata, “Kamu tidak akan bisa " ; tidaklah ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kananya) melainkan hanya kesombongan.

Berkata Salman, Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Ismail at-Tamimi, "Aku pernah membaca di dalam sebagian kisah-kisah, bahwasanya pernah ada seorang ahlul bid’ah tatkala mendengar sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, “Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.”

Maka ahlul bid’ah tersebut berkata dengan nada mengejek, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidurku.¨ Maka ketika dia bangun dia dapati tangannya telah masuk ke dalam duburnya sampai ke pergelangan tangannya.

Berkata at-Tamimi, “Hendaklah seseorang takut untuk menganggap ringan terhadap sunnah-sunnah dan masalah-masalah yang seharusnya tawaquf (diam). Maka hendaklah anda melihat terhadap apa yang terjadi pada orang-orang tersebut akibat perbuatan jeleknya".


Sikap Kaum Salaf terhadap Penentang Sunnah

Dari Qatadah dia berkata,

“Ibnu Sirin pernah mengatakan kepada seorang tentang suatu hadits dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kemudian orang tersebut berkata, 'Si Fulan telah berkata demikian dan demikian' , maka Ibnu Sirin berkata, 'Aku mengatakan kepadamu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sedang engkau mengatakan si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian, maka aku tidak akan berkata kepadamu selamanya'.¨


Berkata Abu as-Saaib, "Kami pernah bersama Waki’ maka dia berkata kepada seorang yang ada di sisinya, yang termasuk orang yang berpandangan dengan akalnya (mengutamakan akal ), Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melakukan isy’ar (menandai hewan sembelihan dengan sedikit melukai kulitnya), dan berkata Abu Hanifah bahwa isy'ar itu adalah memberi tanda. Maka berkatalah orang tersebut bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakho’i, bahwa dia berkata, Al-isy’ar adalah menyakiti.¨


Berkata (Abu Saaib), Maka aku melihat Waki’ marah dengan sangat marahnya dan berkata, Aku telah berkata kepadamu, sedang engkau berkata, “Telah berkata Ibrahim” maka tidak ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali perkataanmu ini.¨


Dari Khordzad bin al-’Abid dia berkata, Abu Muawiyah adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun ar-Rasyid tentang hadits, “Adam beradu argumen dengan Musa.” Maka tiba-tiba berkata seorang dari bangsawan Quraisy “Di mana Adam bertemu dengannya (Musa)¡¨. Maka Harun ar-Rasyid pun marah dan berkata, Untuk perkataan (yang mengada-ada) adalah pedang, dia seorang zindiq yang mencerca hadits.¡¨ Maka Abu Muawiyah terus berusaha menenangkan beliau lalu berkata, Sabar wahai Amirul Mu’minin, bahwa dia belum paham, sampai akhirnya beliau tenang.¡¨

Inilah nash-nash kitab dan sunnah tentang pengagungan Sunnah, serta beginilah sikap para salafus sholih terhadap orang-orang yang menentang sunnah. Kita lihat pada diri mereka terdapat kekuatan, keteguhan dan ketegasan terhadap orang yang menampakkan sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap sunnah.


Maka bandingkanlah sikap mereka terhadap orang-orang yang menentang sunnah dengan sikap orang di masa ini tatkala melihat orang yang menentang serta mengolok-olok Sunnah.

¡§Ya Rabb kami Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).

Di sadur oleh Purwanto dari kitab ¡§Ta¡¦zhimus sunnah wa mauqif as-salaf mimman ¡¥arodhoha au istahza¡¦a bisyai-in minha,¡¨ Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir as-Suhaibani.

Artikel Buletin An-Nur :
24 Januari 05

Filed under: - alsofwah.or.id |

Thursday, April 28, 2011

Buku :Siapakah Ahlus Sunnah Yang sebenarnya - 1



Penjelasan Teradap Tohmahan Zamihan Mat Zin Al Ghari terhadap Pegangan Ahli Sunnah dan Para Tokohnya




Kata Pengantar

Oleh:

Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim

(Panel Akidah JAKIM)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه، وبعد:

Mentohmah orang lain di depan khalayak ramai dengan tidak memberi peluang kepada yang ditohmah untuk menjawabnya adalah termasuk dalam suatu bentuk kezaliman. Perkara ini lebih memalukan lagi jika ia dilakukan oleh seorang yang bergelar ustaz.

Bila ada orang menuduh Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim sebagai mujassimah dan musyabbihah (Allah itu berbadan dan menyerupai makhluk), terus terlintas di hati saya pertanyaan: “Adakah Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim itu tidak beriman dengan ayat:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Maksudnya: “Tiada sesuatu pun yang sebanding dengan (Zat, Sifat, dan Pentadbiran) Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”[1].

Jika Ibn Taimiyyah dan Ibn al-Qayyim beriman dengan ayat ini, maka berdosa besarlah orang yang menuduh mereka berdua sebagai mujassimah dan musyabbihah, kerana kepercayaan seperti itu adalah kepercayaan orang bukan Islam. Sedangkan Ibn Taimiyyah sendiri telah menulis sebuah kitab khusus berjudul Iqtida’ As-Sirat Al-Mustaqim Fi Mukhalafat Ashab Al-Jahim untuk menjelaskan kewajipan untuk berbeza dengan golongan bukan Islam dalam semua perkara usul dan furu’.

Wahhabiyyah memang sudah lama menjadi momokan di kalangan segelintir orang di negara ini. Sekadar memuntahkan kata-kata dalam majlis ceramah untuk memomok dan menuduh orang lain sebagai sesat tidaklah memada, silalah tulis buku atau debat terbuka tanpa menghadkan masa. Iaitu debat cara Islam yang dikenali dengan adab al-bahth wa al-munazarah.


Pada hemat saya, perkembangan ilmu Akidah Islam terbahagi kepada tiga peringkat:

Pertama: Zaman murni, iaitu zaman Sahabat RA, Tabi’in dan Tabi’ At-Tabi’in. Mereka berpegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma’. Mereka dikenali dengan nama Salaf (Salaf Zamani).

Kedua: Zaman selepas Tabi’ At-Tabi’in yang menyaksikan pertambahan krisis politik dalaman dan terjemahan karya-karya asing ke dalam bahasa Arab, termasuklah karya-karya yang berkaitan dengan penghayatan agama dan yang mendewakan akal sebagai lebih tinggi mutunya daripada wahyu. Berdasarkan tiga faktor asas yang berlaku di zaman kedua ini, maka lahirlah pelbagai aliran, mazhab dan puak (firaq) yang terus-menerus berpecah sehingga kini. Pengaruh daripada zaman kedua ini menyebabkan Islam mengalami ‘celupan asing’ yang amat tenat kerana menelan jangka zaman yang begitu lama. Ada golongan yang sabar dan berlapang dada cuba mencari jalan penyelesaiannya dan mereka dikenali sebagai mujaddid.

Ketiga: Zaman timbulnya semangat untuk mengembalikan kemurnian penghayatan Islam seperti di zaman pertama. Semangat ini muncul di kalangan mereka yang melihat tidak ada jalan penyelesaian selain kembali semula kepada pegangan di zaman pertama. Mereka yang mencetuskan semangat ini dikenali sebagai Salafiyyah (Salaf Manhaji), maka lahirlah pelbagai tulisan yang menyeru umat Islam agar kembali kepada manhaj salaf, antaranya sebuah buku yang berjudul Wujub Ad-Da’wah Ila Al-Kitab Wa As-Sunnah Bi Fahmi Salaf Al-Ummah Wa Minhaj Jama’ah At-Tabligh Fi Zalik.

Buku tulisan saudara Dr. Azwira Abdul Aziz yang berjudul Siapakah Ahli Sunnah Yang Sebenar?: Penjelasan Terhadap Tohmahan Zamihan Mat Zin Al-Ghari Ke Atas Pegangan Ahli Sunnah Dan Para Tokohnya, adalah mencerminkan gejala zaman ketiga ini.

Buku ini bertujuan untuk menjelaskan sebahagian daripada tohmahan yang dilontarkan ke atas Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim, Muhammad Ibn Abdul Wahhab dan para pendukung sunnah yang lain. Kepada yang sedar diharap berlapang dada, banyak bersabar dan bertoleransi.

Yang benar

Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim

Jabatan Usuludin & Falsafah

Universiti Kebangsaan Malaysia.

http://www.hafizfirdaus.com/ebook/SiapakahAhliSunnah/Pengantar.htm

Wednesday, November 3, 2010

Hakikat Cinta Sejati Kepada Rasulullah

Hakikat menyintai Rasulullah S.a.w...


بسم الله الرحمن الرحيم


Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam [1], memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas dan penjabar dari al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ


Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), supaya mereka memikirkan.” (Qs. an-Nahl: 44).


Ketika Ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ditanya tentang akhlak (tingkah laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab, “Sungguh, akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an.”[2] Ini berarti, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan menghiasi diri dengan adab-adabnya.[3] Maka, orang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan al-Qur’an dan agama Islam secara keseluruhan.


Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) adalah bahwa sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penafsir dan argumentasi (yang menjelaskan makna) al-Qur’an.”[4]


Oleh karena itulah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mendefinisikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan.[5]


Imam Abu Muhammad al-Barbahari[6] berkata,

Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang lainnya.[7]


Arti mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali ‘Imran: 31).


Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata,

Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.”[8]


Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata,

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan susah maupun senang dan lapang maupun sempit.”[9]


Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah[10] dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau memuji dan mensifati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan, dengan menempatkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi kedudukan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tempatkan beliau padanya.[11]


Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janganlah kalian memuji diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang nasrani melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.[12]


Inilah makna cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini, para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

“Tidak ada seorangpun yang paling dicintai oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi jika mereka melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci perbuatan tersebut.”[13]


Bagaimana menyempurnakan cinta kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam diri kita?


Imam Ibnu Rajab al-Hambali membagi derajat (tingakatan) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan dua tingkatan ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam dirinya.


Dua tingkatan tersebut adalah:


1- Tingkatan yang fardhu (wajib), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengandung konsekuensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha, hormat dan patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh.

Kemudian, mengikuti dengan baik agama yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dari Allah, dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, manaati semua kewajiban yang beliau perintahkan, maninggalkan semua perbuatan haram yang dilarangnya, serta menolong dan berjihad (membela) agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk (mengahadapi) orang-orang yang menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh setiap muslim) dan tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.


2- Tingkatan fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengandung konsekuensi meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, mengikuti sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan keluarga, serta semua adab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna dan akhlak beliau yang suci.

Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa senang dalam hati dengan mencintai, mengagungkan dan memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, senang mendengarkan ucapan (hadits) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas ucapan selain beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sikap zuhud beliau terhadap dunia, mencukupkan diri dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (balasan yang sempurna) di akhirat (kelak).”[14]


Keutamaan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. al-Ahzaab: 21).


Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik“, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan dan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.[15]


Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata,

Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam .”[16]


Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pertanda kesempurnaan imannya.


Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata,

Teladan yang baik (pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[17]


Penutup


Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita makna mencintai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya, dan jelaslah besarnya keutamaan dan kemuliaan mengikuti sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Maka mestinya, seorang muslim yang mengaku mencintai Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adalah orang yang paling semangat dalam mempelajari dan menerapkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sikap dan tingkah lakunya. Khususnya, di zaman sekarang ketika sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi asing dan jarang diamalkan di tengah-tengah kaum muslimin sendiri.

Karena, seorang muslim yang mengamalkan satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dilupakan, dia akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri dan keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.


Syaikh Muhammad bih Shalih al-’Utsaimin berkata,

“Sesungguhnya, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) dan (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah dikalangan manusia.[18]


Sebagai penutup, marilah kita camkan bersama nasihat Imam al-Khatiib al-Baghdadi[19] berikut ini,

“Seyogyanya para penuntut ilmu hadits (pengikut manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah), (berusaha untuk) membedakan dirinya dari kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan (tingkah laku dan sikap)nya, dengan (berusaha) mengamalkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ


Sesungguhnya, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Qs. al-Ahzaab: 21).


وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين


Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 15 Jumadal ula 1430 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni


Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A
Artikel www.ManisnyaIman.com


[1] Lihat kitab “Taujiihun Nazhar Ila Ushuulil Atsar” (1/40).


[2] HSR. Muslim (no. 746).


[3] Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam kitab “Syarh Shahih Muslim” (6/26).


[4] Kitab “Ushuulus Sunnah” (hal. 3).


[5] Lihat kitab “Jaami’ul Uluumi wal Hikam” (hal. 321).


[6] Beliau adalah imam panutan umat, Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari al-Bagdadi (wafat 328 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru A’laamin Nubala’” (15/90).


[7] Kitab “Syarhus Sunnah” (hal. 59).


[8] Tafsir Ibnu Katsir (1/477).


[9] Kitab “Asy-Syifa Bita’riifi Huquuqil Mushthafa” (2/24).


[10] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


[11] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam Bainal Ittibaa’ Wal Ibtidaa’” (hal. 65-71).


[12] HSR. al-Bukhari (no. 3261).


[13] HR. at-Tirmidzi (5/90) dan Ahmad (3/132), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.


[14] Kitab “Istinyaaqu Nasiimil Unsi Min Nafahaati Riyaadhil Qudsi” (hal. 34-35.


[15] Lihat keterangan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau (hal. 481).


[16] Tafsir Ibnu Katsir (3/626).


[17] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481).


[18] Kitab “Manaasikul Hajji wal ‘Umrah” (hal. 92).


[19] Dalam kitab beliau “Al-Jaami’ Li Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami’” (1/215).


by ISLAMIC UNITED , October 31, 2010

http://www.facebook.com/pages/ISLAMIC-UNITED