Showing posts with label tadabbur al- Quran. Show all posts
Showing posts with label tadabbur al- Quran. Show all posts

Sunday, August 25, 2013

Adab Membaca Al-Quran



 Adab Membaca Al-Quran

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:

1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)

2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)

Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim).

Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.

3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.

Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.

4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.

5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.

Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.
***
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf
Artikel www.muslim.or.id
 

Tuesday, July 17, 2012

Program Tadabbur Al-Quran sempena Ramadhan 1433




 PROGRAM TADABBUR AL-QURANSEMPENA RAMADHAN 1433

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد

PENDAHULUAN:
Tadabbur adalah isitilah yang digunakan untuk memahami dan menghayati al-Quran. Ia adalah saranan Allah dalam banyak ayat antaranya:

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} النساء: (82)

Ertinya: Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? Kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan yang banyak di dalamnya (al-Nisa’[4:82]).
Juga firmanNya:

{كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ} ص: (29)

Ertinya: (Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), -Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal sempurna beringat mengambil iktibar (Sad[38:29]).
Juga firmanNya:

{أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا} محمد: (24)

Ertinya: (Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)? (Muhammad[47:24]).
LONTARAN PANDANGAN:
1)         Penyediaan ayat-ayat al-Quran dengan tema serta tajuk tertentu (sebagaimana disertakan) bertujuan membantu masyarakat awam memahami dan menghayati al-Quran bersempena bulan Ramadhan di bawah bimbingan penceramah jemputan.
2)         Perbincangan agama dalam tazkirah pada bulan Ramadhan tidak sepatutnya hanya tertumpu kepada isu kelebihan Ramadhan sahaja. Kesempatan bulan Ramadhan sebagai bulan turunnya al-Quran perlu dimaksimakan dengan penghayatan kepada isi kandungannya.
3)         Pihak masjid dan surau yang berhasrat menjemput para penceramah pada bulan Ramadhan boleh menetapkan terus tajuk serta pilihan ayat kepada para penceramah. Cara ini menjadikan penyampaian tajuk tazkirah atau kuliah lebih jelas dan terfokus.
4)         Pihak penceramah yang sudah diminta mengulas tajuk dengan ayat tertentu pastinya akan lebih bersedia secara ilmiah dan tersusun.
5)         Tumpuan penceramah perlu bersistem dengan menyentuh beberapa isu utama bagi setiap ayat seperti ASBAB NUZUL, MUNASABAT AYAT, PENGAJARAN KHAS BERBENTUK FIQH DARI AYAT & APA-APA SAHAJA ISU YANG DIRASAKAN SESUAI DENGAN AYAT.
6)         Proses ini berguna untuk mendekatkan masyarakat dengan al-Quran kerana sebarang isu dikaitkan terus dengan ayat al-Quran.
7)         Antara tajuk dan himpunan ayat yang dicadangkan adalah; PENCIPTAAN ALAM, SOLAT, SEDEKAH,  REZEKI, POLITIK, MU’AMALAT DENGAN BUKAN ISLAM, SIFAT SOLEH & BAKTI KEPADA IBU BAPA
bacaan seterusnya :