Sunday, July 18, 2010

Berbicara Berdasarkan Ilmu

Wasiat ke 3 Tentang Bagaimanakah Seharusnya Seorang Berbicara Berdasarkan Ilmu


Abdullah bin Mas’ud berkata,

يا أيها الناس من علم شيئا فليقل به ومن لم يعلم فليقل الله أعلم فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم


"Wahai manusia barangsiapa yang berilmu tentang sesuatu maka hendaklah ia berkata dengan ilmunya tersebut dan barangsiapa yang tidak berilmu (tidak mengetahui) maka hendaklah ia berkata “Allahu A’lam” (Allahlah yang labih mengetahui) karena sesungguhnya merupakan ilmu seseorang berkata “Allahu A’lam” tentang perkara yang ia tidak mengetahui ilmunya"[1]


Beliau juga berkata,

إن الذي يفتي الناس في كل ما يستفتونه فيه مجنون

((Sesungguhnya orang yang berfatwa kepada manusia pada setiap perkara yang mereka tanyakan maka ia adalah orang gila))[2]

Kenyataan Pahit dan Menyedihkan

Suatu hal yang sangat patut untuk disedihkan yang merajalela saat ini adalah banyak sekali para pemuda di negeri-negeri Islam yang semangat dalam berdakwah dan menjadi para aktivis dakwah, begitu besar ghiroh mereka terhadap agama mereka, namun mereka sangat jauh dari ilmu syar’i, mereka tidak memiliki semangat untuk menuntut ilmu. Mereka sangat jauh dari para ulama. Yang lebih menyedihkan lagi adalah sikap mereka yang sangat berani dalam berfatwa tanpa ilmu (berbicara tentang agama Allah tanpa landasan ilmu).

Kita dapati ada diantara mereka yang telah terjun di medan dakwah lebih dari sepuluh tahun namun jika ditanya tentang beberapa permasalahan yang berkaitan dengan sholat atau puasa atau ibadah-ibadah yang lainnya maka mereka tidak menguasai jawabannya dan merekapun membabi buta dalam memberikan jawaban. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi mereka berfatwa pada perkara-perkara yang berkaitan dengan kepentingan banyak orang, yang berkaitan dengan keselamatan kaum muslimin secara umum….sungguh menyedihkan dan aneh, mereka tidak mengerti hukum-hukum yang berkaitan dengan kepentingan individu-individu mereka sendiri, lantas bagaimana mereka berani berfatwa tentang perkara-perkara yang berkaitan dengan orang lain, bahkan berkaitan dengan kepentingan orang banyak…???, bahkan yang berkaitan dengan darah kaum muslimin??. Apakah agama ini bisa dipimpin oleh orang-orang yang tidak paham dengan ilmu syar’i…?? bagaimanakah nasib agama ini jika demikian…??.

Dan sungguh mengherankan, jika seluruh manusia di atas muka bumi ini baik yang sholeh maupun yang fajir bersepakat bahwasanya tidaklah mungkin seseorang bisa membangun bangunan kecuali jika ia memiliki keahlian tentang bangunan, namun anehnya kenapa mereka meremehkan perkara yang sangat urgen yaitu dakwah, yang jauh lebih urgen dari segala urusan dunia??, kenapa mereka yang tidak menguasai ilmu syar’i nekat memimpin gerakan-gerakan dakwah???, apakah mungkin dakwah bisa dibangun oleh orang-orang yang tidak menguasai ilmu syar’i??

Kita dapati juga sebagian orang berani masuk dalam area orang lain. Banyak orang yang memiliki gelar doktor dalam bidang keduniaan nekat untuk masuk dalam area para ulama. Merekapun ikut nimbrung dalam permasalahan-permasalahan agama, mereka berani berfatwa tentang permasalahan-permasalahan agama, bahkan mereka berani untuk memprotes ulama??. Apakah mereka tidak mentertawakan diri mereka sendiri…?, benar memang mereka ahli dalam bidang kimia, fisika, kedokteran, tekhnologi, dan lain-lain namun pada hakekatnya mereka jahil dalam masalah agama. Mereka tidak menguasai Al-Qur’an dengan baik, tidak menguasai cabang-cabang ilmu yang berkaitan dengan hadits dan ilmu-ilmu agama yang lain. Bahkan diantara mereka ada yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik apalagi mengerti bahasa Arab, namun nekat untuk nimbrung dalam berfatwa.

Renungkanlah…kalau ada seorang ulama yang benar-benar ‘alim dalam agama namun tidak menguasai ilmu kedokteran lantas nekat untuk nimbrung di ruang operasi untuk melaksanakan operasi, apakah kita membenarkannya??. Orang-orang pasti mengatakan bahwa ulama ini sudah tidak waras, apalagi jika sang ulama tersebut ingin menjadi pemimpin dalam jalannya operasi tersebut. Meskipun ulama ini berniat baik untuk menolong sang pasien namun jelas pasti yang terjadi malah akan mengakibatkan hal yang fatal bagi sang pasien, dan bisa jadi membinasakan sang pasien.

Demikian juga kita katakan sebaliknya, jika ada seorang dokter yang tidak menguasai ilmu agama ikut nimbrung dalam area para ulama yang sedang mengobati umat yang kritis agama mereka, krisis aqidah mereka, akhlak mereka, dan seterusnya, maka kita katakan dokter ini adalah seorang dokter yang tidak waras. Apalagi dokter ini ingin memegang kepemimipinan dalam berdakwah…???. Apakah yang akan terjadi dengan umat ini??, kebinasaan dan kehancuran yang akan dirasakannya??.

Inilah yang terjadi saat ini, betapa banyak aktivis dakwah yang menjadi ujung tombak gerakan-gerakan dakwah namun sangat minim pengetahuan agama mereka….

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة

((Jika diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah tibanya hari kiamat))[3]

فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

((…Merekapun ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu maka merekapun sesat dan menyesatkan))[4]



Yang lebih menyedihkan lagi banyak diantara para pemuda tersebut yang tidak menyadari bahwa diri mereka adalah orang-orang yang jahil tentang ilmu agama. Bahkan yang lebih parah lagi mereka merasa bahwa diri mereka adalah orang-orang yang alim sehingga terkumpulah pada mereka dua kebodohan (bodoh kuadrat). Pertama mereka adalah bodoh, dan yang kedua adalah mereka bodoh (tidak tahu) bahwa mereka adalah bodoh.

Berkata Al-Kholil bin Ahmad,

الرجال أربعة رجل يدري ولا يدري أنه يدري فذاك غافل فنبهوه ورجل لا يدري ويدري أنه لا يدري فذاك جاهل فعلموه ورجل يدري ويدري أنه يدري فذاك عاقل فاتبعوه ورجل لا يدري ولا يدري أنه لا يدري فذاك مائق فاحذروه

“Orang-orang itu ada empat macam, (1) seorang yang mengetahui dan tidak mengetahui bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang lalai maka ingatkalah ia. (2) Dan seorang yang tidak tahu dan ia mengetahui bahwasanya ia tidak tahu, itulah orang yang jahil (bodoh) maka ajarilah ia. (3) Dan seorang yang mengetahui dan ia tahu bahwasanya ia mengetahui, itulah orang yang pandai maka ikutilah. (4) Dan seorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwsanya ia tidak tahu, itulah orang tolol maka jauhilah ia”[5]

Ia Juga berkata, “Manusia ada tiga macam, dua macam diajari dan yang satu tidak diajari. Orang yang alim dan mengetahui bahwa ia adalah alim, orang ini diajari. Dan seorang yang alim namun ia tidak mengetahui bahwa ia tahu maka kedua orang ini juga diajari. Dan orang yang tidak mengetahui dan ia memandang bahwa ia mengetahui maka ini tidak diajari”[6]

Berkata seorang penyair

ومن نال العلومَ بغير شيوخٍ

يضلُّ عن الصراط المستقيمِ

وتلتبس الأمورُ عليه حتى

يكونَ أضلَّ من تَوْمَى الحكيمِ

تصدَّقَ بِالْبناتِ على رجالٍ

يريد بذلك جناتِ النَّعِيمِ

Barangsiapa yang meraih ilmu tanpa melalui guru maka ia akan tersesat dari jalan yang lurus


Dan perkara-perkara menjadi rancu baginya hingga lebih sesat daripada Hakim Tauma

Hakim Tauma telah (berfatwa untuk) menyedekahkan para wanita kepada para lelaki karena ia berharap masuk surga yang penuh kenikmatan.


Tentunya fatwa Hakim Tauma ini menyelisih syari’at karena syari’at kita mewajibkan mahar dalam pernikahan. Ia berniat baik tatkala berfatwa yaitu bersedekah bagi para lelaki yang mungkin kesulitan mencari mahar untuk menikah, namun niat baik saja tidak cukup apalagi jika melanggar syari’at.

Karena terlalu bodohnya Hakim Tauma hingga dikatakan bahwa himar (keledai) tunggangannya berkata

قال حمار الحكيم تومى لو أنصف الدَهْرُ كنتُ أركبُ

لأَنَّنِي جَاهل بَسِيْطٌ وصاحبي جاهلٌ مركَّبُ

Berkata himar (tunggangannya) si Hakim Tauma

“Kalau memang zaman itu adil mestinya akulah yang menunggangi

Karena aku bodoh murni dan tuanku bodoh kuadrat”[7]


Bahaya berfatwa tanpa ilmu


Allah berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً (الإسراء : 36 )

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ (الأعراف : 33 )

Katakanlah:"Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah apa saja yang tidak kamu ketahui"". (QS. 7:33)


Syaikh Utsaimin berkata, “Sesungguhnya pembicaraan tentang permasalahan-permasalahan agama (tanpa ilmi) adalah sangat berbahaya karena hal ini merupakan pembicaraan tentang Allah tanpa ilmu”[8]

Berkata Al-Munawi, ((…Karena sesungguhnya seseorang yang berfatwa pada hakekatnya adalah wakil Allah dalam menjelaskan hukum-hukum Allah, maka jika ia berfatwa di atas kebodohan atau tanpa ilmu atau menggampangkan dalam berfatwa atau dalam mengambil hukum maka ia telah menyebabkan dirinya untuk masuk ke dalam neraka karena keberaniannya yang ngawur tentang hukum-hukum Allah. Allah berfirman

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَاماً وَحَلاَلاً قُلْ آللّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللّهِ تَفْتَرُونَ (يونس : 59 )

Katakanlah:"Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". Katakanlah:"Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" (QS. 10:59)


Az-Zamakhsyari berkata, “Cukuplah ayat ini sebagai peringatan yang sangat keras terhadap sikap nekat dalam hukum perkara-perakra yang ditanyakan dan merupakan pendorong untuk wajib berhati-hati dalam hal ini dan agar tidak seorangpun berkata tentang hukum sesuatu bahwasanya hukumnya adalah boleh atau tidak boleh kecuali setelah mantap (mengusai dengan baik hukumnya) dan dalam keadaan yakin. Barangsiapa yang tidak dalam keadaan yakin –tatkala berfatwa- maka hendaknya ia takut kepada Allah dan hendaknya ia diam karena jika tidak maka ia telah berdusta atas nama Allah”)) [9]

Seseorang bertanya kepada ‘Amr bin Dinar suatu perkara dan ‘Amr bin Dinar tidak memberikan jawaban kepadanya maka orang itu berkata, “Sesungguhnya ada sesuatu pada diriku tentang perkara ini maka jawablah!”, maka ‘Amr berkata, لأن يكون في نفسك مثل أبي قبيس أحب إلي من أن يكون في نفسي منها مثل الشعرة “Jika dalam dirimu terdapat sesuatu seberat gunung Abu Qubais lebih aku sukai daripada ada pada diriku (keraguan) tentang perkara ini seberat sehelai rambut”[10]

Oleh karena itu fatwa merupakan hak para ulama (yaitu hak orang-orang yang benar-benar berilmu), karena merekalah pewaris para nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamr bersabda

وإن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر

((Dan para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham namun mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambil ilmu maka ia telah mendapatkan bagian yang banyak))[11]

Ibnus Sholah mengomentari hadits ini, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keistimewaan bagi para ulama yang dengan keistimewaan tersebut mereka mengungguli seluruh manusia, dan pekerjaan mereka yaitu berfatwa menjelaskan bahwa mereka memang berhak untuk mendapatkan keistimewaan tersebut di hadapan orang-orang yang meminta fatwa. Oleh karena itu dikatakan bahwa fatwa adalah tanda tangan dari Allah….berkata Muhamaad bin Al-Munkadir, إن العالم بين الله وبين خلقه فلينظر كيف يدخل بينهم “Sesungguhnya seorang alim berposisi antara Allah dan makhluknya maka hendaknya ia melihat bagaiamana ia masuk di antara mereka”[12]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

من أفتي بغير علم كان إثمه على من أفتاه

((Barangsiapa yang berfatwa tanpa ilmu maka dosanya bagi orang yang memberi fatwa))[13]

Ibnu Umar berkata, يريدون أن يجعلونا جسرا يمرون علينا على جهنم “Mereka (orang-orang yang meminta fatwa) ingin menjadikan kami jembatan untuk mereka lalui di atas api neraka” [14]

Bagaimana jika fatwa seseorang yang berbicara tanpa ilmu tersebut diamalkan oleh ratusan orang atau bahkan ribuan orang, tentunya seluruh dosa-dosa mereka akan dipikul oleh orang tersebut.

Maka barangsiapa yang ditanya tentang fatwa maka hendaknya ia diam dan ia mengalihkannya kepada orang yang lebih alim darinya atau ia serahkan fatwa tersebut kepada orang yang lebih alim tersebut dan ini adalah sikap para salaf

Berkata Al-Qosim bin Muhammad, قال والله لأن يعيش الرجل جاهلا بعد أن يعلم حق الله عليه خير له من أن يقول مالا يعلم “Demi Allah seseorang hidup dalam keadaan bodoh setelah mengetahui hak Allah atas dirinya maka lebih baik daripada ia berkata tanpa ilmu”[15]


Sikap para salaf yang takut untuk berfatwa karena takut salah dalam berfatwa

Berkata Ibnu Abi Laila,

لقد أدركت عشرين ومائة من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم من الأنصار إن كان أحدهم ليسأل عن المسألة فيردها إلى غيره فيرد هذا إلى هذا وهذا إلى هذا حتى ترجع إلى الأول وإن كان أحدهم ليقول في شيء وانه ليرتعد

“Sungguh aku telah bertemu dengan 120 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kaum Anshor, sungguh ada salah seorang dari mereka ditanya tentang satu permasalahan maka iapun melemparkannya kepada yang lainnya, maka yang ini melemparkan kepada yang itu, dan yang itu menyerahkannya kepada yang ini hingga kembalilah permasalahan tersebut kepada orang yang pertama tadi, dan sungguh salah seorang dari mereka berkata tentang sesuatu dan ia dalam keadaan gemetar”[16]

Beliau juga berkata,

أدركت عشرين ومائة من الأنصار من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ما منهم من أحد يحدث إلا ود أن أخاه كفاه إياه ولا يستفتى عن شيء إلا ود أن أخاه كفاه الفتوى

“Aku bertemu dengan 120 sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak seorangpun dari mereka yang berbicara kecuali ia berharap saudaranya telah mencukupkan perkataannya (sehingga ia tidak perlu lagi berbicara)[17], dan tidak seorangpun dari mereka yang berfatwa tentang suatu perkara kecuali ia berharap agar saudaranya telah mencukupi fatwanya (sehingga ia tidak perlu lagi berfatawa)”[18]

Lihatlah bagaimana keadaan sekarang yang telah berbalik, sesuatu yang para salaf lari darinya (yaitu berfatwa) namun sekarang malah diminati dan sebaliknya sesuatu yang dituntut (untuk berfatwa dengan hati-hati dan di atas ilmu) namun sekarang malah dijauhi[19]

Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Seorang pria menemui Malik bin Anas berhari-hari lamanya untuk bertanya tentang suatu perkara, namun Malik tidak memberi jawaban, maka iapun berkata, “Wahai Abu Abdillah sesungguhnya aku ingin keluar (kota) dan aku telah lama berulang-ulang bolak-balik menemuimu!”. Maka Malikpun menundukan kepalanya lama kemudian ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Masya Allah wahai fulan, sesungguhnya aku tidaklah berkata kecuali yang menurutku baik dan aku tidak bisa menguasai jawaban pertanyaanmu ini”[20]

Dari Al-Haitsam bin Jamil ia berkata, “Aku menyaksikan Imam Malik bin Anas ditanya 48 pertanyaan dan ia berkata pada 32 pertanyaan tersebut “Aku tidak tahu””

Dan diriwayatkan juga darinya bahwa ia ditanya suatu pertanyaan lalu ia berkata, “Aku tidak tahu” maka dikatakan kepadanya “Ini adalah pertanyaan yang ringan dan mudah!”, maka iapun marah dan berkata, “Tidak ada dalam ilmu sesuatupun yang ringan, tidakah engkau mendengar firman Allah.

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلاً ثَقِيلاً (المزّمِّل : 5 )

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (QS. 73:5)

Maka ilmu itu seluruhnya berat terutama sesuatu yang akan ditanya pada hari kiamat (yaitu orang yang berfatwa akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat-pen)”

Imam Malik juga berkata, “Jika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa berat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tidaklah salah seorang dari mereka menjawab hingga ia melihat pendapat sahabatnya yang lain, padahal mereka telah dianugrahi taufiq dan kelurusan dari Allah dan sucinya hati-hati mereka maka lantas bagaimanakah dengan kita yang kesalahan-kesalahan serta dosa-dosa kita telah menutup hati-hati kita” [21]

Berkata Ibnu Kholdah kepada Robi’ah,

يا ربيعة إياك أن تفتي الناس فإذا جاءك الرجل يسألك فلا تكن همتك أن تخرجه مما وقع فيه ولتكن همتك أن تتخلص مما سألك عنه

“Wahai Robi’ah waspadalah engkau dari memberi fatwa kepada manusia, maka jika datang kepadamu seseorang yang bertanya kepadamu maka janganlah tujuanmu adalah untuk menyelematkan dia (sipenanya) dari apa yang sedang ia alami, namun jadikanlah tujuanmu adalah agar engkau bisa selamat dari pertanyaannya”[22]

Ada orang yang bertanya kepada Imam Malik dan Imam Malik tidak menjawabnya maka ia berkata, “Wahai Abu Abdillah jawablah pertanyaanku!”, Imam Malik berkata, “Celaka engkau apakah engkau hendak menjadikan aku hujjah antara aku dan Allah?, maka aku yang lebih dahulu butuh untuk aku melihat bagaimana keselamatanku kemudian aku menyelamatkan engkau”[23]

Oleh karena itu tidaklah Ibnul Musayyib berfatwa kecuali ia berkata, اللهم سلمني وسلمه مني “Ya Allah selamatkanlah aku dan selamatkanlah ia dariku”[24]

Berkata Imam Malik, “Terkadang aku menerima satu pertanyaan yang menjadikan aku tidak bisa makan dan minum serta tidak bisa tidur”

Beliau juga berkata, “Sungguh aku pernah memikirkan satu permasalahan sejak belasan tahun namun aku belum bisa memiliki pendapat yang pas hingga sekarang”.

Beliau juga berkata, “Terkadang aku menemukan permasalahan maka akupun memikirkannya beberapa malam”[25]

Dan dari Imam Malik juga bahwasanya terkadang beliau ditanya 50 pertanyaan maka ia tidak menjawab kecuali satu pertanyaan saja dan ia berkata,

من أجاب في مسألة فينبغي من قبل أن يجيب فيها أن يعرض نفسه على الجنة والنار وكيف يكون خلاصة في الآخرة ثم يجيب فيها

“Barangsiapa yang menjawab suatu pertanyaan maka hendaknya sebelum ia menjawab maka ia meletakan dirinya diantara surga dan neraka dan bagaimanakah jalan keluar di akhirat kemudian ia menjawab pertanyaan tersebut”

Berkata sebagian orang, “Demi Allah Imam Malik jika ditanya suatu pertanyaan maka demi Allah ia sedang berdiri antara surga dan neraka”

Imam Malik jika sedang duduk maka ia menggerakan kedua bibirnya untuk berdzikir kepada Allah dan ia tidak menengok ke kanan dan ke kiri, dan jika ia ditanya tentang sautu permasalahan maka berubahlah warna kulit wajahnya, dan ia berkulit merah maka berubahlah jadi kuning (pucat) dan ia menundukan kepalanya dan menggerakan kedua bibirnya kemudian berkata ما شاء الله لا حول ولا قوة إلا بالله[26]

Beliau berkata, “Tidak ada sesuatupun yang lebih berat bagiku daripada aku ditanya tentang permasalahan halal dan haram”

Berkata Asy-Syatibhi mengomentari perkataan Malik, “Karena hal ini adalah memutuskan hukum Allah. Sungguh aku telah bertemu dengan para ulama dan ahli fiqih di negeri-negeri kami, dan sungguh salah seorang dari mereka jika ditanya tentang satu permasalahan maka seakan-akan kematian dihadapan mereka, dan aku melihat penduduk negeri zaman kita ini mereka begitu suka berbicara tentang halal dan haram dan suka berfatwa. Jika seandainya mereka berhenti memikirkan akhir yang mereka tuju kelak maka mereka akan mempersedikit hal ini.

Sesungguhnya Umar bin Al-Khotthob, Ali, dan seluruh para sahabat yang mulia jika mereka berhadapan dengan permasalahan-permasalahan –padahal mereka adalah generasi yang terbaik yang diutus kepada mereka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka merekapun mengumpulan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merekapun bertanya kepada mereka, kemudian setelah itu mereka berfatwa. Adapun penduduk zaman kita sekarang ini jadilah kebanggaan mereka adalah berfatwa”[27]

Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Malik tentang suatu permasalahan dan sang penanya tersebut menyebutkan bahwa ia diutus dari perjalanan sejauh enam bulan perjalanan dari Magrib untuk menanyakan permasalahan tersebut. Maka Imam Malik berkata, “Katakan kepada yang mengutusmu bahwa aku tidak memiliki ilmu tentang permasalahan ini”. Orang itu berkata, “Kalau begitu siapakah yang mengetahui permasalahan ini?”, Imam Malik berkata, “Orang yang diajari oleh Allah”.

Imam Malik ditanya oleh seseorang tentang permasalahan dan orang tersebut telah dititipkan oleh penduduk Magrib kepadanya, maka Imam Malik berkata, “Aku tidak tahu, kami tidak pernah menghadapi permasalahan seperti ini, dan kami tidak pernah mendengar guru-guru kami berbicara tentang permasalahan ini akan tetapi kembalilah engkau ke Magrib”. Dan tatkala keesokan harinya orang itupun datang dan telah mengangkat barang-barangnya di atas begolnya yang ia tunggangi dan ia berkata, “Pertanyaanku bagaimana?”, Imam Malik berkata, “Aku tidak tahu jawabannya”, orang itupun berkata, “Wahai Abu Abdillah aku telah meninggalkan di belakangku orang yang berkata bahwa tidak ada di atas muka bumi ini yang lebih pandai daripada engkau”, Imam Malikpun berkata, “Ada apa denganmu jika engkau tidak bersedih, jika engkau kembali maka kabarkanlah mereka bahwa aku tidak menguasai jawaban pertanyaan itu” [28]

Berkata As-Syatibhi, “Dan riwayat-riwayat dari imam Malik tentang perkataannya “Aku tidak tahu” dan “Aku tidak menguasai permasalahan ini” sangatlah banyak hingga dikatakan kalau ada seseorang yang ingin memenuhi bukunya dengan perkataan Imam Malik “Aku tidak tahu” maka ia akan bisa melakukannya”… dan dikatakan kepada beliau, “Jika engkau berkata wahai Abu Abdillah “Aku tidak tahu” maka siapakah yang mengetahui?, maka Imam Malik berkata, “Celaka engkau, apakah engkau mengetahui siapa aku?, dan siapakah aku?, apakah kedudukanku hingga aku harus mengetahui apa yang kalian tidak ketahui?”, kemudian Imam Malik berhujjah dengan hadits Ibnu Umar dan ia berkata, “Lihatlah Ibnu Umar, ia berkata, “Aku tidak tahu”, lantas siapakah aku??, sesungguhnya yang membinasakan mansia adalah ujub dan mencari kedudukan”…

Beliau juga pernah berkata, “Umar bin Al-Khottob pernah berhadapan dengan permasalahan-permasalahan ini dan ia tidak menjawabnya”[29]

Berkata Abu Hushoin, إن أحدهم ليفتي في المسألة ولو وردت على عمر بن الخطاب رضي الله عنه لجمع لها أهل بدر “Sesungguhnya salah seorang dari mereka (yang hidup di zamannya-pen) sungguh berfatwa tentang suatu permasalahan yang jika permasalahan tersebut ditanyakan pada Umar bin Al-Khottob maka ia akan mengumpulkan para sahabat yang ikut perang Badar untuk menjawab pertanyaan tersebut”[30]

Berkata Sufyan bin ‘Uyainah, أجسر الناس على الفتيا أقلهم علما “Orang yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya”[31]


Perkataan “Aku tidak tahu” bukanlah aib bahkan merupakan kemuliaan

Merupakan perangkap syaitan yang sangat halus yaitu seseorang jika berada bersama orang-orang yang ilmu mereka lebih sedikit dari ilmunya[32] maka terkadang ia tanpa ia sadari telah memposisikan dirinya sebagai seorang imam diantara mereka dan ia berusaha untuk tidak mengakui ketidaktahuannya pada suatu perkara yang ditanyakan kepadanya yang ia tidak memiliki ilmu tentang perkara tersebut, bahkan terkadang jika mereka sedang membicarakan sesuatu permasalahan maka iapun masuk diantara mereka dan memberikan keputusan hukum perkara tersebut padahal ia tidak memiliki ilmunya. Terkadang ia memposisikan dirinya seakan-akan ia adalah seorang ahli hadits dan seorang ahli fikih padahal ia tidak mengetahui bahwa seungguhnya ia telah membinasakan dirinya[33]

Syaikh Utsaimin berkata, “…Apakah yang menyebabkan seseorang untuk berbicara tanpa ilmu?, sebabnya karena ia ingin terangkat, ingin ia mengungguli para sahabatnya, ingin disebut-sebut, ingin popularitas agar ia dijuluki seorang ‘allamah (yang sangat alim), fahhamah (yang sangat paham), laut yang luas (yaitu yang sangat luas ilmunya), dan yang semisalnya. Dan tidak diragukan lagi ini adalah termasuk perangkap-perangkap syaitan. Yang wajib bagi engkau adalah engkau mengetahui ukuran dirimu dan janganlah engkau memposisikan dirimu lebih dari ukuranmu”[34]

Ketahuilah bahwasanya perkataan seseorang yang ditanya kemudian ia tidak tahu jawabannya “Aku tidak tahu” tidaklah merendahkan kedudukannya sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang-orang bodoh bahkan perkataannya ini akan mengangkat derajatnya. Karena ini merupakan tanda akan kuat agamanya, ketakwaannya, bersihnya hatinya, sempurnanya ilmunya, serta kehati-hatiannya.

Hanyalah enggan untuk mengatakan “Aku tidak tahu” orang yang lemah agamanya dan sedikit ilmunya karena ia takut jatuh di mata para hadirin, dan hal ini merupakan kebodohan dan lemahnya agama. Dan bisa jadi ia terkenal di kalangan manusia dengan kesalahan-kesalahannya karena ketidak hati-hatiannya dalam berfatwa (menjawab) maka iapun terjatuh pada sesuatu yang ia lari darinya, dan iapun disifati oleh manusia dengan sifat yang ia lari darinya[35]

Oleh karena itu Al-Qosim bin Muhammad berkata, إن من إكرام المرء نفسه أن لا يقول إلا ما أحاط به علمه “Termasuk bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya yaitu ia tidak berkata kecuali sesuatu yang ia kuasai ilmunya”[36]

Berkata orang-orang bijak,

من العلم أن لا تتكلم فيما لا تعلم بكلام من يعلم فحسبك خجلا من نفسك وعقلك أن تنطق بما لا تفهم وإذا لم يكن إلى الإحاطة بالعلم من سبيل فلا عار أن تجهل بعضه وإذا لم يكن في جهل بعضه عار فلا تستحي أن تقول لا أعلم فيما لا تعلم

“Merupakan ilmu engkau tidak berbicara tentang perkara yang engkau tidak ketahui dengan perkataan orang yang mengetahuinya, cukuplah engkau malu dengan dirimu dan akalmu jika engkau berbicara dengan perkataan yang tidak kau pahami. Jika tidak ada jalan untuk bisa mengetahui seluruh ilmu maka bukanlah aib jika engkau tidak mengilmui sebagaian perkara, dan jika tidak mengetahui sebagian ilmu bukanlah suatu aib maka janganlah engkau malu untuk mengatakan pada perkara yang tidak kau ketahui “Aku tidak tahu”” [37]

As-Sya’bi berkata, لا أدري نصف العلم ((“Aku tidak tahu” adalah setengah ilmu))[38].

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Jika setengah ilmu adalah perkataan “Aku tidak tahu” maka setengah kebodohan adalah perkataan “Dikatakan…” dan perkataan “Aku sangka…””[39]


Faedah yang bisa didapatkan bagi orang yang mengatakan “Aku tidak tahu”


1. Inilah yang wajib baginya.

2. Jika dia tidak menjawab dan berkata, “Aku tidak tahu” maka akan segera datang ilmu kepadanya karena ia akan segera muroja’ah (mencari jawaban) pertanyaan yang tidak bisa ia jawab tersebut atau orang lain yang memeriksa jawabannya. Karena seorang murid jika melihat gurunya tidak menjawab maka ia akan berusaha dengan keras untuk menemukan jawabannya kemudian mengabarkan jawaban tersebut kepada gurunya, maka sungguh baik hal ini.

3. Jika ia tidak menjawab apa yang ia tidak ketahui maka hal ini merupakan indikasi akan terpercayanya dia dan amanahnya serta penguasaannya secara sempurna pada permasalahan-permasalahan yang ia jawab, sebagaimana orang yang berani menjawab perkara-perkara yang ia tidak ketahui maka hal itu akan menimbulkan keraguan pada seluruh perkataannya hingga keraguan pada perkara-perkara yang telah jelaspun.

4. Jika para murid melihat gurunya tidak menjawab perkara-perkara yang tidak diketahuinya maka hal ini merupakan pelajaran bagi mereka untuk bertindak demikian juga, karena meneladani perkataan yang disertai amalan dari sang guru lebih mengena daripada hanya sekedar meneladani perkataan saja.[40]

Berkata Abdullah bin Yazid bin Hurmuz, “Hendaknya seorang alim mengajarkan para muridnya setelahnya perkataan “Aku tidak tahu” hingga perkataan tersebut menjadi pegangan mereka yang mereka segera menggunakannya jika salah seorang dari mereka ditanya sesuatu yang tidak diketahuinya, maka ia akan berkata, “Aku tidak tahu””[41]

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, جُنَّةُ العالم لا أدري “Perisai seorang yang berilmu adalah perkataan “Aku tidak tahu””[42]


Peringatan


1. Bukan berarti tidak boleh berfatwa tanpa ilmu berarti tidak boleh berfatwa sama sekali bahkan orang yang memiliki ilmu jika ditanya tentang apa yang ia ketahui maka wajib bagi dia untuk menjawabnya hal ini sebgaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار

((Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu kemudian ia menyembunyikannya maka ia akan dikekang (dimulutnya) pada hari kiamat dengan kekangan dari api neraka))[43].

Dan hal ini sebagaimana wasiat Ibnu Mas’ud يا أيها الناس من علم شيئا فليقل به ((Wahai manusia barangsiapa yang mengilmui sesuatu maka hendaknya ia berkata dengan ilmunya tersebut))

2. Bukan berarti karena takut berfatwa tanpa ilmu maka seseorang meninggalkan dakwah sama sekali dan tidak berdakwah hingga ia menjadi ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda بلغوا عني ولو آيةً ((Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat))[44]. Berkata Syaikh Utsaimin, “Barangsiapa yang menyangka tidak mungkin menggabungkan antara menuntut ilmu dan berdakwah maka ia telah keliru karena sesungguhnya seseorang mungkin baginya untuk belajar sambil mendakwahi keluarganya, tetangganya, kampungnya, penduduk kotanya dan ia sambil menuntut ilmu”[45]. Ada perkara-perkara yang bisa dipahami dengan mudah yang bisa didakwahkan oleh siapa saja. Namun perlu diingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam((dariku)) menunjukan bahwa yang disampaikan harus benar-benar merupakan agama dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Penulis: Firanda Andirja


Artikel www.firanda.com


Catatan Kaki:


[1] Atsar riwayat Al-Bukhori dalam shahihnya 4/1809 no 4531

[2] Atsar riwayat At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 9/188 no 8923, berkata Al-Haitsami “Para perawinya terpercaya” (Majma’ Az-Zawaid 1/183) dan juga Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/432, dan perkataan yang semisal ini juga dikatakan oleh Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol 1/433

[3] HR Al-Bukhari 1/33 no 59

[4] HR Al-Bukhari 1/50 no 100, Muslim 4/2058 no 2673

[5] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 828

[6]Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/441 no 829

[7] Lihat kedua syair ini dalam syarah mandzumah Al-Waroqoot oleh Syaikh Utsaimin pada penjelasan makna ilmu

[8] At-Ta’liq Ats-Tsamin hal 322

[9] Faidhul Qodir 1/158-159

[10] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/437 no 815

[11] HR Abu Dawud 3/317 no 3641, Ibnu Majah 1/81 no 223, At-Thirmidzi 5/48 no 2682 dari hadits Abu Darda’ dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani.

[12] Fatawa Ibnus Solah 1/7-8 bab بيان شرف مرتبة الفتوى وخطرها وغررها

[13] HR Abu Dawud 3/321 no 3657, Ibnu Majah 1/20 no 53 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani

[14] Faidhul Qodir 1/158-159

[15] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 806

[16] Tarikh Bagdad 13/412, Tarikh Ad-Dimasyq 36/87 dari Sufyan Ibnu Uyainah ia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku ‘Ato’ bin As-Saib dari Ibni Abi Laila….”

[17] Tidak sebagaimana sekarang dimana kebanyakan orang mereka menghendaki merekalah yang berbicara

[18] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/433 no 800

[19] Faidhul Qodir 1/159

[20] Fatawa Ibnus Solah 1/13

[21] Fatawa Ibnus Solah 1/13-15

[22] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/439 no 823

[23] Al-Muwafaqoot 4/288

[24] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/439 no 824

[25] Al-Muwafaqoot 4/286 permasalahan yang ketujuh

[26] Al-Muwafaqoot 4/286 permasalahan yang ketujuh

[27] Al-Muwafaqoot 4/287

[28] Al-Muwafaqoot 4/288

[29] Al-Muwafaqoot 4/289

[30] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 803

[31] Fatawa Ibnus Solah 1/12

[32] Berbeda jika ia sedang berada diantara orang-orang yang ilmunya lebih daripada dia atau setara dengannya maka ia cenderung untuk lebih berhati-hati karena takut ketahuan kesalahan-kesalahannya.

[33] Ma’alim fi toriq tolabil ‘ilmi hal 249

[34] At-Ta’liq Ats-Tsamin hal 322

[35] Ma’alim fi toriq tolabil ‘ilmi hal 206

[36] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 805

[37] Faidhul Qodir 1/158-159

[38] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 810

[39] At-Ta’liq Ats-Tsamin hal 325

[40] Keempat faedah ini disampaikan oleh Syaikh As-Sa’di dalam kitab Al-Fatawa As-Sa’diyah hal 627-629 sebagaimana dinukil dalam buku ma’alim fi toriq tolabil ilmi hal 206-207

[41] Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ila As-Sunan Al-Kubro 1/434 no 809

[42] At-Ta’liq Ats-Tsamin hal 325. Kisah : Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi –rohimahulloh- jika sedang mengawasi para mahasiswa Universitas Islam Madinah yang sedang melaksanakan ujian kemudian ada diantara mahasiswa yang bertanya kepada beliau tentang soal ujian maka beliau memberi jawabannya, padahal mereka sedang ujian. Tatkala beliau ditanya kenapa beliau memberi tahu jawaban soal ujian maka beliau berdalil dengan hadits ((Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu kemudian ia menyembunyikannya maka ia akan dikekang (dimulutnya) pada hari kiamat dengan kekangan dari api neraka)). Kalau seluruh pengawas ujian seperti beliau…???

[43] HR Ibnu Majah 1/97 no 264, At-Thirmidzi 5/29 no 2649 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

[44] HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274, para ulama berbeda pendapat tentang makna ayat dalam hadits ini

1. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ayat Al-Qur’an. Berkata Al-Baydhowi, “Maka menyampaikan hadits dipahami dengan mafhum awlawi” (Umdatul Qori 16/45)

2. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah perkataan yang berfaedah (yaitu hadits-hadits Nabi r)

3. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hukum-hukum yang diwahyukan kepada Nabi r maka lebih luas daripada hanya sekedar ayat yang dibaca. (Tuhfatul Ahwadzi 7/360)

[45] Kitabul ilmi hal 162



Bookmark and Share

Saturday, July 17, 2010

Dijadikan seolah- olahnya sebuah kisah dongeng..


Isra dan Mikraj hanya kisah dongeng.......?


Assalamualaikum ...setelah Abu Talib dan Khadijah yang menjadi pelindung wafat kedudukan Rasulullah saw di Mekah semangkin terdesak dengan gangguan berterusan oleh pihak Kuraisy. Dalam kesedihan yang amat sangat, suatu malam pada tahun 621M ketika Rasulullah berada di rumah saudara sepupunya, Hindun Abu Talib, Baginda telah didatangi oleh Jibrail dengan diiringi Israfil lalu diISRAkan menaiki Buraq dari Masjidil-Haram ke Madinah, Bukit Tursina, Baitul-laham dan berakhir di Masjidil-Aqsa. Daripada Masjidil-Aqsa Rasulullah diMIKRAJkan ke langit dengan menaiki tangga yang diturunkan daripada Syurga ke Baitul-Makmur (betul-betul di atas Baitullah, Mekah), Sidratul-Muntaha, Mustawa, Sharirul-Aqlam, Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab bertemu dan berdailog dengan ALLAH swt.

Dalam MIKRAJ Rasulullah telah ditunjukan dengan berbagai peristiwa antaranya :

1. Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.

2. Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).

3. Perempuan yang digantung dengan rambut dan otak di kepalanya mendidih. Mereka adalah perempuan yang tidak mahu melindungi rambutnya daripada dilihat lelaki lyang bukan mahram.

Di Arsy, Allah swt telah memerintahkan umat Rasulullah untuk solat 50 kali sehari. Setelah berjumpa Nabi Musa, Rasulullah turun naik beberapa kali bertemu Allah swt untuk memohon mengurangkan jumlah solat sehingga berakhir dengan ketentuan solat 5 kali sehari. Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama.

Mungkinkah Isra dan Mikraj ini hanya kisah dongeng untuk sebahagian besar umat Islam. Kenapa tidak walaupun berbagai peringatan telah diberi tetapi umat Islam ramai yang tidak solat, tidak menutup rambut dan berzina sehingga berlaku kes buang bayi yang tidak terkawal tanpa rasa takut. Sedihnya apabila dengar komen seorang wanita “Saya belum bersedia pakai jilbab, insyallah saya akan pakai bila terbuka hati”.

Adakah Isra dan Mikraj hanya kisah dongeng untuk mereka ini?

Firman Allah S. W. T. : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Surah Al-Israa’: Ayat 1)

Moga tidak ada diantara kita semua yang menganggap hal ini sebagai dongeng.


Sifat-sifat yang menggembirakan hati orang.....


Menemui sahabat dengan wajah berisi senyuman adalah yang termudah.....selain itu ada banyak lagi...yang sudah tentunya jadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang ikhlas mencari keberuntungan di sisi Allah....


SIFAT-SIFAT YANG MENGGEMBIRAKAN HATI ORANG..

Assalamualaikum w.w.

Dalam meneliti realiti kehidupan hari ini, terlintas dibenakku kenapa agaknya kadang2 seorang insan itu tidak digemari dan ada pula yang digemari. Bukanlah mereka yang digemari itu perfect... ada juga kekurangannya...dan tidak kurang juga yang tidak digemari itu mempunyai sifat2 yang baik dan ikhlas...Apa-apa pun bagiku yang lebih aula ialah berusaha menjadi insan yang ALlah redha dan suka walaupun jutaan manusia tidak menyukai. Tetapi...bagaimana dakwah harus dijalankan bila semua orang memandang sinis dengan kita?... Rasanya perlu juga aku meneliti beberapa ciri insan yang disukai sebelum dapat bergerak ditengah2 masyarakat yang mempunyai bermacam-macam ragam ini. Sememangnya kadang2 sifat itu sudah menjadi malakkah dalam diri sesaorang...tetapi dengan adanya kerendahan hati, ianya boleh diproses agar sifat itu tadi bertukar kpd. apa yang Allah kehendaki.
Di bawah ini terdapat 10 sifat yang mungkin boleh menggembirakan semua orang dan yang penting ianya menjadi sifat diri kita sendiri yang bukan hipokrit.....tetapi lahir dari pendidikan dalam diri;-

1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang . Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan diperbodohkan atau dibohongi . Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran , tidak suka mengada-ada , berpura - pura , mencari - cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya " Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak " . Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular . Dengan begitu , ketulusan tidak menjadi SESUATU yang bisa merugikan diri sendiri .

2 . Kerendahan Hati
Berbeza dengan rendah diri yang merupakan kelemahan , kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan . Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati . Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk . Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain . Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa ok dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa tidak dihargai (menyepi diri) .
3 . Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi sifat yang sangat tinggi harganya . Orang yang setia selalu boleh dipercayai dan diyakini . Dia selalu menepati janji , punya komitmen yang kuat , rela berkorban dan tidak suka berkhianat .
4 . Positive Thinking
Orang yang bersikap positif ( positive thinking ) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif , bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun . Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain , lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasan , lebih suka mencari penyelesaian daripada kekecewaan , lebih suka memuji daripada mengecam , dan sebagainya .
5 . Keceriaan
Kerana tidak semua orang dikurniakan aura ceria , maka keceriaan tidak harus diertikan ekspresi wajah dan tubuh , tapi sikap hati . Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup , tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan . Dia bisa mentertawakan situasi , orang lain , juga dirinya sendiri . Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain .
6 . Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh - sungguh. Kalau melakukan kesalahan , dia berani mengakuinya . Ketika mengalami kegagalan , dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan . Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati , dia tidak akan menyalahkan siapapun . Dia menyedari bahawa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya .
7 . Percaya DiriRasa
Percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya , menghargai dirinya dan menghargai orang lain . Orang yang percaya diri dengan menyesuaikan diri dengan persekitaran dan situasi yang baru . Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik .
8 . Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain . Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan . Ketika menghadapi masa - masa sukar dia tetap teguh , tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan .
9 . Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan . Dia tidak suka membesar - besarkan masalah kecil . Bahkan berusaha mengecilkan masalah - masalah besar . Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mahu khuatir dengan masa depan . Dia tidak mahu pening dan stress dengan masalah - masalah yang berada di luar kawalannyanya .
10 . Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan . Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik , tapi juga boleh menempatkan diri pada kedudukan orang lain . Ketika terjadi konflik , dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak , tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri . Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain .

Nampak mudahkan?...Insya ALlah kita boleh perbuat asalkan hati kita mempunyai persediaan untuk berubah.
=====================
Berubah untuk menjadi insan yang lebih baik....berbaloi hidup ku di sehari terbit matahari ini....

Apa Ada Pada Solat?



Banyak masjid yang menyambut peristiwa isra dan mikraj. Bentuknya berbeza, kesamaannya ialah ia mengingatkan kita peristiwa agong perjalanan Nabi SAW dari masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang diberkati di sekelilingnya kemudian di angkat Nabi SAW bertemu Allah dan dianugerahkan pada Nabi SAW solat.

Apa ada pada solat?

Dalam solat ada sepuluh perkara.

1) Dalam solat ada membesarkan Allah

Setiap bacaan solat adalah untuk membesarkan Allah. Ia bermula dengan takbirarul ihram lagi. Kita lafazkan bahawa Allah yang maha agong dan maha besar.

Jika orang membesarkan Allah, dia akan menjadi mausia yang mengaggap kecil pada dunia. Dan jika seseorang itu telah mengaggap kecil pada dunia, maka dia tidak akan takut dan gentar pada urusan dunia.

2) dalam solat ada meminta petunjuk

Petunjuk jalan yang lurus bukan sahaja dalam bab agama, tetapi dalam setiap keputusan hidup kita. Allah letakkan doa itu di dalam surah al-Fatihah iaitu “Ihdinas Siratal Mustaqim”.

3) dalam solat ada minta ampun pada dosa.

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “Rabbigfirli…… (ampunkan aku)

4) dalam solat ada minta kasih sayang dari Allah

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warhamni…. (kasihanilah aku )

5) dalam solat ada meminta cukup bagi keperluan kita

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wajburni… (cukupkan aku..)

6) dalam solat ada minta kemuliaan

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warfa’ni…(angkatlah darjat aku…)

7) dalam solat ada minta rezki

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “warzjukni….( rezkikanlah aku…)

8) dalam solat ada minta kesihatan.

Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wa’aafini,,” (afiatkan aku…)

9) dalam solat ada ucapan syahadah

Ia sebagai mengingatkan perjanjian kita pada dua syahadah iaitu penyaksian bahawa tiada yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhamad itu adalah pesuruh Allah. Ia diletakkan dalam tahyat awal dan tahyat akhir

10) dalam solat ada selawat pada Nabi SAW

Nabi mengatakan bahawa, barangsiapa berselawat pada ku sekali, pasti Allah akan berselawat dan memberikan keselamatan padanya 10 kali. Allah letakkan selawat ini di dalam tahyat awal dan tahyat akhir.

Maha suci Allah yang menganugerahkan pada kita solat dan kebaikan solat itu kembali pada kita. Jika manusia tidak bersolat, ia tidak sekali-kali mengurangkan kebesaran dan keagongan Allah bahkan akan berlakulah kehinaan terhadap orang tersebut.

Biasanya sambutan Israk Mi'raj disertai dengan Forum Israk Mi'raj .Forum adalah satu program yang digemari dalam usaha memahami islam dengan lebih mendalam lagi kerana bukan sahaja para pendengar dapat berkongsi beberapa sumber berbeza, malahan antara ahli panel juga saling memberi manfaat antara satu sama lain.

Benarlah firman Allah:-

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (al-Zariyat ayat 55).

Sesungguhnya ilmu Allah itu sangat luas, semakin kita tahu, sesungguhnya, semakin banyak yang kita tidak tahu.


Sumber: Ustaz Amin

Komen Peribadi Ustaz Aizam Tentang Fatwa ESQ Oleh Mufti Wilayah

Syabas buat Ustaz Aizam kerana membawa hujah beserta bukti-bukti yang menjelaskan kedangkalan ESQ 165.
Beberapa hari kebelakangan ini penulis dihujani banyak pertanyaan berkenaan kedudukan fatwa pengharaman ESQ yang telah diwartakan oleh SS Datuk Mufti Wilayah Persekutuan (SSDMWP) pada 17 Jun 2010. Sebagai seorang yang pernah beberapa kali mengikuti kursus ESQ (sebelum ia dibawa ke JK Fatwa Kebangsaan dan mempunyai Panel Syariah sendiri), menonton video-video dan membaca buku-buku ESQ, penulis merasa terpanggil untuk memberi sedikit komentar berkenaan fatwa yang dikeluarkan oleh SSDMWP tersebut. Lebih-lebih lagi penulis teramat sedih apabila timbul fitnah-fitnah lain berikutan pewartaan fatwa berkenaan. Komentar penulis berkenaan isu ini adalah seperti berikut:-
Pertama:

SSDMWP telah melaksanakan tugasnya di bawah kuasa yang telah diberikan oleh Yg Di Pertuan Agong (YDPA) kepadanya. Oleh itu, mempertikaikan mana-mana fatwa yang telah diwartakan bermakna mempertikaikan YDPA. Bagi penulis sekurang-kurangnya bagi mereka yang tidak bersetuju pun,janganlah sampai lupa bahawa setiap wilayah @ negeri di Malaysia ini ada pihak yang bertanggungjawab menjaga dan memelihara kesucian agama Islam.
Logiknya, jika seorang ahli agama @ ustaz yang telahpun memiliki ijazah dalam bidang pengajian Islam sendiri pun perlu menghadiri temuduga utk memperoleh tauliah mengajar, apatah lagi ’orang luar’ yang bukan dlm bidang agama ingin menyampaikan ajaran agama (walaupun berkonsepkan motivasi) di negara ini.

Kedua:

Setakat pengetahuan penulis, tiada lagi fatwa yang dikeluarkan secara semberono oleh mana-mana institusi fatwa di Malaysia. Semuanya sudah tentu berasaskan satu kajian yang konkrit dan menyeluruh serta diputuskan melalui musyawarah oleh golongan yang berkeahlian. Hujjah-hujjah mengapa fatwa itu dikeluarkan jelas disebutkan di dalam kertas pewartaan. Sama ada ia dipersetujui atau tidak, itulah penemuan dan dapatan yang terhasil daripada kajian dan ijtihad yang dilakukan.

Ketiga:

Fatwa pengharaman sesuatu perkara tidak semestinya merujuk kepada haramnya sesuatu perkara itu pada zatnya. Kadang-kadang ia lebih bertujuan untuk menyekat jalan-jalan yang mungkin akan membawa kerosakan pada masa-masa akan datang atau disebut sadd al-zara’i’. ESQ tidak boleh menafikan bahawa kini mereka mempunyai dua versi yang berbeza. Versi pertama iaitu sebelum ditegur dan belum mempunyai panel syariah sendiri. Versi kedua iaitu selepas ditegur dan telah melantik Panel syariah. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui adakah ESQ benar-benar telah menerima ‘perubahan versi’ itu atas dasar ia menyalahi aqidah dan syariah..atau..ESQ hanya mengubahnya kerana itu kehendak ‘client’ di Malaysia. Wallahu a’lam.

Keempat:

Alasan yang mengatakan bahawa “tiada apa-apa keraguan pada ESQ kerana saya sendiri telah mengikuti kursus tersebut” tidak boleh diterima bulat-bulat untuk menjustifikasikan bahawa ESQ itu 100 persen halal. Orang yang mengkaji ESQ hanya dengan mengikuti kursus-kursus ESQ tidak akan menemui ‘apa sebenarnya sumber ilmu’ ESQ. Apa yang ada di dalam kursus tersebut hanyalah metodologi penyampaian ESQ berserta aspek teknikalnya sahaja. Tetapi ideologi pengasasnya bagaimana? Apa alirannya? Siapa gurunya? Apa sumber ilmu dan rujukannya? Oleh itu, penulis berpandangan SSDMWP bukan hanya menilai ESQ melalui kursus-kursus yang dijalankan tetapi yang lebih penting ‘sumber ilmunya’ iaitu melalui buku-buku karangannya dan tuan gurunya.

Kelima:

ESQ bukan lahir sebagai satu kursus motivasi biasa seperti tanggapan sesetengah pihak. Ia bermula dengan satu teori yang dikarang oleh Ary Ginanjar melalui bukunya ‘Membangun Kesuksesan Berdasarkan 5 Rukun Iman dan 6 Rukun Islam’ pada 2001, diikuti dengan buku ‘ESQ Power’ dan ’ESQ: Rahsia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual’. Buku-buku ini sepatutnya menjadi kajian utama para pengkaji ESQ kerana di sinilah bermulanya ESQ dan ESQ tidak akan wujud jika tiada ‘ideologi’ yang terkandung di dalam buku-buku ini. Ideologi bukan sesuatu yang mudah untuk dikompromi, walaupun isi kandungan ini telah dibincangkan oleh Panel Kajian Aqidah JAKIM & Panel Pemantau JK Fatwa dengan Ary Ginanjar, tetapi ESQ tidak pernah membuat perakuan bahawa ideologi yang wujud dalam buku tersebut adalah menyalahi aqidah sebaliknya hanya bersetuju untuk menukarkannya dengan versi baru yang ‘Malaysia compliance’. Penulis tidak pasti adakah modul ESQ di Indonesia atau di tempat-tempat lain telah diubah seperti apa yang wujud di Malaysia? Jika yang diubah hanya ESQ versi Malaysia bermakna ESQ hanya menurut ‘Malaysia compliance’ bukan ‘Syariah compliance’!

Keenam:

Orang yang ‘bukan ahli’ janganlah terlalu cepat melatah dalam isu agama sehingga ke peringkat memperlekehkan institusi fatwa atau mufti. Alasannya hanya mufti wilayah yang mengeluarkan fatwa tetapi mufti lain tidak. Bagi penulis, tindakan SSDMWP sememangnya tidak popular di kala ESQ diterima baik oleh ramai tokoh agamawan dan pelbagai pihak. Tetapi sejarah telah membuktikan, apabila ia melibatkan isu ‘ideologi’ yang sukar dilihat oleh zahir mata kecuali oleh mereka ‘yang ahli’, maka tidak hairan jika ada fatwa yang menongkah arus. Ia tidak berbeza dengan tindakan Imam al-Ghazali yang mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina ketika masyarakat memuji kedua-dua mereka sebagai tokoh matematik, politik dan perubatan. Al-Ghazali mengkafirkan mereka kerana pengaruh pemikiran falsafah yang meresap ke dalam ideologi mereka dalam bab ketuhanan yang menyeleweng daripada aqidah Islam yang sebenar (Rujuk kitab al-Munqiz min al-Dhalal atau Tahafut al-Falasifah). Bagi Imam al-Ghazali kesalahan kedua-dua tokoh itu adalah muktamad, bagaimanapun Ibn Rusy menolak pandangan al-Ghazali dalam kitabnya ‘Tahafut al-Tahafut’ dengan menghujjahkan bahawa kesalahan kedua-dua tokoh itu bukan perkara yang muktamad (qat’iy). Adakah dengan pengkafiran al-Ghazali terhadap al-Farabi dan Ibn Sina boleh menjatuhkan martabat keilmuan al-Ghazali? Penulis tidak fikir mana-mana ‘orang berilmu’ yang memahami tradisi keilmuan akan mengatakan begitu.

Ketujuh:

Bidang perbahasan ESQ bukanlah berfokus kepada isu syariah semata-mata, ia lebih kepada perbahasan ilmu falsafah, usuluddin dan pemikiran Islam. Para ulama yang pakar dalam bidang ini sepatutnya diberi ruang yang seluas-luasnya untuk membongkar segala-galanya tentang ESQ. Mereka lebih berhak untuk memperkatakan tentang ESQ kerana mereka adalah ahli dalam bidang tersebut. Selain memahaminya dari konteks agama Islam, penguasaan terhadap teori dan falsafah Barat juga amat penting bagi memastikan kita tidak tertipu di sebalik pelbagai istilah dan teori yang diketengahkan. Sebagai contoh, penulis tidak fikir semua orang memahami apa itu perrenial philosophy dalam perbahasan Barat. Satu falsafah ketuhanan yang amat halus dan licik dan boleh meresap dengan mudah tanpa disedari oleh penganut agama itu sendiri.

Kelapan:

Seorang ahli ilmu tidak sewajarnya menilai ESQ hanya pada zahirnya. Ia seperti mengatakan, “adakah kita mahu mengharamkan ESQ sedangkan ESQ telah banyak mengubah orang yang tidak solat kepada bersolat, tidak bertudung kepada bertudung…dll”. Bagi penulis, kalau ini hujjahnya maka apa salahnya ‘Syiah’ dan ‘al-Arqam’, bukankah kumpulan-kumpulan ini amat indah pada zahirnya. Tetapi apabila ideologinya dibongkar, di sana jelas terlihat kedangkalan pegangan mereka. Mungkin ini yang menjadi keutamaan SSDMWP ketika memutuskan fatwa tersebut.

Kesembilan:

Bila dibuat perbandingan antara ESQ versi asal dan versi yang diubah, penulis dapati tiada lagi keistimewaan ESQ. Dulunya konsep pencarian, suara hati, asimilasi sifat tuhan, God Spot dan rumus Zero Mind Process menjadi hardcore subject dalam kursus ESQ. Tetapi kini fokus ESQ lebih kepada monolog-monolog yang meruntun hati para peserta untuk menangis. Kelebihan teknikal seperti penggunaan layar besar, kesan bunyi, pencahayaan dan kepakaran berpidato digunakan oleh para trainer untuk mengujudkan suasana sedih hingga menyentuh hati para peserta. Bagi penulis, jika ini yang menjadi kelebihan ESQ, ia bukanlah isu besar yang perlu dipertahankan sangat. Ia tiada beza dengan para pakar motivasi di Malaysia, cuma bezanya hanyalah ‘persoalan teknikal dan metodologi penyampaian’.

Kesepuluh:

Bagi individu yang was-was sama ada mahu menyertai ESQ atau tidak. Nasihat penulis adalah seperti sabda Baginda SAW: “Tinggalkanlah perkara yang meragukan kepada perkara yang tidak meragukan”. Insya-Allah kita akan selamat dan keluar daripada segala bentuk syubuhat, khilaf atau segala keraguan.

Sebagai rujukan semua, di sini adalah beberapa keraguan yang pernah ditimbulkan terhadap ESQ berdasarkan kitab rujukan utama mereka (yang akan dibekalkan secara percuma kpd setiap peserta kursus-versi lama):-

Mengiyaskan kurniaan kenabian para Nabi dengan pencarian manusia (Ary Ginanjar)
Mentafsirkan nama-nama Allah (asma ul-husna) sesuai dengan sifat manusia sebagai ‘barometer’
Nabi SAW memimpin manusia dengan suara hati (di mana letaknya wahyu?)
Nabi SAW pemimpin yang paling banyak menggunakan logik & suara hati akal bukan mukjizat2
Mengapa berhujjah dengan pejuang ‘Global Ethic’ yang jelas membawa faham pluralisme agama?
Mengapa berhujjah dengan aliran sesat kod 19 tajaan Rashad Khalifah?
Rumus ZMP boleh menghasilkan ‘kekuatan luar bisa’ termasuk mukjizat & karamah
(spt kisah Kapt Razak)
Wallahu a’lam.
sumber : Blog Ustaz Aizam
Via :Suarajagat.wordpress.com
--------------------------------
*satu input penting dari yg pernah terlibat dgn ESQ :

Alhamdulillaah, smoga Allah membalas jasabaik SJ memanjangkan tulisan Ust Aizam berkenaan esq.

Sebagai seorang bekas ATS selama hampir sembilan bulan, saya setuju sangat dengan kenyataan ini.

1. esq tidak memberatkan syariat. pihak manajemen esq:
a. tidak pernah mengambilberat soal arah kiblat dihotel-hotel dimana kursus dibuat. pernah beberapa kali para ATS dan para peserta bercanggah pendapat tentang arah kiblat sehingga pernah jemaah solat ikut 2 arah kiblat yang berbeza (Hotel Nikko dan Hotel Flamingo sebagai contoh).

b. pernah dimana para peserta esq sampai ke masjid untuk solat Jumaat apabila khatib berkhutbah yang ke-dua (mereka terlepas khutbah pertama). apakah hukumnya? sebagai ATS saya sudah banyak kali menegur Fasilitator tetapi nampaknya kepentingan menghabiskan sessi tertentu mengatasi kepentingan solat Jumaat.

c. semasa menjadi ATS, ramai peserta terdiri dari ahli agama, seperti ustaz, Kadhi, pensyarah universiti berbidang agama dan sebagainya yang menyampaikan teguran mereka melalui saya (diminta tulis atas kertas nota dan saya samapaikan kepada Fasilitator). Fasilitator bejanji akan membincangkan isu yang ditimbulkan tetapi sehingga akhir saya menjadi ATS, tidak ada perubahan yang dilakukan (ini menggambarkan kepada saya nbahawa modul ciptaan Pak Ary bagaikan Al Qur’an dan sunnah yang tak bolih diubahsuai demi menepati syariat).

antara teguran mereka adalah seperti:
kenapa fasilitator tak bolih solat jemaah dengan peserta?
kenapa mesti camera focus kepada wajah wanita cantik (dan acapkali yang tak bertudung) dan dipancarkan ke screen sehingga nampak sebiji jerawat?). bukankah itu dapat menaikan syahwat orang lelaki?

2. sila kaji perkataan “catharsis” yang menjadi finale bagi hari ketiga modul esq: ia adalah suatu “pre-christian era way of cleansing”: yakni ia suatu cara untuk membersihkan diri – seakan-akan tahajjud umat islam. diakhir sessi catharsis itu, setelah kedua yang dipasangkan menepuk belakang masing-masing, lalu terus dibacakan ayat al Qur’an dan lepas itu kita disuruh bersyahadah; kononnya inilah syahadah kita yang paling penting, seolah-olah keIslaman kita sebelum itu tidak diiktiraf disisi Allah.

bukankah ini percampuran antara yang haq dan yang bathil?

insya Allah saya akan menulis banyak lagi tentang bahaya esq. wallaahu a’laam.

JAIDI

---------------------------------

suarajagat : terima kasih Jaidi..

Motivator ESQ menyuruh partner A bertanya “siapa kamu?”dan kemudiannya motivator meminta partner B menjawab “la ilaha illallah”bukankah ini satu kecelaruan, penyimpangan dan penyelewengan akidah?....teruskan menulis saudara…
Saya harap, kepada anda dan semua Alumni dan ATS yang menyedari penyelewengan ESQ dapat tampil memberi maklumat kepada JAKIM.

Wednesday, July 14, 2010

NASIHAT KEPADA SALAFIYYUN DALAM MENGHADAPI ISU ESQ

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خليل الله محمد الأمين وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين وبعد،

Dewasa ini, masyarakat Malaysia telah digemparkan dengan isu kesesatan ESQ dan berlakulah polemik antara para Mufti, Institusi Agama Negara dan pihak-pihak lainnya yang menimbulkan kebingungan dalam kalangan masyarakat awam.

Namun, apa yang saya hendak tekankan di sini adalah, isu sebegini tidak seharusnya menimbulkan kerungsingan dalam kalangan mereka yang berpegang dengan Manhaj Salafi Ahlus Sunnah wal Jamaah, kerana Ahlus Sunnah wal Jamaah mempunyai prinsip yang jelas sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w:

قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك

Maksudnya: “Aku telah meninggalkan kamu di atas benda yang putih; malamnya bagaikan siangnya, tidak ada orang yang terpesong daripadanya melainkan orang yang celaka”. [Ahmad, Ibn Majah, al-Munziri dalam al-Targhib wat Tarhib].

Oleh itu, para pengikut manhaj yang mulia dan jelas ini perlulah menjadi jelas juga dalam segenap isu yang timbul dan menilainya dengan ilmiah serta berpegang dengan dalil yang berlandaskan al-Quran dan al-Sunnah kerana Ahlus Sunnah wal Jamaah bukanlah kaum emosional yang bertindak atas perasaan semata-mata dan bukan pula mereka yang mengikut arus secara membuta tuli kerana sabda Rasulullah s.a.w:

لا يكُنْ أحَدُكمْ إمَّعَة ، يقول : أنا مع الناس ، إن أحْسنَ الناسُ أحسنتُ ، وإن أساؤوا أسأتُ ، ولكن وَطِّنُوا أنفسكم إن أحسنَ الناسُ أن تُحْسِنُوا ، وإن أساؤوا أن لا تَظلِمُوا

Maksudnya: “Janganlah seseorang kamu menjadi ‘Imma’ah’, dia berkata: Aku mengikut manusia, jika mereka baik maka aku jadi baik, jika mereka buruk maka aku juga melakukan keburukan. Tetapi hendaklah kamu menetapkan diri kamu, jika manusia berbuat baik maka berbuat baiklah kamu, jika mereka menyeleweng maka janganlah kamu juga berlaku seleweng”. [al-Tarmizi].

Oleh itu, dalam menilai ESQ ini, perlulah kita menetapkan pendirian dan iman bahawa Manhaj Salafus Soleh sahaja yang berhak menilai isu dengan ‘adil dan saksama dan hendaklah kita yakin bahawa perkara yang menyelisihi Ijmak Ulama Salafussoleh tidaklah memberi apa-apa keuntungan melainkan kecelakaan dan kerugian semata-mata.

Pendirian Kita Terhadap ESQ:

Maka perlu saya tegaskan di sini bahawa pendirian kita terhadap ESQ adalah jelas ianya suatu perkara BIDAAH yang melawan arus Salafus Soleh dan satu penambahan dalam agama Islam yang sempurna ini dan berlawanan dengan akidah Salafus Soleh.

Penilaian kesesatan dan penyimpangan ESQ ini dapatlah kita bahagikan kepada dua:

Pertama: Penyimpangan daripada segi amalan yang zahir dan penyimpangan jenis ini lah menyebabkan saya mengatakan isu ini tidak seharusnya menimbulkan keraguan dalam kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah bahawa ESQ menyimpang.

Kedua: Penyimpangan dalam bentuk akidah dan kepercayaan yang mungkin disembunyikan oleh pihak ESQ namun bentuk penyimpangan ini tidaklah tersembunyi pada Ahli Ilmu yang melihat dari kaca mata Salaf.

Antara bentuk penyimpangan yang pertama adalah amalan-amalan seperti zikir dan doa beramai-ramai yang sememangnya maklum ianya menyalahi kosnep ibadah mahdah dalam Islam yang mestilah berlandaskan nas bukan rekaan dan ciptaan akal manusia.

Sabda Rasulullah s.a.w:

مَنْ أحْدَثَ في أمرنا هذا ما لَيْسَ منهُ فهو رَدٌّ

Maksudnya: “Sesiapa yang merekacipta dalam urusan (agama) kami ini maka ianya ditolak”. [al-Bukhari].

Demikian juga penggunaan muzik yang ketara dalam kursus ini dan ianya dijadikan sebagai instrumen motivasi dan alat untuk mengubat jiwa. Perbuatan ini adalah bertentangan dengan Tarbiah Islamiah yang melihat muzik sebagai perosak jiwa bukan pengubat jiwa.

Berkata Ibn Masud r.a:

“Nyanyian itu menumbuhkan sifat nifaq di dalam hati seperti mana air menumbuhkan tumbuhan”. [al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra]

Berkata Imam al-Dahhak r.h:

“Nyanyian itu merosakkan hati dan menyebabkan kemurkaan Tuhan” [Talbis Iblis].

Allah Taala telah mengharamkan muzik dalam firmanNya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Maksudnya: Dan ada di antara manusia: Orang yang memilih serta membelanjakan hartanya kepada cerita-cerita dan perkara-perkara hiburan yang melalaikan; yang berakibat menyesatkan (dirinya dan orang ramai) dari agama Allah dengan tidak berdasarkan sebarang pengetahuan dan ada pula orang yang menjadikan agama Allah itu sebagai ejek-ejekan; merekalah orang-orang yang akan beroleh azab yang menghinakan.[Luqaman: 6]

Ulama Tafsir menyatakan bahawa antara makna ‘Lahwal Hadis’ dalam ayat ini adalah Nyanyian dan seumpamanya dan daripada Mujahid r.h beliau menyatakan ianya gendang (alat muzik). [Rujuk Tafsir al-Tabari].

Imam al-Syafii r.h berkata:

“خلفت ببغداد شيئاً أحدثته الزنادقة، يسمونه التغبير، يصدون به الناس عن القرآن”

Maksudnya: “Aku tinggalkan di Baghdad sesuatu yang diada-adakan oleh orang-orang zindiq (munafiq) yang mereka namakan sebagai ‘Taghbir’ mereka menghalang dengannya daripada al-Quran” [Ighasatul Lahfan, Ibn al-Qayyim, m.s 229].

Imam al-Syafii telah menghukum mereka yang melakukan Taghbir sebagai ‘zindiq’ yakni munafiq kerana mereka menjadikan perkara maksiat sebagai ibadat. Tahukah anda apakah itu Taghbir?

قال الأَزهري وقد سَمَّوْا يُطَرِّبون فيه من الشِّعْر في ذكر الله تَغْبيراً كأَنهم تنَاشَدُوهُ بالأَلحان طَرَّبوا فَرَقَّصوا وأَرْهَجوا فسُمّوا مُغَبِّرة لهذا المعنى

Maksudnya: “Berkata al-Azhari: dan mereka telah menamakan orang-orang yang mendendangkan syair untuk mengingati Allah sebagai Taghbir seumpama mereka itu mendendangkannya dengan nada-nada tertentu lalu mereka mendendangkan pendengarnya dan menari-nari dan menimbulkan gerakan-gerakan maka dinamakan mereka itu mughabbirah berdasarkan makna ini”. [Lisanul ‘Arab,Ibn Manzur, 5/3]

Kemudian Imam al-Azhari membawa perkataan Imam al-Syafii r.h yang dinyatakan di atas menunjukkan bahawa inilah makna taghbir yang dikehendaki oleh Imam al-Syafii r.h.

وقال الزجاج سُمّوا مُغَبِّرين لتزهيدهم الناس في الفانية وهي الدنيا وترغيبهم في الآخرة الباقية

Maksudnya: “Berkata al-Zujaj: Dinamakan mereka ini Mughabbirin (pembuat Taghbir) kerana mereka menzuhudkan manusia daripada dunia dan merangsang mereka untuk mengingat akhirat”. [Ibid].

Al-Imam Ibn Kasir r.h mengulas kenyataan Imam al-Syafii ini:

“dan ianya (taghbir) adalah mengetuk dengan dahan atau lainnya di atas kulit yang kering berserta mendendangkan syair-syair ketuhanan yang melembutkan hati dan menggerakkan benda yang diam walaupun begini keadaannya beliau (al-Syafii r.h) telah menamakan pelakunya sebagai zindiq maka bagaimana pula jika beliau melihat apa yang diada-adakan oleh mereka ini di zaman kita dengan mendengar nyanyian dan menari diiringi duff (kompang) dan serunai….” [Kasyful Ghita’ ‘an Hukmi Sima’ al-Ghina’, Maktabah al-Sunnah, cet. 1, 1991 M, m.s 42].

Berkata al-Imam Ibn al-Qayyim r.h:

“Jika inilah perkataan beliau (al-Syafii) berkenaan Taghbir dan ‘illahnya: ianya menyekat daripada al-Quran sedangkan taghbir itu syair yang membawa kepada zuhud di dunia didendangkan oleh penyanyi lalu sebahagian yang hadir mengetuk dengan kayu di atas pelantar atau bantal menurut rentak nyanyian, sesungguhnya apa yang beliau katakan berkenaan taghbir ini hanyalah seumpama ludah di dalam air lautan di sisi beliau (yakni jika dibandingkan dengan apa yg diadakan pada zaman sesudah itu daripada muzik dan nyanyian –pent-) Ia telah menghimpunkan semua kerosakan dan keharaman..” [Ighasatul Lahfan, m.s 229].

Berkata guru kepada dua orang alim yang terdahulu, Syeikhul Islam Ibn Taimiah r.h:

وأما السماع المحدث، سماع الكف والدف والقصب، فلم تكن الصحابة والتابعون لهم بإحسان وسائر الأكابر من أئمة الدين يجعلون هذا طريقًا إلى الله تبارك وتعالى، ولا يعدونه من القرب والطاعات،بل يعدونه من البدع المذمومة

Maksudnya: “adapun sima’ (mendengar) yang diada-adakan seperti mendengar tepukan tangan, kompang, dan pukulan kayu, maka tidaklah pernah dilakukan para Sahabat dan yang mengikut mereka dengan baik serta seluruh pembesar imam agama ini apatah lagi menjadikannya sebagai jalan menuju kepada Allah Tabaraka wa Taala dan tidak pula mereka menganggapnya sebagai ketaatan dan ibadat bahkan mereka menganggapnya sebagai bidaah yang tercela”. [Majmuk Fatawa, 11/297-298]

Kemudian beliau membawakan perkataan Imam al-Syafii r.h yang terdahulu.

Ini menunjukkan bahawa perbuatan menjadikan muzik sebagai satu bentuk makanan rohani menggantikan zikrullah hatta muzik itu diiringi zikrullah sekalipun ianya tetap bidaah dan lebih dahsyat keharamannya.

Muzik tidak akan memberi ketenangan jiwa sebaliknya ia akan merosakkan hati dan memudahkan syahwat dan syubhat memasukinya yang akan menukar hati itu menjadi gelap dan buta hidayah-nauzubillah min zalik-.

Adapun penyimpangan dari sudut akidah pula antaranya yang dapat saya kesan daripada ajaran ESQ ini adalah kepercayaan terhadap Proses Zero Mind di mana seseorang yang mengosongkan minda kenmudian fokus akan mendapat keajaiban tertentu dan keajaiban ini sama dengan mukjizat para Nabi alaihimussalam dan dimisalkan dengan Mukjizat Nabi Musa a.s dan disamakan mukjizat ini dengan pengalaman Kapten Kapal Terbang yang terselamat dalam kemalangan udara, Abdul Razak. [rujuk video berikut: http://www.youtube.com/watch?v=kBvwGtCgLPI ]

Konsep Zero Mind Process adalah tujuan utama dalam ajaran Hindu melalui Yoga; di mana mereka (Hindu) menyatakan:

“The traditional yoga lifestyle strives toward the goals of asceticism, which seeks to zero-out all desires, attachments, emotions, and ego clinging. The goal of yoga is essentially to cause the mind to become like zero. In fact, the goal of meditation (the central feature of the yoga lifestyle) is to zero-out thoughts, to zero-out the mind and realize the true condition of reality… zero. To know the supreme become like the supreme… zero.” [sumber: http://www.hinduwisdom.info/Yoga_and_Hindu_Philosophy.htm ]

Jelas sekali bahawa konsep zero mind proses adalah berasal daripada agama hindu yang digunakan dalam Yoga dengan tujuan untuk bersatu dengan Tuhan To know the supreme become like the supreme… zero yang bermaksud: “Untuk Mengetahui yang Maha Berkuasa maka hendaklah jadi seperti Maha Berkuasa..Kosong”.

Ini mendekati konsep Fana’ dalam ajaran Sufi yang akan membawa kepada Wehdatul Wujud di mana apabila seorang Sufi itu mengosongkan jiwanya daripada sifat-sifat kemanusiaan dan memfokuskan pada Allah Taala maka ia akan mencapai maqam ketuhanan dan ketika inilah kaum sufi akan mengeluarkan perkataan-perkataan syirik dan kufur seperti: Maha Suci Aku, Akulah Tuhan yang Maha Benar, dan lain-lain lagi yang banyak diriwayatkan daripada mereka ini. [ rujuk berkenaan Sufi ini di blog saya dan rakan-rakan: http://bahaya-sufi.blogspot.com ].

Lebih dahsyat dakwaan ESQ kejadian Zero Mind Process ini adalah perkara yang sama berlaku pada Nabi Musa a.s dan ianya zahir kufur dan syirik kerana menyamakan kuasa Allah dengan kuasa makhluk kerana kita tahu bahawa mukjizat berlaku semata-mata dengan kuasa Allah Taala berbeza dengan Sihir dan Ahwal Syaitaniah yang merangkumi Istidraj yakni kejadian luar biasa yang Allah jadikan pada orang-orang kafir dan fasiq dengan tujuan menambahkan lagi kefasiqan mereka.

ESQ juga menekankan konsep ‘Suara Hati’ dan ianya jelas merupakan ajaran kesufian dan pihak mufti Wilayah Persekutuan telah menjelaskan ianya adalah konsep ajaran Krsitian dan Hindu.

Antara kenyataan ESQ berkenaan Suara Hati ini adalah ianya datang daripada Allah semata-mata dan terus menerus memberikan arahan supaya manusia mengikuti kehendak Allah [Lihat kenyataan Ary Ginanjar: http://esqmagazine.com/esq-menjawab/2010/01/30/1354/dari-mana-datangnya-suara-hati.html ]

Kenyataan ini berlawanan 100% dengan akidah Islam di mana Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan penuh bahawa suara hati tidak terlepas daripada bisikan syaitan. Imam Ibn al-Qayyim r.h menjelaskan:

فإن الخواطر والهواجس ثلاثة أنواع: رحمانية، وشيطانية، ونفسانية، كالرؤيا، فلو بلغ العبد من الزهد والعبادة ما بلغ فمعه شيطانه ونفسه لا يفارقانه إلى الموت، والشيطان يجرى من ابن آدم مجرى الدم، والعصمة إنما هى للرسل صلوات الله وسلامه عليهم الذين هم وسائط بين الله عز وجل وبين خلقه، فى تبليغ أمره ونهيه ووعده ووعيده، ومن عداهم يصيب ويخطئ، وليس بحجة على الخلق.

Maksudnya: “Sesungguhnya bisikan dan lintasan (hati) itu tiga jenis: Rahmaniah, Syaitaniah, Nafsaniah, ianya seumpama mimpi, maka walau sejauh mana pun seorang hamba mencapai tahap zuhud dan ibadah maka syaitan akan sentiasa bersama dengannya demikian juga nafsunya tidak akan meninggalkannya sehingga mati dan syaitan itu berlari dalam badan anak Adam seperti berlarinya darah dan ‘ismah (yang maksum) itu hanyalah para Rasul Solawatullah wa Salamuhu ‘alaihim, yang mana mereka adalah perantara antara Allah dan makhlukNya dalam menyampaikan perintahNya, laranganNya, janji baikNya, dan ancamanNya, adapun selain mereka, berlaku padanya betul dan salah, bukanlah hujah atas makhluk”. [Ighasatul Lahfan, m.s 122].

Dan dengarlah hukum mereka yang menjadikan Suara Hati sebagai sandaran:

ومن ظن أنه يستغنى عما جاء به الرسول بما يلقى فى قلبه من الخواطر والهواجس فهو من أعظم الناس كفرا. وكذلك إن ظن أنه يكتفى بهذا تارة وبهذا تارة، فما يلقى فى القلوب لا عبرة به ولا التفات إليه إن لم يعرض على ما جاء به الرسول ويشهد له بالموافقة، وإلا فهو من إلقاء النفس والشيطان.

Maksudnya: “Barangsiapa yang berasa tidak perlu dengan apa yang dibawa oleh Rasul dan hanya bersandar kepada apa yang terlintas di hatinya daripada lintasan-lintasan dan bisikan-bisikan maka dia adalah manusia yang paling kufur, demikian juga jika dia berasa kadang-kadang cukup dengan bisikan hati dan lintasan-lintasannya, kerana apa yang terlintas di hati itu tidak ada apa-apa nilai dan tidak berpaling kepadanya jika tidak dibandingkan dengan apa yang dibawa oleh Rasul dan disaksikan ianya sesuai dengannya (syariat) jika tidak maka ianya hanyalah bisikan nafsu dan syaitan”. [Ighasatul Lahfan, Ibn al-Qayyim, 123].

ESQ juga menyatakan bahawa Suara Hati adalah sumber datangya sifat-sifat baik dan suara hatilah yang mendorong manusia melakukan kebaikan dan semua tindak tanduknya. [ http://esqmagazine.com/esq-menjawab/2010/03/04/1627/fungsi-suara-hati.html ]

Namun, Islam berpandang sebaliknya di mana Imam Ibn al-Qayyim r.h menjelaskan:

ثم إنه وقع من تحكيم الذوق من الفساد ما لا يعلمه إلا الله فإن الأذواق مختلفة في أنفسها كثيرة الألوان متباينة أعظم التباين فكل طائفة لهم أذواق وأحوال ومواجيد بحسب معتقداتهم وسلوكهم.

Maksdunya: “Kemudian telah berlaku akibat berhukum berdasarkan perasaan pelbagai kerosakan yang tidak diketahui jumlahnya melainkan Allah jua kerana perasaan itu berbeza pada dirinya dan banyak bentuknya dan berbeza dengan perebzaan yang ketara maka setiap golongan ada perasaan dan keadaan dan bisikan tersendiri berdasarkan akidahnya dan peribadinya”. [Madarij al-Salikin, 495].

Kata Ibn al-Qayyim lagi:

فالقائلون بوحدة الوجود لهم ذوق وحال ووجد في معتقدهم بحسبه والنصارى لهم ذوق في النصرانية بحسب رياضتهم وعقائدهم وكل من اعتقد شيئا أو سلك سلوكا حقا كان أو باطلا فإنه إذا ارتاض وتجرد: لزمه وتمكن من قلبه وبقي له فيه حال وذوق ووجد

Maksudnya: “Mereka yang berakidah dengan Wehdatul Wujud bagi mereka perasaan dan hal dan lintasan berdasarkan akidah mereka, demikian juga kaum krsitian bagi mereka perasaan berdasarkan Kristianisme mereka dan aktiviti ibadat mereka dan akidah-akidah mereka dan setiap orang yang berakidah dengan sesuatu akidah atau mengikut sesuatu jalan benar atau salah maka jika dia beriadah dan mengosongkan diri dengan perkara itu: perkara itu akan melaziminya dan akan menguasai hatinya dan kekal baginya berdasarkan akidahnya itu hal, perasaan, dan getaran jiwa…” [Madarij al-Salikin, 495-496]

Maka berdasarkan pernyataan Ibn al-Qayyim r.h ini dan beliau merupakan Imam yang dipercayai dalam bidang ini, manusia itu berbeza suara hatinya dan lintasan-lintasan yang terlintas di hatinya sesuai dengan akidah yang dia anuti berbeza dengan fahaman ESQ yang menyatakan bahawa semua suara hati itu datang daripada Allah dan semua manusia sama dalam hal ini tanpa mengira agama sebagaimana kata mereka:

Bila dicermati, kisah-kisah sukses para pebisnis kelas dunia memperlihatkan suatu kesamaan: terasahnya kecerdasan spiritual menjadi sumber kekuatan luar biasa penggerak bisnis mereka. Perlu ditekankan di sini bahwa spiritualitas, sebagaimana diperkenalkan dalam pelatihan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) 165, tidak mesti berkaitan langsung dengan agama. Kecerdasan spiritual itu dipandang sebagai potensi yang secara universal dimiliki oleh setiap manusia.

Dalam ESQ Model, yang bersumber pada konsep Satu Ihsan, Enam Rukun Iman, dan Lima Rukun Islam (165), potensi kecerdasan spiritual itu diyakini sebagai pantulan sifat-sifat unggul yang terpancar dari Nama-Nama Allah SWT (Asmaul Husna). Potensi itu terpantul melalui ruh yang ditiupkan pada setiap manusia. Tugas manusialah untuk mengasahnya agar teraktualisasi menjadi energi. ESQ Model adalah sebuah ikhtiar untuk menguraikan dan mengasah potensi-potensi itu, dengan mengidentifikasi tujuh dari 99 Asmaul Husna. Ketujuh potensi atau suara hati, yang kami sebut Tujuh Budi Utama (Jujur, Tanggungjawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, dan Peduli) itu menjadi pijakan awal untuk mengenali jati diri; betapa manusia sesungguhnya memiliki potensi yang kaya. [Sumber: Artikel Energi Suara Hati: http://esqmagazine.com/frekuensi/2010/03/19/energi-suara-hati.html ]

Berdasarkan pernyataan ini, ESQ menyamakan semua manusia sama ada mukmin atau kafir, ahli taat atau maksiat semuanya mempunyai suara hati yang berasal daripada PANTULAN nama-nama Allah yang maha mulia dan sempurna. Ini tidak lain tidak bukan akidah semua agama sama dan konsep wehdatul wujud.

Ketahuilah bahawa Nabi s.a.w pernah menyatakan dalam hadis yang sahih bahawa Saidina Umar r.a adalah orang yang ilhamnya adalah benar dan gerak hatinya senantiasa bersih dan digelar Muhaddas yakni yang diberikan perbicaraan oleh Allah Taala namun, beliau tidak pernah berhukum sesuatu perkara dengan gerak hatinya yang luhur dan mulia itu bahkan pernah pula Umar r.a mengaku ia salah apabila beliau menghadkan jumlah mahar maksimum lalu ditegur seorang sahabiah (sahabat wanita). Maka siapakah kita untuk menjadikan suara hati sebagai rujukan dalam menentukan suatu perkara sedangkan siang malam kita bergelumang dengan dosa?!

Kemudian rujuk juga kenyataan ini: Andaikan seekor kuda bisa menggambar Tuhan, maka Tuhan akan digambarkan bagaikan kuda. Kesufian ESQ akan jelas jika anda membaca keseluruhan artikel yang sangat khurafat ini: http://esqmagazine.com/refleksi/2010/03/17/mendekati-tuhan-dengan-cinta.html dan lihat juga link ini: http://www.esqmagazine.com/node/2433

Inilah sebahagian gambaran kesesatan ESQ yang nyata dan terang walaupun saya menulis ini dalam keadaan agak tergesa-gesa dan maklumat yang ada adalah terhad namun maklumat-maklumat yang saya peroleh daripada video-video pihak ESQ sendiri dan daripada laman web mereka sendiri sudah cukup menyerlah akan penyelwengan mereka ini.

Maka pihak penulis berharap mereka yang sudah berada di atas manhaj salaf yang lurus ini teruslah berpegang dengan prinsip-prinsip Islami Nabawi ini dan janganlah termasuk dalam kelompok yang keliru dan melatah kerana kita berada dalam keadaan cahaya yang cukup, malamnya bagaikan siangnya. Semoaga Allah menetapkan kita di atas hidayahnya..ameen.

Ditulis oleh;

Muhammad Asrie bin Sobri,

Kuliah Dakwah dan Usuluddin,

Universiti Islam Madinah Munawwarah, KSA.

Sumber:Mashoori'S Blog