Showing posts with label akhlak. Show all posts
Showing posts with label akhlak. Show all posts

Wednesday, May 18, 2011

Atasi Marahmu, Gapai Ridha Rabbmu




Siapapun kita, tentu pernah merasakan marah, bahkan mungkin tidak jarang kita merasakan kemarahan dan emosi yang sangat.


Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah[1].

Bersamaan dengan itu, sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka, karena dengan kemarahan seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga dia bisa melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi diri dan agamanya[2].


Oleh karena itu, hamba-hamba Allah Ta’ala yang bertakwa, meskipun mereka tidak luput dari sifat marah, akan tetapi kerena mereka selalu berusaha melawan keinginan hawa nafsu, maka mereka pun selalu mampu meredam kemarahan mereka karena Allah Ta’ala.


Allah Ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya,

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Artinya: jika mereka disakiti orang lain yang menyebabkan timbulnya kemarahan dalam diri mereka, maka mereka tidak melakukan sesuatu yang diinginkan oleh watak kemanusiaan mereka (melampiaskan kemarahan), akan tetapi mereka (justru berusaha) menahan kemarahan dalam hati mereka dan bersabar untuk tidak membalas perlakuan orang yang menyakiti mereka[3].


Keutamaan menahan marah dan mengendalikan diri ketika emosi


Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ »

Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah[4].

Inilah kekuatan yang terpuji dan mendapat keutamaan dari Allah Ta’ala, yang mana sangat sedikit dimiliki oleh kebanyakan manusia[5].

Imam al-Munawi berkata,“Makna hadits ini: orang kuat (yang sebenarnya) adalah orang yang (mampu) menahan emosinya ketika kemarahannya sedang bergejolak dan dia (mampu) melawan dan menundukkan nafsunya (ketika itu). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini membawa makna kekuatan yang lahir dari kekuatan batin. Dan barangsiapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika itu maka sungguh dia telah (mampu) mengalahkan musuhnya yang paling kuat dan paling berbahaya (hawa nafsunya)[6].


Inilah makna kekuatan yang disukai oleh Allah Ta’ala yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah”[7].

Arti kuat dalam hadits ini adalah kuat dalam keimanan dan kuat dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah U[8].


Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya[9].

Imam ath-Thiibi berkata, “(Perbuatan) menahan amarah dipuji (dalam hadist ini) karena menahan amarah berarti menundukkan nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, oleh karena itu Allah Ta’ala memuji mereka dalam firman-Nya,

{وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134)”[10
].

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “…padahal dia mampu untuk melampiaskannya…”, menunjukkan bahwa menahan kemarahan yang terpuji dalam Islam adalah ketika seseorang mampu melampiaskan kemarahannya dan dia menahnnya karena Allah Ta’ala[11], adapun ketika dia tidak mampu melampiaskannya, misalnya karena takut kepada orang yang membuatnya marah atau karena kelemahannya, dan sebab-sebab lainnya, maka dalam keadaan seperti ini menahan kemarahan tidak terpuji.


Seorang mukmin yang terbiasa mengendalikan hawa nafsunya, maka dalam semua keadaan dia selalu dapat berkata dan bertindak dengan benar, karena ucapan dan perbuatannya tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya.


Inilah arti sikap adil yang dipuji oleh Allah Ta’ala sebagai sikap yang lebih dekat dengan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,

{وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ على أَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى}

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS al-Maaidah:8).

Imam Ibnul Qayyim menukil ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata,

Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran”[12].


Menahan marah adalah kunci segala kebaikan


Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat beliau. Orang itu berkata: Berilah wasiat (nasehat) kepadaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau marah”. Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjawab: “Janganlah engkau marah”[13].


Orang ini datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta nasehat yang ringkas dan menghimpun semua sifat baik, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya untuk selalu menahan kemarahan. Kemudian orang tersebut mengulang permintaan nasehat berkali-kali dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama: “Janganlah engkau marah”. Ini semua menunjukkan bahwa melampiaskan kemarahan adalah sumber segala keburukan dan menahannya adalah penghimpun segala kebaikan[14].


Imam Ja’far bin Muhammad berkata:

“(Melampiaskan) kemarahan adalah kunci segala keburukan”.

Imam Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi, ketika dikatakan kepada beliau:

Sampaikanlah kepada kami (nasehat) yang menghimpun semua akhlak yang baik dalam satu kalimat.
Beliau berkata: “(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”.

Demikian pula imam Ahmad bin Hambal dan imam Ishak bin Rahuyah ketika menjelaskan makna akhlak yang baik, mereka berdua mengatakan:

“(Yaitu) meninggalkan (menahan) kemarahan”[15].

Maka perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas: “Janganlah engkau marah” berarti perintah untuk melakukan sebab (menahan kemarahan) yang akan melahirkan akhlak yang baik, yaitu: sifat lemah lembut, dermawan, malu, merendahkan diri, sabar, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, ramah dan sifat-sifat baik lainnya yang akan muncul ketika seseorang berusaha menahan kemarahannya pada saat timbul sebab-sebab yang memancing kemarahannya[16].


Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasi kemarahan ketika muncul pemicunya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah untuk melakukan sebab-sebab yang bisa meredakan kemarahan dan menahannya dengan izin Allah Ta’ala[17], di antaranya:

1- Berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan

Dari Sulaiman bin Shurad beliau berkata: “(Ketika) aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang laki-laki yang sedang (bertengkar dan) saling mencela, salah seorang dari keduanya telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya maka niscaya akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Seandainya dia mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, maka akan hilang kemarahan yang dirasakannya”[18].


2- Diam (tidak berbicara), agar terhindar dari ucapan-ucapan buruk yang sering timbul ketika orang sedang marah[19].

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian marah maka hendaknya dia diam”[20].

3- Duduk atau berbaring, agar kemarahan tertahan dalam dirinya dan akibat buruknya tidak sampai kepada orang lain[21].

Dari Abu Dzar al-Gifari bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya dia duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya dia berbaring”[22].

Di samping itu, yang paling utama dalam hal ini adalah usaha untuk menundukkan dan mengendalikan diri ketika sedang marah, yang ini akan menutup jalan-jalan setan yang ingin menjerumuskan manusia ke dalam jurang keburukan dan kebinasaan[23].

Allah Ta’ala berfirman,

{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُون}

Sesungguhnya syaithan itu hanya menyuruh kamu berbuat buruk (semua maksiat) dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS al-Baqarah:169).

Suatu hari, Khalifah yang mulia, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz marah, maka putranya (yang bernama) ‘Abdul Malik berkata kepadanya: Engkau wahai Amirul mukminin, dengan karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepadamu, engkau marah seperti ini? Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: Apakah kamu tidak pernah marah, wahai ‘Abdul Malik?

Lalu ‘Abdul Malik menjawab: Tidak ada gunanya bagiku lapangnya perutku (dadaku) kalau tidak aku (gunakan untuk) menahan kemarahanku di dalamnya supaya tidak tampak (sehingga tidak mengakibatkan keburukan)[24].


Marah yang terpuji

Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah”[25].

Inilah marah yang terpuji dalam Islam, marah karena Allah Ta’ala, yaitu marah dan tidak ridha ketika perintah dan larangan Allah Ta’ala dilanggar oleh manusia.


Inilah akhlak mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu ridha dengan apa yang Allah ridhai dalam al-Qur’an dan benci/marah dengan apa yang dicela oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an[26].

‘Aisyah berkata :

“Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an”[27].
Dalam riwayat lain ada tambahan:
“…Beliau marah/benci terhadap apa yang dibenci dalam al-Qur’an dan ridha dengan apa yang dipuji dalam al-Qur’an”[28].

Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Wajib bagi seorang mukmin untuk menjadikan keinginan nafsunya terbatas pada apa yang dihalalkan oleh Allah baginya, yang ini bisa termasuk niat baik yang akan mendapat ganjaran pahala (dari Allah Ta’ala). Dan wajib baginya untuk menjadikan kemarahannya dalam rangka menolak gangguan dalam agama (yang dirasakan) oleh dirinya atau orang lain, serta dalam rangka menghukum/mencela orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya r, sebagaimana firman-Nya:

{قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرُكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ}

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan menghilangkan kemarahan orang-orang yang beriman” (QS at-Taubah: 14-15)”[29].

Penutup

Demikianlah tulisan ringkas ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan menjadi motivasi untuk selalu berusaha menundukkan hawa nafsu dan menahan kemarahan, agar kita terhindar dari segala keburukan.

Kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya untuk memiliki sifat-sifat yang baik dan mulia dalam agama-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Jumadal ula 1432 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

Artikel www.muslim.or.id


[1] HSR Muslim (no. 2603).

[2] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/107) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/111).

[3] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 148).

[4] HSR al-Bukhari (no. 5763) dan Muslim (no. 2609).

[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (16/162).

[6] Kitab “Faidhul Qadiir” (5/358).

[7] HSR Muslim (no. 2664).

[8] Lihat kitab “Syarhu Riyaadhish shaalihiin” (1/305) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/183).

[9] HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[10] Dinukil oleh al-‘Azhiim Abadi dalam kitab “’Aunul Ma’buud” (13/95).

[11] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/111).

[12] Kitab “ar-Risalatut tabuukiyyah” (hal. 33).

[13] HSR al-Bukhari (no. 5765).

[14] Keterangan imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 144).

[15] Semua ucapan di atas dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).

[16] Lihat keterangan imam Ibnu Rajab dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 145).

[17] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146) dan “Bahjatun naazhiriin” (1/112).

[18] HSR al-Bukhari (no. 5764) dan Muslim (no. 2610).

[19] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).

[20] HR Ahmad (1/239) dan al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 245), dinyatakan shahih dengan penguatnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 1375).

[21] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).

[22] HR Abu Dawud (no. 4782), Ahmad (5/152) dan Ibnu Hibban (no. 5688), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

[23] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (1/112).

[24] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 146).

[25] HSR al-Bukhari (no. 3367) dan Muslim (no. 2327).

[26] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).

[27] HSR Muslim (no. 746).

[28] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 72).

[29] Kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 148).

Friday, November 19, 2010

ISLAM CARA HIDUP KAMI (AKHLAK)




Bab 1 : Adab Niat

1. Niat memiliki peranan yang amat penting di dalam segala kegiatan dan amalan agama kerana nilaian Allah Ta'ala terhadap semua amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.

2. Firman Allah s.w.t. dalam Surah al-Bayyinah, ayat 5 yang bermaksud :

" Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya , lagi tetap teguh di atas tauhid, dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, dan yang demikian itulah agama yang benar ".

3. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

" Sesungguhnya setiap amalan itu dengan niat dan sesungguhnya bagi tiap-tiap seseorang itu apa yang diniatkan ".

4. Maka niat yang baik itu adalah dianggap sebagai satu amal soleh dan memperolehi pahala serta ganjaran daripada Allah s.w.t.

5. Sesiapa yang berniat dengan niat yang baik, maka dia akan mendapat pahala dan ganjaran yang baik, manakala sesiapa yang berniat buruk maka dia akan diberi balasan dosa dan balasan yang setimpal dengan dosanya.

6. Kaum muslimin mengakui niat itu sebagai rukun dan syarat dalam semua amalan dan bukan hanya diucapkan atau dilafazkan oleh lidah sahaja .

Bab 2: Adab Kepada Allah

1. Anugerah dan rahmat yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepada manusia tidak terhitung banyaknya iaitu semenjak manusia diciptakan daripada nutfah (setitis air mani) di dalam rahim ibunya sehingga dia kembali menghadap Allah s.w.t.

2. Manusia hendaklah mensyukuri segala rahmat dan nikmat Allah s.w.t dengan melakukan segala suruhan dan perintahnya dan menjauhi segala tegahan dan larangannya serta selalu memujiNya sama ada dengan kata-kata atau amal perbuatan serta memanfaatkan segala yang dianugerahkan hanya untuk beribadah kepadaNya.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

"Dan Dia telah memberi kepada kamu sebahagian dari tiap-tiap apa jua yang kamu hajati dan jika kamu menghitung nikmat Allah nescaya lemahlah kamu menentukan bilangannya" ( Surah Ibrahim - Ayat 34 )

3. Cara ini merupakan adab kepada Allah s.w.t. sebagaimana Firman Allah s.w.t yang bermaksud :

"Dan apa sahaja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah (datangnya)......." ( Surah An- Nahl - Ayat 53 )

4. Kaum muslimin meyakini bahawa Allah s.w.t Maha Mengetahui di atas segala-galanya dan sentiasa memperhatikan setiap tingkah laku manusia sehingga hati mereka sentiasa takut kepada Allah dengan mengingatiNya serta mengagungkanNya.

5. Mereka merasa malu berbuat perkara mungkar dan maksiat kepada Allah s.w.t. untuk melanggar apa-apa tegahan dan laranganNya. Sebagaimana Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

"Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu). ( Surah Al-Baqarah - Ayat 152 )

6. Kaum Muslimin mengetahui dan melihat bahawa Allah s.w.t. menguasai diri setiap manusia yang sentiasa menyerahkan diri kepadaNya serta bertawakal kepadaNya . Firman Allah s.w.t yang bermaksud :

" .... Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal , jika kamu benar-benar orang yang beriman ". ( Surah Al - Maidah - Ayat 23 )

7. Kaum Muslimin mencari akan rahmat dan kasih sayang Allah dengan merendahkan diri dan sentiasa berdoa mencari keredhaanNya dengan ucapan dan amalan yang soleh.

Sebagaimana firman Allah yang bermaksud : " ..... dan rahmatKu meliputi segala sesuatu...." . ( Surah Al-A'raf - Ayat 156 )

8. Setiap amalan yang soleh dan dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketaatan yang bersungguh-sungguh akan dibalas dengan pahala yang berlipatganda serta dijanjikan syurga yang kekal selama-lamanya .

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :

" Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya , maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan ". ( Surah An-Nur - Ayat 52 )

9. Kaum Muslimin yang sentiasa memelihara adab dengan Allah akan mendapat kedudukan yang mulia dan darjat yang tinggi serta mendapat rahmat dan nikmat di sisi Allah s.w.t.

Bab 3: Adab Kepada Al-Quran

1. Kaum Muslimin beriktiqad bahawa kemuliaan dan kesucian serta keutamaan ayat-ayat Allah s.w.t. iaitu Kitab Al-Qur'an adalah keunggulan yang tertinggi.

2. Al-Qur'an adalah sebesar-besar mukjizat kurniaan Allah s.w.t. yang dikurniakan kepada Rasulullah s.a.w. sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman.

3. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud :-

" Bacalah olehmu Al- Qur'an kerana ia akan datang pada hari qiamat memberi pertolongan kepada yang membacanya" (Riwayat Muslim)

4. Insan yang berpegang teguh dengan Al- Qur'an kerana ia akan mendapat keselamatan dan kesejateraan di dunia dan di akhirat.

5. Di dalam hadith- hadith Rasulullah s.a.w. memberi keutamaan akan keagungan, kesucian dan kemuliaan Al- Qur'an di dalam memperkukuhkan keimanan kaum muslimin. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :

" Sebaik -baik kamu adalah yang belajar Al- Qur'an dan mengajarkannya" (Riwayat Bukhari) " Ahli Al- Quran adalah keluarga Allah dan orang pilihannya" (Riwayat An- Nasa'i)

6. Adab - adab di dalam membaca Al- Qur'an ialah :-

i) Berwudhuk ii) Dibaca di dalam sucu daripada hadas iii) Dibaca di dalam keadaan mengadap kiblat iv) Dibaca dengan tartil dan tidak terlalu cepat v) Dibaca dengan khusyuk, tadabbur (mengamat -amati) dan menghayati dengan bersungguh-sungguh. vi) Di baca dengan memperelokkan suaranya. Sabda Rasullullah s.a.w. yang bermaksud :-

" Hiasilah olehmu Al- Qur'an dengan suaramu " (Riwayat Ahmad)

Bab 4: Adab Terhadap Rasulullah s.a.w

i) Allah telah mewajibkan setiap mukmin untuk hormat terhadap Nabi Muhammad S.A.W seperti yang ditegaskan dalam firman Allah :

“ Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.....” ( Al-Hujurat 49:1 )

ii) Sesungguhnya Allah mewajibkan orang yang beriman untuk taat dan cinta kepada Rasullullah seperti di dalam firmannya :

“ Wahai orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul...” ( Muhammad 47:33)

iii) Allah menjadikan Rasullullah sebagai pemimpin dan hakim seperti dalam firmannya :

“ Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.....” ( An-Nisa’ 4:105 )

iv) Allah telah menetapkan bahawa Rasullullah adalah manusia terbaik akhlak dan budi pekertinya. Beliau memiliki kesempurnaan diri dan jiwa sehingga beliau merupakan makhluk yang paling baik dan sempurna.

Beberapa cara beradab kepada Nabi Muhammad S.A.W antaranya :

  • Hendaklah mentaati Nabi Muhammad S.A.W di samping mengikuti jejak langkahnya dalam urusan dunia dan agama.
  • Menjadikan Nabi Muhammad S.A.W sebagai orang yang paling dicintai, dihormati dan diagungkan dari seluruh makhluk Allah.
  • Mengagung dan menghormati Nabi Muhammad S.A.W apabila namanya disebut dan berselawat serta salam ke atasnya, mengakui kebenarannya dan menghargai sifat-sifatnya.
  • Membenarkan segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W samada soal agama dan dunia
  • Merendahkan suara di makam dan masjidnya bagi yang berpeluang menziarahinya.
  • Mencintai para salihin dan para pengikutnya kerana mereka mencintai Nabi Muhammad S.A.W serta memusuhi golongan fasiq kerana mereka membenci Nabi Muhammad S.A.W.

( Rujukan : Bimbingan Mukmin )

Bab 5: Adab Terhadap Diri Sendiri

Kaum muslimin percaya bahwa kebahagian di dunia dan akhirat bergantung pada perilaku dan adab terhadap diri sendiri dan pada kesucian serta kebersihan jiwa. Begitu juga dengan kesengsaraan disebabkan kerosakan dan kekotoran jiwa hal ini nyata dalam firman Allah :

“ Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” ( Asy-Syam [ 91] 9-10)

Rasullullah bersabda :

“ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bila melakukan sesuatu dosa terjadilah bintik hitam dalam hatinya. Bila dia bertaubat dan menghentikan dosanya dan mencela perbuatannya, hatinya akan bersinar kembali, dan apabila dosanya bertambah, akan bertambah pula bintik hitam itu hingga hatinya akan tertutup….” ( Nasa’i dan Tarmizi, hadis hasan sahih)

Oleh yang demikian kaum muslim haruslah berusaha menjaga dirinya dengan membersih dan menyucikan jiwanya. Kerana jiwa yang suci dan bersih dapat menjauhkan diri dari melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan boleh merosakkan. Beberapa langkah yang perlu di lalui untuk mencapai kesucian jiwa iaitu :

a. Taubat

Taubat yang bermaksud menyucikan diri dari dosa dan maksiat, menyesali segala dosa yang telah dilakukan dan berazam untuk tidak mengulangi. Seperti firman Allah yang bermaksud:

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang seikhlas-ikhlasnya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai….” (at-Tahrim[66] : 8)

Dan sabda Rasullullah :

“ Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah kerana aku bertaubat setiap hari seratus kali ” ( Muslim )

b. Muraqabah ( Pengawasan )

Umat Islam sentiasa merasakan setiap perbuatan dan pergerakan diawasi oleh Allah. Sehingga mereka yakin bahawa Allah sentiasa memerhatikan dan megetahui segala yang nyata mahupun tersembunyi.Dengan keyakinan itulah manusia merasakan jiwanya tenang mengingati Allah dan puas mendampingiNYA. Ia di nyatakan dalam firman Allah :

“ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan .....” ( an-Nisa [4] : 125 )

Rasullullah juga bersabda :

” Beribadahlah kamu kepada Allah seperti kamu melihat-NYA, apabila kamu tidak melihat Allah, sesungguhnya Dia melihatmu ......” (Muttafaq ’alaih)

c. Muhassabah

Melakukan perhitungan terhadap diri sendiri di atas apa yang telah dilakukan demi mengecapi kebahagian di dunia dan akhirat. Sentiasa membuat perhitungan dengan apa yang telah dilakukan. Andainya apa yang dilakukan adalah perkara-perkara yang dilarang, maka mestilah segera beristigfar menyesali perbuatan dan segera bertaubat dan membuat kebaikan. Inilah yang dimaksudkan dengan muhassabah terhadap diri sendiri.Ianya satu cara memperbaiki, mendidik, menyuci dan membersihkan diri

Allah berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah dilakukannya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (al-Hasyr [59] : 18)

d. Mujahadah (Berjuang Melawan Hawa Nafsu) Hawa Nafsu adalah musuh yang paling besar bagi setiap individu Islam. Hawa nafsu hanya cenderung untuk melakukan kejahatan dan menjauhi kebaikan.

Allah telah berfirman :

“ Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.....” (Yusuf [12] : 53 )

Sebagai umat Islam seharusnya kita berjuang untuk melawan hawa nafsu jangan sampai ianya menguasai diri kita. Didiklah nafsu agar tenang dan tenteram serta suci dan bersih. Allah berfirman :

“ Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut : 69)

Sebagai umat Islam kita mestilah sentiasa berjuang di jalan Allah demi memastikan nafsu terkawal, baik, bersih, suci dan tenteram serta memperolehi kemuliaan dan keredhaan dari Allah S.W.T.

by An Nur Iman , November 18, 2010

Saturday, July 17, 2010

Sifat-sifat yang menggembirakan hati orang.....


Menemui sahabat dengan wajah berisi senyuman adalah yang termudah.....selain itu ada banyak lagi...yang sudah tentunya jadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang ikhlas mencari keberuntungan di sisi Allah....


SIFAT-SIFAT YANG MENGGEMBIRAKAN HATI ORANG..

Assalamualaikum w.w.

Dalam meneliti realiti kehidupan hari ini, terlintas dibenakku kenapa agaknya kadang2 seorang insan itu tidak digemari dan ada pula yang digemari. Bukanlah mereka yang digemari itu perfect... ada juga kekurangannya...dan tidak kurang juga yang tidak digemari itu mempunyai sifat2 yang baik dan ikhlas...Apa-apa pun bagiku yang lebih aula ialah berusaha menjadi insan yang ALlah redha dan suka walaupun jutaan manusia tidak menyukai. Tetapi...bagaimana dakwah harus dijalankan bila semua orang memandang sinis dengan kita?... Rasanya perlu juga aku meneliti beberapa ciri insan yang disukai sebelum dapat bergerak ditengah2 masyarakat yang mempunyai bermacam-macam ragam ini. Sememangnya kadang2 sifat itu sudah menjadi malakkah dalam diri sesaorang...tetapi dengan adanya kerendahan hati, ianya boleh diproses agar sifat itu tadi bertukar kpd. apa yang Allah kehendaki.
Di bawah ini terdapat 10 sifat yang mungkin boleh menggembirakan semua orang dan yang penting ianya menjadi sifat diri kita sendiri yang bukan hipokrit.....tetapi lahir dari pendidikan dalam diri;-

1. Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang . Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan diperbodohkan atau dibohongi . Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran , tidak suka mengada-ada , berpura - pura , mencari - cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya " Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak " . Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular . Dengan begitu , ketulusan tidak menjadi SESUATU yang bisa merugikan diri sendiri .

2 . Kerendahan Hati
Berbeza dengan rendah diri yang merupakan kelemahan , kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan . Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati . Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk . Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain . Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa ok dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa tidak dihargai (menyepi diri) .
3 . Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi sifat yang sangat tinggi harganya . Orang yang setia selalu boleh dipercayai dan diyakini . Dia selalu menepati janji , punya komitmen yang kuat , rela berkorban dan tidak suka berkhianat .
4 . Positive Thinking
Orang yang bersikap positif ( positive thinking ) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif , bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun . Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain , lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasan , lebih suka mencari penyelesaian daripada kekecewaan , lebih suka memuji daripada mengecam , dan sebagainya .
5 . Keceriaan
Kerana tidak semua orang dikurniakan aura ceria , maka keceriaan tidak harus diertikan ekspresi wajah dan tubuh , tapi sikap hati . Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup , tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan . Dia bisa mentertawakan situasi , orang lain , juga dirinya sendiri . Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain .
6 . Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh - sungguh. Kalau melakukan kesalahan , dia berani mengakuinya . Ketika mengalami kegagalan , dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan . Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati , dia tidak akan menyalahkan siapapun . Dia menyedari bahawa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya .
7 . Percaya DiriRasa
Percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya , menghargai dirinya dan menghargai orang lain . Orang yang percaya diri dengan menyesuaikan diri dengan persekitaran dan situasi yang baru . Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik .
8 . Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain . Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan . Ketika menghadapi masa - masa sukar dia tetap teguh , tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan .
9 . Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan . Dia tidak suka membesar - besarkan masalah kecil . Bahkan berusaha mengecilkan masalah - masalah besar . Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mahu khuatir dengan masa depan . Dia tidak mahu pening dan stress dengan masalah - masalah yang berada di luar kawalannyanya .
10 . Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan . Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik , tapi juga boleh menempatkan diri pada kedudukan orang lain . Ketika terjadi konflik , dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak , tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri . Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain .

Nampak mudahkan?...Insya ALlah kita boleh perbuat asalkan hati kita mempunyai persediaan untuk berubah.
=====================
Berubah untuk menjadi insan yang lebih baik....berbaloi hidup ku di sehari terbit matahari ini....