Showing posts with label Imam Mazhab. Show all posts
Showing posts with label Imam Mazhab. Show all posts

Tuesday, February 11, 2014

Aqidah Imam Empat



AQIDAH IMAM EMPAT

Oleh
Ustadz Muslim Al Atsari



“Bagilah masjid-masjid antara kami dengan Hanafiyah [1] karena Si Fulan, salah seorang ahli fiqih mereka, menganggap kami sebagai ahli dzimmah! [2]” Usulan ini disampaikan oleh beberapa tokoh Syafi’iyyah[3] kepada mufti Syam pada akhir abad 13 Hijriyah.

Selain itu, banyak ahli fiqih Hanafiyah memfatwakan batalnya shalat seorang Hanafi di belakang imam seorang Syafi’i. Demikian juga sebaliknya, sebagian ahli fiqih Syafi’iyah memfatwakan batalnya shalat seorang Syafi’i di belakang imam seorang Hanafi.

Ini di antara contoh sekian banyak kasus fanatisme madzhab yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan umat Islam [4]. Realita yang amat disayangkan, bahkan dilarang di dalam agama Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara. [Ali ‘Imran : 103].

Mengapa orang-orang yang mengaku sebagi para pengikut Imam Empat itu saling bermusuhan? Apakah mereka memiliki aqidah yang berbeda? Bagaimana dengan aqidah Imam Empat?

Benar, ternyata banyak di antara para pengikut Imam Empat memiliki aqidah yang menyimpang dari aqidah imam mereka. Walaupun secara fiqih mereka mengaku mengikuti imam panutannya. Banyak di antara para pengikut itu memiliki aqidah Asy’ariyah atau Maturidiyah atau Shufiyah atau lainnya, aqidah-aqidah yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Padahal imam-imam mereka memiliki aqidah yang sama, yakni aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, aqidah Ahli Hadits.

IMAM EMPAT
Istilah Imam Empat yang digunakan umat Islam pada zaman ini, mereka ialah:
1. Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah, dari Kufah, Irak (hidup th 80 H - 150 H).
2. Imam Malik bin Anas rahimahullah, dari Madinah (hidup th 93 H - 179 H)
3. Imam Syafi’i Muhammad bin Idris rahimahullah, lahir di Ghazza, ‘Asqalan, kemudian pindah ke Mekkah. Beliau bersafar ke Madinah, Yaman dan Irak, lalu menetap dan wafat di Mesir (hidup th 150 H - 204 H).
4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dari Baghdad, ‘Irak (hidup th 164 H - 241 H).

Empat ulama ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Kepada empat imam inilah, empat madzhab fiqih dinisbatkan.

AQIDAH IMAM EMPAT
Siapapun yang meneliti aqidah para ulama Salafush Shalih, maka ia akan mendapatkan bahwa aqidah mereka adalah satu, jalan mereka juga satu. Para ulama Salafush Shalih tidak berpaling dari nash-nash Al Kitab dan Sunnah, dan tidak menentangnya dengan akal, perasaan, atau perkataan manusia.

Mereka mempunyai pandangan yang jernih, bahwa aqidah itu tidak diambil dari seorang ‘alim tertentu, bagaimanapun tinggi kedudukannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Adapun i’tiqad (aqidah, keyakinan), maka tidaklah diambil dariku, atau dari orang yang dia lebih besar dariku. Tetapi diambil dari Allah dan RasulNya, dan keyakinan yang disepakati oleh salaful ummah (umat Islam yang telah lalu, para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Maka apa yang ada di dalam Al Qur’an wajib diyakini. Demikian juga yang hadits-hadits yang shahih telah pasti, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim” [5].

 Imam Al Ashfahani rahimahullah berkata: “Seandainya engkau meneliti seluruh kitab-kitab mereka (Ahlu Sunnah) yang telah ditulis, dari awal mereka sampai yang akhir mereka, yang dahulu dari mereka dan yang sekarang dari mereka, dengan perbedaan kota dan zaman mereka, dan jauhnya negeri-negeri mereka, masing-masing tinggal di suatu daerah dari daerah-daerah (Islam); engkau dapati mereka dalam menjelaskan aqidah di atas jalan yang satu, bentuk yang satu. Pendapat mereka dalam hal itu (aqidah) satu. Penukilan mereka satu. Engkau tidak melihat perselisihan dan perbedaan pada suatu masalah tertentu, walaupun sedikit. Bahkan seandainya engkau kumpulkan seluruh apa yang lewat pada lidah mereka dan apa yang mereka nukilkan dari Salaf (orang-orang dahulu) mereka, engkau mendapatinya seolah-olah itu datang dari satu hati dan melalui satu lidah”. [6]

Termasuk Imam Empat, mereka berada di atas satu aqidah. Para ulama terkenal dari berbagai madzhab telah menulis aqidah Imam Empat ini, dan mereka semua memiliki aqidah yang sama.

Secara terperinci, aqidah Imam Empat ini antara lain dapat dilihat di dalam kitab Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari, dosen aqidah Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Qashim dan kitab Mujmal I’tiqad Aimmatis Salaf, karya Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki, Rektor Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud.

IMAM ABU HANIFAH
Imam Abu Hanifah t berkata: “Aku berpegang kepada kitab Allah. Kemudian yang tidak aku dapatkan (di dalam kitab Allah, aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah n . Jika aku tidak mendapatkannya di dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat Beliau. Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki, dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki di antara mereka. Dan aku tidak akan meninggalkan perkataan mereka (dan) mengambil perkataan selain (dari) mereka”. [Riwayat Ibnu Ma’in di dalam Tarikh-nya, no. 4219. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36, karya ‘Amr Abdul Mun’im Salim].

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (wafat 321 H), salah seorang ulama Hanafiyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah, yang kemudian terkenal dengan nama “Aqidah Ath Thahawiyah”. Beliau membukanya dengan perkataan: “Ini peringatan dan penjelasan aqidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah di atas jalan ahli fiqih-ahli fiqih agama: Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al Anshari, Abu Abdillah Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani g , dan yang mereka yakini, berupa ushuluddin (pokok-pokok agama), dan cara beragamanya mereka (dengannya) kepada Rabbul ‘Alamin”. [Kitab Aqidah Ath Thahawiyah]

As Subki rahimahullah memberikan komentar terhadap “Aqidah Ath Thahawiyah” dengan perkataan : “Madzhab yang empat ini –segala puji hanya bagi Allah- satu dalam aqidah, kecuali di antara mereka yang mengikuti orang-orang Mu’tazilah dan orang-orang yang menganggap Allah berjisim [7], Namun mayoritas (pengikut) madzhab empat ini, berada di atas al haq. Mereka mengakui aqidah Abu Ja’far Ath Thahawi yang telah diterima secara utuh oleh para ulama dahulu dan generasi berikutnya”. [Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, hlm. 28, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari].

Penerimaan para ulama terhadap Aqidah Ath Thahawiyah adalah secara umum. Karena ada beberapa perkara yang perlu dikoreksi, sebagaimana hal itu telah dilakukan oleh pensyarah (pemberi penjelasan) Aqidah Ath Thahawiyah, (yaitu) Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al Hanafi. Demikian juga oleh para ulama belakangan, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam ta’liq (komentar) beliau, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam syarah dan ta’liq beliau, dan Syaikh Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais di dalam Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah Al Muyassar. Namun secara umum, para ulama menerima kebenaran aqidah tersebut.

IMAM MALIK BIN ANAS
Imam Malik bin Anas t dikenal sebagai ulama yang tegas dalam menyikapi bid’ah. Di antara perkataan beliau yang masyhur ialah: “Barangsiapa membuat bid’ah (perkara baru) di dalam Islam (dan) ia menganggapnya sebagai kebaikan, maka ia telah menyangka bahwa (Nabi) Muhammad n telah mengkhianati risalah. Karena Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. [Al Maidah:3]

Maka apa-apa yang pada hari itu bukan agama, pada hari ini pun tidak menjadi agama”. [8]

Imam Ibnu Abi Zaid Al Qairawani rahimahullah, (wafat 386 H), salah seorang ulama Malikiyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah, dan berisi aqidah Ahlu Sunnah, sama dengan aqidah ulama lainnya.

IMAM ASY SYAFI’I
Imam Syafi’I t berkata: “Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka (semua) alasan tertolak atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi n , atau salah satu dari mereka”. [Riwayat Baihaqi di dalam Al Madkhal Ilas Sunan Al Kubra, no. 35. Dinukil dari Manhaj As Salafi ‘Inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, hlm. 36].

Dan telah masyhur perkataan Imam Syafi’i rahimahullah : “Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah (yakni Al Qur’an, Pen), sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Aku beriman kepada utusan Allah dan kepada apa yang datang dari utusan Allah (yakni Nabi Muhammad n , Pen), sesuai dengan yang dikehendaki utusan Allah” [9].

 Imam Abu Bakar Al Isma’ili Al Jurjani rahimahullah, (wafat 371 H), salah seorang ulama Syafi’iyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah. Beliau membukanya dengan perkataan: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan rahmat kepada kami dan kalian, bahwa jalan Ahli Hadits, Ahli Sunnah wal Jama’ah, ialah mengakui kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan menerima apa yang dikatakan oleh kitab Allah Ta’ala, dan apa yang telah shahih riwayatnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam" [10].

IMAM AHMAD BIN HANBAL
Imam Ahmad bin Hambal t berkata: “Pokok-pokok Sunnah menurut kami ialah, berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah n berada di atasnya, dan meneladani mereka … “ [Riwayat Al Lalikai]

Imam Abu Muhammad Al Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al Barbahari rahimahullah (wafat 329 H), salah seorang ulama Hanbaliyah, menulis sebuah risalah tentang aqidah; aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, yang bernama Syarhus Sunnah. Di antara yang beliau katakan di awal kitab ini ialah: “Ketahuilah, semoga Allah memberikan rahmat kepadamu. Bahwa agama hanyalah yang datang dari Allah Tabaraka wa Ta’ala (Yang Banyak Memberi Berkah dan Maha Tinggi), tidak diletakkan pada akal-akal manusia dan fikiran-fikiran mereka. Dan ilmunya (agama) di sisi Allah dan di sisi RasulNya. Maka janganlah engkau mengikuti sesuatu dengan hawa-nafsumu, sehingga engkau akan lepas dari agama dan keluar dari Islam.

Sesungguhnya tidak ada argumen bagimu, karena Rasulullah n telah menjelaskan Sunnah (ajaran agama/aqidah) kepada umatnya, telah menerangkannya kepada para sahabat Beliau, dan mereka adalah Al Jama’ah. Mereka adalah As Sawadul A’zham (golongan mayoritas). Dan As Sawadul A’zham (yang dimaksudkan) adalah al haq dan pengikutnya. Barangsiapa menyelisihi para sahabat Rasulullah n di dalam sesuatu dari urusan agama, (maka) dia telah kafir”. [11]

KESALAHAN YANG WAJIB DILURUSKAN
Ada beberapa kesalahan yang harus dibenarkan seputar kesatuan aqidah para ulama. Di antaranya:

1. Anggapan bahwa beragamnya madzhab (pendapat yang diikuti) dalam masalah fiqih, berarti beragamnya aqidah para imam.

Anggapan ini batil, sebagaimana telah kami sampaikan tentang kesatuan aqidah para ulama Ahlu Sunnah. Nampaknya, anggapan ini sudah ada semenjak lama. Pada zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau menampakkan aqidah Salafiyah Ahli Sunnah wal Jama’ah, (tetapi) beliau dituduh menyebarkan aqidah Imam Ahmad bin Hanbal t . Kemudian beliau menjawab: “Ini adalah aqidah seluruh imam-imam dan Salaf (para pendahulu) umat ini, yang mereka mengambilnya dari Nabi n . Ini adalah aqidah Muhammad n “. Lihat Munazharah Aqidah Al Wasithiyah.

2. Anggapan bahwa perbedaan Ahlu Sunnah dengan firqah Syi’ah dan semacamnya dari kalangan Ahli Bid’ah, seperti perbedaan di antara madzhab empat.

Bahkan saat sekarang ini, di negara Mesir muncul lembaga yang disebut Darut Taqrib, dengan semboyan mendekatkan antara Madzhab Enam. Yaitu madzhab Hanafiyah, madzhab Malikiyah, madzhab Syafi’iyah, madzhab Hanbaliyah, madzhab (Syi’ah) Zaidiyah, dan madzhab (Syi’ah) Al Itsna ‘Asyariyah. Lembaga ini menganggap, bahwa madzhab empat yang beraqidah Ahlu Sunnah, sama seperti Syi’ah yang sesat. Padahal telah kita ketahui, sebagaimana kami sampaikan di atas, bahwa aqidah seluruh imam itu satu, yaitu aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapun Syi’ah, Rafidhah, maka para ulama telah sepakat bahwa mereka adalah ahli bid’ah.

Setelah kita mengetahui bahwa aqidah Imam Empat sama, yaitu aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, bukan aqidah Asy’ariyah, bukan pula aqidah Maturidiyah, maka sepantasnya orang-orang yang menyatakan mengikuti imam-imam tersebut dalam masalah fiqih, juga mengikuti imam mereka dalam masalah aqidah. Dengan begitu mereka akan bersatu di atas al haq. Wallahul Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

     ~http://almanhaj.or.id/content/3104/slash/0/aqidah-imam-empat/

 Footnote
[1]. Hanafiyah, ialah orang-orang yang mengikuti madzhab Imam Abu Hanifah rahimahullah
[2]. Ahli dzimmah, ialah orang kafir yang menjadi warga negara di bawah kekuasaan negara Islam
[3]. Syafi’iyyah, ialah orang-orang yang mengikuti madzhab Imam Syafi’i rahimahullah
[4]. Lihat Tarikh Fiqih Islami, hlm. 171-176, karya Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar.
[5]. Lihat Majmu’ Fatawa (3/161).
[6]. Lihat Al Hujjah Fi Bayanil Mahajjah (2/224-225). Dinukil dari kitab Ushuluddin ‘Inda Aimmatil Arba’ah Wahidah, hlm. 73, karya Dr. Nashir bin ‘Abdillah Al Qifari.
[7]. Yakni menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk, Pen
[8]. Al I’tisham (1/64), karya Asy Syatibi.
[9]. Majmu’ Fatawa (4/2).
[10]. I’tiqad Aimmatil Hadits Lil Imam Abi Bakar Al Isma’ili , hlm. 49, karya, tahqiq: Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais.
[11]. Syarhus Sunnah, hlm. 68, no. 5, karya Imam Al Barbahari, tahqiq Abu Yasir Khalid bin Qasim Ar Radadi.

Sunday, April 10, 2011

Sikap Imam Ahmad Ketika Terjadi Fitnah






(Andalusia)


Shalih bin Ahmad menuturkan bahwa ayahnya (Imam Ahmad) pernah bercerita kepadanya. Disebutkan bahwa Imam Ahmad pernah berkata kepada dua orang utusan Khalifah (Ibnul Kalbi dan al-Muzhaffar, keduanya menggeledah rumah Imam Ahmad ketika dia dituduh telah menyembunyikan seorang ‘Alawi. Khalifah mengutus pasukan untuk menggeledah rumah Imam Ahmad di malam hari, namun dia tetap ridha dan memuji khalifahnya. Lihat Siyar A’laam an-Nubalaa’ (XI/266).

“Aku berpendapat untuk tetap mentaati Khalifah, baik ketika susah maupun senang, dalam kondisi semangat maupun terpaksa, bahkan ketika Khalifah lebih mementingkan dirinya sendiri sekalipun. Namun yang membuatku sedih adalah aku tidak diizinkan untuk mengikuti shalat berjamaah, menghadiri shalat jum’at, dan berdakwah kepada kaum Muslimin.”

[Diriwayatkan oleh al-Khallal dalam as-Sunnah (I/82, no. 13)].

Dalam riwayat Hanbal disebutkan tambahan lafazh:

“Dan sungguh aku selalu mendo’akan agar khalifah selalu diberikan bimbingan dan taufik, baik pada malam maupun siang hari, dan juga dianugerahi kekuatan. Menurutku, hal itu adalah kewajibanku.”

Apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad rahimahullah ini merupakan hakikat dari madzhab Salaf, sebagaimana per­nyataan Imam ath-Thahawi rahimahullah yang lalu. Sebab, salah satu hak seorang pemimpin adalah dido’akan oleh rakyatnya—baik dengan sepengetahuannya ataupun tidak—untuk men­dapatkan kebaikan, taufik, dan bimbingan Allah. Juga tidak menyebutkan sesuatu tentang dirinya, kecuali kebaikan. Tentunya, semua itu diiringi dengan upaya untuk menasihatinya sedapat mungkin. Dan perlu diingat bahwa pemimpin hanya boleh ditaati dalam hal kebaikan (ma’ruf). Jika dia memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak boleh mentaati sesama makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Dan semua itu dilakukan dengan tetap memelihara hak Sang Khalifah dalam permasalahan yang lain.

Karena itulah, Imam Ahmad tetap memelihara hak khalifah ketika itu. Dia tidak menyebutkan tentangnya kecuali kebaikan; dia juga tidak menggunjing ataupun meng­umpatnya. Sikap Imam Ahmad ini sangat bertolak belakang dengan sikap kebanyakan kaum Muslimin yang tidak memahami kemaslahatan dan kerusakan yang lahir dari gunjingan terhadap pemimpin; atau mereka yang mengambil pendapat dari sumber bid’ah, atau berjalan di atas selain manhaj Salaf.

Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata:

Menyebarkan aib para penguasa dan menyebutkannya di atas mimbar bukanlah manhaj ulama Salaf. Karena hal itu dapat menyebabkan terjadinya kudeta, ketidakpatuhan, dan ketidaktaatan dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan itu juga dapat menyebabkan terjadinya pemberontakan yang membahayakan dan tidak bermanfaat sama sekali. Cara yang menjadi panutan dari ulama Salaf adalah saling menasihati, baik terhadap sesama maupun terhadap penguasa; menulis surat kepadanya atau menjalin hubungan dengan para ulama yang memiliki kedekatan terhadap penguasa, agar dia bisa mengarahkannya kepada kebaikan.”

Syaikh Muhammad ash-Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Berpeganglah kepada manhaj Salafush Shalih dalam ber­muamalah terhadap pemerintah. Kekeliruan pemerintah tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk membangkitkan amarah umat. Tidak mentaati pemerintah merupakan awal terjadinya kerusakan dan munculnya fitnah di tengah masyarakat. Menyibukkan hati untuk mencari-cari kesalahan pemerintah hanya akan menimbulkan kejahatan, fitnah, dan kekacauan. Sama halnya ketika seseorang menyibukkan hatinya untuk mencari-cari kekurangan para ulama, niscaya perbuatan itu akan menimbulkan sikap meremehkan terhadap mereka, yang selanjutnya akan meremehkan syari’at yang mereka emban. Maka yang wajib kita dilakukan adalah memperhatikan apa yang menjadi manhaj ulama Salaf dalam bermuamalat dengan pemerintah. Setiap orang harus mampu mengendalikan dirinya dan mempertimbangkan baik-baik akibat yang akan ditimbulkan oleh perbuatannya.

Ketahuilah bahwa orang yang melakukan pemberontakan itu sesungguhnya sedang membantu musuh-musuh Islam. Karena solusi yang tepat tidak terletak pada pemberontakan dan tidak pula dengan luapan emosi, melainkan solusi yang tepat adalah dengan cara hikmah (bijaksana). Namun yang dimaksud dengan hikmah di sini bukanlah berdiam diri dari kesalahan. Akan tetapi, membetulkan kekeliruan agar kita dapat memperbaiki keadaan, bukan untuk mengubah keadaan. Sesungguhnya yang dianggap sebagai seorang penasihat itu adalah orang yang berbicara demi memperbaiki keadaan, bukan mengubahnya.”

Semoga Allah merahmati kedua imam tersebut. Melalui pernyataan penting dari mereka berdua, menjadi jelaslah bagi kita bagaimana sesungguhnya manhaj ulama Salaf dalam bermuamalah dengan pemimpin (pemerintah). Ironisnya, hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan da’i yang justru mengusung tata cara baru dalam berdakwah.

Perhatikan sikap Imam Ahmad rahimahullah yang telah diuji untuk membenarkan bahwa al-Qur-an itu makhluk. Dia dipenjara, dipukul, dan disiksa; serta dilarang meriwayatkan hadits, berfatwa, dan shalat Jum’at, bahkan shalat berjamaah. Namun dia tetap bersabar menghadapi kelaliman dan kezhaliman tersebut demi mengharap ridha Allah. Dan dia tetap mendo’akan dan menjaga hak-hak mereka.

Bandingkanlah sikap di atas dengan manhaj-manhaj sesat yang menyebabkan semakin bermunculannya fitnah di tengah-tengah umat. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui adanya hak orang lain, baik ulama maupun pemimpin, dengan dalih untuk mengingkari kemunkaran.

Dinukil dari buku Fitnah Akhir Zaman hlm. 223-226

Penulis : Dr. Muhammad bin A.W. al-'Aqil


by Pustaka Imam Asy-Syafi'i April 8, 2011

Friday, March 18, 2011

Mengenang Al-Imam Al-Syafi’i



Al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150H-204H) merupakan salah seorang tokoh ilmuwan agung yang pernah dilahir oleh sejarah kegemilangan Islam. Beliau sebaris dengan jaguh-jaguh ilmu seperti al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik bin Anas, al-Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Abi Laila, Abi Thaur, al-Imam al-Auza’i, al-Imam Sufyan al-Thauri dan ramai lagi tokoh-tokoh agung dalam sejarah perkembangan fekah Islam.

Beliau berketurunan Rasulullah s.a.w. Nasabnya bertemu dengan Nabi s.a.w. pada ‘Abd Manaf. Syafi’ bin al-Saib (nenek ketiganya) pernah berjumpa Nabi s.a.w., namun teragak-agak untuk menerima Islam. Adapun al-Saib adalah pemegang bendera Bani Hasyim menentang tentera Islam pada hari peperangan Badr. Beliau lalu ditawan oleh tentera Islam dan telah menebus dirinya sendiri, kemudian menganut Islam.( Ibn Khallikan, Wafayat al-A’yan, 2/312).



- Gambar Hiasan

Telah disepakati bahawa beliau lahir di Ghazzah, sebuah bandar yang berada di selatan Palestin. Bapanya meninggal semasa muda. Maka beliau hidup yatim di bawah jagaan ibunya. Ibunya bimbang gagal mendidiknya, maka ketika beliau berumur dua tahun ibunya memindahkannya ke tempat asal keturunannya iaitu Mekah (Al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala, 10/6).

Semasa kecilnya beliau begitu gemar memanah, sehingga berjaya mengatasi saingannya. Kemudian berminat dengan bahasa ‘Arab dan sya‘ir, sehingga menjadi pakar dalam bidang tersebut. Selepas itu beliau mencintai ilmu fekah, sehingga mengepalai manusia pada zamannya. (ibid, 10/6.)

Beliau terkenal dengan keikhlasannya terhadap ilmu. Walaupun amat menyayangi gurunya al-Imam Malik bin Anas dan gurunya juga menyayanginya, namun tidak pernah membuat beliau fanatik atau taksub kepada mazhab atau aliran fekah gurunya itu.

Bahkan sejarah telah mencatatkan beliau telah menyanggahi pendapat-pendapat al-Imam Malik. Apabila al-Syafi’i datang ke Mesir, pada awalnya dia disambut oleh para pengikut Mazhab Malik kerana dia adalah seorang murid utama al-Imam Malik. Namun lama-kelamaan apabila mereka dapati dia menyanggahi Mazhab Malik mereka meninggal dan membantahnya. Bahkan ada di kalangan mereka yang mendoakan agar Allah mematikannya demi memelihara Mazhab Maliki (Al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala` , 10/71-72).

Namun bagi al-Imam al-Syafi’i nilai taksub ini tiada padanya. Kebenaran lebih dicintai walaupun terpaksa menyanggahi gurunya sendiri. Penghormatan bukan bermaksud mengikuti setiap perkataannya.

Kata al-Zahabi:

“Tidak syak sesungguh al-Imam al-Syafi’i apabila tinggal di Mesir lalu menyanggahi dan melemahkan beberapa pandangan fekah para ulama semasa dari Mazhab Maliki dengan dalil-dalil al-Sunnah, maka mereka terasa perit kerananya dan mereka menyakitkannya kembali. Berlakulah antara mereka ketegangan. Semoga Allah mengampunkan kesemua mereka..”( Al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala` , 10/95).


Kata Muhammad Abu Zahrah:

“Sesungguhnya keikhlasan al-Syafi’i dalam menegakkan kebenaran sentiasa bersamanya sepanjang hayatnya. Sehingga dia menegakkan kebenaran di mana sahaja dia berada. Jika bertembung keikhlasannya itu dengan apa yang menjadi kebiasaan fahaman orang ramai, dia tetap akan menjelaskan pandangan-pandangannya dengan berani.

Jika bertembung keikhlasannya kepada kebenaran dengan keikhlasannya kepada guru-gurunya, dia tetap akan mendahulukan kebenaran. Keikhlasannya pada gurunya al-Imam Malik tidak pernah menghalang beliau menyanggahinya selepas beliau teragak-agak untuk mengistiharkannya. Namun setelah sampai berita kepadanya bahawa ada pihak di Andalus yang meminta hujan dengan menggunakan (tawassul dengan) kopiah al-Imam Malik maka dia mengistiharkan bukunya untuk orang ramai. Tujuannya agar mereka tahu bahawa al-Malik adalah manusia yang terdedah kepada salah dan betul. (Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah, m.s.455).


Fanatik mazhab telah menyebabkan dalam kalangan penduduk Andalus ada yang apabila berlaku kemarau atau kelewatan hujan, maka mereka akan solat istisqa` (minta hujan) dengan meletakkan kopiah al-Imam Malik di hadapan dan bertawasul dengannya. Bahkan di kalangan pengikut Malik di Mesir ada yang apabila dibaca hadis Nabi s.a.w., mereka menjawab dengan menyebut “berkata imam dan syaikh kami Malik..” Mereka menolak hadis demi membela pendapat imam mereka (lihat: ‘Abd al-Rahman al-Syarkawi, Aimmah al-Fiqh al-Tis’ah, www.qudsway.com/Links/Islamiyiat). Al-Imam al-Syafi’i menulis kitab menjawab pandangan-pandangan al-Imam Malik demi memahamkan pengikut mazhab tersebut bahawa imam mereka tidak maksum.


Penampilannya dengan hujah dan ilmu menjadikan beliau tokoh ilmuwan yang tidak diragui kehandalannya. Bahkan beliau tersenarai dalam kalangan mujaddid yang diiktiraf umat. Namun, seperti biasa setiap tokoh mempunyai penyokong dan musuh. Dalam kalangan musuh dan penyokong itu pula ada yang melampau dan ada yang sederhana.


Golongan yang melampau dalam sokongan akan memuji melebihi batasan yang patut. Demikian juga yang memusuhi apabila melampau akan menuduh dan mencipta tuduh yang bukan-bukan.

Antara yang melampau memuji menyatakan di kuburnya ada tapak kaki Rasulullah s.a.w menziarahi al-Imam al-Syafi’i. Ini juga beberapa kali disiarkan di stesyen televisyen kita.

Sedangkan beliau meninggal dunia selepas hampir 200 tahun Rasulullah wafat. Jika beliau membantah kemelampauan tindakan pengikut al-Imam Malik bin Anas, apakah beliau akan redha dengan dakwaan yang seperti ini ?!


- Gambar yang dikatakan tapak kaki Rasulullah s.a.w

Saya agak tertarik dengan ulasan Muhammad Na’im al-Irqususi terhadap riwayat mimpi Abu Ja’far yang menceritakan:

“Aku lihat dalam mimpiku Nabi s.a.w. dalam masjid baginda di Madinah. Seakan aku datang dan memberi salam kepada baginda dan berkata: “Aku tulis pendapat Malik?. Jawab baginda: Tidak!. Aku bertanya: “Aku tulis pendapat Abu Hanifah?” Jawab baginda: Tidak!. Aku bertanya: “Aku tulis pendapat al-Syafi’i?. Baginda mengisyaratkan dengan tangan baginda begini –seakan baginda mengherdikku- “Kau kata pendapat al-Syafi’i?!! Itu bukannya pendapat, tetapi jawapan kepada sesiapa yang menyanggahi sunnahku”.

Al-Irqususi mengulas: “Bila pulak mimpi menjadi hujjah di sisi ahli ilmu?!!.

Malik, Abu Hanifah dan selain mereka adalah dari kalangan para imam yang adil lagi dipercayai (thiqah). Mereka berijtihad. Mereka menepati sebahagian besar apa yang mereka ijtihadkan dan tersilap dalam sesetengah perkara. Setiap orang boleh diterima dan ditolak pendapatnya. Maka apa lagi?!! (Siyar A’lam al-Nubala, 10/43).

Namun riwayat mimpi seperti ini selalu dijadikan hujah oleh golongan fanatik.

Dalam kalangan fanatik permusuhan kepada imam yang agung ini ada yang menuduhnya sebagai syiah dan beberapa tuduhan yang lain. Sehingga di zamannya beliau ditangkap dan digari.

Al-Zahabi (meninggal 748H) menyebut:

“Sebahagian manusia mencercanya, namun itu semua menaikkan ketinggian dan kemuliaannya. Ternyata bagimereka yang insaf bahawa ulasan mereka yang menyaingi beliau (al-Syafi’i) mengandungi hawa nafsu.

Jarang sekali seseorang yang muncul keimamannya (ketokohan ilmunya) dan menjawab sesesiapa yang berbeza pandangan dengannya melainkan dia akan dimusuhi. Kita memohon perlindungan dengan Allah dari hawa nafsu”. (Siyar A’lam al-Nubala, 10/9).


Bahkan ada yang mencipta hadis palsu kerana fanatik kepada Mazhab Abu Hanifah lalu mencerca al-Imam al-Syafi’i.

Disebut dalam hadis palsu itu, kononnya Nabi s.a.w bersabda:

“Akan ada dalam kalangan umatku seorang lelaki yang dipanggil Muhammad bin Idris (al-Syafi’i), dia memberi mudarat kepada umatku lebih daripada iblis. Akan ada pula seorang lelaki di kalangan umatku dipanggil Abu Hanifah, dia adalah lampu umatku, dia adalah lampu umatku).

Hadis ini direka oleh Makmun bin Ahmad al-Harawi yang hasad dengan perkembangan pengikut al-Imam al-Syafi’i di Khurasan (Al-Sayuti, Tadrib al-Rawi, m.s. 182).

Kata al-Jarahi (meninggal 1162H):

Tiada suatu pun hadis sahih mengenai pujian atau cercaan terhadap Abu Hanifah dan al-Syafi’i. Semua yang disebut mengenai hal berkenaan adalah palsu lagi dusta” (al-Jarahi, Kasyf al-Khafa,, 2/420).

Sementara kisah bohong lain seperti dalam buku al-Rihlah ila al-Rasyid pula memfitnah al-Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani, dua tokoh dalam Mazhab Abu Hanifah berusaha membunuh al-Imam al-Syafi’i. Demikianlah timbulnya buruk-memburuk disebabkan fanatic mazhab.

Al-Imam al-Syafi’i ialah imam yang mulia seperti para imam tokoh ilmuwan silam yang lain. Mereka tidak maksum, tetapi mereka semua sarjana besar.

Kita tidak perlu fanatik kepada mana-mana dalam kalangan mereka, sebaliknya membaca dan cuba memahami penghujahan mereka secara terbuka dan membaca alasan-alasan mereka secara perbandingan.

Tidak pernah mereka mengajar untuk kita berkata siapa tidak ikut mazhab aku maka dia sesat”.

Bahkan mereka menggalakkan penerokaan ilmu. Kesemua kemelampauan itu datang dari golongan fanatik yang selepas mereka.

Bahkan ramai yang mendakwa mazhab Syafi’i atau Hanbali atau Hanafi atau Maliki, tidak pula meneliti sendiri tulisan dan perkataan imam-imam itu, sebaliknya sekadar mengajuk dakwaan orang lain yang mendakwa demikian. Lalu ada yang menuduh orang lain tidak mazhab Syafi’i hanya kerana menyanggahi pendapatnya, padahal belum tentu pendapatnya itu sama dengan al-Imam al-Syafi’i yang sebenar.

Fanatik sentiasa membuta mata ramai orang.

Oleh: Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin