Showing posts with label Tahlil. Show all posts
Showing posts with label Tahlil. Show all posts

Tuesday, May 27, 2014

Kenduri Tahlil :


Tafsir Ibn Katsir  Surah 53  Ayat 38~39 : 
"Dari ayat ini pula Imam Syafi'i dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa pengiriman pahala bacaan AlQur'an itu TIDAK sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia."


Kenduri Tahlil :
Walaupun tiada yang meratap atau menangis, menyediakan makanan sudah dikira "meratap" mengikut hadith ini :


Telah berkata Imam Ibn Qadamah dalam kitabnya al-Mughni, juz 3, ms. 496-497 (cetakan baru ditahqiq oleh Syeikh Abdullah bin Abdul Muhsin al-Turki):

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنيع أهل الجاهلية. وروي أن جريرا وفد على عمر فقال: هل يناح على ميتكم؟ قال: لا. قال: فهل يجتمعون عند أهل الميت ويجعلون الطعام؟ قال: نعم. قال: ذاك النوح.

"Adapun ahli keluarga si mati membuatkan makanan untuk orang ramai maka itu satu hal yang dibenci (haram).


Kerana akan menambah (kesusahan) di atas musibah mereka dan menyibukkan mereka di atas kesibukan mereka dan menyerupai perbuatan jahiliyyah.

Dan telah diriwayatkan bahawasanya Jarir pernah bertemu kepada ‘Umar.

Lalu ‘Umar bertanya : “Apakah mayat kamu diratapi?”

Jawab Jarir : “Tidak!”

‘Umar bertanya lagi : “Apakah mereka berkumpul di rumah si mati dan mereka membuat makanan?”

Jawab Jarir : “Ya!”

Berkata ‘Umar : “Itulah ratapan!."




Telah berkata Imamnya para Ulama, mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela Sunnah,
Al-Imam Asy-Syafi’i di ktabnya ‘Al-Umm” (I/318).

“Aku benci alma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan".

Friday, May 13, 2011

Keutamaan Tahlilan





Keutamaan Tahlilan

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قالَ: (لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير) فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مائةُ سَيِّئَةٍ وكانتْ له حِرْزاً مِنَ الشَّيْطانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يَمْسِي وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ. وَمَنْ قالَ: (سبحان الله وبحمده) في يومٍ مِائةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطاياهُ وَلَوْ كانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR (tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu) dalam sehari 100 kali, maka bagaikan telah membebaskan 10 orang budak, ditetapkan untuknya 100 kebaikan, dihapuskan darinya 100 kejelekan, dia mempunyai perlindungan dari setan sepanjang hari itu sampai sore, dan tidak ada seorangpun yang bisa mendatangkan amalan yang lebih baik daripada apa yang dia amalkan kecuali orang yang membaca bacaan ini lebih banyak daripada dirinya. Dan barangsiapa yang membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Aku menyucikan Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) dalam sehari 100 kali, maka semua kesalahannya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim no. 2691)

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قالَ: (لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير) عَشْرَ مَرّاتٍ كانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْماعِيْلَ
“Barangsapa yang membaca: LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAY`IN QADIR (tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu) 10 kali maka dia bagaikan memerdekakan 4 jiwa dari anak keturunan Ismail.” (HR. Muslim no. 2693)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لَأَنْ أَقُوْلَ: (سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر) أَحَبُّ إِلَيَّ مِمّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ
“Saya membaca: ‘SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAHA ILLALLAHU WALLAHU AKBAR’, lebih saya senangi daripada semua yang matahari terbit atasnya (dunia seisinya).” (HR. Muslim no. 2695)

Penjelasan ringkas:
Yang kami maksud dengan tahlilan di sini adalah mengucapkan tahlil, sementara tahlil itu sendiri adalah ucapan ‘LAA ILAHA ILLALLAH’.

Tahlil di antara zikir yang paling besar keutamaan dan kemuliaannya, karena di dalamnya terkandung pernyataan pengakuan keesaan Allah Ta’ala dalam ibadah dan pengakuan akan sucinya Allah Ta’ala dari semua sekutu. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam menganjurkan untuk membacanya dan menjanjikan pahala yang besar karenanya.

November 15th 2010 by Abu Muawiah
http://al-atsariyyah.com/