Showing posts with label Ulamak. Show all posts
Showing posts with label Ulamak. Show all posts

Friday, December 7, 2012

Faedah-Faedah yang Boleh Diambil (namun tidak terbatas) Dari Nasehat Asy-Syaikh Abu Abdillah Khalid ibn Abdillah Azh Zhufairi Adh Dhahlawi Hafizullah :




Faedah-Faedah yang Boleh Diambil (namun tidak terbatas) Dari Nasehat Asy-Syaikh Abu Abdillah Khalid ibn Abdillah Azh Zhufairi Adh Dhahlawi Hafizullah :

1) Semangat Ahlus Sunnah yang dipimpin para ulama dalam membantah kesalahan serta

memperingatkan bahayanya dan bahaya pelakunya dalam rangka menjaga agama Allah dan melindungi kaum muslimin dari kesesatan.

2) Tazkiyah atau pujian ulama terhadap seseorang berlaku selama orang tersebut tetap istiqamah di atas kebenaran.

3) Orang-orang yang sekarang di atas As-Sunnah tidak ada jaminan selamat dari penyimpangan.

4) Tidak boleh menerima kenyataan dengan sikap dewasa berupa berjatuhannya orang-orang yang dahulu di atas kebenaran, terkhusus orang yang dia cintai dan dia kagumi, menunjukkan tidak ikhlashnya seseorang kerana hakikatnya dia tidak mencintai dan membenci kerana Allah. Hal itu bertentangan dengan sunnatullah berupa terus menerusnya ujian hingga seorang hamba berpisah dengan dunia ini.

5) Baik buruknya seseorang secara lahiriyah dinilai pada akhir hayatnya.

6) Kebenaran tidak dinilai oleh individu tertentu, tetapi orang tersebutlah yang dinilai dengan kebenaran.

7) Pentingnya mempelajari kitab-kitab akidah salafiyah dengan bimbingan para ulama kibar dengan penuh perhatian serta semangat untuk mendapatkan pemahaman dan ilmu-ilmu yang benar.

8) Meremehkan atau merasa bosan mengulang-ulang dalam mempelajari kitab-kitab akidah salafiyah -walaupun yang ringkas seperti Al-Ushul Ats-Tsalatsah- dengan bimbingan ulama akan menyebabkan penyimpangan.

9) Merasa bosan terhadap banyaknya bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihi al-haq disebabkan kerana tidak memahami kaedah-kaedah salafiyyah di dalam membantah orang yang menyelisihi al-haq.

10) Manhaj salaf bukanlah wilayah yang dikuasai oleh para ulama sehingga tidak benar jika mereka boleh memasukkan siapa yang mereka inginkan ke dalam kerajaan mereka dari orang-orang yang mereka cintai dengan hawa nafsu mereka, dan tidak benar jika mereka juga boleh mengeluarkan darinya siapa saja yang mereka kehendaki dari orang-orang yang mereka benci.

11) Sebahagian orang yang membela seseorang yang telah menyimpang yang dibantah oleh Ahlus Sunnah, tidak membaca bantahan-bantahan tersebut dan tidak memahaminya. Mereka hanya mendengar berbagai syubhat dari sana sini dan mereka menutup mata dari memperhatikan bantahan Ahlus Sunnah yang ditulis dengan ilmiah.

12) Di setiap zaman ada sekelompok ulama yang menyibukkan diri dengan jarh wa ta’dil, sementara ulama yang lainnya tidak melakukannya. Namun kelompok yang ini tidak mencela yang itu dan kelompok yang itu tidak mencela yang ini.

13) Ingkarul munkar hukumnya fardhu kifayah, sehingga orang yang tidak mampu melakukannya tidak boleh mengingkari orang lain yang melakukannya, seperti tidak bolehnya mengingkari shalat jenazah. Justru harus mensyukurinya kerana orang yang melakukannya berarti telah menggugurkan kewajiban tersebut dari orang lain.

14) Sebahagian manusia mengingkari sebuah masalah hanya dengan timbangan perasaan dan tidak dengan timbangan ilmiah.

15) Sebahagian manusia yang mengingkari bantahan Ahlus Sunnah terhadap orang yang menyimpang kerana dengan perasaannya dia menganggap bahwa orang yang dibantah tersebut terzhalimi, sebagaimana orang yang dibantah tersebut mengesankan kepada para pembelanya bahwa dia adalah orang yang terzhalimi.

16) Membagi para ulama Ahlus Sunnah di masa ini menjadi tiga macam: kelompok yang ghuluw di dalam membela al-haq, kelompok yang meremehkan dan kelompok yang pertengahan, adalah pembagian yang batil yang dibangun di atas pendapat dan hawa nafsu.

17) Seorang ulama yang mendapatkan persaksian dalam ilmu dan manhajnya yang benar serta memiliki kaki yang kokoh dalam ilmu jarh wa ta’dil, kemudian salah di dalam memjarh seseorang, tidak boleh menuduhnya ghuluw semata-mata kerana kesalahannya.

18) Ahlus Sunnah jika membantah Ahlus Sunnah yang keliru dalam sebuah masalah, bukanlah tujuan utamanya untuk menjatuhkannya.

19) Ahlus Sunnah yang berani terang-terangan menyampaikan al-haq dan mentahdzir orang-orang yang menyelisihi As-Sunnah serta membabat syubhat-syubhat mereka dan membantahnya akan menyebabkan dia dimusuhi lebih besar dibandingkan permusuhan terhadap Ahlus Sunnah yang lainnya.

20) Ahlus Sunnah tidak boleh membantah seorang pun kecuali dengan hujjah dan bukti.

21) Sikap diam sebagian ulama yang tidak membantah seseorang yang menyimpang bukan hujjah yang dengannya para ulama yang lain yang membantah dituduh bahwa mereka di atas manhaj yang ghuluw di dalam melakukan jarh!?

22) Sikap diam sebagian Ahlus Sunnah yang tidak membantah seseorang yang menyimpang bukan hujjah yang menunjukkan bahwa orang yang menyimpang tersebut di atas kebenaran, jika telah ada Ahlus Sunnah yang lain yang membantahnya secara ilmiah.

23) Tazkiyah para ulama berdasarkan apa yang mereka ketahui secara lahiriyah, jika kemudian orang yang ditazkiyah menyimpang, yang tercela adalah orang yang menyimpang tersebut dan bukan ulama yang mentazkiyahnya, karena mereka tidak mengetahui perkara yang ghaib dan ketika itu tazkiyah tersebut sudah tidak berlaku lagi.

24) Jika seorang secara pasti telah melakukan perbuatan yang bisa menjatuhkan dirinya sendiri dan terbukti di dalam kitab-kitab atau di majelis-majelisnya, dia boleh disalahkan, atau ditahdzir, atau bahkan divonis mubtadi, sesuai dengan keadaannya walaupun dia dahulu diakui sebagai ulama, seperti; Safar, Salman dan Aidh, Abul Hasan Al-Ma’riby, Falih Al-Harby, Al-Maghrawy, Ibnu Jibrin, Ibrahim Ar-Ruhaily, Ali Al-Halaby dan yang lainnya.

25) Hendaklah Ahlus Sunnah mendidik diri mereka dan keluarga mereka di atas akidah yang benar dan manhaj yang lurus.

26) Wajibnya diam dan haram berbicara ke sana ke mari dengan hawa nafsu dan pendapat sendiri, seperti (namun tidak terbatas) dengan cara menodai kehormatan para ulama tanpa ilmu dan tanpa hujjah. Sebagaimana tuduhan hizbiyyun terhadap ulama Ahlus Sunnah.

27) Besarnya terkabulnya harapan & kebutuhan kita kepada Allah Ta’ala agar menampakkan al-haq kepada kita sebagai kebenaran dan memberi kita kekuatan untuk mengikutinya serta agar menampakkan kebatilan kepada kita sebagai kebatilan serta memberi kita kekuatan untuk menjauhinya. (wallahu a’alam)

http://goo.gl/02nBb
 

24 JAM 'BERSAMA' ASY-SYAIKH 'ABDUL 'AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH


 
24 Jam bersama  aS Syaikh  'ABDUL 'AZIZ Bin BAZ Rahimahullah

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 raka’at dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah. Sebagaimana pula beliau banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.

2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, -pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah n. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu menunaikan shalat shubuh berjama’ah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau mulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.

4. Kemudian beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua raka’at, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.

5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat seperti; menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan itu, seringkali beliau sebagai orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.

6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul. 14.30.

7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fikir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat maupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang bersama mereka sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka. Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, tidak usah terburu-buru masing-masing hendaknya melanjutkan makannya. Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak akhir dan masuk waktu ashar maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun jika masih tersisa banyak waktu, beliau meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak, dan keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.

8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.

9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba’diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orang-orang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Demikian itu, jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.

10. Saat azan isya’ dikumandangkan beliau menjawabnya, kemudian beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya’. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jama’ah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian menunaikan shalat isya’.

11. Seusai shalat isya’, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja’ah sebagian kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.

12. Setelah itu makan malam bersama para tamu beliau, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir ketika itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, kemudian beranjak tidur.

Dinukil dari Majalah Asy-Syari'ah no 88 " Asy Syaikh Bin Baz, Potret Perjuang Dakwah" hal 23-25

via Abu Abdirrahman
 

Tuesday, May 3, 2011

Imam Syafie Ulama’ Haid Sahaja.... (!?)




Cercaan Dan Pembodohan

Amr Bin Ubaid berkata tentang As Syafi’i: “Sesungguhnya ilmu As Syafi’i dan Abu Hanifah semuanya tidak keluar dari seluar dalam wanita”. Betapa cetek ilmu mereka berdua sehinggakan luas bidang pengetahuan mereka tidak lebih besar dari pakaian dalam.. Bukan itu sahaja, ilmu yang mereka miliki itu cukuplah rendah dan sedikit manafaat nya sehinggakan ia disandarkan kepada pakaian yang paling dalam.

Namun Imam As Syatibi membantah perkataan ahli bid’ah tersebut dalam kitabnya Al I’tisam:

“Inilah bualan orang yang menyeleweng. Semoga Allah membinasakan mereka”.

Mereka menyangka bahawa ulama’ Ahlus Sunnah itu hanya mengerti hukum fiqh semata-mata tanpa mempedulikan masalah dunia dan disiplin ilmu yang lain. Mereka menyangka bahawa ulama’ Ahlus Sunnah itu hanya bisa mengajar di halaqah tanpa pernah terjun ke dalam badai da’wah dan mehnah.

Begitulah lidah mereka senantiasa bersambung. Nun sebelum itu mereka menuduh Rasulullah saw sebagai majnun, kemudian dikatakan juga sebagai pemecahbelah umat. Ketika di zaman Uthman maka mereka melontarkan tuduhan korupsi kan nepotisme kepada sang khalifah. Bila terbunuhnya sahabat dan menantu baginda itu maka mereka menyangka bahawa mereka telah meraih pahala.

Begitu juga mereka mengatakan bahawa Ali Bin Abi Talib sebagai kafir lantaran tidak menjalankan hukum Tuhan. Lalu mereka merencana untuk mengabiskan nyawanya. Usaha ini dikatakan sebagai da’wah kepada Allah. Inilah yang berlaku kepada Rasulullah dan sahabat-sahabag baginda.


Fiqh Waqi’ Dan Syiasah Islamiyah

Kemudian para ulama setiap zaman terus difitnah dan dicemarkan namanya. Terbaru para ahli bid’ah meneruskan lidah pendahulu mereka – menghina para ulama’ rabbani – dengan mengatakan bahawa para ulama’ Ahlus Sunnah hanyalah ulama’ kampung, yang sebok membaca kitab tanpa memahami fiqh waqi’ dan syiasah islamiyah.

Itulah yang sering kita dengar apabila ada ulama’ Ahlus Sunnah yang menegur para pemuka gerakan Islam maka para tokoh gerakan Islam akan berujar: “Kita menghormati pandangan mereka tetapi pandangan mereka itu tidak menetapi kondisi dan waqi’. Kerana mereka tidak turun ke lembah peperangan sementara mereka tetap di meja membaca kitab”.

Seperti kata Sayid Qutb yang menjadi idola para hizbiyyun dalam Fi Zilal:

“Sesungguhnya fiqh harakah berbeza sekali asasnya dengan fiqh auraq (ilmu yang ada di atas kertas)…. Sesungguhnya fiqh harakah mengambil iktibar dari waqi’ yang turun padanya nash-nash dan padanya dibuat hukum”.

Lihatlah bagaimana Sayid Qutub mencela ulama malah memperlekehkan ilmu Islam dengan memanggilnya fiqh auraq. Dia menganggap bahawa para ulama ahlus sunnah merupakan ulama yang kolot dan tidak peduli kepada untung nasib umat – hanya terperok di halaqah sambil mengajar dan berzikir kepada Allah!


Namun ucapan seperti ini telah dibantah oleh para ulama mu’tabar zaman ini. Syeikh Rabi’ Bin Hadi Al Madkhali, yang terkenal di zaman ini dalam ilmu jarah wa ta’dil sehinggakan muhaddith abad ini – Syeikh Albani – mengiktiraf beliau, berkata:

“orang yang ghuluw (ta’sub) dalam masalah politik memiliki pelecehan yang luar biasa terhadap ahli hadith dan tauhid. Pencemohan, pembodohan dan menuduh ahli hadith dan tauhid dengan hal-hal yang keji. Diantara sikap ghuluw mereka yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh para ulama Islam adalah pemujaan mereka kepada fiqh waqi’ dan dakwaan mereka bahawa merekalah ulama’ waqi’…. Boleh disimpulkan dari sikap ini bahawa para pendewa fiqh waqi’ ini menganggap politik dan ilmu waqi’ sebagai kewajiban fardu ain yang penting” (Ahlul Hadith Hum Thaifah Mansurah Najiyah)


Tetapi rupanya banyak umat manusia tertipu dengan kepetahan dan penampilan para hizbiyyun ini, sehingga umat merasakan bahawa jalan yang mereka bentuk dan serukan merupakan jalan kebenaran. Umat merasakan bahawa mereka adalah ulama’ yang memperjuangkan kebenaran. Ulama’ yang menegakkan hukum tuhan dan menjalani amar ma’ruf nahi mungkar. Ulama’ yang bersedia untuk berjihad dan berhujjah demi kebesaran Allah.


Siapa Yang Dikatakan Ulama’

Namun ulama’ Ahlus Sunnah telah memberi peringatan bahawa semua gambaran tadi tidak semestinya benar. Ibn Rajab berkata: “Banyak orang kebelakangan yang tertipu dalam hal ini. Mereka menyangka bahawa orang yang banyak bicara, banyak debatnya dan banyak dialognya dalam masalah agama, maka dia lebih alim dibandingkan orang yang tidak seperti itu. Sangkaan ini sebuah kejahilan yang nyata!”

Beliau berkata lagi:

“Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, tidak juga dengan banyaknya bicara, tetapi ia adalah cahaya yang terpancar ke dalam hati, yang dengannya seorang hamba dapat memahami al haq dan memisahkan antara yang haq dan yang batil. Dan mengungkapkan hal tersebut dengan ibarat yang singkat tetapi memenuhi apa yang dimaksudkan” (Fadhlu Ilmi Salaf)

Maka ulamak itu bukanlah yang duduk dalam persatuan ulamak, begitu juga bukan yang diangkat menjadi mursyid dalam sebuah jamaah Islam, bukan juga yang memakai gelar cendiakawan atau tukang fatwa. Sebaliknya ulama itu adalah yang berbicara menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah mengikut pemahaman sahabat semata-mata.


Sehinggakan Imam Syafi’e berkata tentang ilmu:

“Ilmu itu adalah Al Qur’an dan As Sunnah, sedangkan selainnya adalah bisikan was-was”.
Oleh itu dapat difahami bahawa orang yang alim itu hanyalah menggunakan hujjah dari Al Qur’an dan As Sunnah sahaja, tidak menggunakan aqalnya atau nafsunya dalam beragama. Namun kita dapat lihat bahawa para “ulama” hari ini banyak yang menggunakan aqal dan perasaan dalam menemukan hujjah. Acapkali juga kita lihat mereka menolak dalil yang jelas dari Al Qur’an dan As Sunnah semata-mata untuk menjaga dunia dan kenikmatan yang mereka miliki.


Syeikh Abdus Salam bin Barjas mengatakan:

“Orang yang layak untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu kerana sifat-sifat orang alim majoritinya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya, padahal dia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.(Wujubul Irtibath bi ‘Ulama)

Tukang Khatib Dipanggil Ulama’

Benarlah perkataan para sahabat dan kaum Salaf bahawa zaman kita ini yang banyak adalah para pencerita, tukang bicara dan tukang penglipurlara. Sehinggakan mereka ini dinobatkan sebagai ulama’. Siapa lagi yang akan manusia jadikan ulama’ walhal umat saat ini banyak yang tidak memiliki ilmu. Maka sudah selayaknya manusia yang punya kelebihan sedikit dijulang dan dijubahkan.

Rasulullah saw. Bersabda:

“Lagi akan datang kepada manusia tahun-tahun yang tandus (kemarau panjang). Dan pada waktu itu orang yang berdusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan berdusta. Orang khianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berpeluang bercakap hanyalah golongan “Ruwaibidhah”. Sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu hai Rasulullah?”. Nabi saw. menjawab, “Orang yang kerdil dan sebenarnya hina dan tidak mengerti urusan orang rama”. (Riwayat Ibnu Majah)

Orang yang kecil, yang tidak mengerti agama tetapi punya sedikit kepandaian lalu diangkat menjadi ustaz, tuan guru, mursyid, tukang fatwa dan ulama’ jamaah. Namun ibarat jauh panggang dari api, jalan yang mereka tempuh tidaklah menuju kepada jalan Ilahi kerana menyelisihi sunnah al Mustafa.


Ibn Mas’ud juga berkata:

“Sesungguhnya kalian berada pada zaman, dimana ulama’ kalian banyak dan para khatibnya (penceramah) sedikit dan akan datang pula kepada kalian suatu zaman, dimana ulama’nya sedikit dan para khatibnya banyak. Orang yang terpuji adalah orang yang banyak ilmunya dan sedikit bicaranya. Dan sebaliknya, orang yang tercela adalah orang yang kurang ilmunya dan banyak bicaranya”. (Fadlu ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf)

Mujahid berkata:

Para ulama telah pergi, tidak tersisa kecuali orang yang pandai berkata-kata”. (Kitab Al Ilmu oleh Al Khaitsamah).
Oleh itu nyatalah kepada kita saat ini bagaimana para pemuka hizbiyyun, sama ada yang bergelar mantan mufti, atau mantan profesor, atau yang dikalungkan gelar mursyid atau apa saja, mereka tidak bisa beragrumentasi secara ilmiyah tatkala mereka bertembung dengan hujjah para penuntut ilmu dari kaum Salafi.


Siapakah Mereka Sebenarnya?

Seandainya mereka benar ulama’, maka tanyakan kepada dunia:

“Siapa mereka? Kitab mereka yang mana yang dibaca dan diajarkan kepada para penuntut ilmu di setiap belahan dunia? Dan apakah mereka ini diiktiraf oleh dunia Ahlus Sunnah sebagai ulama?” Atau hanya di negeri kecil kita ini sahaja mereka terkenal, itu pun terkenal kerana mereka betah dan pandai berkata-kata!

Jika mereka ulama’ Rabbani, mengapakah di Pendang masih banyak kedai-kedai menggantungkan khurafat walhal disanalah Almarhum Ustaz Fadhil Norr bertempat. Jika mereka ulama’ Rabbani mengapakah mereka bergulat dengan Syiah sehingga ada pemimpin mereka terbang ke Iran dan menjulang kerajaan Syiah yang sesat itu. (http://www.youtube.com/watch?v=ccjPARZ5ynw).

Begitu juga jika benar mereka mengikut hukum Islam mengapa mereka menelantarkan Hukum Islam terhadap Ahlul Zimmah iaitu antaranya dilarang mengenakan pakaian yang dipakai oleh umat Islam?

Nyata mereka hanya menurut nafsu dalam menegakkan agama. Walhan ulama ahlus sunnah telah menerangkan tentang larangan menentang penguasa dan memecahbelahkan jamaah kaum muslimin.

Abu Amru Mohd Radzi Bin Othman

lolucon sang agamawan

Label: , , ,