Showing posts with label awal Zulhijjah. Show all posts
Showing posts with label awal Zulhijjah. Show all posts

Tuesday, October 16, 2012

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH




عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ (رواه البخاري)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini.”
Sahabat bertanya, "Tidak juga jihad wahai Rasulullah?"

Beliau bersabda: "Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang berjihad membawa jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali membawa sesuatu apapun."

[Riwayat Bukhari]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ماَ مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَلاَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ (رواه الطبراني)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang dianggap lebih agung oleh Allah Azza wa Jalla dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal, sebagaimana sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini.

Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir dan tahmid.

[Riwayat ath-Thabrani]

MARI PERBANYAK AMAL SHALIH DI HARI-HARI MULIA INI DENGAN PUASA, TASBIH TAHMID, TAHLIL DAN TAKBIR.

Friday, November 11, 2011

Bilakah Waktu Puasa Arafah?


Kapankah Waktu Puasa Arafah?

Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat


Dari Abu Qatadah Al-Anshariy (ia berkata),” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab, “ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162 dalam hadits yang panjang)

Fiqih Hadits:

Didalam hadits yang mulia ini terdapat dalil dan hujjah yang sangat kuat tentang waktu puasa Arafah, yaitu pada hari Arafah ketika manusia wuquf di Arafah. Karena puasa Arafah ini terkait dengan waktu dan tempat. Bukan dengan waktu saja seperti umumnya puasa-puasa yang lain. Oleh karena puasa Arafah itu terkait dengan tempat, sedangkan Arafah hanya ada di satu tempat yaitu di Saudi Arabia di dekat kota Makkah bukan di Indonesia atau di negeri-negeri yang lainnya, maka waktu puasa Arafah adalah ketika kaum muslimin wuquf di Arafah. Seperti tahun ini 1425 H/2004 M [seperti tertulis di dalam buku, admin] wuquf jatuh pada hari Rabu, maka kaum muslimin di Indonesia dan di seluruh negeri puasa Arafahnya pada hari Rabu dan ‘Iedul Adha-nya pada hari Kamis. Bukan sesudahnya, yakni puasanya pada hari kamis dan ‘iednya pada hari Jum’at, dengan alasan? mengikuti ru’yah di negeri masing-masing seperti halnya bulan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri. Pendapat ini batil kalau tidak mau dikatakan sangatlah batil, karena telah menyalahi ketegasan hadits di atas, di mana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di tanya tentang puasa pada hari Arafah, yakni pada hari ketika manusia wuquf di Arafah. Adapun hari sesudahnya bukan hari Arafah lagi tetapi hari ‘Ied, dan lusanya bukan hari ‘Ied lagi tetapi hari Tasyrik. Ini yang pertama!

Yang kedua, hujjah di atas lebih lemah dari sarang laba-laba, karena telah mempergunakan qiyas ketika nash telah ada. Kaidah fiqqiyyah mengatakan, “Apabila nash telah datang, maka batallah segala pendapat”.

Yang ketiga, qiyas yang mereka gunakan merupakan qiyas yang berbeda dengan apa yang di qiyaskan atau qiyas faariq. Tidak dapat disamakan hukumnya antara Ramadhan dan ‘Iedul Fithri tanggal satu Syawwal dengan puasa hari Arafah dan ‘Iedul Adha. Maka sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam , “Puasalah karena melihat ru’yah (Ramadhan), dan berbukalah ketika melihat ru’yah (Syawwal)”. Jelas sekali untuk puasa di bulan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri, bahwa masing-masing negeri atau negeri-negeri yang saling berdekatan mempunyai ru’yah masing-masing menurut pendapat sebagian ulama sebagaimana saya telah jelaskan dengan luas di Al-Masaa-il jilid 2 masalah ke 39.

Yang keempat, sebagian dari mereka mengatakan, “Kami melaksanakan dalam rangka menaati dan mengikuti ulil amri!”

Ini adalah perkataan yang sangat batil yang telah menjadikan ulil amri sebagai tuhan-tuhan selain Allah yang telah menetapkan kepada mereka sebuah syari’at walaupun menyalahi Syari’at Rabbul ‘alamin. Oleh karena itu tidak ada seorangpun Ulama yang mengatakan secara mutlak ketaatan kepada ulil amri seperti perekataan yang sangat batil di atas. Akan tetapi mereka selalu mengkaitkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila perkataan atau ketetapan ulil amri menyalahi ketetapan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tidak boleh didengar dan tidak boleh ditaati, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka maksiat kepada Rabbul ‘alamin sebagaimana telah di jelaskan dalam hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini. Selain perkataan dan perbuatan mereka diatas menyerupai manhaj Khawarij secara khusus dan manhaj ahli bid’ah secara umum, yaitu berdalil dengan dalil-dalil umum atau mutlak dengan meninggalkan dalil-dalil yang tidak bersifat umum atau mutlak. Maka ikutilah penjelasan tafsirnya berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (-Nya), dan ulil amri diantara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama(bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An-Nisaa’: 59)

Dalam ayat yang mulia iniAllah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak. Oleh karena itu Allah mengulang fi’il (kata kerja) ” athi’u ” (أَطِيعُوا) ketika memerintahkan untuk menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya. Adapun ketaatan kepada ulil amri tidak secara mutlak, tetapi terkait dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah tidak mengulang kata kerja (fi’il) athi’u ketika memerintahkan untuk menaati ulil amri. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila ulil amri memerintahkan kepada kita untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya atau perintahnya menyalahi Al-Kitab dan Sunnah, maka tidak boleh didengar dan ditaati sebagaimana telah di jelaskan di dalam Al-Kitab dan Sunnah dari hadits-hadits shahih. Karena kalau kita taati perintah ulil amri yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kita telah menjadikan ulil amri tersebut sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah yang ditaati perintah dan larangannya secara mutlak sebagaimana perbuatan Ahli Kitab dari orang-orang Yahudi dan Nashara. Tetapi sangat pentimg kita ketahui, bahwa larangan tidak boleh mendengar dan mentaati perintah ulil amri yang menyalahi Al-Kitab dan Sunnah, tidaklah mewajibkan kepada kita untuk memberontak yang kemudian menjatuhkannya atau yang semakna dengannya sebagaimana perbuatan ahli bid’ah dan firqoh-firqoh sesat seperti khawarij dan mu’tazilah dan yang sepaham dengan mereka. Tetapi ada cara yang diajarkan oleh islam dalam menasehati dan memperingati ulil amri yang zhalim atau yang memerintahkan maksiat atau yang perintahnya menyalahi keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan yang dimaksud dengan ketaatan kepada Allah ialah dengan berpegang dan mengikuti kitab-Nya Al-Qur’an. Dan ketaatan kepada Rasul dengan berpegang dan mengikuti Sunnahnya. Ayat yang mulia ini (Qs.An-Nisaa’: 59, admin) menjadi sebesar-besar dalil dan hujjah akan kedudukan dan ketinggian serta kemuliaan Sunnah, bahwa menaati Rasul yakni dengan mengikuti Sunnahnya secara mutlak, baik terdapat di dalam Al-Qur’an atau tidak, sama saja, kewajiban kita mentaati dan mengikutinya. Jelas sekali dari ayat yang muliakita mengetahui, bahwa orang yang meninggalkan Sunnah dengan sendirinya dia telah meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak menaati Allah secara mutlak. Dari sini pun kita mengetahui, bahwa orang yang menjadikan dalil aqli (yang diputuskan oleh akal) sebagai asas, kemudian dalil naqli(yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah) mengikutinya, yang pada hakekatnya mereka telah menjadikan akal-akal mereka sebagai raja yang memerintahkan` dua wahyu yang mulia (Al-Kitab dan Sunnah). Mereka inilah orang-orang yang tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan tingkat kesesatan mereka.

Kemudian , pada bagian kedua dari ayat yang mulia ini, Allah Tabaaraka wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengembalikan segala sesuatu yang mereka perselisihkan dari urusan dunia dan akherat kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni kepada Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Karena didalam Al-Kitab dan Sunnah itulah mereka akan mendapati penjelasan danpenyelesaian tentang hukum yang mereka perselisihkan. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi ketika Allah memerintahkan untuk mengembalikan segalaperselisihan kepada Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya kemudian mereka benar-benar mengembalikan kepada keduanya. Dengan syarat, tentunya mengembalikan kepada keduanya itu dengan cara yang benar, yaitu dengan ilmu dan keadilan bukan dengan kebodohan dan hawa. Dan hal ini menjadi bukti bahwa kita memang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Kemudian buah yang akan dihasilkan dari mengembalikan segala urusan perselisihan kepada Al-Kitab dan Sunnah ialah penyelesaiannya akan berakhir dengan kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat kamu.

Disalin dari Kitab Al-Masaa-il Jilid 5 (Masalah 110) hal. 88-92 oleh guru kami Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat ~semoga Allah menjaganya~. (Pustaka Darus Sunnah – Jakarta, Cetakan 1, November 2005)

(Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Artikel: Moslemsunnah.Wordpress.com

Abu Sahal al-Atsary

14 November 2010

Friday, November 4, 2011

Awal Zulhijjah & IdilAdha :

Beberapa Isu & Hukum


KULLU 'AM WA ANTUM BI KHAIRIN..

hajmecca.jpg


KULLU 'AM WA ANTUM BI KHAIRIN..

Bulan Zulhijjah, khususnya sepuluh hari awalnya adalah merupakan peluang kedua selepas Ramadhan untuk umat Islam mendapatkan gandaan keredhaan, keampunan dan pahala amalan.

Disebutkan oleh Nabi SAW :

"Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari itu" (Riwayat al-Bazzar ; Albani : Sohih).

Allah SWT pula berfirman :

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

"Demi Fajar dan hari-hari yang sepuluh" ( Al-Fajr : 1).

Majoriti ulama menyatakan hari sepuluh itu merujuk kepada hari pertama hingga sepuluh Zulhijjah dan bukannya sepuluh terakhir Ramadhan. (Zad Al-Ma'ad, Ibn Qayyim).

Ia juga disebut oleh Nabi SAW dalam hadith lain :

"Tiada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT untuk hambanya memperbanyakkan amalan dari sepuluh hari ini" (Riwayat Al-Bukhari).


AMALAN-AMALAN UTAMA

Manakala amalan-amalan yang digalakkan sepanjang sepuluh awal Zulhijjah yang amat besar pahalanya ini antaranya :-

a) Zikir : Iaitu dengan memperbanyakkan zikir Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha Illa Allah dan Allahu Akbar.

Ia bersumber dari hadith riwayat At-Tabrani yang diakui sohih oleh Imam Al-Munziri. Allah SWT juga menyebut ertinya : "Supaya mereka menyaksikan berbagai perkara yang mendatangkan faedah kepada mereka serta memperingati dan menyebut nama Allah, pada hari-hari yang tertentu.." (Al-Hajj : 28).

Ibn Abbas r.a mentafsirkan erti ‘hari-hari tertentu' adalah sepuluh hari Zulhijjah ini dan inilah pendapat majoriti ulama jua.

b) Berpuasa : Amat digalakkan berpuasa pada satu hingga sembilan Zulhijjah bagi orang yang tidak menunaikan Haji. Hari Arafah (9 Zulhijjah ) pula adalah hari yang terbaik untuk berpuasa.

Nabi SAW bersabda tentang kelebihan hari Arafah :

"Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah" (Riwayat Muslim).

Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.

c) Melakukan lain-lain amalan seperti bersedeqah, membaca Al-Quran, solat sunat dan lain-lain. Ia semuanya termasuk di dalam umum hadith yang menunjukkan ianya amat disukai oleh Allah SWT.

d) Menjauhi maksiat dan masa terbaik untuk memulakan tawbat bagi sesiapa yang masih berfikir-fikir dan menangguhnya. Amat biadap jika umat Islam bersukaria dengan melampaui batas haram di hari yang amat agung di sisi Allah SWT ini.

Bertawbatlah dengan sebenar-benar tawbat dan sedarilah bahawa hidup ini sementara dan seluruh keseronokannya adalah tipu daya semata-mata.

e) Bertakbir : Ibn Abi Shaibah menyebut bahawa `Ali KW menunjukkan bahawa permulaan takbir bermula sejurus selepas solat Subuh hari Arafah sehingga hujung waktu ‘Asar hari ketiga Tashriq.

f) Berkorban : Allah SWT berfirman : ertinya : "dan berdoalah dan berkorban". Allah SWT juga menyebut :

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب

Ertinya : "Sesiapa yang membesarkan syiar Allah (berkorban) mala ia adalah dari tanda ketaqwaan hati" (Al-Hajj : 32)

Sebuah hadis menyebut :

ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم

Ertinya : "Tiadalah amalan anak Adam yang lebih disukai oleh Allah SWT pada hari kurban kecuali berkorban ( dengan menyembelih binatang)" ( Riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud ; Gharib, namun terdapat rawi yang dipertikaikan )

POTONG KUKU, RAMBUT & HUKUM QURBAN

Hukum berkorban adalah sunat muakkad (yang dituntut) bagi orang yang mempunyai lebihan dan kemudahan harta. Demikian pendapat majoriti ulama termasuklah sahabat besar seperti Abu Bakar as-Siddiq r.a, Umar al-Khattab r.a, Ibn Mas'ud r.a dan lain-lain, kecuali Imam Abu Hanifah berpendapat ianya WAJIB bagi mereka yang berkemampuan.[1]

Bagi menggandakan pahala korban, seseorang yang sudah berniat awal untuk melakukannya digalakkan menahan diri dari memotong rambut dan kuku. Ia berdasarkan hadith riwayat Muslim yang sohih, iaitu :-

من أراد أن يضحي فدخل العشر فلا يأخذ من شعره ولا من أظفاره شيئاً حتى يضحي

Ertinya : Barangsiapa yang ingin menyembelih ( berkurban ), dan telah masuk sepuluh awal Zulhijjah), maka janganlah dia memotong apa-apa rambut atau kukunya SEHINGGALAH sampai korban dilaksanakan" ( Muslim, 3/39 )

Justeru, majoriti ulama dari mazhab Maliki, Syafie dan sebahagian Hanbali menyatakan makruh hukumnya bagi melanggarnya.

Bagaimanapun ia tiadalah termasuk dalam kategori haram kerana Aisyah r.a pernah meriwayatkan bahawa beliau pernah menempah (menandakan dan membeli binatang) dan diniatkan untuk dilakukan Qurban, dan Aisyah r.a menyebutkan, tiadalah Nabi SAW mengharamkan apa-apa (semasa menunggu masa untuk menyembelih) sehinggalah sampai waktu sembelihan. Hadis tersebut adalah sohih riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Oleh itu, adalah dibenarkan untuk memotong kuku jika ia boleh mengganggu kesempurnaan wudhu dan lain-lain kewajiban.

TIDAK DIBENARKAN juga berkorban hanya dengan membayar harganya atau membeli daging lembu yang telah disembelih dari pasar lalu disedeqahkan atas niat Qurban. Tatkala itu, ia dianggap sedeqah biasa sahaja dan bukannya Qurban yang disyariatkan di hari raya Aidiladha.

Pahala Qurban adalah jauh lebih hebat dari bersedeqah harganya sahaja. Ia adalah fatwa oleh majoriti ahli ilmu seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafie, Ahmad dan lain-lain. [2]

Adalah diingatkan jua agar meniatkan Qurban itu adalah kerana Allah SWT semata-mata, menuruti sunnah Nabi SAW dan Nabi Ibrahim a.s dan bukannya untuk menyedeqahkan daging atau lain-lain niat.

Firman Allah :

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Ertinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (Al-Hajj : 37)

KONGSI LEMBU

Harus hukumnya menurut majoriti ulama untuk berkongsi seekor lembu dengan dibahagikan kepada 7 bahagian atau seekor kambing berdasarkan hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir r.a. [3]

Adalah digalakkan juga untuk menyembelih sendiri (jika berkemampuan) atau menghadiri majlis sembelihan.

Sebuah riwayat hadith pernah mencatatkan nasihat Nabi SAW kepada Fatimah yang ingin berqurban :

احضري أضحيتك، يغفر لك بأول قطر من دمها

Ertinya : "Hadirkanlah dirimu di waktu sembelihan, diampunkan bagimu dari titisan darah sembelihanmu yang pertama"

BINATANG TERBAIK UNTUK KURBAN

Yang terbaik adalah unta, diikuti oleh lembu, kerbau, kemudian biri-biri, kambing dan jika tidak mampu bolehlah 1/7 dari unta, lembu, kerbau.

Yang terbaik sudah tentulah yang paling banyak dagingnya maka lebih ramai mendapat merasai dan manfaatnya.

PEMBAHAGIAN DAGING

Daging qurban yang telah siap dilapah bolehlah dibahagikan SEPERTI BERIKUT :

1/3 (sepertiga) kepada tuan rumah yang berqurban,

1/3 (sepertiga) kepada faqir miskin termasuklah jirannya dan saudara mara dan

1/3 (sepertiga) lagi bagi sesiapa yang memintanya.

Ia berdasarkan firman Allah SWT :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Ertinya : "Dan makanlah ia, dan berikanlah ia kepada orang yang susah dan faqir." (Al-Haj : 28) dan juga firman Allah :

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

Ertinya "Dan makanlah ia, dan berikanlah kepada orang yang memintanya dan yang tidak memintanya" (Al-Haj : 36)

Inilah yang dilakukan oleh Nabi SAW sebagaimana riwayat Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a. Namun demikian HARUS (DIBENARKAN) untuk tidak mengikut cara pembahagian ini SAMADA UNTUK MAKAN KESELURUHANNYA ATAU KEBANYAKKANNYA. [4]

Bagaimanapun DILARANG untuk memberikan tukang-tukang lapah dan penyembelih upah atas usahanya (iaitu dengan ditetapkan dari awal), bagaimanapun ia harus jika dia termasuk dari kalangan faqir miskin atau diberikan secara sukarela orang ramai sebagai hadiah.

TIDAK DIBENARKAN juga sepakat ulama untuk menjual dagingnya.

Namun tidak sepakat berkenaan penjualan kulit, bulunya dan tulang hasil Korban. Majoriti mazhab termasuk Syafie tidak membenarkan. [5]

DIBENARKAN untuk menyimpan daging-daging kurban walaupun melebihi 3 (tiga) hari berdasarkan hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Muslim.

MEMBERI DAGING KORBAN KEPADA ORANG KAFIR

Ulama berbeza pendapat dalam hal ini, sebahagian mazhab mengatakannya HARAM, ada yang mengatakannya MAKRUH dan Mazhab Hanbali, Hanafi mengatakannya sebagai HARUS kerana ia bukannya sedeqah wajib. [6]

Namun tiada khilaf, mendahulukan umat Islam adalah lebih utama dalam hal ini.

BERKORBAN ATAU MEMBAYAR HUTANG

Bolehkah seorang yang dibebani hutang bank dan rakan berkorban sekali setahun demi tawaran pahalanya?.

Saya telah banyak mengulas berkenaan hutang dan pendirian Islam berkenaannya. Sila rujuk di sini. Justeru, untuk menentukan keutamaan samada menjelaskan hutang atau melakukan ibadah kurban kita perlu melihat kepada jenis hutang, tempoh janji bayaran semula dan kemampuan orang yang berhutang.

Jika ia adalah dari jenis hutang yang telah terancang pembayarannya seperti hutang bank dan selepas ditolak semuanya masih ada baki wang, tatkala itu individu tersebut sewajarnya melihat dan memikirkan berkenaan hutang tidak rasmi dari individu lain atau rakan-rakan serta tempoh yang dijanjikan.

Jika tempoh langsaian hutang masih jauh dan diyakini pendapatan akan datangnya boleh menampung semunya tanggungjawab wajib itu. Di ketika itu barulah ibadah kurban menjadi utama untuk dilaksanakan.

Ia amat jelas kerana ibadah kurban hanya sunat muakkad sahaja menurut majoriti mazhab mankala langsai hutang dalam tempohnya adalah wajib.

Jika disebabkan oleh ingin berkorban sehingga menyebabkan rakan pemberi hutang pula ‘TERKORBAN', hubungan persaudaraan ‘terkorban', atau hingga menyebabkan pihak bank mengenakan penalti kerana lewat bayar, tidak wajar sama sekali untuk berkorban juga. Keutamaan tetap bagi pelangsaian hutang berbanding berkorban. Demikian pandangan ringkas saya.

KORBAN OLEH ORGANISASI & SYARIKAT?

Ramai yang bertanya dan ramai juga yang melakukan amalan ini. Adakah sebuah syarikat boleh mengeluarkan budjet tertentu untuk membeli dua puluh ekor lembu dan berkorban atas nama syarikat?

Jawab ringkas saya:

"tidak boleh !"

Ibadah korban adalah ibadah yang dilakukan oleh individu tertentu atau untuk individu tertentu. Ia bukan untuk organisasi yang bukan manusia. Justeru, ia sebuah organisasi ingin melaksanakannya, ia MESTI menghadiahkannya kepada mana-mana Pengarah atau kakitangannya.

Ketika itu korban barulah sah dan ia menjadi korban oleh individu yang ditentukan namanya sahaja dan bukan atas nama syarikat. Pihak syarikat terbabit boleh bergilir-gilir menghadiahkan lembu tertentu dan bahagiannya DIHADIAHKAN kepada kakitangan secara khusus UNTUK DILAKSANAKAN sembelihan atau korban, pahala korban akan hanya diperolehi oleh individu dan pihak organisasi pula (iaitu pemilik organisasi iaitu manusia) hanya mendapat pahala kerana ‘menghadiahkan' lembu atau bahagiannya kepada kakitangan sahaja.

Jika pihak syarikat tidak mahu berbuat demikian, bermakna ia mestilah meletakkan secara specific 20 ekor lembu itu, untuk para lembaga pengarahnya secara khusus juga. Ia bukan atas nama syarikat tetapi individu.

APAKAH HAJI AKBAR ?

Nabi SAW menamakan hari sembelihan iaitu 10 Zulhijjah sebagai Haji Akbar. (Riwayat Abu Daud dengan sanad sohih : Ibn Qayyim dan Albani).

Sayyidina Ali Abi Talib juga pernah ditanya tentang apakah itu Haji Akbar, beliau menjawab:

"Ia adalah hari sembelihan (iaitu haji raya pertama). (Riwayat at-Tirmidzi)

Menurut Ulama itulah yang dimaskudkan di dalam ayat surat At-Taubah.

Bagaimanapun sesetengah ulama membawakan hujah mereka mengatakan Haji Akbar itu adalah Hari Arafah [7]. Setengah ulama pula bersama sahabat seperti Ibn Abbas r.a dan Ibn Umar r.a yang menyatakan bahawa Haji Akbar itu adalah hari arafah yang jatuhnya pada hari Jumaat dan pahalanya disebut sehebat 70 kali pahala Haji biasa, Ia juga disebut oleh Imam al-Ghazzali, ini bermakna pada Haji Akbar, semua orang yang berada di Arafah akan diampunkan. Ia berdasarkan satu hadith yang diriwayat oleh Razin dalam Tajrid as-Sihhah, bagaimanapun al-Munawi menolak hadith itu dengan katanya "tiada asalnya".

Kesimpulannya : Terdapat para sahabat mengatakan Haji Akbar itu adalah hari Arafah yang jatuh pada hari jumaat, mankala Ali k.w pula mengatakan ia adalah hari Qurban pada 10 zulhijjah dan setengah yang lain pula menyebut ia adalah semua hari-hari wuquf di Mina ( hari Tasriq).

Akhirnya, adalah amat perlu dipastikan bahawa tarikh hari raya ‘Idil adha ini menurut ijtihad pemerintah kerajaan Saudi bagi menyatukan umat Islam di seluruh dunia ( kecuali jika benar-benar sesebuah Negara itu mengikut rukyah), tanpa rukyah maka kiraan yang terbaik adalah dengan menuruti Saudi. Dengan itu, kekeliruan yang sering berlaku sebagaimana mencari Lailatul Qadar dan hariraya idilfitri akan berterusan. wallahu 'alam

Sekian

Doha, Qatar

27 Dis 2006 ( 7 Zulhijjah 1427 H)

Kemaskini : 16 Disember 2007 ( 6 Zulhijjah 1428 H - Malaysia ; 7 Zulhijjah 1428 H - Saudi)

KEMAS KINI : 29 Nov 2008 ( 1 Zulhijjah 1429 H )



[1] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/ 197

[2] Al-Majmu, 8/425 ; Al-Mughni, 9/436

[3] Al-Majmu, An-Nawawi, 8/313

[4] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/200

[5] Bidayatul Mujtahid, Ibn Rusd Al-Hafid, 1/321 ( cet Maktabah al-Riyadh al-Hadithiyah) ; Rawdah At-Tolibin, An-Nawawi, 3/225

[6] Al-Mughni, Ibn Qudamah, 5/201

[7] Ahkam al-Quran, Al-Jassas

Oleh :Zaharuddin Abd Rahman (UZAR)
www.zaharuddin.net