Showing posts with label bai'ah. Show all posts
Showing posts with label bai'ah. Show all posts

Friday, April 18, 2014

Bai'ah seorang hamba dengan Tuhannya di alam Ruh

 
 
 
 
 
Oleh Kyai Muhammad Luthfi Ghozali




Bai’ah pertama itu adalah janji anak manusia kepada Penciptanya. Saat itu manusia masih berada di alam ruh, sebelum ditiupkan ruhnya dalam janin di rahim seorang ibu. Di saat kondisi anak Adam masih bersih (fitrah) sesuai takdir yang ditetapkan Sang Pencipta. Saat lembaran hidupnya masih putih bersih dan sedikitpun belum tergores oleh satu apapun, kemudian Allah memasukkan ilmu (pengenalan) yang datang langsung dari urusan-Nya, bahwa Allah adalah Robb (Tuhan)nya. Lalu anak-anak manusia itu menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". Itulah kalimat syahadat pertama yang diucapkan manusia langsung di hadapan Allah SWT.

Merupakan “ilmu rasa” yang pertamakali dimasukkan Allah dalam memori khazanah keilmuan manusia. Dengan pengenalan itu, maka jadilah setiap kelahiran anak manusia pasti membawa pengertian bahwa dirinya ada yang menciptakan. Oleh sebab itu, meski manusia tinggal di tempat sangat terpencil, pasti cenderung mencari siapa Tuhan Penciptanya. Kecuali orang yang memang matahatinya terlanjur buta karena tertutup oleh rasa ingkar dan penyakit hati yang belum mampu disembuhkan.

Perjanjian pertama itu sesungguhnya merupakan “ilmu hakekat” yang pertama kali dimiliki anak manusia. Namun karena masuknya ilmu hakekat itu langsung secara ruhaniah, maka keberadaannya harus dilengkapi dengan ilmu syari’at. Untuk tujuan inilah Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan kitab-kitab samawi di muka bumi, supaya manusia yang secara naluriah sudah mencari Tuhan itu benar-benar dapat menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Apabila “ilmu hakekat” itu tidak dilandasi ilmu syari’at yang diajarkan para Nabi yang kemudian dilanjutkan oleh para Ulama’ pewaris Nabi, maka kecenderungan orang mencari tuhan itu seringkali terjebak dengan imajinasinya sendiri. Mengikuti mitos yang hanya didasari persangkaan kosong tanpa dalil dan bukti. Akibatnya, bintang, bulan matahari, pohon, batu, gunung, api, dan bahkan bagian anggota tubuhnya sendiri dipuja dan disembah, dikira itu tuhan mereka. Keadaan seperti itu telah digambarkan Allah melalui peristiwa terjadinya proses keyakinan dalam hati Nabi Ibrahim AS melalui firman-Nya:

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin - Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam" - Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat" - Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan - Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (QS. al-An’am; 75-79)

Ayat di atas merupakan ungkapan yang sangat luar biasa, hanya wahyu yang mampu menungkapkan, ilustrasi pengembaraan ruhaniah manusia melalui kemampuan rasional disaat melihat tanda-tanda yang betebaran di alam semesta. Apabila manusia mampu mencermatinya, maka akan menemukan Tuhannya seperti yang pernah ditemukan Nabiyullah Ibrahim AS.

Adapun perjanjian pertama tersebut diabadikan Allah dalam firman-Nya:
Maksudnya:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu", dan dia saat itu telah menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.”
(QS. al-A’raaf; 7:172)

Ketika peristiwa yang terjadi di alam ruh itu diceritakan secara ilmiah dengan Firman-Nya, maka berarti dengan ayat ini Allah tidak sekedar memberi kabar akan siapa sesungguhnya “Tuhan manusia” itu, namun juga menegaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ibunya di dunia, sesungguhnya telah melaksanakan bai’at kepada Tuhannya – “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu", dan dia saat itu telah menjawab: "Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi". Dengan perjanjian itu, supaya di hari kiamat manusia tidak bisa mengingkari dan berkata: “Sesungguhnya kami orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.”

Sungguh ini merupakan bagian keajaiban al-Qur’an al-Karim, rahasia kejadian di alam ghaib dari lembar perjalanan hidup anak manusia telah dikuak. Dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya di alam ruh itu, peristiwa itu bukan sekedar perkenalan antara seorang hamba dengan Tuhannya saja, namun juga penegasan, bahwa Sang Pencipta dan Sang Pemelihara alam semesta ini adalah Allah SWT. Dengan ayat ini seharusnya manusia tidak ragu lagi, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah Ta’ala.

Namun ternyata, bahkan dari sebagian orang yang mengaku beriman saja ada yang mengingkari peristiwa ghaib tersebut, mereka berkata: “Itu hanya dakwaan al-Qur’an. Sesungguhnya bai’at itu tidak pernah ada, buktinya tidak seorangpun ingat peristiwa tersebut”. Orang yang mengatakan seperti itu barangkali karena rongga dadanya gelap gulita sehingga matahatinya buta yang menyebabkan hatinya menjadi ingkar kepada Tuhannya. Hal itu, karena mereka tidak bisa membedakan mana yang harus diketahui dan mana yang harus di imani.

Ilmu pengetahuan manusia semestinya tidak mengadakan observasi terhadap hal gaib yang dikabarkan oleh wahyu, karena arena akal tidak mungkin dapat mencapainya. Terhadap apa-apa yang disampaikan oleh wahyu tersebut manusia hanya wajib beriman, karena iman itu dirasakan dengan hati bukan dengan akal. Namun iman ini merupakan hidayah azaliah yang jika manusia tidak mendapatkan berarti akan berada di dasar jurang kekufuran kepada Tuhannya:

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman - Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat”(QS.al-Baqoroh/ 6-7)  

Friday, January 25, 2013

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Bazz Tentang Bai'at Kepada Bukan Pemerintah

sumber: 1aqidah.net/

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Bazz Tentang Bai'at Kepada Bukan Pemerintah

Terjemahan oleh:
Ustaz Muhammad Asrie Sobri
Universiti Islam Madinah

Soalan: Sebahagian kumpulan moden mengikat bai’at kepada pemimpin-pemimpin mereka yang mereka pilih untuk diri mereka dan mereka berkeyakinan wajibnya dengar dan taat kepada mereka (pemimpin-pemimpin jamaat) sedangkan mereka ini berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin yang sah yang dibai’at oleh umum kaum muslimin.

Adakah perbuatan ini harus? Yakni adakah boleh di atas tengkuk seseorang itu mempunyai lebih daripada satu bai’at dan sejauh manakah kesahihan bai’at ini?

Jawapan Samahah al-Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz –rahimahullah- :

Bai’at ini adalah BATIL dan TIDAK BOLEH melakukannya; kerana ia akan membawa kepada perpecahan kesatuan, fitnah (kekecohan) yang banyak, dan pemberontakan ke atas pemerintah secara tidak syar’ie. Telah sahih bahawa Nabi s.a.w bersabda:

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد ، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا ، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة

Maksudnya: “Aku berpesan kepada kamu supaya bertakwa kepada Allah serta dengar dan taat walaupun kamu diperintah oleh seorang hamba, kerana sesungguhnya barangsiapa yang hidup antara kamu dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kamu berpegang dengan sunnah ku dan sunnah para Khalifah al-Rasyidin selepasku, berpegang teguhlah dengannya dan gigit dengan geraham kamu serta hati-hati olehmu akan perkara baharu kerana setipa perkara yang diadakan (-dalam agama-pent-) itu adalah bidaah dan setiap bidaah itu sesat”. [al-Tarmizi, Ibn Majah, dan Ahmad].

Serta sahih juga baginda bersabda:

على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره ، ما لم يؤمر بمعصية الله ، فإن أمر بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة

Maksudnya: “wajib atas seorang muslim itu mendengar dan taat dalam perkara yang dia suka dan benci selama mana dia tidak diperintah melakukan maksiat kepada Allah, jika dia diperintah melakukan maksiat kepada Allah maka tidak wajib dengar dan taat”. [Muslim].

Dan baginda s.a.w bersabda:

إنما الطاعة في المعروف

Maksudnya: “Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara makruf”. [al-Bukhari dan Muslim].

Dan baginda s.a.w bersabda:

من رأى من أمره شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة

Maksudnya: “Barangsiapa yang melihat pemerintahnya melakukan sesuatu maksiat kepada Allah maka hendaklah dia membenci apa yang dia lakukan daripada maksiat kepada Allah itu namun jangan pula dia mencabut tangan daripada ketaatan (bai’at)”.[Muslim].

Hadis-hadis dalam perkara ini sangat banyak semuanya menunjukkan wajib taat kepada para pemerintah dalam perkara makruf serta tidak boleh memberontak kepada mereka melainkan mereka melakukan kekufuran yang jelas yang ada pada pemberontak bukti daripada Allah.

Tidak diragukan lagi bahawa wujudnya bai’at kepada sebahagian manusia akan membawa kepada perpecahan dan pemberontakan kepada pemerintah maka WAJIB MENINGGALKANNYA, dan HARAM MELAKUKANNYA, kemudian wajib atas mereka yang melihat pemerintahnya melakukankufur yang jelas untuk MENASIHATINYA sehingga dia (pemerintah) meninggalkan perbuatan itu, dan tidak boleh memberontak kepadanya jika pemberontakkan itu membawa keburukan yang lebih banyak kerana mungkar tidak dihilangkan dengan perkara yang lebih mungkar, seperti yang dinyatakan oleh para Ulama seperti Syeikhul Islam Ibn Taimiah dan al’Allamah Ibn al-Qayyim –rahmatullahi ‘alaihima-. Wallahu waliyyut Taufiq.

[Sumber: Majmuk Fatawa Ibn Baz, jil 28, m.s 250-253].


*perhatikan: Jika memberontak kepada pemerintah yang jelas kafir pun tidak harus jika membawa kemudaratan yang lebih maka bagaimana pula memberontak kepada mereka yang tidak kafir??!! Allahul Musta’an.