Showing posts with label cinta Allah. Show all posts
Showing posts with label cinta Allah. Show all posts

Wednesday, December 18, 2013

Jangan Mengaku Cinta Kepada ALLAH Tetapi Tidak Mengikut Perintah ALLAH

 

 

EDISI : Jangan Mengaku Cinta Kepada ALLAH Tetapi Tidak Mengikut Perintah ALLAH.

December 16, 2013 at 12:31pm
Segala puji hanya bagi ALLAH Azza Wa Jalla Rabb semesta alam .Kami memuji-NYA, memohon pertolongan dan meminta ampunan kepada-NYA. Kami berlindung kepada ALLAH dari kejelekan diri-diri kami dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh ALLAH maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-NYA maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahawa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali ALLAH Azza Wa Jalla,tidak ada sekutu bagi-NYA dan hanya kepada NYA kami berserah diri. Dan kami juga bersaksi bahawa Muhammad sallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan rasul-NYA. Amma Ba'du.

Dipetik dari Kuliah Syarhus Sunnah yang membincangkan perkataan Imam Al Barbahari Rahimahullah dan disampaikan oleh Ustaz Abu Omar Idris bin Sulaiman yang mana sebahagian dari perkataan beliau telah saya olah kembali.Pada siri kuliah ini kita akan membincangkan perkataan Imam Barbahari yang ke-enam.



Imam Barbahari Rahimahullah mengingatkan kita akan bahaya bid’ah dan betapa apabila seseorang melakukannya maka secara tidak langsung ia akan mematikan sunnah.

Orang yang telah meninggalkan sunnah, secara tidak langsung telah meninggalkan Al Quran. Ini kerana Al Qur’an dan As Sunnah perlu dipegang secara bersama-sama. Apabila dia mengatakan bahawa dia cuma berpegang kepada Al Qur’an maka sebenarnya dia tidak berpegang Al Qur’an dengan sepenuhnya kerana ALLAH memerintahkan didalam Al Qur’an  untuk berpegang dengan Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.



Tidak sedikit orang yang mengaku-ngaku bahawa mereka mencintai ALLAH namun perlulah kita menanyakan pada diri kita sendiri apakah ALLAH menyintai kita apabila kita meninggalkan jalan Rasul-NYA? Aneh sekali orang yang mengaku pencinta tetapi melakukan hal yang membuatkan Kekasihnya murka. Salah satu perintah ALLAH adalah dengan mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam yang boleh didapati melalui hadis hadisnya yang shahih.

Tidak kurang yang menolak hadis dengan alasan bahawa hadis telah tercemar dan tidak pasti akan keshahihannya, tidak cukup dengan itu mereka menohmah ahli hadis dengan tuduhan yang tidak sepatutnya. Alasan mereka tidak lain tidak bukan untuk berpegang kepada Al Qur'an semata mata, sedangkan penohmah ini tidak meluangkan masa mempelajari ilmu hadis, apakah yang menyebabkan sesuatu hadis itu menjadi shahih atau sebaliknya, tidak mempelajari dan meneliti para perawi hadis, dipendekkan kata tidak memiliki pengetahuan tentang ilmu hadis. Penyudahnya jadilah mereka yang mendakwa berpegang dengan Al Qur'an Namun akhirnya mereka tanpa sedar memahami menurut akal mereka yang lebih kecil dari tempurung !

Jadilah golongan ini yang menghalalkan untuk meminum khamar asalkan tidak mabuk atau yang solat sekadar tiga waktu dan seumpamanya, apabila memahami Al Qur'an itu sendiri tanpa didokong oleh hadis hadis shahih bersamanya sebagaimana yang difahami oleh para sahabat Radhiyallahu anhuma Ajma'in.

Boleh jadi mereka tidak pernah melihat ancaman yang diberikan oleh Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam yang mana ancaman ini bukan sahaja untuk golongan Quraniyyun bahkan juga semua pendokong kesesatan termasuklah pendokong bid'ah.



Perkataan Imam Barbahari ini juga bukanlah hukum mengkafirkan pelaku bid'ah kerana hukum-hukum sebegitu memerlukan perincian. Apa yang disebutkan oleh Imam Barbahari Rahimahullah ini adalah senada dengan hadis Nabi sallallahu 'alaihi wa sallam iatu :

Mafhumnya: Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. (Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka).”HR. Nasa’i dan At-Tirmi-dzi, ia berkata hadits hasan shahih).


Hadis riwayat imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy'ari bahawa telah bersabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam:


إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ يَا قَوْمِ إِنِّيْ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ وَإِنَّيْ أَنَا النَّذِيْرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَاءَ فَأَطَاعَهُ طَائِفَةٌ مِنْ قَوْمِهِ فَأَدْلَجُوْا فَانْطَلَقُوْا عَلىَ مَهْلِهِمْ فَنَجَوْا وَكَذِبَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ فَأَصْبَحُوْا مَكَانَهُمْ فَصَبَّحَهُمُ الْجَيْشُ فَأَهْلَكَهُمْ وَاجْتَاحَهُمْ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ أَطَاعَنِيْ فَاتَّبَعَ مَا جِئْتُ بِهِ وَمَثَلُ مَنْ عَصَانِيْ وَكَذَبَ بِمَا جِئْتُ بِهِ مِنَ الْحَقِّ

Sesungguhnya perumpamaan aku dgn perumpamaan apa yang Allah utus aku dengannya, seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum kemudian berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku melihat pasukan (musuh) dengan kedua mataku dan sesungguhnya saya adalah ‘pemberi amaran yang tak berpakaian’’

Maka sekelompok dari kaumnya mentaatinya dan bergegas berjalan di malam hari dengan kehati-hatian dan mereka selamat, sementara sekelompok dari mereka mendustakannya (tak percaya), maka mereka tetap di tempatnya, maka pasukan musuh itu menyerangnya di waktu Subuh, lalu menghancurkan dan membinasakannya.

Yang demikian itu perumpamaan orang yang mentaatiku dan mengikuti apa yang aku didatangkan dengannya, dan perumpamaan orang yang mengingkariku dan mendustakan apa yang aku didatangkan dengannya dari kebenaran.

Pemberi amaran tidak berpakaian didalam hadis ini adalah merujuk kepada pada zaman dahulu dimana apabila seseorang terserempak dengan gerombolan musuh yang datang untuk menyerang kaumnya, maka dia akan memanjat bukit hingga ke puncaknya lalu menjerit sekuat-kuat hati untuk memberitahu akan kedatangan musuh kepada kaumnya. Sekiranya mereka tidak mengendahkan amarannya, pemberi amaran ini akan menanggalkan bajunya untuk menunjukkan betapa seriusnya dia.


Apakah mereka masih mahu menggunakan alasan meneruskan kebid'ahan atau kesesatan apa yang mereka kerjakan dengan alasan cinta kepada ALLAH sedangkan hadis kesesatan bid'ah itu begitu banyak sekali? Fikirlah !
Telah datang perintah untuk menuruti dan ta'at kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam, hendaklah mereka yang ingkar memerhatikan ancaman ALLAH;

Maksudnya: 'Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu'min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (An-Nisa' ayat 115)

~ Rabiah Rosdi Yaman

Thursday, November 11, 2010

10 Hal yang Mendatangkan Cinta Allah


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut.


Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya.

Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah,setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

I

bnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com/