Showing posts with label fiqh Hadis. Show all posts
Showing posts with label fiqh Hadis. Show all posts

Friday, August 24, 2012

HUKUM MEMAKAN KATAK


Pertanyaan :
Assalamu alaikum, apakah ada hadist yang shahih tentang larangan membunuh katak, dan apakah haram memakannya, karena saya pernah mendengar ada hadistnya (Munawan)
Jawaban :
Wa’alaikum  salam warahmatullah,
Hadits yang melarang membunuh katak diriwayatkan oleh Abu Daud (no. 3871 dan 5269), Nasaai (no. 4355) dan Daarimi (no. 1998)

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِي دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِهَا

Dari Abdurrahman bin Utsman radhiyallohu anhu bahwa seorang dokter bertanya kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam tentang katak dijadikan obat maka Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.
Derajat Hadits :
Imam Abu Daud telah meriwayatkan hadits ini dengan sanad sebagai berikut : Abu Daud —> Muhammad bin Katsir —> Sufyan Ats Tsauri —> Ibn Abi Dzi’b —> Said bin Kholid —> Said bin Musayyib —> Abdurrahman bin Utsman
Sanad hadits Abu Daud di atas semuanya perowi yang tsiqoh (terpercaya) kecuali Said bin Kholid, derajat beliau menurut Ibnu Hajar : shaduq (jujur). Dengan demikian sanad Abu Daud hasan namun Syaikh Albani menghukumnya sebagai hadits shohih, mungkin saja karena beliau melihat beberapa syawahid (pendukung) yang menguatkannya.  Kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang diterima dan pantas dijadikan hujjah.
Syarah Hadits :
  • Imam Khaththabi rahimahulloh berkata, “Hadits ini merupakan dalil bahwa katak haram dimakan dan tidak termasuk hewan air yang boleh dimakan…
  • Imam Abul Barakaat Ibn Taimiyah dalam kitab beliau Muntaqa Al Akhbar memasukkan hadits ini dalam bab yang beliau beri judul : “Bab Yang Diambil Manfaat tentang Hukum Keharamannya Berdasarkan Perintah untuk Membunuhnya atau Larangan Membunuhnya”. Maksud beliau bahwa kita bisa mengambil faidah haramnya suatu hewan berdasarkan salah satu dari dua sebab yaitu adanya perintah untuk membunuhnya atau adanya larangan membunuhnya.
  • Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahulloh –ketika menjelaskan hadits ini- beliau berkata, “Larangan membunuh katak menunjukkan haramnya dan tidak boleh dijadikan sebagai obat karena seandainya dibolehkan membunuhnya maka boleh saja digunakan untuk obat, karena kaidahnya adalah sesuatu yang boleh dibunuh dan digunakan maka boleh dijadikan sebagai obat dan sebaliknya sesuatu yang tidak boleh dibunuh maka tidak boleh dijadikan sebagai obat dan tidak boleh dimakan. Hal ini menunjukkan bahwa katak tidak boleh dimakan dan ini merupakan pengecualian dari hukum hewan yang hidup di laut. Maka katak tidak boleh dimakan karena Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam telah melarang membunuhnya karena seandainya boleh dimakan tentu beliau mengizinkan untuk mengambil manfaat darinya sebagai makanan dan obat akan tetapi ketika beliau melarangnya maka jelaslah bahwa katak tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijadikan sebagai obat
Pendapat Fuqaha tentang larangan membunuh katak
Para ahli fiqh berbeda pendapat tentang larangan yang terdapat pada hadits di atas; apakah haram atau makruh?
Pendapat  Pertama : Makruh; ini pendapat madzhab Malikiyyah dan sebagian dari Syafi’iyyah dan Hanabilah
Pendapat Kedua : Haram; ini pendapat Jumhur ulama yaitu dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Imam Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah juga sepakat mengharamkannya. Pendapat kedua inilah yang rojih karena hukum asal dari larangan adalah haram,wallohu a’lam
Sebelum kami mengakhiri penjelasan ini maka hal lain yang perlu diingatkan adalah ketika kita mengatakan memakan katak haram berarti kita juga mengharamkan untuk menjadikannya lahan bisnis, sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam,

(وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ )

“…Sesungguhnya jika Allah mengharamkan atas suatu kaum memakan sesuatu maka berarti Allah juga mengharamkan harganya” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Wallohu A’lam bish Shawab wa Huwa Waliyyu At Taufiq
Posted on by markazassunnah 

Adakah bila berjumpa/membaca sesuatu hadith sahih maka kita boleh terus mengamalkannya ?


 
 
Soalan :

Adakah bila berjumpa/membaca sesuatu hadith sahih maka kita boleh terus mengamalkannya ?

Jawapan :

Para salafussoleh yang hebat dalam hadith sekalipun apabila berjumpa dengan hadith, mereka tidak terus mengambilnya sebagai hukum atau amalkan.

Antara perkataan mereka :
Abdullah bin Mubarak (seorang ulama' Hadis dari Khurasan) r.h.l. pernah berkata:

"Jika Allah s.w.t. tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama' Fiqh), nescaya aku sama sahaja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) ". Kitab "Tibyiidh As-Shohafiyyah" m/s 16

Abdulla bin Wahab r.h.l. (seorang ahli hadis juga sahabat Imam Malik r.h.l.) juga pernah berkata:

"saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama', (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith r.h.l (ulama'-ulama' Fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu." Ibn Hibban, muqoddimah Kitab "Al-Majruhin"

Al-Qodhi 'Iyadh r.h.l. meriwayatkan, Ibn Wahab r.h.l. juga pernah berkata:

"Andai Allah s.w.t. tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan Al-Laith r.h.l., nescaya saya akan sesat."
Beliau ditanya: "Mengapa begitu?" Beliau menjawab: " Saya telah menghafal banyak hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam), sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian, saya pergi ke Imam Malik dan Al-Laith untuk bertanya mengenainya, maka mereka berkata kepada saya: "Hadis ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah, dan hadis yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya). Kitab "Tartib Al-Madarik" jilid 2 m/s 427

Sufian bin 'Uyainah pernah berkata:

"Hadis itu menyesatkan kecuali kepada Al-Fuqoha' (ulama' ahli Fiqh). Kadangkala, suatu hadis itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta'wilannya. Kadangkala, sesuatu Hadis itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga Hadis yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam Fiqh (kefahaman). Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, "Al-Jami'" m/s 118

Imam Al-Kauthari r.h.l. berkata di dalam kitab Al-Intiqa' karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahab (dari sanad Ibn 'Asakir):

"Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam Al-Laith Sa'ad, nescaya saya akan binasa. Dulu, saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam) (As-Sunnah dan Al-Hadis), perlu diamalkan".

Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: percanggahan dengan maksud Hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Kemudian, Imam Al-Kauthari mengulas:

"Kesesatan yang dimaksudkan sepertimana berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu Fiqh dan tidak dapat membezakan tentang hadis yang diamalkan dan selainnya. Kitab "Al-Intiqa' fi Fadhail Al-A'immah Ath-Thalathah Al-Fuqoha'" m/s 27-28

Ibn Rusyd r.h.l. pernah ditanya tentang kata-kata:
"
Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh". Beliau ditanya lagi: "Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!" Beliau menjawab: "Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn 'Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadangkala, sesuatu hadis itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. 
Ada juga Hadis yang Nasikh dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi).
 Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih). Ada juga hadis yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli Fiqh sahaja.
 Barangsiapa yang hanya mengumpul hadis tetapi tidak memahaminya tidak dapat membezakan antara hadis yang maksudnya umum atau khusus. 
Oleh kerana itu, ahli Fiqh (Faqih) itu bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tdak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadis mahupun Fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli Fiqh (Faqih), walaupun dia mengumpul banyak Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin 'Uyainah. Abu 'Abbas Al-Wansyarishi "Al-Mi'yar Al-Mu'rab" jilid 12 m/s 314

Oleh itu, sesuatu hadith walaupun ia sahih sekalipun tidak boleh terus diamalkan tanpa petunjuk dari para ulamak yang alim mengenainya. Amat merbahaya bagi orang awam yang jahil dan berani mengeluarkan hukum hanya dengan menggunakan hadith tanpa disiplin ilmu yang tinggi. Ia akan sesat dan menyesatkan orang lain.

WaLlahua'lam
~
Zaim Alias