Showing posts with label salafi.. Show all posts
Showing posts with label salafi.. Show all posts

Wednesday, April 2, 2014

Pandangan Majelis Ulama Indonesia Tentang SALAF/SALAFI

Pandangan Majelis Ulama Indonesia 
Kota Administrasi Jakarta Utara

Tentang

SALAF/SALAFI


Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Utara,

MENIMBANG : a. bahwa pada akhir-akhir ini berkembang kajian-kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat belum memahami makna salaf itu;

b. bahwa terjadi kesalah pahaman dalam memahami salaf;

c. bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian salaf;

d. bahwa oleh karena itu, MUI Kota Administrasi Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.
- See more at: http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi-2/#sthash.HMcRgz71.dpuf


 MENGINGAT :

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?. Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا والحاكم مسندا وصححه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ
- See more at: http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi-2/#sthash.HMcRgz71.dpuf

MENGINGAT :
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujuraat : 6)
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al-Ahzaab [33] : 36)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisaa [4] : 59)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am [6] : 116)
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”. (QS. Al-Mu’minuun [23] : 71)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah [9] : 100)
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seluruh ummatku masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah siapakah yang enggan?. Beliau menjawab: “Siapa yang ta’at kepadaku masuk surga dan yang ma’shiyat kepadaku maka ia enggan (masuk surga).” (H.R. Al-Bukhari)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا على الحوض ) . أخرجه مالك مرسلا والحاكم مسندا وصححه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tinggalkan pada kalian dua hal kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga masuk ke telaga (Al-Kautsar). (H.R. Malik secara mursal dan Al-Hakim dengan sanad yang bersambung dan ia mensahihkannya)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ حَدَّثَنَا أَوْ سَمِعْتُ

- See more at: http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi-2/#sthash.HMcRgz71.dpuf
MEMPERHATIKAN :

Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah dikonfirmasi oleh pihak MUI Kota Administrasi Jakarta Utara.

Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,



MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI
Pertama : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI

1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.

2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun telah sejak dahulu ada.

4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Kedua : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat

1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.

2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.

3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat.

4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.

08 April 2009

 Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI
- See more at: http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi-2/#sthash.HMcRgz71.dpuf
MEMPERHATIKAN :
Keterangan dan penjelasan dari beberapa da’i salafi yang telah dikonfirmasi oleh pihak MUI Kota Administrasi Jakarta Utara.
Dengan bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala,

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI
Pertama : Penjelasan tentang apa itu SALAF/SALAFI
1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga Salaf/salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.
2. Salaf/salafi adalah nama yang diambilkan dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam Iman, Islam dst. mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.
3. Penamaan salafi ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul, namun telah sejak dahulu ada.
4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan menggunakan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Kedua : Nasehat dan Tausiyah kepada masyarakat
1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.
2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab.
3. Kepada para da’i, ustadz, tokoh agama serta tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat.
4. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, sebagaimana terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 12 Rabi’ul Akhir 1430 H.
08 April 2009
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA
Ketua Umum,

Sekretaris Umum,
Ttd
QOIMUDDIEN THAMSY
cap
ttd
Drs. ARIF MUZAKKIR MANNAN, HI
- See more at: http://www.nahimunkar.com/pandangan-mui-jakarta-utara-tentang-salaf-salafi-2/#sthash.HMcRgz71.dpuf

Saturday, November 6, 2010

"SALAFI....." apa perlunya label-melabel...selesaikan dlm suasana persaudaraan...


Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara...maka buat Islahlah antara saudara-saudara kamu itu...
"Apa perlunya ada label melabel yang seolah-olahnya sudah menjadi
satu fenomena di kalangan umat Islam termasuklah mereka yang menasabkan diri mereka sebagai bermanhaj salaf...ianya cuma membangkitkandan memburukkan lagi "pemikiran Hizbiyyah" (minal lazina farraqu deenahum wa ka nu syiya'an kullu hizbin bima ladaihim farihuun )sedang kan Allah swt memerintahkan (an aqimu ad deena wala tatafarraquufihi )dan melarang berpecahbelah (wa'tasimu bihablillahi jamii'an wala tafarraqu )..kena sabar(wala tanaza'u fatafsyalu watazhaba riihukum fasbiru )..tolong menolong ke arak kebaktian dan taqwa dan jangan sebaliknya(wata'awanu 'alal birri wat taqwa wala ta'awanu alal ismi wal 'udwan ) dan menyuruh agar menaggapi satu samalain seumpama saudara (wa ku nu 'ibadallahi ikhwana )Jangan mengambil di kalangan manusia sebagai tuhan12 beserta Allah (wala nattakhiza ba'dhuna ba'dhan arbaaban min du nillah)...jangan mempersendakan satu samalain, memanggil dengan panggilan2 buruk (wala yaskhor qaumun 'an qaumin...)... jadi ke mana telah kita campakkan ayat2 Allah itu..?"


Manhaj Salaf...


Manhaj Salaf bukanlah "madzhab" (seperti madzhab fiqh) di mana seseorang itu mesti berpegang kepada pendapat-pendapat tertentu, sehinggakan jika seseorang tidak mengikut sesuatu pendapat tersebut, maka beliau telah "lari" dari manhaj Salaf ataupun "dipertikaikan" manhajnya ataupun "bukan lagi Salafi" ataupun "masybuhat".

Manhaj Salaf adalah manhaj ilmu. Manhaj yang berlandaskan ilmu dan adab.

Dan hak ilmu adalah untuk disampaikan. Dan kewajipan orang yang berilmu adalah untuk berkhidmat kepada masyarakat dengan ilmunya.



Ia bukanlah manhaj yang menghukum atau mencari-cari kesalahan orang lain.
Ia bukan juga manhaj yang menyisihkan diri dan menyelisihi orang lain.
Ia seharusnya manhaj yang menyatukan umat Muhammad shallAllahu 'alaihi wa sallam di bawah panji-panji La ilaha illAllah, Muhammad Rasulullah

[Sebagaimana yang dikata oleh ] Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

"Ahlus Sunnah paling mengetahui haq (kebenaran) dan paling (bersikap) rahmah terhadap makhluk."


[ini pula sedikit tambahan penjelasan dari Ibn Shamsud-Deen dalam hal ini.........]
(Mohamed Farhan Mohamed Samsudin :)

.. Seringkali saya pesan kpd diri sy dn teman2, jgn jadikan manhaj salaf ibarat "madzhab fiqh". Manhaj salaf itu adalah manhaj ilmu, yakni cara kita menerima, memahami dan mengamalkan ilmu agama. Kalau khilaf dlm masalah fiqh itu dikatakan bertentangan dgn manhaj salaf, ini satu kenyataan yg karut. 4 imam mazhab pun khilaf, malah antara ibnu umar, ibnu mas'ud dan ibnu 'abbas pun ada khilaf, di mana ibnu umar biasanya mengambil pendekatan yg syadid manakala ibnu abbas ambil pendekatan yg ringan.
Malah, dlm pendekatan/kaedah fiqh pun 4 imam mazhab dan ulama lain khilaf, spt apakah diterima kaedah "istihsan", "masalih mursalah", "urf" sbg hujjah.

Imam Malik menerima kaedah istihsan sbg hujjah, yakni amal ahli madinah itu diterima sbg hujjah. Namun, Imam Syafie menolaknya atas alasan amal ahli madinah tdk dpt dijadikan hujjah krn para sahabah telah tersebar ke negara2 lain.


Hujjah yg digunakan Imam Syafie utk menolak Istihsan digunakan pula oleh Imam Ibn Hazm utk menolak Qiyas. Krn menurut beliau, segala ilmu agama pasti ada sandarannya drpd amal sahabah sehingga tdk perlu kpd Qiyas.

Manakala Imam Abu Hanifah amat bergantung kpd Qiyas krn kuatnya kekhuatiran penerimaan hadith dhaif/maudhu' dari kaum Syiah dan Khawarij yg meluas di Iraq. Makanya, beliau lebih rela berijtihad/qiyas berdasarkan hadith2 sahih yg beliau terima.

Manakala Imam Malik lebih cenderung berbalik kpd hadith dan kurang cenderung kpd qiyas.

Jadi permasalahan ini amat luas perbincangannya.

Wallahu a'lam
---------------------------------------

Pelbagai Jenis "Salafi"

Dalam perbincangan dengan Akh Faisal Ayub tentang bagaimana sebahagian masyarakat mudah menepis pandangan Dr Asri (mantan Mufti Perlis) hanya kerana beliau dilabel"Wahhabi", saya turut mengongsi pengalaman bagaimana saya sendiri menjadi mangsa stereotype Wahhabi hanya kerana saya menisbahkan diri kepada manhaj Salaf.

Pelbagai jenis salah-tanggapan yang perlu dihadapi. Namun, yang paling berat adalah tanggapan bahawa pengganas seperti Al-Qaeda dan JI adalah Wahhabi/Salafi (mungkin kerana ada di kalangan mereka yang mengaku demikian), lantas disamakan semua Salafi/Wahhabi seperti mereka (Al-Qaeda dan JI).

Ingin saya sarankan agar dibaca beberapa tulisan Ustaz Muhammad Haniff Hassan di laman Multiply beliau, di mana beliau pernah mengulas tentang pelbagai jenis "Salafi".


Berikut ini, saya adaptasikan dari apa yang beliau senaraikan berserta beberapa tambahan dari diri saya sendiri, berdasarkan pengamatan dan pemahaman diri saya yang kerdil ini:

1) Salafi-Jihadi: inilah militan-militan Islam seperti Al-Qaeda dan JI, juga kumpulan-kumpulan "Salafi" yang militan seperti di Somalia dan Algeria.

Adakalanya digelarkan juga ataupun terkait dengan "Salafi-Takfiri" yang mengkafirkan Muslimin lain yang tidak sependapat dengan mereka.


Antara dasar pegangan golongan ini adalah pemisahan "Tauhid al-Hakimiyyah" sebagai satu kategori dalam memahami Tauhid, yang menyebabkan mereka mengkafirkan ramai pemimpin Muslim.

2) Salafi-Takfiri: seperti penjelasan di atas.

3) Salafi-Ikhwani: istilah ini pertama kali saya dengar dari seorang akh di Malaysia. Mereka mengaku bermanhaj Salaf, namun kuat juga menyokong gerakan Ikhwanul Muslimin yang diasaskan oleh Hasan al-Banna rahimahullah.


Ada yang menisbahkan Dr Asri kepada "Salafi-Ikhwani". Akan tetapi, saya secara peribadi tidak berani mengatakan sedemikian. Ini adalah kerana mengagumi gerakan Ikhwanul Muslimin dan perjuangannya tidak bererti menjadikan seseorang "bermanhaj Ikhwani" kerana ia perlu pada perincian.


Ada pula istilah "Salafi-Qutbi". Yakni mereka yang kuat terpengaruh dengan fahaman Sayyid Qutb. [Cendekiawan Barat, Karen Armstrong, ditukil di dalam buku "The Wahhabi Myth" sebagai berkata bahawa adalah kesilapan besar untuk menyifatkan pengganas Muslim sebagai Wahhabi. Beliau mengatakan adalah lebih wajar menyifatkan pengganas Muslim sebagai Qutbi kerana kuatnya pengaruh dari fahaman Sayyid Qutb. Wallahu a'lam.]


Pada pandangan saya, "Salafi-Qutbi" tergolong bersama "Salafi-Ikhwani", malah lebih condong kepada "Salafi-Jihadi". [Memang pelik kerana Sayyid Qutb tidak pernah dikenali sebagai seorang yang bermanhaj Salaf.]

4) Salafi-Saudi: mereka yang menisbahkan diri sebagai "Salafi" (atau bermanhaj Salaf) dan banyak merujuk kepada ulama-ulama Saudi.

5) Salafi-Jordani: mereka yang menisbahkan diri sebagai "Salafi" (atau bermanhaj Salaf) dan banyak merujuk kepada "Masyayikh Jordan" (yakni, murid-murid Syeikh al-Albani), seperti Syeikh Ali Hasan al-Halabi, Syeikh Salim 'Ied al-Hilali dan Syeikh Muhammad Musa Nasr hafizhahummullah.


Kadangkala mereka digelar "Albaniyyun" kerana "terikut" dengan manhaj/"madzhab" Syeikh al-Albani, walaupun murid-murid Syeikh al-Albani tidak pernah menisbahkan diri mereka sebagai "Albaniyyun".

Pernah dalam menukil kata-kata/fatwa Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Syeikh al-Albani rahimahullah berkata, "Akan tetapi, kami bukan Albaniyyun." Dan murid-muridnya pula menjawab, "Dan kami juga bukan Albaniyyun."
6) Salafi-Madkhali: mereka yang menisbahkan diri sebagai "Salafi" (atau bermanhaj Salaf) tetapi hakikatnya "mengidolakan" Syeikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, sering merujuk kepada beliau dan beberapa syuyukh lain, terutama sekali dalam menghukum orang lain sebagai "bukan Salafi", "terkeluar dari manhaj", mempertikaikan manhaj orang lain.


Adapun Dr Tariq Ramadan pernah menghuraikan sendiri Salafi/Wahhabi sebagai:


a) Salafi: merujuk kepada mereka yang berfahaman tradisional, juga turut reformis seperti Syeikh Rasyid Ridha.

b) Wahhabi: merujuk kepada ulama-ulama Saudi seperti Syeikh Bin Baz dan Syeikh Utsaimin, juga Syeikh al-Albani.

c) Salafabi: merujuk kepada "gabungan" antara Salafi dan Wahhabi yang menghasilkan satu golongan sendiri yang mengambil haluan militan, yakni merujuk kepada Osama bin Laden, al-Qaeda dan kuncu-kuncunya.

Wallahu a'lam
Sumbr :http://fikrahibnshamsuddeen.blogspot.com/
-------------------------------
*"seharusnya label2 ini tidak dipaksakan kepada mana2 pehak..sehingga timbulnya persangkaan sesama sendiri...sehingga hancurnya penyatuan dan kekuatan ummat.
Imam2 Mazhab dulupun datang dari pelbagai latar belakang dan dengan guru yang berbeza
tapi semua itu tidak menyebabkan mereka berpecah belah, , ..."