Showing posts with label tazkiatunnafs. Show all posts
Showing posts with label tazkiatunnafs. Show all posts

Thursday, April 21, 2011

Dosa Selalu Menggelisahkan Jiwa..


Kebaikan selalu mententeramkan jiwa dan keburukan selalu menggelisahkan jiwa.

Itulah realiti yang ada pada umumnya manusia, fitrah yang telah ditentukan Allah untuk yang bergelar insan ini.

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”[HR Tirmidzi dan Ahmad]

Dalam lafazh lain disebutkan,

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan keburukan selalu mendatangkan kegelisahan.”[HR Al Hakim]

Dalam hadits lainnya, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan keburukan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika keburukan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.”[HR Muslim]

An Nawawi rahimahullah menjelaskan,

“Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khuatir akan dosa.”[Syarh Sahih Muslim]

Sehingga jika seseorang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan tersebut termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi tatkala hati dalam keadaan gundah gulana dan belum menemukan bagaimanakah hukum suatu masalah.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatkan pada Wabishah:

اسْتَفْتِ نَفْسَكَ ، اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ – ثَلاَثاً – الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.
[HR Darimi dan Ahmad]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan,

“Hadits Wabishah dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal.
Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman.”[Jamiul Ulum Wal Hikam,Ibnu Rajab]
(Ingatlah), bahwasanya hadits Wabishah dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Demikianlah yang namanya dosa, selalu menggelisahkan jiwa, membuat hidup tidak tenang. Jika seseorang mencuri, menipu, berbuat kecurangan, rasuah, melakukan dosa besar bahkan melakukan suatu kesyirikan, jiwanya sungguh sulit untuk tenang

.

Lalu bagaimana jika ada yang melakukan dosa malah hatinya begitu tenteram? Jawabannya, bukan perbuatan dosa atau maksiat dibenarkan. Yang benar adalah itulah keadaan hati yang penuh kekotoran, yang telah tertutupi dengan noda hitam kerana tidak kunjung berhenti dari maksiat [ hati yang telah mati ] .

Allah Ta’ala berfirman,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14).

Jika hati terus tertutupi kerana maksiat, maka sungguh sukar mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.”[Ad Da'a Wad Dawaa, Ibnul Qayyim]

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ

Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat, wa tarkal munkaraat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.[HR Tirmidzi]


---------------------------------------------

Ada sebahagian manusia mengkufuri ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau malah mempergunakan ni’mat tersebut utk bermaksiat dan berbuat dosa kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka banyak kebaikan namun mereka membalas dgn keburukan.

Demikianlah keadaan anakAdam tiap hari selalu berbuat dosa ( kecil maupun besar, zahir maupun batin ). Kita pun tdk luput dari berbuat dosa baik kerana tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan syaitan yg selalu menggoda.

Amat buruklah keadaan kita bila tdk segera bertaubat dari dosa-dosa yg ada dan menutupi(MENGHILANGKAN KEBURUKAN DOSA DENGAN mengikutkannya ) dgn berbuat kebaikan. Kerana perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yg sangat buruk bagi hati dan tubuh seseorang di dunia ini mahupun di akhirat



Wallahul Musta'an.

----
by Abdul Aziz Ismail Nuh , April 19, 2011 -------------------------------------------

Sunday, April 17, 2011

Sebab-Sebab Lembutnya Hati,










Hati(jantung rohani) seorang mu’min adalah laksana badan, ada kalanya sihat dan ada kalanya sakit. Seorang mu’min hendaknya mengetahui keadaan hatinya dan terapi untuk mengobatinya ketika sakit. Hati hendaknya lebih diutamakan untuk diperhatikan dibandingkan jasad, walaupun jasad sehat dan kuat tapi jika hati sakit, tidak akan mampu untuk melakukan ibadah dengan khusyu. Jiwa kuat seorang mu’min dan aktiviti yang diridhai Allah adalah disebabkan oleh hati yang tunduk pada Allah. Karena pergerakan sendi-sendi , badan akan senantiasa pada kebaikan dengan pergerakan hatinya yang terpaut pada Allah antara rasa cinta takut dan harap pada Allah.


Berbeda dengan orang munafik, orang munafik berat dalam melaksanakan sholat, apabila sholatnya tidak berdasarkan ketundukan hati .Ketika berperang orang munafik takut pada manusia melebihi takutnya pada Allah dan matlamatnya untuk dunia semata. Manakala bersedekahpun hanya kerana mencari nama dan tangannya pun terbelenggu untuk bersedekah.


Seorang mu’min semestinya menghiasi, mujahadah, murokobah pada hati lebih untuk diutamakan daripada badan sekalipun, karena :

  1. Hati (Qalb ) anggota badan yang dilihat Allah.
  2. Beresnya anggota badan ditinjau dari baik,lurus dan sehatnya hati.
  3. Hati tempat dilemparkan fitnah atau penyakit . Akan dilemparkan pada setiap hati manusia fitnah, yakni fitnah syahwat dan fitnah subhat. Pada setiap anak manusia yang awam maupun sholeh tak ada yang luput dari fitnah tersebut. Adapun solusi untuk menangkal fitnah syahwat adalah dengan kesabaran dan untuk menolak fitnah syubhat adalah dengan yakin.
  4. Hati sangat mudah berubah. Hati senantiasa ada dalam 3 keadaan yang berubah setiap detiknya berbolak balik dari satu keadaan dengan keadaan yang lain yakni antara hati yang condong pada keburukan, hati yang bimbang dan hati yang istiqomah. Contoh: ketika ada berita baik dari kondisi saudara kita terkadang kita tidak turut gembira. Akan tetapi ada sedikit celah keburukan dari saudara kita,serta merta kita menambah-nambah beritanya sehingga menjadikan fitnah tersebut lagi semakin parah..
  5. Hati tempat tujuan syaitan menggoda kita. Syaitan bergerak dengan mengikutin aliran darah. Syaitan senang dengan orang yang marah,karena orang yang marah akan melakukan pembunuhan, kezholiman dan kata yang tidak pantas , tidak jujur, laknat dan cacian
  6. Tingkatan pahala amal kita salah satunya bergantung kepada tingkatan yang ada dalam hati kita. Rasullullah mencela orang khawarij karena mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak sampai pada hatinya.
  7. Ibadah hati lebih tinggi kedudukannya dari ibadah anggota badan. Tidak khusyu anggota badan hingga khusyu hatinya. Tidak lurus iman seseorang sehingga lurus hatinya. Dan tidak lurus hati seseorang sehingga lurus imannya.
  8. Penyakit hati itu tersembunyi , tidak diketahui kecuali oleh dirinya. Rasulullah pernah bersabda (ertinya ) : " Perkara yang paling aku takuti pada diri kalian adalah riak."
  9. Keselamatan seseorang tergantung keistiqomahan hatinya. Karena Seseorang tidak diselamatkan Allah dari siksa kubur, azab akhirat, shirot, hisab kecuali dengan hati yang bersih sejahtera.

A089
"Kecuali (harta benda dan anak-pinak) orang-orang yang datang mengadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera ( bersih dari syirik , munafik dan penyakit-penyakit hati yang lain); (Asy-Syu'araa' 26:89)

Seorang mu’min hendaknya muhasabah, mujahadah dan muroqobah pada hati bahkan pada amal.

Muhasabah amal diantaranya dilakukan pada triga peringkat iaitu :

- ketika sebelum beramal,

-ketika sedang beramal dan

- setelah beramal.

Seseorang itu mungkin dalam keadaan berbahaya sedangkan dia merasa dirinya bersih dan ada orang yang hatinya sakit tapi tidak merasakan sakit. Jika demikian maka akan ada pada dirinya sifat takabur dan tidak mengintrospeksi diri atau muhasabah. Lalu bagaimana caranya untuk menyembuhkan penyakit yang ada pada hatinya : iaitu dengan menghadiri majlis-majlis ilmu dan bergaul dengan orang sholeh untuk mendapat nasihat sebagai terapi penyembuhan terhadap hatinya. Wallahu a’lam

Ust Abu Qotadah, 24 Agustus 2011
http://ahsan.tv/artikel/ringkasan-kajian/99-sebab-sebab-lembutnya-hati-ust-abu-qotadah

Friday, April 15, 2011

Keutamaan Dzikir Dan Faedahnya





Keutamaan dan faedah dzikir sangatlah banyak, hingga Imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al Wabil Ash Shayyib , bahwa dzikir memiliki lebih dari 100 faedah, dan menyebutkan 73 faedah di dalam kitab tersebut. Diantara keutamaan dan faedah dzikir ialah:

1. Dzikir dapat mengusir syaitan dan melindungi orang yang berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنْ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ

"Dan Aku (Yahya bin Zakaria) memerintahkan kamu untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu, seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh, lalu ia mendatangi benteng yang kukuh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba, tidak dapat melindungi dirinya dari syaitan, kecuali dengan dzikir kepada Allah".[HR Tirmidzi dan Ahmad]

Ibnul Qayim memberikan komennya terhadap hadits ini:

Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah, dan sentiasa gerak berdzikir, kerana ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya, kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah, maka musuh langsung menerkam dan memangsanya. Dan jika berdzikir kepada Allah, maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti al wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat” .[Al Wabil Ash Shayyib]

Manusia, ketika lalai dari dzikir, maka syaitan terus dekat dan menggodanya serta menjadikannya sebagai teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

"Barangsiapa yang berpaling dari dzikirYang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." [Az Zukhruf:36].

Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syaitan, kecuali dengan dzikir kepada Allah.

2. Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan tekanan, dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." [Ar Ra’du:28].

3. Dzikir dapat menghidupkan hati. Bahkan, dzikir itu sendiri pada hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya, sehingga tidaklah hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah.

[seumpama ikan dipisahkan dari air-matilah ia -; ataupun seperti setitik air dipisah dari lautan air -di mana ia sentiasa terjaga di situ - , akan keringlah ia]


Oleh kerana itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

Dzikir bagi hati, seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?”[Al Wabil Ash Shayyib]

4. Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah, kerana dzikir merupakan satu kebaikan yang besar, dan kebaikan adalah untuk menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya, hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

"Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah."[HR Ahmad]

5. Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan kurnia Allah yang tidak dihasilkan oleh selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya, kerana gerakan lisan lebih mudah daripada gerakan anggota tubuh lainnya.

Di antara pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan (dzikir):

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dalam sehari 100 kali, maka itu sama dengan pahala 10 budak, ditulis 100 kebaikan untuknya, dan dihapus 100 dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syaitan pada hari itu sampai petang, dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya, kecuali seorang yang beramal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu." [HR Bukhari,Muslim dan Tirmidzi]


Ibnul Qayim berkata:

”Dzikir adalah ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan utama, kerana gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya, bahkan tidak mampu.” [Al Wabil Ash Shayyib]

6. Dzikir adalah tanaman syurga. Ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi:

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

"Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ dan mi’raj, lalu ia berkata,”Wahai, Muhammad. Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa syurga memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Syurga itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi wa la ilaha illallah wallahu Akbar.” [HR Tirmidzi]

Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari hadits Abu Ayub Al Anshari yang ada dalam Musnad Ahmad bin Hambal, 5/418.

7. Dzikir menjadi cahaya penerang bagi di dunia, di kubur dan di akhirat. Meneranginya di shirat, sehingga tidaklah hati dan kubur memiliki cahaya, kecuali seperti cahaya dzikrullah, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya:

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluardari padanya." [Al An’am:122].

Begitulah perbandingan antara seorang mukmin dengan lainnya. Seorang mukmin memiliki cahaya dengan sebab keimanan, kecintaan, pengenalan dan dzikir kepada Allah, sedangkan yang lain adalah orang yang lalai dari Allah, tidak mahu berdzikir dan tidak mencintaiNya.[Al Wabil Ash Shayyib]

8. Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan para malaikatNya, sebagaimana firman Allah, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al Ahzaab:41-43].

9. Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan, kerana orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya:

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah merekamengingati Allah kecuali sedikit sekali." [An Nisa’:142].

Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Abad berkata, ”Boleh jadi kerana hal tersebut, Allah menutup surah Munafiqin dengan firmanNya, yang artinya: "Hai, orang-orang yang beriman. Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (Al Munafiquun:9).

Kerana terdapat padanya peringatan dari fitnah kaum munafiqin yang lalai dari dzikrullah, lalu terjerumus dalam kemunafikan. Wal ‘iyadzubillah.

Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafik ataukah bukan?”

Beliau menjawab,”Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah, kecuali sedikit.”

Ini merupakan isyarat, bahwa kemunafikan hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini, maka banyak berdzikir merupakan penyelamat dari nifaq. [Fiqh Al Ad’iyah Wal Adzkar]


10. Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi darjatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

"Inginkah kamu aku beritahu amalan kamu yang terbaik dan tersuci serta tertinggi pada darjat kamu? Ia lebih baik dari berinfak emas dan perak, dan lebih baik dari kamu menjumpai musuh lalu kamu memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kamu?” Mereka menjawab”Ya,” lalu Rasulullah menjawab,”Dzikrullah.” [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Demikian beberapa keutamaan dan faedah dzikir yang dapat diutarakan dalam tulisan singkat ini.

Semoga Bermanfaat..Wallahu a'lam.

by Abdul Aziz Ismail Nuh

Friday, April 1, 2011

Zikir Elak Mengumpat


Perbanyak zikir elak budaya suka mengumpat..



MENGUMPAT bermaksud bercerita serta menyatakan keburukan atau kekurangan individu kepada orang lain, sama ada dengan nama pelakunya atau individu terbabit memang dikenali orang yang mendengarnya. Mengumpat sememangnya boleh berlaku sama ada ia disedari orang yang melakukannya atau sebaliknya.

Rasulullah menjelaskan mengumpat ini dalam sabda baginda yang bermaksud,

"Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya" (Hadis Riwayat Muslim).


Memandangkan buruk dan hinanya sikap mengumpat ini, ia disamakan seperti memakan bangkai saudara seagama sendiri bagi seseorang yang melakukannya. Manusia waras tidak akan sanggup memakan daging manusia, inikan pula daging saudara sendiri. Disebabkan mengumpat terlalu lazim berlaku dalam kehidupan seharian.

Hakikat inilah yang perlu direnungkan kita semua. Mengumpat dan mencari kesalahan orang lain selalunya akan mendedahkan keaiban diri seseorang individu. Perlu diingat seseorang yang membuka keaiban rakan atau seseorang lain akan didedahkan segala keaiban mereka pula di hari akhirat kelak.

Sabda Rasulullah:
"Wahai orang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum Muslim, dan janganlah kamu mengintip keaiban mereka. Sesungguhnya, sesiapa yang mengintip keaiban saudaranya, maka Allah akan mengintip keaibannya, dan dia akan mendedahkannya, meskipun dia berada dalam rumahnya sendiri" (Hadis riwayat Abu Daud).

Orang yang mengumpat akan mendapat kerugian besar pada hari akhirat. Pada rekod amalan mereka akan dicatatkan sebagai perbuatan menghapuskan pahala.

Sabda Rasulullah bermaksud:
"Perbuatan mengumpat itu samalah seperti api memakan ranting kayu kering". Pahala yang dikumpulkan sebelum itu akan musnah atau dihapuskan seperti mudahnya api memakan kayu kering sehingga tidak tinggal apa-apa lagi.


Diriwayatkan oleh Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang terkejut besar apabila melihat catatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Maka, dia berkata kepada Allah "Wahai Tuhanku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya". Maka Allah menjawab: "Semua kebaikan itu (pahala) datangnya dari orang melakukan umpatan kepada engkau tanpa engkau ketahui".

Jika pahala orang mengumpat tidak ada lagi untuk diberikan kepada orang yang diumpat, maka dosa orang yang diumpat akan dipindahkan kepada orang yang mengumpat. Inilah dikatakan orang yang mengumpat adalah golongan manusia muflis di akhirat nanti.

Memandangkan buruknya sifat mengumpat, kita wajib berusaha mengelakkan diri daripada melakukannya.

Oleh itu, perbanyak zikir supaya d
apat menghindarkan diri daripada mengumpat.

Islam menganjurkan beberapa kaedah untuk menghindarkan diri kita daripada terjerumus ke dalam budaya hidup suka mengumpat ini.

Antaranya ialah:

Selalu ingati bahawa apabila kita mengumpat, kita akan diumpat balik, sudah tentu kita tidak akan mengumpat. Elakkan berbuat jahat kepada orang yang tidak berbuat jahat kepada kita.

Manusia perlu memenuhi keperluan intelek seperti mencari ilmu, berfikir, memerhati, menanggapi dan membuat spekulasi. Maka, orang yang melakukan sebaliknya bererti tidak memenuhi keperluan intelek. Tidakkah bererti apabila kita mengumpat bermakna jiwa kita jahat? Luar nampak cantik, tetapi di dalam sudah busuk dan berulat.

Ingat dosa. Larangan Islam terhadap perbuatan mengumpat sudah cukup untuk memotivasikan diri setiap individu. Tidak ada manusia normal sanggup memakan bangkai seseorang.[sedang dosa sesama manusia ini, perlu mohon maaf kepada yang empunya diri itu sendiri , mampukah kita...]


Imam al-Ghazali ada menyatakan enam perkara mendorong seseorang itu mengumpat:

1) Ingin memuaskan hati disebabkan kemarahan yang memuncak hingga sanggup mendedahkan keaiban dan kesalahan orang lain. Jika kemarahan tidak dapat dikawal, ia boleh menimbulkan hasad dan dendam;

2)Suka mendengar dan mengikuti perbualan orang yang menyerang peribadi dan kehormatan seseorang;[ini selalau berlaku dalam laman sosial..makin merebaklah budaya ini ]

3)Mahu bersaing dan menonjolkan diri dengan menganggap orang lain bodoh dan rendah;

4)Disebabkan dengki, dia iri hati dengan orang lain yang lebih beruntung dan berjaya, seperti dinaikkan gaji dan pangkat;

5)Bergurau dan suka berlawak untuk mencela dan mengatakan kelemahan dan kecacatan hingga mengaibkan orang lain; dan

6)Sikap suka mengejek dan mencela adalah disebabkan rasa bongkak dan sombong kerana memandang rendah orang lain.[kadang-kala berlaku bila bersama geng sendiri dan timbul rasa kuat dan hebat, bila begitu lupa dosa-pahala dan rasa seronok sama-sama mengumpat dan mengeji "musuh" bersama ]

Sehubungan itu, Imam al-Ghazali menyarankan lima perkara untuk menghentikan sikap suka mengumpat, antaranya iaitu,
- harus sedar dan insaf mengumpat dan memburuk-burukkan orang lain itu berdosa besar;
- insaf dan membetulkan kesalahan sendiri daripada menyalahkan orang;
- hendaklah berasa malu apabila memperli kecacatan orang lain. Ini kerana mencela kecacatan (terutamanya fizikal ) seolah-olah mencerca Tuhan yang menciptakan.

Perlu diingatkan ada beberapa kelakuan yang tidak dikatakan sebagai umpatan bahkan menjadi harus seperti seorang isteri yang mengadu kepada hakim untuk mendapatkan keadilan.
Maka isteri sudah tentu perlu menyatakan keburukan si suami untuk dipertimbangkan oleh hakim.

Begitu juga dengan umpatan yang dilakukan seseorang terhadap individu yang zalim. Kisah hidup masyarakat dipaparkan melalui TV, filem dan cerpen dan novel juga bukanlah bersifat umpatan kerana ia terlalu umum demi membentuk naratif sebuah cerita dan kisah hidup sebagai teladan khalayak umum.

Oleh Wan Marzuki Wan Ramli
http://mr-tazkirah.blogspot.com

Sunday, March 6, 2011

Lima Tanda Hati di Sayangi Allah

[Panduan Rasulullah daln menghadapi tiga perkara] :
"Jika datang perasaan hasad dengki kepada kamu- maka beristighfar lah kamu kepada Allah, apabila kamu bersangka buruk, janganlah kamu membenarkan sangkaan itu, dan apabila kamu menganggap sial berlaku, abaikan dan jangan endahkannya"

( Hadis Riwayat At-Tabrani)


Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,

Kehidupan yang kita tempuhi pada saat ini merupakan kurniaan Allah S.W.T. yang berharga dan amat tinggi nilainya. Sejajar itu sebagai seorang mukmin hendaklah kita sentiasa kembali mentaati perintah Allah S.W.T., mematuhi suruhan-Nya, menjauhi larangan-Nya, menyerahkan wala' (ketaatan) hanya kepada-Nya dan jadikan agama-Nya sebagai satu-satunya cara hidup yang syamil dan kamil. Bagi memenuhi tuntutan ini, maka hati mestilah diambil berat, dijaga, dikawal, dibentuk, diproses dan dididik sebaik-baiknya.

Hati merupakan bekas yang bersedia menerima apa saja sama ada petunjuk atau kesesatan, futur atau takwa. Maka ia mestilah terlebih dahulu agar ia menjadi sihat dan mulia dengan Islam. Hati yang Rabbani akan setiap masa dan ketika berhubung dengan Allah S.W.T. dan mematuhi titah perintah-Nya.


Di antara tanda yang memperlihatkan dan menunjukkan hidupnya hati ialah sentiasa mengingati Allah S.W.T.

Sahabat yang dimuliakan,

Hadis Rasulullah S.A.W. yang bermaksud :

"Di dalam jasad itu ada seketul daging, apabila rosak, maka rosaklah badan seluruhnya dan apabila sihat maka sihatlah badan seluruhnya, dia adalah hati."

Untuk melihat dan mengetahui sejauh mana keras atau lembut, kontang atau subur, mati atau hidup hati kita, terdapat beberapa tanda yang menjadi bukti.


Antara tanda-tandanya ialah :

Pertama : Sentiasa mengingati Allah S.W.T. dan Zikrullah :

Dalam ertikata yang luas seperti membaca al-Quran, zikir waktu pagi dan petang dan menunaikan ibadah khusus yang lain.

["Dan sebutlah serta ingatlah akan Tuhanmu dalam hatimu, dengan merendah diri serta dengan perasaan takut (melanggar perintahnya), dan dengan tidak pula menyaringkan suara, pada waktu pagi dan petang dan janganlah engkau menjadi dari orang-orang yang lalai." (Al-A'raaf 7:205)
(sentiasa mengingati Allah- setiap masa dan keadaan )

"Dan ingatlah serta sebutlah akan Tuhanmu apabila saja engkau lupa; dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan petunjuk yang lebih dekat dan lebih terang dari ini". (Al-Kahfi 18:24)

"Kemudian setelah selesai sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat). " (Al-Jumu'ah 62:10) ]


Sayyidina Ali r.a pernah meriwayatkan satu hadis dari Nabi s.a.w yang bermaksud :

"Apabila engkau mendapat sesuatu musibah (kecelakaan) bacalah 'Bismillaahi'rrahmaanirrahiim, wa laa haula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyil 'aziim'. Nescaya Allah menjauhkan daripadanya 70 pintu dari segala macam bala, kesusahan dan dukacita. (Hadis Riwayat Ibnu Sunny dan Addailamy)

Sabda Nabi S.A.W. lagi yang bermaksud :

"Barangsiapa mendatangi (pulang) kerumahnya, maka dibacanya akan surah al-Hamd (surah al-Fatihah) dan surah al-Ikhlas, maka menafikan Allah daripadanya fakir dan mendapat ia kebajikan yang banyak di tempat itu."

Rasulullah S.A.W. bersabda maksudnya :

Semaikanlah perasaan takwa kepada Allah kerana ia adalah sumber bagi segala amalan-amalan baik. Aku meminta supaya baginda menambah lagi. 'Tetapkanlah membaca Al-Quran kerana ia adalah nur untuk kehdupan ini dan bekalan untuk hari akhirat '.

Kedua : Kuat berpegang kepada Deen Islam.

Menyampaikan kebenaran didalam apa jua suasana dan ketika.Untuk mendapat pegangan yang kuat perlu kepada proses yang betul.

Pegangaan yang kuat sebenarnya merupakan hasil yang lahir dari Iman yang betul.

'Hati laksana bekas yang paling disukai Allah S.W.T. Ia perlu diproses hingga menjadi lembut, bersih, kuat pegangan terhadap Deen Allah dan lembut terhadap saudara-saudaranya.'

Firman Allah S.W.T. maksudnya :

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperolehi apa yang kamu inginkan dan memperolehi (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Surah Fushilat ayat 30-32)

Dari Abu Amrah Sufyan bin Abdillah r.a berkata :

Ya Rasulullah, katakan kepadaku satu perkataan sahaja yang aku tidak akan bertanya kepada siapapun selain engkau! Jawab Rasulullah S.A.W. maksudnya : "Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah. (Hadis Riwayat Muslim)

Ketiga : Menjauhkan diri daripada perkara yang sia-sia.


Pemilik hati yang takut kepada Allah akan menjauhi larangan-Nya dan meninggalkan perkara yang sia-sia.

"Dari Abu Hurairah r.a. berkata, telah bersabda Rasulullah S.A.W. maksudnya : "Diantara kebaikan Islam seseorang ialah ia meninggalkan apa saja yang tidak memberi manafaat baginya"

(Hadis Riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Huraian hadis di atas :

1. Berkata Ibnu Rajab rahimahullah: "Hadis ini adalah salah satu prinsip agung (ushul) dari prinsip-prinsip Adab (etika)."

2. Anjuran memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

3. Anjuran agar seorang hamba menjauhkan dirinya dari perkara-perkara sia-sia dan menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia lagi berguna.

4. Anjuran untuk selalu melakukan mujahadah (perjuangan) menaklukkan nafsu(tidak memperturutkannya ) dan memperbaiki diri dengan menjauhkannya dari perkara-perkara hina dan rendah yang disukainya dan merupakan seleranya.

5. Ikut campur dalam urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan seseorang adalah menyebabkan terjadinya permusuhan dan persengketaan.

6. Menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tidak ada kepentingannya dengan seseorang adalah perbuatan sia-sia dan tanda lemahnya iman.

7. Hati yang sibuk dengan Allah pasti menjauhi semua urusan makhluk yang tidak berguna.


Keempat : Bersih dari hasad dengki, marah dan menipu.

Ditanya Nabi s.a.w yang bermaksud ,

" Wahai Rasulullah s.a.w siapakah sebaik-baik manusia?"Jawab baginda, " Setiap orang yang beriman."Ditanya apakah itu?Jawab baginda, "Yang bertakwa, tidak ada penipuan, melampau dan hasad."

Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud :

"Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)"

(Hadis Riwayat Baihaqi)

Firman Allah S.W.T. maksudnya :

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”(Surah Al-Hujurat: 12)


Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud :

"Tiga perkara lazim yang sukar dibuang oleh umatku : mengganggap sial, hasad dengki dan bersangka buruk" lalu seorang lelaki bertanya : "Apakah yang boleh menghilangkannya wahai Rasulullah ?"

Jawab Nabi S.A.W.: "Jika kamu datang perasaan hasad dengki - beristighfar lah kamu kepada Allah, apabila kamu bersangka buruk, janganlah kamu membenarkan sangkaan itu, dan apabila kamu menganggap sial belaku, abaikan dan jangan endahkannya"

( Hadis Riwayat At-Tabrani)


Kelima : Tenang dan lapang hati berada di atas sistem Allah S.W.T.


Hati akan merasa reda, puas dan izzah (mulia) dengan sistem Allah S.W.T. sepanjang hayat.

Dalam pegangan hidup manusia, hendaklah diambil neraca dan nilai syarak, dan tidak seharusnya diambil nilai-nilai lain.

Kabaikan dan keburukan hendaklah diperhatikan menurut pandangan syarak berdasarkan kaedah: “Yang baik ialah apa yang dipandang baik oleh syara dan yang buruk ialah apa yang dipandang buruk oleh syarak.

Terdapat banyak perintah Allah yang memerintahkan kita agar mengambil nilai syarak dan melarang daripada mengambil nilai yang lain daripada syarak.

Antaranya Firman Allah SWT maksudnya :

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas satu syariat (peraturan) daripada urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

(Surah al-Jaatsiyah ayat 18)


[Apabila sudah ada ketetapan di sisi Allah dan RasulNya berkenaan sesuatu perkara, maka sudah tiada pilhan lagi bagi orang-orang yang beriman ; tiada lagi ijtihad kerana suda jelas..

"Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan - apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan/ketetapan mengenai sesuatu perkara - (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata." (Al-Ahzaab 33:36)]

Firman Allah S.W.T maksudnya :

"Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kamu daripada Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pengajaran (daripadaNya).

(Surah al-A’raf ayat 3)

Firman Allah S.W.T. maksudnya :

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut, pada hal mereka telah diperintahkan agar mengingkari taghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.”(Surah an-Nisa’ ayat 60)


Sahabat yang dikasihi,

Oleh itu marilah sama-sama kita bersihkan dan proses hati kita supaya lima tanda-tanda hati yang disayang Allah S.W.T. akan kita miliki. Semoga Allah campakkan cahaya iman dalam hati kita hingga hati kita menjadi luas, lapang dan tenang.

Sesungguhnya setiap sesuatu itu ada pembersihnya, pembersih hati ialah mengingat mati dan sentiasa mengingati Allah. Tidak boleh menyelamatkan seseorang itu azab Allah melainkan hati yang disayangi dan dirahmati-Nya.

by Abu Basyer February 19, 2011

Friday, March 4, 2011

Bersendiri dalam menyoal diri


بســــــــــم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum warahmatullah


Buat jiwa-jiwa yang mencari kebenaran.

Allah Azza Wajalla berfirman :


A046
Katakanlah (wahai Muhammad): "Aku hanyalah mengajar dan menasihati kamu dengan satu perkara sahaja, iaitu: hendaklah kamu bersungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran kerana Allah semata-mata, sama ada dengan cara berdua (dengan orang lain), atau seorang diri; kemudian hendaklah kamu berfikir sematang-matangnya (untuk mengetahui salah benarnya ajaranku)". Sebenarnya tidak ada pada (Muhammad) yang menjadi sahabat kamu sebarang penyakit gila (sebagaimana yang dituduh); ia hanyalah seorang Rasul pemberi amaran kepada kamu, sebelum kamu ditimpa azab yang berat (di akhirat). (QS -Saba' 34:46) |


dan FirmanNya lagi :
A030

(Kepentingan dunia) itulah sahaja tujuan terakhir dari pengetahuan yang dicapai oleh mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang sesat dari jalanNya, dan Dia lah jua yang lebih mengetahui akan orang yang mendapat hidayah petunjuk. (QS - An-Najm 53:30)


Persoalan

[dalam menanggapi ..]

Pendapat itu dan ini...


Pendapat yang dipegang

Adakala terfikir, dalam memilih sesuatu pendapat apakah perkara utama yang menjadi sandaran. Apakah perkara utama yang dijadikan sebagai sebab kepada pemilihan pendapat. Atau apakah alasan sesuatu itu dikatakan perkara dalam agama?

Apakah sesuatu itu dipilih sebagai pendapat atas dasar orang yang bercakap itu orang yang kita sanjung atau kita hormati?

Apakah sesuatu pendapat itu dipilih kerana orang yang mengeluarkan pendapat itu sama aliran/kefahaman dengan kita?

Apakah kerana orang itu kenalan atau guru kita?

Atau kita pernah terhutang budi kepadanya?

Apakah kerana ilmu yang ada padanya?

Atau kerana kita senang dengan caranya?

Atau mungkin kerana tiada kesalahan pada dirinya di mata kita ?

Atau dia diterima oleh orang ramai?

Atau masyarakat mengiktirafnya?

Atau kerana jawatannya?

Atau sebab kita takut dengannya, takut akibat membantahnya?

Atau mungkin kerana ijazah dan sijil yang ada padanya?

Atau kelayakan yang ada bersamanya?

Atau mungkin kerana petah bicaranya?

Atau kuat hujjahnya?

Mungkin juga kerana dia bawakan sesuatu yang kita inginkan lalu kita benarkannya?


Atau

Apakah pendapat itu dipilih kerana ia pendapat yang mudah untuk difahami?

Ataukah kerana ia pendapat yang mudah untuk dipraktik?

Ataukah kerana pendapat itu ramai orang ikut maka kita memilihnya atau mungkinkah kerana itu sahajalah pendapat yang ada?

Atau mungkin kerana ia pendapat yang paling dekat dengan keinginan kita atau ia pendapat yang paling logik?

Atau mungkin kerana ianya pendapat yang popular atau mungkin kerana tidak ramai memilihnya, maka kita ingin berpendapat lain dari orang lain?

Ataukah kerana pendapat itu dipengang oleh keluarga kita ataukah kerana rakan dan taulan?

Ataukah kerana masyarakat sekeliling memilihnya lantas kita tidak mahu rasa tersisih?

Ataukah kita memilihnya kerana itu kehendak kita, lalu kita mengawalkan nafsu sebagai pembicara agama buat diri kita?

Ataukah kerana kita tidak mahu sesuatu yang sukar dan memeningkan juga tidak mahu sesuatu yang menyusahkan, lalu kita pilih sesuatu yang senang lagi menyenangkan?

Ataukah kerana ianya pendapat nyang paling tepat setelah kajian dilakukan, setelah perbandingan dibuat dan setelah dilihat dari pelbagai sudut, ternyata walau bukan kehendak tetapi itulah kebenaran?

Ataukah kerana kita disuruh memilihnya jika tidak terimalah padahnya?

Ataukah sememangnya kita tidak tahu lalu kita ikut ikutan, ataukah kita ikut walau kita berilmu, kerana telah dipujuk dan dirayu?

Atau mungkin kerana pendapat itu selari dengan pemikiran dan pegangan kita?


Pendapat yang ditolak/dibangkang

Adakala terfikir, dalam menolak/tidak menerima pendapat, apakah sandaran utama yang digunakan? Samada tidak menerimanya namun menghormatinya, atau menolaknya dan tidak mengiktirafnya.

Apakah pendapat itu tidak diterima kerana pendapat itu tidak releven?

Ataukah kerana tidak praktikel?

Atau mungkin kerana pendapat itu tidak memudahkan malah menyusahkan?

Ataukah selepas pelbagai pendapat dikumpul, lalu pendapat tertentu ditolak kerana tidak tepat selepas kajian yang benar dilakukan?

Ataukah kerana pendapat itu tidak berdasarkan ilmu yang benar?

Atau mungkin kerana ia tidak relevan dengan keadaan semasa?

Ataukah kerana pendapat itu tidak selari dengan kehendak kita?

Atau mungkin kerana ada orang menyatakan bahawa pendapat itu tidak benar, maka kita mengikuti sahaja?

Ataukah kerana kita telah dilarang oleh orang tertentu agar tidak mengambil pendapat itu?

Ataukah ia tidak diterima kerana kita tidak suka, tidak serasi dengan kehendak kita, tidak menepati harapan kita?


Atau

Adakah pendapat itu ditolak kerana pendapat itu bertentangan dengan pendapat orang yang kita kenali, kita sanjungi?

Ataukah kerana pendapat itu adalah pendapat musuh kita, maka tidak kisah samada benar atau salah, ia tetap ditolak, kerana ia datang dari musuh kita?

Atau mungkin kerana pendapat itu dikeluarkan oleh orang yang kita benci, lalu setiap perbuatan dan perkataannya kita benci dan adakala kita maki, tanpa kita kaji dan selidiki, tanpa kita dengar hujah-hujah yang diberi?

Atau mungkin kerana orang yang mengeluarkan pendapat itu kurang ilmunya, atau kurang adabnya, atau mungkin juga kerana kurang kredibiliti dan kelayakannya?

Atau mungkin kerana kesilapan silam yang pernah dilakukan oleh orang itu, lalu setiap kata-katanya selepas itu tidak akan diterima dan semuanya tertolak belaka, atau mungkin sekadar salah faham sahaja, namun hati kita yang terasa?

Atau mungkin juga kerana individu tertentu telah berkata sesuatu berkenaan kita, atau keluarga kita, atau mungkin kenalan atau orang yang kita hormat, dan disebabkan itu, pendapatnya tidak kita terima?


Monolog seorang insan..

Bertanyalah kita kepada diri kita sendiri, dikala sunyi dan sepi, dikala bersendiri. Apakah sandaran kita dalam memilih, dan apakah sandaran kita dalam menolak pendapat?

Ingatlah bahawa kita ingin mencari kebenaran, bukan menolak ketidak samaan.

Dalam mencari kebenaran, ilmu didahulukan, nafsu dan emosi diketepikan. Jangan dilupa peranan syaitan, yang sentiasa mencari jalan, menyesatkan dan memesongkan.

Bertanyalah kita kepada diri kita sendiri, dikala sunyi dan sepi, dikala bersendiri. Apalah tujuan kita memilih pendapat dan apakah tujuan kita menolak pendapat. Apakah kebenaran yang kita kejar? Atau kepuasan yang kita dambar?

Juga bertanyalah kepada diri kita wahai insan, dikala berseorangan, berteman kesepian. Apakah setiap pendapat yang tidak selari dengan kebenaran, perlu dijatuhkan, dihina dan diperli? Apakah setiap individu yang mengeluarkan pendapat yang salah, perlu dihentam, dikutuk dan dimaki?

Jangan juga kita lupa wahai insan, bahawa sesungguhnya kebenaran milik Allah, dan Dia memberikan kepada siapa Dia inginkan.

Kerana itu bertanyalah kita kepada diri wahai hamba, apakah kita sangat yakin bahawa kita di atas kebenaran, sedang pendapat lain kesemuanya kesesatan dan kesalahan?

Apakah kita yakin kitalah yang dipilih Allah untuk menegakkan kebenaran sehingga dengan mudah kita merendahkan orang lain ? Apakah kita yakin bahawa di sisi kita kebenaran, sehingga kita menolak siapa sahaja tidak sependapat dengan kita? Sungguh hebat keyakinan kita bahawa kita benar, sehingga kita menjatuhkan, dan mengasari siapa sahaja yang berbeza dengan kita. Sungguh ajaib.

Bertanyalah kita kepada diri sendiri, dikala sunyi dan sepi, dikala bersendiri. Benarkah kita di atas kebenaran, jika menjaga hak tidak kita tegakkan? Benarkah kita di atas kebenaran, jika keadilan sekadar hiasan, di dalam kitab dan penulisan, sedang ia sekadar melalui lisan menjadi ucapan, tetapi tidak ternampak pada perbuatan?


Mari kita pelajari dari insan mulia. Amirul Mu’minin ‘Umar namanya. Sungguh hebat pekertinya. Sering dia mengukur diri apakah dia berlaku adil. Sering dia mengukur diri, apakah dia menunaikan hak. Sering dia mengukur diri, bertanyakan kepada penyimpan rahsia, apakah namanya termasuk di dalam senarai orang munafiq. Apabila terdengar amaran dari Al Qur’an, cepat dia mengukur diri, dan menyatakan amaran itu mengarah kepada diri.


Bertanyalah kita wahai hamba, apakah kita mengikut jejak langkah mereka yang telah diberi janji bahawa syurga itu pasti dimiliki? [ atau sekadar mangikut nafsu amarah..]


Nasihat kepada setiap insan

Lontarlah persoalan demi persoalan kepada dirimu insan. Apakah tujuan kita dijadikan? Apakah perbuatan dan perkataan kita, selari dengan tujuan tersebut? Apakah setiap tindak tanduk kita, merealisasikan tujuan itu, ataukah sebaliknya?

Bukankah setiap perbuatan dan perkataan itu hanya mempunyai dua natijah, samada menjadi hujjah bagi kita, dan menyelamatkan kita dari azab dan siksa, serta membawa kita ke syurga, atau menjadi hujjah ke atas kita, lantas membinasakan kita, melayakkan diri untuk diazab dan disiksa, dan dihumban ke dalam neraka?

Bukankah kita telah diberitakan, perihal mereka yang muflis, yakni bukan mereka yang tiada harta, bahkan cukup dalam beribadat, namun perbuatan dan perkataannya sesama insanlah yang membawanya ke pintu kemusnahan?

Bertanyalah kepada diri, apa yang sedang kita cari? Dan jalan apakah yang kita harungi dalam usaha kita mencari? Berapa kerapkah kita menasihati diri sendiri dan mencari kesalahan diri?

Begitu juga dalam berinteraksi, apakah kita mendahulukan usaha mendengar untuk memahami, sebelum mengeluarkan tafsiran sendiri? Sudahkah kita mendengar sebelum kita ingin didengari? Tidak ingatkah kita bahawa tidak sempurna iman sehingga kita menginginkan untuk saudara kita seperti mana untuk kita?

Bertanyalah kita lagi kepada diri, bukankah tindakan seseorang itu, adalah atas ilmunya dan kefahamannya? Tindakan seseorang itu bukankah atas kemampuan dan kesanggupannya?

Jika ianya salah atau tidak tepat, bukankah lebih mulia bagi kita untuk menasihatinya dengan lembut dan berhikmah tanpa sebarang unsur merendah juga menjatuhkan?

Jika dia tersalah bukankah lebih mulia jika kita menolak kesilapannya dengan akhlak dan adab mulia? Jika dia silap, bukankah lebih mulia jika kita mendoakannya juga mendoakan diri kita?

Bertanyalah lagi wahai insan kepada diri, bukankah kita ini manusia yang penuh dengan kelemahan? Bukankah kita ini hamba yang penuh cacat cela?

Bukankah kita makhluk yang tidak sempurna (dari segi ilmu dan kemampuan)? Bukankah setiap manusia itu berbeza tahap keilmuannya? Juga tahap kemampuannya? Juga tahap pemahamannya? Juga tahap pemikirannya? Bukankah manusia itu tidak maksum kecuali yang terpilih sahaja?

Dengan setiap persoalan ini wahai insan, tidak diberi jawapan, kerana kitalah yang harus menjawapnya dengan penuh keikhlasan, dengan penuh keinsafan.


Mungkin kelihatan, bahawa tulisan ini ditujukan kepada satu-satu kumpulan. Bahkan tidak, sesungguhnya setiap persoalan di sini, ditujukan buat diri sendiri dan buat setiap jiwa yang mencari kebenaran, [demi menyahut suruhan Allah agar kita saling MEMPERINGATI ;berdasarkan firman Allah :


A055
Dan tetap tekunlah engkau memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu mendatangkan faedah kepada orang-orang yang beriman. (Adz-Dzaariyaat 51:55)

Bukanlah tulisan ini menyatakan kesalahan atau kebenaran sesiapa, tetapi sekadar satu peringatan agar kita tetap berfikir, dan terus berfikir di samping mempelajari Ilmu yang berguna dan mentadabbur , mempelajari dan mengambil pertunjuk dari Al Quran . Kerana Al Qur’an juga mengulangi persoalan dan arahan agar kita berfikir...[sehingga kita tak akan berkata maupun bertindak seperti orang yang hilang aqal ..]

Hikmah dan kebijaksanaan itu diberikan kepada orang yang Dia kehendaki...


A269

Allah memberikan Hikmat kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan yang ditentukanNya). Dan sesiapa yang diberikan hikmat itu maka sesungguhnya ia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya. (Al-Baqarah 2:269)

Mengambil contoh dari mereka yang pasti/terjamin di sisi Allah sebagai berpetunjuk, selamat dan berjaya..

A090
Mereka (Nabi-nabi) itulah, orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka turutlah olehmu (wahai Muhammad) akan petunjuk mereka; Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepada kamu mengenai petunjuk (Al-Quran yang aku sampaikan) itu. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi penduduk alam seluruhnya. (Al-An'aam 6:90)


Semoga kita dikurniakan rasa kasih dan rasa takut kepada Allah (dari azab dan putusnya rahmat darinya )

A011

Sesungguhnya peringatan dan amaran ( berkesan dan mendatangkan faedah) hanya kepada orang yang sedia menurut ajaran Al-Quran serta ia takut (dari azab dan terjauh dari rahmat) Ar-Rahman( walaupun dia tidak melihatNya ). Oleh itu berilah kepadanya berita gembira dengan keampunan dan pahala yang mulia. (Yaa Siin 36:1)


Semoga Al Quran menjadi penawar (syifa ) kepada segala penyakit yang mungkin ada dalam hati-hati kita; disamping menjadi hujjah /keselamatan (atas keimanan kita ) dan tidak mentadi hujjah yang menjerumuskan kita ke NerakaNya ( na'uzubillahi min zalik)....

-Yang membershikanya dari segala karat yang menutupinya, yang melembutkannya ; bersama zikir dan istighfar yang ikhlas kerana-Nya , beserta ingatan bahawa kitapasti akan menemuiNya
untuk dipertanggung-jawabkan atas apa yang kita lakukan di atas dunia.

Sekian, semoga bermanafaat .

Wabillahi at taufiq, wassalamu'alikum wr.

credit to : Abu ‘Aisyah Yusof Yahaya (2011-02-17)

Sunday, February 20, 2011

Di Manakah Kebahagiaan?

"Ibnu Abbas ra berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahawa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”


"Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal. 170) ".




Indahnya persahabatan, saling menguatkan iman. Benarlah sabda Nabi SAW, berkawan dengan orang yang baik bagai bersama penjual minyak wangi, dari jauh sudah bau keharumannya' .

Kami berpeluang bertazkirah ringkas pergi dan balik ke majlis walimatul urus seorang ibu tunggal mengahwinkan anak bungsunya. Perbincangan kami di sekitar mencari ketenangan dan kebahagiaan meniti usia senja.

Ketenangan jiwa itulah syurga dunia menurut pandangan ulamak. "Hanya sanya dengan mengingati Allah jiwa akan menjadi tenang". Dalam apa keadaan sekalipun perlu 'maintain' agar jiwa sentiasa tenang. Masing-masing mendapat dugaan yang berbeza namun perbezaan tersebut tidak menjadi halangan sama-sama kita mencari kebahagiaan yang sebenarnya di sisi Allah SWT.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi asas kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya.

[1] Tauhid, lawannya syirik.
[2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan
[3] ketaatan, lawannya adalah maksiat.

Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan (baik )yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 104)
Tauhid Menghantarkan Menuju Bahagia

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An’aam: 82).

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah Ibnu Mubarak ra berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar kerana niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil kerana niat (yang tidak ikhlas).”

Syirik Menghantarkan Menuju Sengsara

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim).


Sunnah Menghantarkan Kita Menuju Bahagia

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31).

Rasulullah SAW bersabda, Islam itu datang dalam keadaan asing (dagang) dan akan kembali menjadi asing (dagang) sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim).

Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”


Bid’ah Menghantarkan Menuju Sengsara

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justeru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115).

Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid’ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].” (HR. Muslim, tambahan dalam kurung dalam riwayat Nasa’i)


Ketaatan Menghantarkan Menuju Bahagia

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71).

Rasulullah SAW bersabda, “Semua umatku pasti masuk syurga, kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku masuk syurga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas ra berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahawa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”


Kemaksiatan Menghantarkan Menuju Sengsara

Allah swt berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36).

Rasulullah SAW bersabda, “Syurga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hilangnya Harapan dan Rasa Takut

Sementara ketiga hal di atas: (1) Tauhid, (2) sunnah, dan (3) ketaatan- memiliki satu musuh yang sama iaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Iaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai kesan yang amat membahayakan.

Di antara kesan atau simptomnya adalah;

[1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya,
[2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya,
[3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat,
[4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang soleh namun lalai dari meneladani mereka,
[5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justeru sentiasa mengejarnya,
[6] akhirat datang menghampiri mereka namun mereka justeru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahawa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya bashirah/pemahaman. Dan lemahnya bashirah itu sendiri timbul kerana jiwa yang kerdil dan rendah (lihat al-Fawa’id, hal. 170).

Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal. 170).

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10).
Iaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal soleh.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926).

Syaikh Ibnu Utsaimin ra berkata, “Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 165)

Dari sinilah, kita menyedari betapa besar peranan ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk sentiasa berdoa selesai solat Subuh dengan doa yang sangat indah, Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan. Yang artinya; “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan difahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan ilmu dan kefahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah SWT berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Mas’ud RA berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu seseorang-.”

Wallahu A’lam bish-Showab
sumber :http://ibumusthofa.blogspot.com/2011/02/di-manakah-kebahagiaan.html