Showing posts with label Global. Show all posts
Showing posts with label Global. Show all posts

Monday, April 4, 2011

Bergolaknya Timur Tengah & Realisasi Grand Design Israel Raya


Tripoli (voa-islam.com) - Pergolakan yang terjadi di beberapa negara di Timur Te­ngah seperti Tunisia, Mesir, Aljazair, Libya, Yaman hingga ke Bahrain dan Iran, sesungguhnya membuat Amerika Se­rikat ketar-ketir dan menjadi dilema besar dalam mengeksport demokrasi dan HAM sebagai 'dagangan' ala AS, namun di sisi lain ingin tetap men­jaga kekerabatan dengan para diktator yang di semenanjung Arab.



Karena diktator di kawasan Arab itu menjamin eksistensi AS di Timur Tengah. “Kalau AS me­­maksakan demokrasi tapi me­nimbulkan kekacauan dan instabilitas, maka akan sangat menggangu AS dan sekutu Ba­ratnya di Timur Tengah,” kata Smith Alhadar.


“Makanya mereka serba sa­lah. Justru sebenarnya Ame­rika punya pengaruh negatif sehing­ga membuat masya­rakat berge­rak. Sebenarnya, rakyat me­nun­tut demokrasi karena ke­jenuhan, kemiskinan dan harga barangan yang tinggi. Tidak ada pengaruh AS dalam gerakan ini. Kebosanan ma­syarakat itu­lah yang mendo­rong mereka,” tuturnya.


Situasi di Bahrain, markas armada ke-5 Angkatan Laut AS, menumpuk rasa kekhawatiran Washington. Di Yaman, polisi dan pendukung pemerintah juga sedang menghadapi tiga ribu pengunjuk perasaasn yang ingin Presiden Ali Abdullah Saleh turun. Unjuktunjuk pe rasaan ini telah berlangsung selama lima hari terakhir.

Yaman adalah partner penting AS di kawasan untuk memberantas jaringan terorisme yang dirangkai kelompok militan Al Qaeda. Pentagon berencana meningkatkan latihan satuan pasukan antiteror Yaman untuk menekan Al Qaeda Semenanjung Arab (AQAP). Saleh merupakan salah satu tokoh penting yang bisa menyatukan suku-suku di Yaman.

Seperti Tunisia dan Mesir, kemiskinan dan kompleksitas suku juga menjadi isu utama di negara ini. Kontras dengan kehidupan relatif makmur ala Barat, yang disimbolkan dengan jajaran pusat membelibelah dan kedai kopi di Ibukota Bahrain, Manama. Sayangnya, Bahrain sendiri juga dipenuhi dengan ketimpangan kelas sosial.

Di Jordania, ratusan anggota suku Badui setempat memblokir jalan dan meminta pemerintah mengembalikan tanah yang mereka miliki. Sementara aktivis di Arab Saudi berusaha membentuk partai politik, dalam usaha untuk melawan kekuatan monarki yang nyaris absolut serta pro-Barat.

Setelah Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali digulingkan, AS juga kehilangan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Keduanya merupakan tokoh penting yang mendukung sejumlah misi Amerika. Sayangnya, Amerika juga selalu memilih bersekutu dengan para pemimpin Arab yang bergaya diktator.

Sebagai perbandingan, lihat saja Iran. Presiden Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai satu-satunya pemimpin Timur Tengah yang paling berani menyuarakan anti-Amerika. Negaranya juga dilanda gelombang tunjuk perasaan . Ahmadinejad tak kekurangan akal, ia menyatakan pengunjuk rasa antipemerintah adalah pengkhianat bangsa.

Dengan terpecahnya negara-negara di Timur Tengah justru semakin memudahkan AS, zionis Israel dan sekutunya menyusup masuk dengan memasarkan paham 'bathil' ala demokrasi dan HAM yang utopia, berstandar ganda dan anti-Islam.

Mungkinkah Konspirasi Membangun Israel Raya?

Revolusi islam akankah menampakkan kegemilangan? Ataukah scenario babak belurnya jazirah arab terjadi karena grand design yahudi demi memuluskan ambisinya membangun Greater Israel atau Israel Raya?

Penulis dan aktivis islam yang sempat aktif di Sabili, Herry Nurdi bahkan menuangkan ide, gagasan, analisanya mengenai The Greater Israel ini, menurutnya, Gerakan Zionis masih terus menjadi musuh Islam. Dengan dukungan negara Barat, terutama Amerika dan NATO, dan bahkan diktator dari kalangan sekuler Arab sendiri, kini Israel saat ini terus melancarkan keinginannya mengubah peta di kawasan Timur Tengah, melalui peta baru itu negara Yahudi hendak menguasai kawasan Timur Tengah.

Tanda-tanda rencana ‘Israel Raya’ itu sudah semakin nyata. Lihat saja Irak yang diserang dengan alasan fiktif, Dubai semakin sekuler, Makkah dirangsek oleh bank konservatif dan sudah menguasai kerajaan Arab Saudi, Tunisia dan Mesir mulai ambruk hingga menulari tetangganya mulai Libya, Yaman, Aljazair dan Bahrain.

Sebelum bergolaknya semenanjung Arab ini, masalah sepertiPembangunan batas permanen, perluasan pemukiman, pengepungan Jerusalem, dan pencurian air memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Semua itu berjalan mulus dan lancar karena terselubungi oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak signifikan. Masalah-masalah yang direkayasa oleh Israel untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 2010 hanyalah rencana transisi saja. Visi Israel yang sebenarnya adalah seperti gambar bendera nasionalnya: bintang David di antara garis biru atas dan bawah. Hal itu berarti men-Zionis-kan wilayah-wilayah di antara Sungai Nil dan Eufrat. Itulah Eretz Yisrael (Israel Raya)

Inti ‘Israel Raya’, menurut Herry Nurdi, adalah hendak menguasai dunia dengan membentuk negara Israel Raya yang ditargetkan paling lambat 2012. “Jadi bagai memakan kacang, jika kacang-kacang yang bagus sudah habis, maka kacang yang jelek pun akan dikupas. Demikian pula dengan Zionis. Maka perlu kewaspadaan tinggi,” ujar Herry Nurdi.

Akankah hal ini menjadi kenyataan? Semoga Allah membantu kaum muslimin dan membangunkan jiwa ksatria singa yang lama tertidur, kiranya Allah Azza wa Jala membangkitkan semangat jihad akbar di dalam dada kaum muslimin karena hal ini telah terbukti menjadi penangkalnya, sebagaimana Rasulullah telah mempraktekannya. الله المستعان - Allahu Al Musta'an [d5vn2/voa-islam.com]

Mengapa Kita Mendukung Invasi NATO ke Libya?




Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal akhirah. Amin ya Rahiim.


Sangat sulit dipahami, bagaimana mungkin banyak Muslim hari ini mendukung INVASI Amerika Cs ke Libya. Baik itu ulama, ustadz, pengamat, pemerhati, jurnalis, dan sebagainya.


Bagaimana mungkin akal kita bisa membenarkan invasi ke Libya itu? Sesempit itukah wawasan kita? Sependek itukah nalar sejarah kita? Tidakkah kita mau belajar dari penderitaan bangsa Irak dan Afghanistan, pasca invasi Amerika Cs tahun 2003 dan 2001 lalu?


Alasan yang dipakai para AGRESSOR untuk menghujani Libya dengan rudal-rudal adalah:

“Demi menyelamatkan warga Benghazi yang anti Qaddafi dari serangan brutalnya yang telah menewaskan manusia sampai 6000 orang lebih.“

Dengan alasan ini lalu kita membenarkan serangan udara negara-negara syaitan seperti Amerika, Inggris, Perancis, Italia, Kanada, dll.

Apakah Kalian Mendukung Mereka Menghisap Darah Kaum Muslimin?

Mula-mula harus diklarifikasi dulu, benarkah korban yang jatuh dari pihak demonstran anti Qaddafi sampai 6000 jiwa lebih? Laporan ini berdasarkan pantauan TV Aljazeera, lembaga HAM Libya, dan lembaga HAM internasional.

Sedangkan, korban menurut versi Pemerintah Libya sendiri tidak pernah dilihat. Setidaknya, kita harus melihat laporan kalangan Islam independen, yang tidak terlibat dalam pertikaian politik di Libya. Kalau Aljazeera kan jelas-jelas sudah terlibat dalam revolusi dunia Arab saat ini, malah TV ini merupakan provokator paling sengit.

Cobalah berpikir logis. Selama terjadi bentrok di Libya, pernahkah kita melihat mayat-mayat bergelimpangan dalam jumlah besar? Pernahkah kita lihat ke rumah-rumah sakit, disana ada ribuan korban jiwa? Pernahkah kita lihat ada pekuburan-pekuburan massal untuk mengubur jenazah yang ribuan orang itu?

Pernahkah kita lihat ada gambar-gambar mayat bertumpuk-tumpuk di Libya saat ini? Kalau ada semua itu, saya yakin rakyat Libya yang semula pro Qaddafi, mereka akan berbalik menyerang Qaddafi. Sebab fitrahnya manusia, tidak suka melihat kekejaman.


Bukannya kita mendukung kekejaman Qaddafi. Tidak sama sekali. Tetapi jangan sampai kita zhalim dengan menuduhkan sesuatu yang memang tidak ada realitasnya. Kekejaman Qaddafi kepada demonstran ya jelas harus dihentikan.Tetapi bukan seperti itu cara yang seharusnya dilakukan. Baik Qaddafi maupun pasukan NATO, haram berbuat kezhaliman.

Sekarang masalahnya, bagaimana bisa kita menolak kekejaman Qaddafi, sementara kita membenarkan kekejaman serangan NATO terhadap target-target sasaran awam di Libya? Apakah kalau yang menyerang itu Qaddafi, ia dilarang; tetapi kalau NATO, ia dibenarkan? Itu bukanlah keadilan, tapi double standard namanya....!!


Seandainya NATO benar-benar adilsedangkan syaitan tak ada yang bersikap adilseharusnya mereka segera memberi pengajaran kepada Israel dengan serangan ribuan ton rudal. Karena kita tahu betapa kejamnya Israel saat menyerang warga Ghaza pada 2008 lalu.

Begitu pula betapa kejinya zionist Yahudi itu saat merampok kapal Mavi Marmara dan membunuhi puluhan manusia di dalamnya. Mengapa kita tidak meminta NATO menghajar Israel dengan segala kekejiannya itu?

Apakah seorang Muslim pantas meminta orang kafir membunuhi sesama Muslim (warga Libya), sementara dia tidak pernah meminta orang kafir itu membalas kekejaman Yahudi Israel?

Siapapun yang merestui pembunuhan kaum Muslimin di Libya saat ini, dengan meminta bantuan tangan-tangan keji kaum kuffar, mereka bisa jatuh dalam kekufuran. Berhati-hatilah wahai kaum Muslimin.

Mungkin Anda akan membantah, “Tapi kan Qaddafi sudah kejam, sudah biadab, sudah membunuhi ribuan orang Muslim? Dia harus dihentikan bagaimanapun caranya, berapapun harganya?”

Demi Allah, kekejaman Qaddafi –jika benar demikian adanya– tidak bisa dibenarkan dalam Syariat Islam. Dalam menyikapi pertikaian politik antar sesama Muslim (Pemerintah Qaddafi dan demonstran anti Qaddafi) seharusnya ditempuh jalan damai, jalan perundingan, dan kompromi. Bukan saling membunuh.


Nabi Saw mengatakan, kalau dua orang Muslim berhadapan, keduanya sama-sama menghunus pedang, lalu salah satu darinya mati; maka keduanya masuk neraka. Yang terbunuh pun masuk neraka, sebab dia sudah ada niat membunuh kawannya.


Cara terbaik mengatasi pertikaian antar sesama Muslim adalah JALAN DAMAI, bukan saling serang dan membunuh. Dan lebih keji lagi, kalau untuk urusan saling membunuh itu, kaum Muslimin meminta bantuan orang kafir –laknat Allah atas mereka–.


Wong, saling serang antar Muslim saja haram, apalagi meminta bantun kuffar untuk menyerang Ummat Islam lainnya. Ini adalah perbuatan terburuk yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.


Andaikan Qaddafi telah berbuat kejam dengan membunuhi ribuan Muslim. Tetap saja solusinya bukan dengan mendatangkan kekuatan kuffar untuk menghancurkan seluruh negara Libya dan rakyatnya.


Jangan sampai terjadi.., hanya demi mengusir tikus yang masuk rumah, kita menyewa meriam milik orang kuffar. Nanti, bukan hanya tikus itu yang terbakar, tetapi seluruh rumah akan menjadi hancur berkeping-keping.


Coba kita ingat bagaimana latar-belakang perang Afghanistan dan perang Irak! Alasan perang Afghan, adalah untuk menghajar Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah. Tetapi yang dihancurkan oleh NATO adalah seluruh negara Afghan dan rakyatnya, sementara Al Qa’idah sampai sekarang masih terus wujud.

Alasan perang Irak, adalah untuk memberi pengajaran kepada Saddam yang" memiliki senjata pemusnah massal". Ternyata kemudian terbukti, alasan itu bohong belaka. Tetapi bangsa Irak sudah remuk-redam dihajar ribuan ton rudal NATO. Bahkan kini Irak lebih didominasi oleh sekte Syi’ah Rafidhah. Wal ‘iyadzubillah.

Kalau masalah kekejaman, Qaddafi bukan satu-satunya penguasa kejam. Coba hitung berapa ribu manusia yang telah terkorban di Afghanistan dan Irak! Sebagian menyebut sudah jutaan. Lalu mari pula kita hitung berapa korban Muslim di Palestina akibat kekejaman Israel!

Lalu hitung kekejaman di Somalia, di Rwanda, di Chechnya, di Bosnia, bahkan di Ambon, Maluku, Sampit, Sambas, dan lainnya. Ada berapa ribu manusia yang “disate” di tempat-tempat itu? Lalu apakah NATO segera bergerak cepat untuk menghancurkan pihak-pihak pembantai di tempat-tempat itu?


Kita masih ingat bagaimana kekejaman regim militer di Aljazair ketika merampas kemenangan FIS pada tahun 1991-1992 lalu. Ketika itu regim militer tersebut membunuh 50.000 lebih aktivis Islam, atas dukungan negara syaitan Perancis. Apa kita lupa dengan fakta sejarah itu?

Lalu dimana pembelaan NATO terhadap FIS? Padahal FIS memenangkan pemilu secara demokratis? Mengapa penguasa militer Aljazair tidak dihajar oleh NATO dan negara sampah seperti Amerika, Inggris, Kanada, dan sejenisnya? Dimana pembelaan mereka terhadap nasib 50.000 aktivis Islam di Aljazair?


Dan yang paling teruk lagi, ialah alasan: “Menciptakan demokrasi di Libya.” Ini adalah alasan yang paling tak masuk akal yang bisa dikemukakan. Demi melaksanakan demokrasi, kita menghalalkan invasi oleh negara-negara kuffar –semoga Allah mengutuk mereka dan menghancurkan ekonomi mereka–.


Bagaimana mungkin negara-negara itu ingin memaksakan demokrasi dengan bahasa “rudal dan bom”? Ini adalah sifat talam dua muka yang sangat jelas. Mungkinkah bisa terjadi demokrasi dengan bahasa rudal? Sangat sulit dimengerti. Apakah artinya demokrasi jika menghalalkan agressi, invasi, dan serangan rudal-rudal?


Disebut demokrasi karena disana tidak digunakan cara-cara kekerasan. Kalau memakai cara kekerasan, yang terjadi bukan demokrasi, tetapi demokrasi berdarah. Lihatlah di Afghanistan, disana Amerika berusaha mendemokrasikan bangsa Afghan tetapi dengan memakai rudal.


Akibatnya, rakyat Afghan merespon ajakan Amerika itu dengan serangan-serangan bom manusia, sampai saat ini. Demokrasi darah, ya hasilnya akan dibayar dengan darah pula.


Satu hal yang harus disadari. Andaikan nanti Qaddafi berhasil dihancurkan oleh pasukan NATO, lalu diganti tokoh lain yang lebih demokratis. Pertanyaannya, apakah setelah itu NATO akan pulang ke rumah masing-masing secara damai dan penuh ikhlas?


Jangan begitu kawan! Mereka sudah keluar wang banyak untuk menjatuhkan Qaddafi. Mereka pasti akan meminta BAYARAN atas wang yang sudah mereka keluarkan untuk aksi militer itu. Sebagai catatan, harga 1 unit rudal Tomahawk saja bisa mencapai Rp. 5 miliar sampai Rp. 9 miliar.

Semua biaya-biaya itu pasti akan dimintakan agar diganti oleh negara Libya. Kalau bukan dibayar secara cash, bisa dikonversi dalam bentuk hutang negara. Atau dialihkan dalam bentuk penguasaan ladang-ladang minyak di Libya.


Jangan kita bersikap terlalu naif.... Negara-negara agressor seringkali memanfaatkan perang semacam itu untuk mendapat penghasilan ekonomi besar. Itulah yang disebut sebagai “jualan amunisi berkuah darah“.

Sehebat apapun konflik di tengah kaum Muslimin, solusinya bukan dengan meminta bantuan pasukan kuffar yang terkenal haus darah dan zhalim itu. Konflik di antara kaum Muslimin seharusnya diselesaikan dengan ISHLAH.


Al Qur’an mengajarkan agar kita menempuh jalan damai ketika menyelesaikan sengketa suami-isteri. Bila konflik sudah serius, kita bisa mengambil, “Hakaman min ahlihi wa hakaman min ahliha” (seorang penengah dari pihak suami, dan penengah dari pihak isteri). Cara demikian diutamakan, karena Islam menganut prinsip, “Was shulhu khair” (perdamaian atau ishlah itu lebih baik).

Kalau untuk konflik rumah-tangga diutamakan cara ishlah, apalagi konflik yang menyangkut darah, nyawa, harta, dan kehidupan kaum Muslimin dalam skala luas?


Lalu dimana akal kita ketika kini menyetujui invasi Amerika Cs ke Libya? itu bukanlah cara Islami yang diajarkan oleh Kitabullah dan As Sunnah..!! Sangat jauh, sangat jauh; seperti jauhnya langit dan bumi, serta jauhnya Barat dan Timur.

Cukuplah ayat berikut sebagai peringatan bagi kita semua:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Terjemah Ali Imran: 28).

Tuesday, 22/03/2011

(Abinya Syakir).
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/
(dengan sedikit perubahan bahasa )

artikel yang berkaitan :Bergolaknya TimurTengah & Realisasi Grand Design Israel Raya

Monday, March 28, 2011

Libya : Majlis Peralihan Kuasa bentuk Kabinet bayangan


(gambar : pemberontak Libya bergerak menuju Tripoli )

BENGHAZI: Ketika pejuang pemberontak menawan semula satu demi satu bandar di barat, perwakilan pembangkang di Benghazi pula sibuk menubuhkan kerajaan bayangan bagi mengambil alih kuasa daripada Muammar Gaddafi.

Tugas itu bukan mudah.


Dikendalikan tokoh elit, kebanyakan mereka baru pulang dari pembuangan dan terpaksa berdepan dengan sentimen majoriti rakyat Libya, termasuk di luar negara.

Setakat ini, suara pembangkang Libya disatukan dalam Majlis Peralihan Sementara Kebangsaan (PTNC) yang dianggotai 31 ahli mewakili bandar utama di Libya.


Bagaimanapun, atas faktor keselamatan, hanya 13 nama dinyatakan kepada umum.


PTNC diketuai bekas Menteri Keadilan Libya, Mustapha Abdul Jalil, yang dilaporkan memperjudikan dirinya untuk jawatan itu.

Mustapha dibantu Abdul Hafiz Ghoqa yang turut bertindak sebagai jurucakap PTNC.


Penyelaras media PTNC, Mustapha Gheriani, berkata majlis itu dianggotai tokoh yang agak diyakini.

Mereka tidak dilantik berdasarkan kemahiran yang ada, tetapi pada ketika ini hanya itu amalan demokrasi yang dapat kami laksanakan,” katanya.


Ahli jawatankuasa media PTNC, Iman Bugaighis, berkata mereka cuba sedaya-upaya mendapatkan keyakinan orang ramai melalui pentadbiran di bandar yang dikuasai pemberontak.


Kata doktor gigi itu, bulan lalu kakitangan awam mendapat gaji pada waktu sepatutnya.


“Kami cuba mengekalkannya bulan ini,” katanya.


Kini, katanya, PTNC cuba membentuk Kabinet, lengkap dengan kuasa menteri bagi mengadakan perbincangan dengan rakan sejawat dari negara luar.


“Kami perlukan sebuah badan yang lebih tersusun,” katanya. - AFP