Showing posts with label tasawwuf.. Show all posts
Showing posts with label tasawwuf.. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Objek Kajian Ilmu Aqidah 2/2


Objek Kajian Ilmu Aqidah 2/2


Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2

Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah/sekte selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu 'Aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

[1]. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin, seperti aliran Mu'tazilah, Asyaa'irah[1] dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai juga ka-rena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf di dalam mene-tapkan masalah-masalah 'aqidah.

[2]. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam 'aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

[3]. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam 'aqidah, karena merupakan pena-maan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka dijadikan sebagai rujukan di dalam 'aqidah.

Kata Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Ia terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha'imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan: Jelas bahwa Tashawwuf me-miliki pengaruh dari kehidupan para pendeta Nashrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pe-ngaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam. [2]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) Rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya' wal Mashaadir: Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang per-tama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang di-nukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas per-bedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran al-Qur-an dan as-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sllam dan para Shahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran tasawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta kezuhudan Budha, konsep asy-Syu'ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilaku-kan oleh orang-orang Shufi belakangan. [3]

Syaikh 'Abdurrahman al-Wakil Rahimahullah berkata di dalam kitab-nya, Mashra'ut Tashawwuf: Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaitan telah membuat hamba Allah tertipu atasnya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zaratuisme, Platoisme, Yahudisme, Nashranisme dan Paganisme. [4]

[4]. Ilahiyyat (Teologi)
Ini adalah nama yang dipakai oleh Mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum Mutakallimin tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut persepsi mereka.

[5]. Kekuatan di Balik Alam Metafisika
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan dengan al-Qur-an dan as-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) 'aqli maupun naqli.

Sesungguhnya 'aqidah yang mempunyai penger-tian yang benar yaitu 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang ber-sumber dari al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma' Salafush Shalih.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1] Seperti Syarhul Maqaashid fii 'Ilmil Kalam karya at-Taftazani (wafat th. 791 H).
[2] Ash-Shufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari Haqiiqatut Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah al Fauzan (hal. 18-19).
[3] Hal. 50, cet. I, Idaarah Turjuman as-Sunnah, Lahore-Pakistan, 1406 H.
[4] Hal. 10, cet. Riyaasah Idaarah al-Buhuuts al-'Ilmiyyah wal Iftaa', th. 1414 H.
 
Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Monday, May 16, 2011

DAKWAAN GURU TAREKAT ADA PELBAGAI KEAJAIBAN?

DAKWAAN GURU TAREKAT ADA PELBAGAI KEAJAIBAN?

Soalan: Prof Madya Dr Mohd Asri, keluarga saya ada terpengaruh dengan ajaran tarekat tertentu. Saya makin risau. Mereka asyik memuja tuan guru mereka. Mereka kata dia keturunan nabi jangan dipertikaikan, dia ada keramat, dia boleh tahu apa yang ada dalam hati kita dan macam-macam lagi. Saya nampak mereka bukan asyik menceritakan kehebatan Islam, tetapi kehebatan tok guru mereka. Harap Dr MAZA dapat berikan pendapat tentang hal ini.

Aishah, Seremban, NS.

Jawapan Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin: Terima kasih kepada saudari yang bertanya. Dari soalan saudari tampak saudari menghayati hakikat sebenar ajaran Islam. Islam berteraskan tauhid dan anti syirik. Asas ajaran Islam ialah membesarkan Allah dan menghayati ajaran Allah berdasarkan tunjuk ajar Rasulullah s.a.w. Jika mana-mana guru menumpukan ajarannya kepada membesar Allah dan mengikuti ajaranNya seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah s.a.w, maka itulah ajaran yang benar. Jika tumpuan kepada membesarkan guru, sibuk menceritakan kehebatan guru, maka itu telah terbabas dari ajaran Allah dan rasulNya.

Di sini beberapa perkara patut diberikan perhatian;

1. Kesalahan sesetengah ajaran guru tarekat mereka cuma menjadikan diri mereka pusat kekaguman pengikut dengan mengada-adakan cerita kehebatan diri. Mengambil kesempatan dari fanatik pengikut menyebabkan kita lihat walaupun tarekat kononnya mengajar penganutnya agar meninggalkan cinta dunia, tetapi guru-guru tarekat yang hidup dengan kemewahan. Bahkan, menjadi trend sesetengah guru ini untuk mendampingi orang kaya dan berkuasa.

Hal ini sangat berbeza dengan mereka yang zuhud pada zaman salafussoleh. Pada zaman dahulu, walaupun ramai penguasa yang soleh, namun golongan zuhhad (ahli zuhud) yang ikhlas ini enggan mendampingi mereka bimbangkan percikan dunia.

Hari ini banyak penguasa yang tidak soleh, tetapi kita lihat golongan yang menyandar diri kepada terekat ini ramai suka memakmurkan majlis-majlis kemeriahan penguasa, memuji mereka dan mendapat habuan dari mereka. Maka, sesetengah guru menjadikan ‘bicara rohani’ atau bicara keajaiban diri untuk membina empayar harta dan pengaruh.


2. Bagaimanakah seorang guru boleh mendakwa bahawa dia mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada muridnya, sedangkan Rasulullah s.a.w pun tidak mendakwa demikian?

Dalam hadis Nabi s.a.w bersabda:

“Kamu mengangkat perbalahan kamu kepadaku. Boleh jadi sesetengah kamu lebih petah hujahnya daripada yang lain. Lalu aku berikan untuknya berdasarkan apa yang aku dengar. Sesiapa yang aku berikan sesuatu hak saudaranya janganlah dia ambil, kerana sesungguhnya aku memotong untuknya potongan api neraka (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Ertinya, baginda pun menilai berdasarkan apa yang zahir dan tidak mengetahui yang batin, sedangkan baginda seorang nabi. Baginda tahu hanya apabila (dalam kes apabila ) baginda mendapat wahyu daripada Allah.


3. Nabi s.a.w pernah melihat sahabat mengahwinkan pokok tamar, lalu baginda bersabda:

“Apa yang sedang kamu lakukan?”. Jawab mereka: “Kami telah lakukannya sebelum ini”. Jawab baginda: “Barangkali jika kamu tidak buat ia lebih baik”. Maka mereka pun tidak melakukannya, lalu pokok tidak berbuah. Mereka menyebut hal tersebut kepada Nabi s.a.w, lalu baginda bersabda: “Aku ini manusia. Apabila aku menyuruh kamu dari perkara agama, maka ambillah (patuhlah). Jika aku menyuruh kamu sesuatu dari pendapatku, maka aku hanyalah seorang manusia” (Riwayat Muslim).

pokok-tamar.jpg

Gambar Hiasan - Pokok Tamar

Apakah guru tarekat lebih daripada Nabi s.a.w sehingga mengetahui segala perkara yang zahir dan yang tersembunyi?

4. Keturunan Nabi s.a.w memanglah satu kelebihan. Namun, itu bukan pengukur utama kemuliaan seseorang. Tiada sistem kasta dalam Islam. Berlebihan dalam memuliakan keturunan tertentu itu menyerupai ajaran hindu, atau dalam umat ini seperti ajaran Syiah.

Sedangkan al-Quran menyebut:

“Sesungguhnya yang paling mulia dalam kalangan kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (Surah al-Hujurat: 13 ).

Nabi sendiri pernah menyebut:

“Wahai Fatimah binti Muhammad! Wahai Sofiyyah binti ‘Abd al-Muttalib! Aku tidak dapat menyelamatkan kamu dari (hukuman) Allah” (Riwayat Muslim).

Ertinya, yang menyelamatkan seseorang itu ialah iman dan takwa sendiri, bukanlah keturunannya.


5. Kaum keluarga Nabi s.a.w dihormati, namun ada batasan. Prof Hamka mengkritik keras dakwaan Ibn ‘Arabi iaitu tokoh rujukan sebahagian besar golongan tarekat yang menyatakan "kita hendaklah menerima apa sahaja yang dilakukan oleh mereka yang berketurunan Nabi s.a.w. atau kaum sayyid kepada kita".

Kata Prof Hamka:

“Tegasnya menurut fatwa Ibn Arabi ini kalau bangsa sayyid atau habib mengambil harta-benda kita hendaklah redha, hendaklah serahkan, hendaklah sabar, kalau diganggunya diri kita ditamparnya, dipukulnya hendak redha, hendaklah menyerah, hendaklah sabar. Sebab beliau cucu nabi kita dan kalau diganggunya kehormatan kita sehingga kita jadi malu, hendaklah redha, hendaklah menyerah, hendaklah sabar, kalau diganggu anak isteri kita dan kaum keluarga kita, hendaklah terima dan redha dengan menyerah dan sabar…maka perkataan Ibn Arabi ini ditanamkanlah kepada orang awam.

Padahal sangat membawa hinanya sesetengah manusia di hadapan yang setengahnya, sehingga lebih hina mereka daripada budak yang telah sepuluh kali dijual dan sepuluh kali berganti tuan. Walaupun hartanya atau dirinya bahkan walaupun anak gadisnya diganggu oleh ahli bait, zuriat Rasul, dia menyerah saja dan wajib memandang itu sebagai nikmat sesudah iktisadnya dann hidupnya dijajah oleh British dan Belanda dan Cina, maka jiwanya pula wajib dijadikannya sebagai budak dan jajahan kepada kaum sayyid” (Hamka, Teguran Suci Dan Jujur Terhadap Mufti Johor, m/s 72, Selangor: Pustaka Dini).

buku-hamka.jpg

6. Para sahabah yang mulia seperti Abu Bakr, Umar dan lain-lain pun tidak pernah berkempen tentang kehebatan diri mereka. Sebaliknya, mereka sentiasa mengajak umat Islam mendahulukan Allah dan rasulNya.

Ketika Abu Bakr r.a dilantik menjadi khalifah, beliau berucap:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dilantik menjadi pemimpin kamu, bukanlah aku yang terbaik dalam kalangan kamu. Jika aku betul, tolonglah aku. Jika aku salah, betulkanlah aku… Taatlah aku selagi aku taatkan Allah dan RasulNya. Jika aku derhakakan Allah dan RasulNya, maka tiada ketaatan untukku” (Ibn Athir, Al-Kamil fi al-Tarikh, 1/361).

Padahal, orang seperti Abu Bakr al-Siddiq telah dimuliakan oleh al-Quran dan al-Sunnah, namun masih lagi mengingatkan bahawa asas Islam kembali kepada membesarkan Allah dan RasulNya. Apakah sesetengah guru tarekat ini lebih hebat daripada Abu Bakr?


7. Sesiapa sahaja hendaklah patuh kepada al-Quran dan sunnah. Ukuran kita apa yang terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah, bukannya tokoh.

Kata al-Imam al-Syatibi (meninggal 790H):

Maka wajib bagi kita untuk mengikut orang yang terhalang daripada kesilapan (maksudnya RasululuLah S.A.W) dan berhenti daripada mengikut sesiapa yang tidak terhalang daripada silap apabila melihat kekeliruan pada ikutan tersebut. Bahkan kita bentangkan (rujukkan) apa yang datang daripada para imam kepada al-Kitab dan al-Sunnah. Apa yang keduanya (al-Quran dan al-Sunnah) terima, maka kita terima, dan apa yang kedua tidak terima, kita tinggalkannya.”. (Al-Syatibi, Al-I’tisam, m.s 165, Beirut: Dar al-Kitab al-`Arabi).


8. Islam mengeluarkan kita dari kebodohan kepada kebijaksanaan. Dari mengikut sesuatu secara membabi buta kepada menilai dan memahami sebelum mengikut.

Firman Allah:

“Dan janganlah engkau mengikut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta jantung hati, semua anggota-anggota itu akan ditanya”. (Surah al-Isra’: ayat 36).


Wajib setiap perkataan guru dibandingkan dengan al-Quran dan al-Sunnah dan haram mengikut mengikut sesuatu yang jelas bercanggah dengan al-Quran dan al-Sunnah.


9. Mempelajari agama dari mana-mana tokoh bukanlah masalah utama, tetapi sikap bertaklid tanpa menilai dan berfikir itulah yang membawa kepada kesesatan.

Jika ada tarekat yang bersumberkan al-Quran dan hadis yang sahih, maka tiada salah mengikutnya. Kesufian dan tasawwuf juga tidak menjadi masalah jika berteraskan al-Quran dan al-Sunnah.

Namun pastikan bukan seperti yang diingatkan oleh Syeikh Manna’ al-Qattan:

Tasawwuf telah bertukar menjadi falsafah andaian semata-mata, yang tiada lagi hubungan dengan warak, taqwa dan kezuhudan. Falsafah ini mengandungi pemikiran-pemikiran yang bercanggah dengan Islam dan akidahnya”( Mabahith Fi `Ulum al-Quran, m.s. 356, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif).


Oleh :Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin
(sertai facebook DrMAZA.com)