IMAN adalah kedua-dua : cahaya dan kekuatan ; dengannya manusia meningkat setinggi-tingginya sehingga mencapai nilai yang melayakkannya ke Syurga. Dengan kegelapan KUFUR, ia jatuh serendah-rendah darjat yang membawanya ke Neraka..
Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Saturday, June 30, 2012
Tuesday, January 3, 2012
Do’a Qunut Ketika Shubuh
Tanya:
Assalamu’alaikum Wr Wb
Apakah Rasul baca doa qunut bila shalat shubuh sepanjang hayat? Kapan beliau berqunut? Mohon penjelasan dengan dasar hadits shahih lengkap!
P. Mul 0274 782xxxx
Jawab:
Pertanyaan senada pernah dilayangkan kepada Syeikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.
Beliau ditanya,
“Apakah disyariatkan menggunakan doa qunut witir (yaitu allahummahdini fiman hadaita …) pada rakaat terakhir shalat shubuh?!”
Jawaban beliau,
“Doa qunut witir yang terkenal yang Nabi ajarkan kepada al Hasan bin Ali yaitu allahummahdini fiman hadaita …tidak terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya menggunakan doa tersebut untuk selain shalat witir. Tidak terdapat satupun riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi berqunut dengan membaca doa tersebut baik pada shalat shubuh ataupun shalat yang lain.
Qunut dengan menggunakan doa tersebut di shalat shubuh sama sekali tidak ada dasarnya dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sedangkan qunut shubuh namun dengan doa yang lain maka inilah yang diperselisihkan di antara para ulama. Ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat yang paling tepat adalah tidak ada qunut pada shalat shubuh kecuali ada sebab yang terkait dengan kaum muslimin secara umum.
Misalnya ada bencana selain wabah penyakit yang menimpa kaum muslimin maka kaum muslimin disyariatkan untuk berqunut pada semua shalat wajib, termasuk di dalamnya shalat shubuh, agar Allah menghilangkan bencana dari kaum muslimin.
Meski demikian, andai imam melakukan qunut pada shalat shubuh maka seharusnya makmum tetap mengikuti qunut imam dan mengaminkan doanya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad dalam rangka menjaga persatuan kaum muslimin.
Sedangkan timbulnya permusuhan dan kebencian karena perbedaan pendapat semacam ini adalah suatu yang tidak sepatutnya terjadi. Masalah ini adalah termasuk masalah yang dibolehkan untuk berijtihad di dalamnya. Menjadi kewajiban setiap muslim dan para penuntut ilmu secara khusus untuk berlapang dada ketika ada perbedaan pendapat antara dirinya dengan saudaranya sesama muslim. Terlebih lagi jika diketahui bahwa saudaranya tersebut memiliki niat yang baik dan tujuan yang benar. Mereka tidaklah menginginkan melainkan kebenaran. Sedangkan masalah yang diperselisihkan adalah masalah ijtihadiah.
Dalam kondisi demikian maka pendapat kita bagi orang yang berbeda dengan kita tidaklah lebih benar jika dibandingkan dengan pendapat orang tersebut bagi kita. Hal ini dikarenakan pendapat yang ada hanya berdasar ijtihad dan tidak ada dalil tegas dalam masalah tersebut. Bagaimanakah kita salahkan ijtihad orang lain tanpa mau menyalahkan ijtihad kita. Sungguh ini adalah bentuk kezaliman dan permusuhan dalam penilaian terhadap pendapat” (Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/12-13, pertanyaan no 772, Maktabah Syamilah).
Pada kesempatan lain, Ibnu Utsaimin mengatakan,
“Qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab syar’i yang menuntut untuk melakukannya adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah Rasul. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah qunut shubuh secara terus menerus tanpa sebab. Yang ada beliau melakukan qunut di semua shalat wajib ketika ada sebab."
Para ulama menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut di semua shalat wajib jika ada bencana yang menimpa kaum muslimin yang mengharuskan untuk melakukan qunut. Qunut ini tidak hanya khusus pada shalat shubuh namun dilakukan pada semua shalat wajib.
Tentang qunut nazilah (qunut karena ada bencana yang terjadi), para ulama bersilang pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya, apakah penguasa yaitu pucuk pimpinan tertinggi di suatu negara ataukah semua imam yang memimpin shalat berjamaah di suatu masjid ataukah semua orang boleh qunut nazilah meski dia shalat sendirian.
Ada ulama yang berpendapat bahwa qunut nazilah hanya dilakukan oleh penguasa. Alasannya hanya Nabi saja yang melakukan qunut nazilah di masjid beliau. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa selain juga mengadakan qunut nazilat pada saat itu.
Pendapat kedua, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah imam shalat berjamaah. Alasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan qunut karena beliau adalah imam masjid. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda,
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat” (HR Bukhari).
Pendapat ketiga, yang berhak melakukan qunut nazilah adalah semua orang yang mengerjakan shalat karena qunut ini dilakukan disebabkan bencana yang menimpa kaum muslimin. Sedangkan orang yang beriman itu bagaikan sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat ketiga. Sehingga qunut nazilah bisa dilakukan oleh penguasa muslim di suatu negara, para imam shalat berjamaah demikian pula orang-orang yang mengerjakan shalat sendirian.
Akan tetapi tidak diperbolehkan melakukan qunut dalam shalat shubuh secara terus menerus tanpa ada sebab yang melatarbelakanginya karena perbuatan tersebut menyelisihi petunjuk Nabi.
Bila ada sebab maka boleh melakukan qunut di semua shalat wajib yang lima meski ada perbedaan pendapat tentang siapa saja yang boleh melakukannya sebagaimana telah disinggung di atas.
Akan tetapi bacaan qunut dalam qunut nazilah bukanlah bacaan qunut witir yaitu “allahummahdini fiman hadaita” dst. Yang benar doa qunut nazilah adalah doa yang sesuai dengan kondisi yang menyebabkan qunut nazilah dilakukan. Demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika seorang itu menjadi makmum sedangkan imamnya melakukan qunut shubuh apakah makmum mengikuti imam dengan mengangkat tangan dan mengaminkan doa qunut imam ataukah diam saja?
Jawabannya, sikap yang benar adalah mengaminkan doa imam sambil mengangkat tangan dalam rangka mengikuti imam karena khawatir merusak persatuan.
Imam Ahmad menegaskan bahwa seorang yang menjadi makmum dengan orang yang melakukan qunut shubuh itu tetap mengikuti imam dan mengaminkan doa imam. Padahal Imam Ahmad dalam pendapatnya yang terkenal yang mengatakan bahwa qunut shubuh itu tidak disyariatkan. Meski demikian, beliau membolehkan untuk mengikuti imam yang melakukan qunut shubuh karena dikhawatirkan menyelisihi imam dalam hal ini akan menimbulkan perselisihan hati di antara jamaah masjid tersebut.
Inilah yang diajarkan oleh para shahabat. Khalifah Utsman di akhir-akhir masa kekhilafahannya tidak mengqashar shalat saat mabit di Mina ketika pelaksanaan ibadah haji. Tindakan beliau ini diingkari oleh para shahabat. Meski demikian, para shahabat tetap bermakmum di belakang Khalifah Utsman. Sehingga mereka juga tidak mengqashar shalat. Adalah Ibnu Mas’ud diantara yang mengingkari perbuatan Utsman tersebut. Suatu ketika, ada yang berkata kepada Ibnu Mas’ud,
“Wahai Abu Abdirrahman (yaitu Ibnu Mas’ud) bagaimanakah bisa-bisanya engkau mengerjakan shalat bersama amirul mukminin Utsman tanpa qashar sedangkan Nabi, Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukannya. Beliau mengatakan, “Menyelisihi imam shalat adalah sebuah keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Daud)”
Published: 20 Juli 2009
(Kutub wa Rasail Ibnu Utsaimin 208/14-16, pertanyaan no 774, Maktabah Syamilah).
sumber :Tegar di atas Sunnah
Monday, November 1, 2010
Rahsia Wudhu
Rahsia BERWUDHUK dari Sudut Kesihatan Manusia
Syarat mendirikan solat ialah mengambil wuduk .Tentu tidak sah jika kita mengerjakan solat lima waktu tetapi meninggalkan wuduk.
Pernahkah kita terfikir tentang rahsia dan hikmah di sebalik perintah Allah SWT yang memeritahkan amalan yang nampak remeh ini. Kenapa tidak?? Kenapa tangan bersama dengan air menyentuh anggota-anggota tubuh. Kenapa wajah yang dibasuh? Kenapa mesti telinga?
Banyak rahsia berwuduk yang hanya Allah Maha Mengetahui namun antara rahsia wuduk yang dapat diungkapkan ialah:
Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan disebaliknya. Lima pancaindera kenapa semua tanpa terkecuali disapu oleh air wuduk. Mata, hidung, telinga & seluruh kulit tubuh. Ini betul-betul luar biasa.
Pakar Urat Saraf / neurologist pun telah membuktikan dengan air wuduk yang menyejukkan hujung-hujung urat saraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk menenangkan fikiran.
Anda tentu pernah mendengar akupuntur kan? Cuba cari dan ketahui dimana terletaknya titik-titik sensitif yang sering digunakan dalam ilmu akupuntur?kemudian hayati rukun wuduk. InsyaAllah kita akan menemui persamaan antara keduanya.
Anggota badan yang terkena semasa berwuduk terdapat ratusan titik akupuntur yang merupakan titik penerima ransangan terhadap sentuhan berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wuduk. Sentuhan tersebut akan dihantarkan ibarat signal ke sel, jaringan, organ dan sistem organ yang bersifat terapi. Ini terjadi kerana adanya sistem komunikasi iaitu antara sistem saraf dan hormon untuk mewujudkan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupuntur merupakan suatu fenomena yang menarik bila berkaitan dengan syariat wuduk yang disyariatkan 15 abad yang lalu.
Jumlah Titik Akupuntur Pada Anggota Wuduk(rukun dan sunat)
Muka 84
Tangan 95
Kepala 64
Telinga 125
Kaki 125
Jumlah keseluruhan = 493
Ternyata terdapat 493 titik penerima ransangan pada anggota wuduk!
Subhanallah!! Bayangkan jika kita melakukan itu setiap hari paling sedikit 5 kali sehari…
Kita tidak harus memandang ringan semasa menjalani wuduk. Mengapa? Cuba ingat semasa kita membasuh tapak kaki & tangan…apakah celah-celah jari sering kita abaikan? Ternyata ada fakta menarik yang ingin saya kongsikan:
Dari ilmu ahli akupuntur,pada celah-celah jari terdapat 16 titik akupunktur yang mana titik-titik tersebut apabila dirangsang secara istmewa ianya dapat mengubati migrain, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak, dan jari kaku.
Berkenaan telinga pula, walaupun ia adalah amalan sunat, ia mengandungi 30 titik ransangan! Maka, semasa menyapu telinga itu jangan cuma membasuh saja, tapi harus dengan urutan lembut juga. Selepas ini sebaiknya kita tidak meninggalkan amalan sunat semasa berwuduk kerana setiapnya mempunyai titik penerima ransangan.
Terdapat 125 titik akupuntur pada telinga apabila disentuh semasa mengambil wuduk.
Subhanallah…sungguh luar biasa rahsia wuduk…
HIKMAH BERWUDUK DARI SUDUT SAIN
Sesungguhnya setiap syariat yang difardukan ALLAH kepada manusia mempunyai rahsia yang tersendiri. ALLAH mewajibkan umat Islam berwuduk sebelum melakukan solat, malah umat Islam disunatkan berwuduk dalam banyak keadaan lain seperti ketika ingin membaca Al-Quran, tidur, mandi wajib dan sebagainya.
Mengapakah wuduk begitu dititikberatkan di dalam Islam?? Apakah rahsia yang tersirat di sebalik perlakuan berwuduk?
Mari kita menyingkap hikmah berwuduk dari teropong sains dan kesihatan.
Dr. Magomed Magomedov dari Department of Man's Hygiene and Ecology di Akademi Perubatan Daghestan State telah menulis satu artikel yang bertajuk "Muslims Rituals and their effect on the person's health" (Ibadah Muslim dan kesannya ke atas kesihatan seseorang). Di dalam artikel tersebut, beliau menyatakan bahawa berwuduk dapat merangsang pusingan biologi manusia dengan cara merangsang kawasan-kawasan tertentu yang dikenali sebagai Kawasan Aktif Biologi atau Biological Active Spots. Menurut beliau, bangsa Cina banyak mengkaji tentang ilmu sains refleksologi dan mereka meyakini jika Kawasan Aktif Biologi dirangsang ia akan merangsang sistem saraf di dalam badan sekaligus memberi kesan yang positif terhadap kesihatan seseorang.
Mengikut ilmu perubatan Cina, badan manusia mempunyai lebih kurang 700 Kawasan Aktif Biologi dan 66 daripadanya memberi kesan positif yang segera sekiranya dirangsang. Apa yang menakjubkan ialah 61 daripada 66 kawasan tersebut berada di kawasan wuduk utama orang Islam. Lima lagi berada di kawasan di antara buku lali dan lutut iaitu kawasan yang disunatkan berwuduk. Berhubung dengan kawasan yang khusus (antara buku lali dan lutut) ini, Muslim meriwayatkan sabda Nabi yang bermaksud: "Sesiapa yang mampu di antara kamu maka hendaklah dia memanjangkanghurrah dan tahjeelnya."
Ghurrah bermaksud membasuh muka melebihi kawasan muka yang biasa dan tahjeel pula bermaksud membasuh tangan melebihi siku dan membasuh kaki melebihi kawasan buku lali iaitu di antara buku lali dan lutut. Tafsiran ini disebut di dalam Bustanul Akhbar Mukhtasar Nailul Authar terjemahan A.Qadir Hassan, Mu'ammal Hamidy, Drs. Imron Am dan Umar Fanany B.A. (Pustaka Ilmu, Surabaya).
Selain daripada ibadah, wuduk juga mengandungi penawar yang mampu mencegah pelbagai penyakit. Dr. Magomed Magomedov menyatakan bahawa apabila seseorang menyentuh mukanya semasa berwuduk, ia akan merangsang saraf bagi memberi kekuatan baru (recharge) kepada organ-organ seperti usus, perut, pundi kencing dan sistem peranakan serta saraf. Apabila kawasan kaki kanan dibasuh dan digosok, ia merangsang sistem saraf bagi mengelokkan sistem tulang, usus, pankreas, hempedu, tiroid (thyroid) dan kawasan pinggang (lumbar area). Apabila kawasan kaki kiri dibasuh dan digosok, saraf berperanan untuk mengelokkan kelenjar pituitary dan kawasan otak yang mengawal sistem endokrin.
Di samping itu, Mukhtar Salem menyatakan di dalam bukunya yang bertajuk: "Prayers: A Sport for The Soul and Body" bahawa berwuduk boleh mencegah seseorang daripada mendapat kanser. Hal ini adalah kerana mengikut kajian semasa, salah satu punca kanser ialah bahan kimia yang melekat pada kulit badan seseorang kesan daripada pencemaran yang berlaku pada hari ini. Oleh sebab itu, pembasuhan badan melalui wuduk dapat membersihkan badan daripada kesan pencemaran tersebut.
Benarlah ALLAH itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.. DIA Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-NYA....
http://www.facebook.com/note.php?note_id=130226163696511&id=130114233707401
Tuesday, August 10, 2010
A Better Ramadan This Year..

Ramadan and fasting provide us the potential and opportunity for unlimited rewards.
Ramadan is at our doorsteps and like every year the anticipation of it grows by the day. Muslims the world over are looking forward for the blessings of this great month. We all can feel it – the workplace, our homes, the markets, the social media on the net – the buzz is on about the upcoming arrival of this blessed month.
However, as we start to engage ourselves with the worship and festivities of Ramadan, let’s pause and ask ourselves whether our last year’s
Ramadan was better than the one before it? How did we strive to make it any better? How are we going to make the one this year better than the one last year?
One may ask – why make it better? The answer is that there is no Ibadah (worship) like fasting and Allah’s rewards for this act of worship can be limitless.
The prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said: “You should fast, for there is nothing like it.” [Classed as saheeh by al-Albaani in Saheeh al-Nasaa’i.]
For the hadith where the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Allah said: ‘Every deed of the son of Adam is for him except fasting; it is for Me and I shall reward for it…’”, Al-Qurtubi said: what this means is that the amount of reward for good deeds may become known to people, and they will be rewarded between ten and seven hundred fold, and as much as Allah wants, except fasting, for Allah will reward it without measure. This is supported by a report narrated by Muslim (115) from Abu Hurayrah (may Allah be pleased with him) who said: The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Every deed of the son of Adam will be rewarded between ten and seven hundred fold. Allah said: ‘Except fasting, for it is for Me and I shall reward for it’” – i.e., I shall reward it greatly, without specifying how much. This is like the verse in which Allah says (interpretation of the meaning): “Only those who are patient shall receive their reward in full, without reckoning” [Quran: al-Zumar 39:10]
From the above, it is obvious that the rewards for fasting are multiplied from 10 to 700 to potentially limitless as He wills. So, let’s think again – Ramadan and fasting provide us the potential and opportunity for Unlimited Rewards.
However, we will be rewarded based on our actions and our intentions. The better we make our worship, the more rewards we stand to gain. That’s why we need to strive more every year – yet another opportunity to make it better than the previous.
First, let’s do some “soul searching” in assessing our intentions. What is it that excites us in welcoming this month? What are we are looking forward to? Is it the socializing, the Iftar festivities, and the change of schedules or is it about our yearning for more rewards, the hope to seek forgiveness for our sins, and hence the prospects for a better life here and in the hereafter? Our clarity of intentions as we start this blessed month can make a big difference. Consider this hadith by the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him):
“Actions are but by intention and each person will have but that which he intended.” (Narrated by al-Bukhaari (1) and Muslim (1907).
Ibn al-Qayyim (may Allah have mercy on him) said: “The degree to which a person is helped and aided by Allah depends on the degree of his intention, drive, aim and hopes. Help from Allah comes to people in proportion to their drive, intention, hopes and fears, and failure comes to them in like manner.”
*Let’s heed to those reminders. Take some time to ensure that your intention is to seek rewards and forgiveness for your sins and you will observe a miraculous transformation in the nature of your actions as they will automatically get aligned to your intentions. If left uncalibrated through your sincere intentions, your actions will instead focus on the festivities and other distractions more than you getting closer to Allah, which should be your primary objective in this month. And that can’t happen unless you intend for it and take actions to realize those intentions.
Also, once we align our intentions to seek Allah’s pleasure alone (remember where Allah said that fasting is for me and I will reward for it), you will notice that ALL your actions will be for Him. You won’t leave any room for the devil to get in your heart to make you show off your actions. A man asked Tameem ibn Aws al-Daari (may Allah be pleased with him), ‘How do you pray at night?’ He got very angry and said, ‘By Allah, one rak’ah that I pray in secret in the small hours of the night is more beloved to me than praying the whole night long and then telling people about it.’
Consider this hadith of the prophet: “Whoever does the deeds of the Hereafter to gain some worldly benefit, will have no share of the Hereafter.” (Reported by Ahmad. Saheeh al-Jaami’, 2825).”
*Another step you can take to make this Ramadan better is to make your worship more “goal directed” as that will help you focus on your acts of worship and will also force yourself to achieve those goals. Let’s ponder on what our pious salaf said about forcing ourselves to do more in our acts of worship. Muhammad ibn al-Munkadir said: “I struggled against my own self for forty years until it became right.” Thaabit al-Banaani said: “I struggled for twenty years to make myself pray qiyaam al-layl, and I enjoyed it (qiyaam al-layl) for (the next) twenty years.” ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Azeez said: “The best of deeds are those which we force ourselves to do.” ‘Abd-Allah ibn al-Mubaarak said: “The souls of righteous people in the past used to push them to do good deeds, but our souls do not do what we want them to do except by force, so we have to force them.” Qutaadah said: “O son of Adam, if you do not want to do any good except when you have the energy for it, then your nature is more inclined towards boredom and laziness. The true believer is the one who pushes himself.”
So, for this Ramadan set some realistic goals for the amount of worship and for the levels of your sincerity and you will not only have something to strive for but you will feel more satisfied after Ramadan is over if you achieved what you set out for. And next year, you can raise the bar higher and set loftier goals – another step towards achieving unlimited rewards.
In summary, let’s pause for a few moments to straighten our intentions and ensure that they are not diluted by the typical “Ramadan distractions” such as socializing, Iftar parties, idle talk during late hours, late night TV, fashion shows, etc. Also, set some goals for this month and get set to achieve them.
Let’s pray that we get the maximum rewards possible this Ramdan.
Your feedback is welcome that you can share with all below !
Ramdan Mubarak!
http://www.iqrasense.com/ramadan/a-better-ramadan-this-year.htmlSaturday, July 17, 2010
Apa Ada Pada Solat?

Banyak masjid yang menyambut peristiwa isra dan mikraj. Bentuknya berbeza, kesamaannya ialah ia mengingatkan kita peristiwa agong perjalanan Nabi SAW dari masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa yang diberkati di sekelilingnya kemudian di angkat Nabi SAW bertemu Allah dan dianugerahkan pada Nabi SAW solat.
Apa ada pada solat?
Dalam solat ada sepuluh perkara.
1) Dalam solat ada membesarkan Allah
Setiap bacaan solat adalah untuk membesarkan Allah. Ia bermula dengan takbirarul ihram lagi. Kita lafazkan bahawa Allah yang maha agong dan maha besar.
Jika orang membesarkan Allah, dia akan menjadi mausia yang mengaggap kecil pada dunia. Dan jika seseorang itu telah mengaggap kecil pada dunia, maka dia tidak akan takut dan gentar pada urusan dunia.
2) dalam solat ada meminta petunjuk
Petunjuk jalan yang lurus bukan sahaja dalam bab agama, tetapi dalam setiap keputusan hidup kita. Allah letakkan doa itu di dalam surah al-Fatihah iaitu “Ihdinas Siratal Mustaqim”.
3) dalam solat ada minta ampun pada dosa.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “Rabbigfirli…… (ampunkan aku)
4) dalam solat ada minta kasih sayang dari Allah
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warhamni…. (kasihanilah aku )
5) dalam solat ada meminta cukup bagi keperluan kita
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wajburni… (cukupkan aku..)
6) dalam solat ada minta kemuliaan
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “warfa’ni…(angkatlah darjat aku…)
7) dalam solat ada minta rezki
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud. “warzjukni….( rezkikanlah aku…)
8) dalam solat ada minta kesihatan.
Allah letakkan bacaannya di dalam duduk antara dua sujud “wa’aafini,,” (afiatkan aku…)
9) dalam solat ada ucapan syahadah
Ia sebagai mengingatkan perjanjian kita pada dua syahadah iaitu penyaksian bahawa tiada yang disembah melainkan Allah dan Nabi Muhamad itu adalah pesuruh Allah. Ia diletakkan dalam tahyat awal dan tahyat akhir
10) dalam solat ada selawat pada Nabi SAW
Nabi mengatakan bahawa, barangsiapa berselawat pada ku sekali, pasti Allah akan berselawat dan memberikan keselamatan padanya 10 kali. Allah letakkan selawat ini di dalam tahyat awal dan tahyat akhir.
Maha suci Allah yang menganugerahkan pada kita solat dan kebaikan solat itu kembali pada kita. Jika manusia tidak bersolat, ia tidak sekali-kali mengurangkan kebesaran dan keagongan Allah bahkan akan berlakulah kehinaan terhadap orang tersebut.
Biasanya sambutan Israk Mi'raj disertai dengan Forum Israk Mi'raj .Forum adalah satu program yang digemari dalam usaha memahami islam dengan lebih mendalam lagi kerana bukan sahaja para pendengar dapat berkongsi beberapa sumber berbeza, malahan antara ahli panel juga saling memberi manfaat antara satu sama lain.
Benarlah firman Allah:-
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (al-Zariyat ayat 55).
Sesungguhnya ilmu Allah itu sangat luas, semakin kita tahu, sesungguhnya, semakin banyak yang kita tidak tahu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
